Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 2


__ADS_3

Pertandingan sparring basket pun dilaksanakan di SMA Unggul Harapan.


Awalnya, tidak banyak yang menaruh perhatian dengan pertandingan ini.


Selain karena bukan pertandingan resmi, tidak ada suara kemeriahan


yang heboh disana-sini, tidak ada pedagang yang


muncul dadakan, dan tidak ada usaha untuk meramaikan


Orang-orang tidak ada yang peduli. Kecuali, masing-masing tim intern


seperti pelatih, pemain, atau manajer dari kedua sekolah yang bersangkutan.


Sebenarnya ini pertandingan yang seru dan sengit. Hanya saja, bagi para murid


yang awam, pertandingan basket ini tidak ada menariknya sama sekali. Tapi,


semuanya berubah ketika para siswi mulai bercerita kepada teman-temannya


tentang kehadiran Laju, sang idola tampan nan idaman.


Lalu siswi lain bercerita kepada teman lain, kepada yang lain lagi,


sampai guru-guru pun kebingungan kenapa hari ini para murid begitu peduli


dengan pertandingan ini.


Jawabannya ada di pemain dari sekolah tamu, dengan nomor punggung satu.


Laju Pratama, seorang siswa yang selalu menjadi sumber perhatian.


“Oper, oper!”


“Jaga yang disana!”


“Awas!”


Pertandingan masih berlangsung. Tapi, hasilnya sudah terlihat, bahkan


sebelum pertandingan dimulai. Tim Laju pasti akan menang. Tapi, hasil ini


bahkan bukan dalam kondisi Laju yang sedikit serius – seperti latihan di


sekolahnya. Dia sempat menjadi pemain cadangan. Bahkan, dia sempat asik


mengobrol dengan siswi-siswi yang mendatanginya.


Guru dan pelatih yang melihatnya kesal. Tapi mereka tidak bisa melakukan


apa-apa


Laju tidak bisa dijangkau. Laju tidak tersentuh.


“Andaikan saja ini tim professional, pasti mati-matian aku kontrak anak


itu,” celoteh pelatih lawan dalam kesalnya. Beberapa melihatnya, ingin


berkomentar, tapi akhirnya urung juga. Semuanya sama-sama kesal. “Dia harus


diberi pelajaran dan tata krama!”


Laju harus diberi pelajaran dan tata krama.


Sebenarnya pertandingan berjalan dengan mulus ketika Laju masih


dicadangkan dan belum bermain. Tapi, begitu Laju melangkahkan kakinya ke tengah


lapangan. Semuanya berubah 180 derajat. Semua yang terjadi di lapangan seakan


berlangsung atas kehendaknya.


“Apa-apaan anak ini? Dia kira dia Tuhan?” Orang-orang protes.


Tapi mau apa? Dia memang sehebat itu.


Oleh karena itu pula siswi-siswi di sekolah ini berteriak histeris


mendukung. Bukannya pada sekolahnya sendiri, bukan juga pada pertandingan


basketnya, melainkan kepada Laju. Semuanya takjub dan kagum melihat Laju yang


bermain basket. Sangat elegan, juga tampan. Dengan mudah menguasai


pertandingan, juga menguasai hati dan perasaan para siswi. Terkesima dengan


gerak-gerik lincahnya yang berbasah keringat, yang justru membuat karismanya


semakin naik meroket.


Bahkan, pengelihatan para siswi seakan meningkat berkali-kali lipat. Seperti


bisa memfokuskan matanya hanya untuk menatap dan melihat Laju seorang, yang


jaraknya berpuluh-puluh meter jauh di depan.


“Tidak di sekolah kita, tidak di sekolah ini, dimanapun Laju berada, semua


ceweknya sama saja ya,” teman satu tim Laju mengeluh.


Temannya hanya bisa menepuk bahunya dan tersenyum kecil. “Tidak usah


dibawa hati. Nanti lelah sendiri, loh. Haha! Sudah-sudah,” ucapnya perlahan.


