
Pertandingan sparring basket pun dilaksanakan di SMA Unggul Harapan.
Awalnya, tidak banyak yang menaruh perhatian dengan pertandingan ini.
Selain karena bukan pertandingan resmi, tidak ada suara kemeriahan
yang heboh disana-sini, tidak ada pedagang yang
muncul dadakan, dan tidak ada usaha untuk meramaikan
Orang-orang tidak ada yang peduli. Kecuali, masing-masing tim intern
seperti pelatih, pemain, atau manajer dari kedua sekolah yang bersangkutan.
Sebenarnya ini pertandingan yang seru dan sengit. Hanya saja, bagi para murid
yang awam, pertandingan basket ini tidak ada menariknya sama sekali. Tapi,
semuanya berubah ketika para siswi mulai bercerita kepada teman-temannya
tentang kehadiran Laju, sang idola tampan nan idaman.
Lalu siswi lain bercerita kepada teman lain, kepada yang lain lagi,
sampai guru-guru pun kebingungan kenapa hari ini para murid begitu peduli
dengan pertandingan ini.
Jawabannya ada di pemain dari sekolah tamu, dengan nomor punggung satu.
Laju Pratama, seorang siswa yang selalu menjadi sumber perhatian.
“Oper, oper!”
“Jaga yang disana!”
“Awas!”
Pertandingan masih berlangsung. Tapi, hasilnya sudah terlihat, bahkan
sebelum pertandingan dimulai. Tim Laju pasti akan menang. Tapi, hasil ini
bahkan bukan dalam kondisi Laju yang sedikit serius – seperti latihan di
sekolahnya. Dia sempat menjadi pemain cadangan. Bahkan, dia sempat asik
mengobrol dengan siswi-siswi yang mendatanginya.
Guru dan pelatih yang melihatnya kesal. Tapi mereka tidak bisa melakukan
apa-apa
Laju tidak bisa dijangkau. Laju tidak tersentuh.
“Andaikan saja ini tim professional, pasti mati-matian aku kontrak anak
itu,” celoteh pelatih lawan dalam kesalnya. Beberapa melihatnya, ingin
berkomentar, tapi akhirnya urung juga. Semuanya sama-sama kesal. “Dia harus
diberi pelajaran dan tata krama!”
Laju harus diberi pelajaran dan tata krama.
Sebenarnya pertandingan berjalan dengan mulus ketika Laju masih
dicadangkan dan belum bermain. Tapi, begitu Laju melangkahkan kakinya ke tengah
lapangan. Semuanya berubah 180 derajat. Semua yang terjadi di lapangan seakan
berlangsung atas kehendaknya.
“Apa-apaan anak ini? Dia kira dia Tuhan?” Orang-orang protes.
Tapi mau apa? Dia memang sehebat itu.
Oleh karena itu pula siswi-siswi di sekolah ini berteriak histeris
mendukung. Bukannya pada sekolahnya sendiri, bukan juga pada pertandingan
basketnya, melainkan kepada Laju. Semuanya takjub dan kagum melihat Laju yang
bermain basket. Sangat elegan, juga tampan. Dengan mudah menguasai
pertandingan, juga menguasai hati dan perasaan para siswi. Terkesima dengan
gerak-gerik lincahnya yang berbasah keringat, yang justru membuat karismanya
semakin naik meroket.
Bahkan, pengelihatan para siswi seakan meningkat berkali-kali lipat. Seperti
bisa memfokuskan matanya hanya untuk menatap dan melihat Laju seorang, yang
jaraknya berpuluh-puluh meter jauh di depan.
“Tidak di sekolah kita, tidak di sekolah ini, dimanapun Laju berada, semua
ceweknya sama saja ya,” teman satu tim Laju mengeluh.
Temannya hanya bisa menepuk bahunya dan tersenyum kecil. “Tidak usah
dibawa hati. Nanti lelah sendiri, loh. Haha! Sudah-sudah,” ucapnya perlahan.
Di antara siswi-siswi yang kagum dan mengidolakan Laju, ada seorang
siswi yang berbeda dengan yang lainnya. Perempuan ini, dia tidak histeris
__ADS_1
mengemis perhatian, ataupun berteriak bergelora menyatakan kekagumannya kepada
Laju.