Di antara siswi-siswi yang kagum dan mengidolakan Laju, ada seorang


siswi yang berbeda dengan yang lainnya. Perempuan ini, dia tidak histeris

__ADS_1


mengemis perhatian, ataupun berteriak bergelora menyatakan kekagumannya kepada


Laju.


Dengan rambut coklatnya yang bergelombang sepanjanga bahu, dengan pita


kepala berwarna putih cantik di atasnya, dia justru hanya diam seperti sedang


mengawasi Laju. Dia hanya memperhatikan, sampai akhirnya kaget, matanya


membelalak, seperti menemukan saudara kandungnya yang hilang selama


bertahun-tahun.


“Ih, Del. Kamu ngapain, sih? Sana-sana! Pergi! Mau lihat Laju, ya? Mimpi


kamu!” Seru siswi di sampingnya yang menyadari kehadiran gadis pendiam tadi.


“Delphia? Kamu kok disini? Bukannya tadi dipanggil sama Pak Brandon,


ya?”


“Sana pergi, ih!”


Delphia tidak melawan, kecuali berusaha melindungi diri dari pukulan,


dorongan, dan usiran siswi-siswi lainnya. Ini sudah biasa. Tapi bagi Delphia,


penemuan dan pertemuannya dengan Laju merupakan hal yang luar biasa.


“Ada-ada saja, deh!” seru siswi yang masih asyik menonton Laju.


Delphia sekarang kembali ke kelas. Mengambil buku catatan, menulis


sesuatu, dan mendeklarasikan kegembiraan di dalam hatinya. Akhirnya, kehidupannya


kembali berjalan.


“Eh, Ju. Kamu tahu restoran daging asap kemarin itu, kan?”


“Huh?”


“Itu loh, cabang barunya ada di sebelah sekolah ini!”


“Hmm, terus?” Laju kebingungan. Dia mau apa?


“…”


Mereka diam canggung. Kedua pihak tidak menemukan inti percakapan yang


sama. Mungkin Laju lelah sehingga tidak begitu responsif? Atau dia justru sengaja


pura-pura tidak paham kode yang diberikan temannya? Tapi Laju berpikir ulang.


Dia tidak ingin semuanya terjadi seperti masa lalu. Dia harus berubah.


daging asap!” ajak Laju dengan senyum tipisnya kepada temannya dan seluruh


timnya.


Tentunya ini akan menjadi misi besar bagi para siswi yang masih ingin


mengagumi Laju. Ketika sekolah usai, mereka tidak boleh pulang begitu saja.


Mereka akan pergi ke mal yang berada


di samping sekolah dan ikut makan bersama dengan Laju dan timnya. Meskipun


tentu mereka tidak akan satu meja dengan Laju.


Tapi ini kesempatan untuk mendekatinya, kan?


Dan dengan begitu, pertandingan basket pun usai. Sesuai prediksi, kemenangan


diambil oleh sekolah dan tim Laju. Sebenarnya kemenangan ini sangat telak jika Laju


dimainkan di seluruh pertandingan. Apakah pelatihnya sedang merahasiakan dan


menyembunyikan strateginya untuk olimpiade kelak? Tidak ada yang tahu.


Sesuai janji, saat pulang Laju melakukan ritual bersama teman-temannya


untuk makan besar. Sebagai anak yang hidup dengan orang tua yang mapan, tidak


masalah bagi Laju untuk membayarkan teman-temannya makan, bahkan sampai menyewa


satu restoran.


Tapi, mereka tidak sendirian. Jangan lupakan para siswi dari SMA Unggul


Harapan yang mengikuti Laju untuk pergi ke mal. Laju sebenarnya menyadari semua


perhatian yang diberikan oleh siswi-siswi ini. Tapi dia urungkan saja.


Selagi belum terlihat mencurigakan, Laju merasa tidak perlu membalas


perhatian mereka. Hal ini karena kebanyakan dari mereka pasti hanya penggemar


dadakan saja. Pasti Laju akan dilupakan begitu mereka pulang ke rumah. Sudah


sering Laju mengalami ini.


Sulit memang menjadi populer.


Tapi, kalau memang Laju ingin menjaga hubungan, pasti akan dia usahakan


sebaik mungkin – seperti yang terjadi sekarang ini dengan tim basketnya. Tapi,

__ADS_1


pada akhirnya semua orang sama saja. Kalau sudah tidak saling membutuhkan lagi,


mereka saling melupakan.


Itulah keresahan Laju. Tapi tentu saja tidak ada yang tahu.


“Punya teman yang saling mendukung sebanyak itu pasti seru, ya.”


“Iya! Hidupnya seperti tidak ada beban. Bisa bebas, senang, dan


bahagia.”


“Dengar-dengar katanya dia memang anak berprestasi dan kaya, loh!”


“Wah, iya!? Gila! Dia sudah seperti punya segalanya, ya?”


“Iya, ya!”


“…”


“Ingin ya hidup seperti Laju.”


***


Malam hari, Laju sedang berjalan santai pulang ke rumahnya.


Sebenarnya dia selalu pulang pergi menaiki mobil dengan supir, tapi kali


ini dia memilih untuk menolak jemputan. Dia ingin menikmati malam dengan tenang


katanya. Lagipula, ini sudah di kawasan kompleknya yang sudah dilengkapi oleh


kamera pengawas, kan? Meskipun ada yang terjadi kepadanya, akan ada bala


bantuan yang datang dengan sigap untuk membantunya.


Di bawah sinar bulan, dia berjalan sendirian.


Meskipun bercanda ria dengan teman sangat memuaskan hasrat dan perasaan.


Tapi Laju tetap butuh kenikmatan dalam kesendiriannya.


Lagipula, sebenarnya repot juga harus memuaskan banyak orang.


Di depannya, terdapat taman bermain yang kosong melompong. Mungkin


tempat ini cocok untuknya. Dia duduk di ayunan yang kosong, lalu diayunkannya


pelan-pelan.


Laju mengadah ke langit, terlihat banyak bintang-bintang bersinar di kegelapan


malam yang mengelilingi bulan dengan ramai. Itu sangat indah. Pemandangan ini


memang sangat menyejukkan. Sangat indah, menawan, dan menenangkan.


Pemandangan ini, sama seperti sesuatu yang sedang mendekati Laju. Sama


indahnya, sama menawannya, namun bukan bintang maupun bulan. Sinar yang seperti


ini, Laju mengigatnya dari percakapan tidak masuk akal yang dibahas oleh


anak-anak di gedung olahraga, tentang video konspirasi.


INI MATA BERLIAN!


Seseorang di depannya, yang lebih pendek darinya, sedang mendekatinya,


dengan mata berliannya yang sangat memesona


Pantas saja orang-orang harus berhati-hati jika bertemu dengan mata ini.


Keindahannya yang memukau membuat manusia biasa membatu begitu saja. Tapi Laju


berbeda. Dia harus bergerak, dia harus kabur!


Tapi tetap saja tidak kuasa. Ketika dia berusaha untuk berdiri dan berlari,


kakinya malah terlipat, terjatuh, bersamaan dengan seluruh tubuhnya.


Seseorang tersebut, ternyata perempuan? Rambutnya berwarana putih


seperti sutra yang sangat indah, sangat halus, sangat menawan. Jangan lupakan


juga ikat kepala pita putih di atasnya yang menambah paras sang perempuan, membuatnya


cantik maksimal.


Tangan perempuan tersebut menyentuh bahu Laju. Dingin! Laju hanya bisa diam


dan gemetar. Selanjutnya, perempuan tersebut memegang tangan Laju. Sangat


kecil, sangat lembut, dengan dingin yang lebih menusuk. Tapi Laju malah ambruk.


Satu hal yang dia ingat setelahnya, hanya hitam dan kehampaan, seakan semuanya


berakhir begitu saja.


“Apakah aku mati? Tidak mungkin! Hanya…, hanya pingsan, kan!? Iya,


kan!?”


Diantara dingin yang dia rasakan dari sentuhan perempuan itu. Dia juga


merasakan kehangatan yang bahkan membuatnya tersenyum. Tapi Laju sendiri tidak


paham perasaan apa ini. Dia sudah melupakannya, bersama mimpi buruk dan masa

__ADS_1


lalunya.


__ADS_2