Dengan rambut coklatnya yang bergelombang sepanjanga bahu, dengan pita
kepala berwarna putih cantik di atasnya, dia justru hanya diam seperti sedang
mengawasi Laju. Dia hanya memperhatikan, sampai akhirnya kaget, matanya
membelalak, seperti menemukan saudara kandungnya yang hilang selama
bertahun-tahun.
“Ih, Del. Kamu ngapain, sih? Sana-sana! Pergi! Mau lihat Laju, ya? Mimpi
kamu!” Seru siswi di sampingnya yang menyadari kehadiran gadis pendiam tadi.
“Delphia? Kamu kok disini? Bukannya tadi dipanggil sama Pak Brandon,
ya?”
“Sana pergi, ih!”
Delphia tidak melawan, kecuali berusaha melindungi diri dari pukulan,
dorongan, dan usiran siswi-siswi lainnya. Ini sudah biasa. Tapi bagi Delphia,
penemuan dan pertemuannya dengan Laju merupakan hal yang luar biasa.
“Ada-ada saja, deh!” seru siswi yang masih asyik menonton Laju.
Delphia sekarang kembali ke kelas. Mengambil buku catatan, menulis
sesuatu, dan mendeklarasikan kegembiraan di dalam hatinya. Akhirnya, kehidupannya
kembali berjalan.
“Eh, Ju. Kamu tahu restoran daging asap kemarin itu, kan?”
“Huh?”
“Itu loh, cabang barunya ada di sebelah sekolah ini!”
“Hmm, terus?” Laju kebingungan. Dia mau apa?
“…”
Mereka diam canggung. Kedua pihak tidak menemukan inti percakapan yang
sama. Mungkin Laju lelah sehingga tidak begitu responsif? Atau dia justru sengaja
pura-pura tidak paham kode yang diberikan temannya? Tapi Laju berpikir ulang.
Dia tidak ingin semuanya terjadi seperti masa lalu. Dia harus berubah.
daging asap!” ajak Laju dengan senyum tipisnya kepada temannya dan seluruh
timnya.
Tentunya ini akan menjadi misi besar bagi para siswi yang masih ingin
mengagumi Laju. Ketika sekolah usai, mereka tidak boleh pulang begitu saja.
Mereka akan pergi ke mal yang berada
di samping sekolah dan ikut makan bersama dengan Laju dan timnya. Meskipun
tentu mereka tidak akan satu meja dengan Laju.
Tapi ini kesempatan untuk mendekatinya, kan?
Dan dengan begitu, pertandingan basket pun usai. Sesuai prediksi, kemenangan
diambil oleh sekolah dan tim Laju. Sebenarnya kemenangan ini sangat telak jika Laju
dimainkan di seluruh pertandingan. Apakah pelatihnya sedang merahasiakan dan
menyembunyikan strateginya untuk olimpiade kelak? Tidak ada yang tahu.
Sesuai janji, saat pulang Laju melakukan ritual bersama teman-temannya
untuk makan besar. Sebagai anak yang hidup dengan orang tua yang mapan, tidak
masalah bagi Laju untuk membayarkan teman-temannya makan, bahkan sampai menyewa
satu restoran.
Tapi, mereka tidak sendirian. Jangan lupakan para siswi dari SMA Unggul
Harapan yang mengikuti Laju untuk pergi ke mal. Laju sebenarnya menyadari semua
perhatian yang diberikan oleh siswi-siswi ini. Tapi dia urungkan saja.
Selagi belum terlihat mencurigakan, Laju merasa tidak perlu membalas
perhatian mereka. Hal ini karena kebanyakan dari mereka pasti hanya penggemar
dadakan saja. Pasti Laju akan dilupakan begitu mereka pulang ke rumah. Sudah
sering Laju mengalami ini.
Sulit memang menjadi populer.
Tapi, kalau memang Laju ingin menjaga hubungan, pasti akan dia usahakan
sebaik mungkin – seperti yang terjadi sekarang ini dengan tim basketnya. Tapi,
__ADS_1
pada akhirnya semua orang sama saja. Kalau sudah tidak saling membutuhkan lagi,
mereka saling melupakan.
Itulah keresahan Laju. Tapi tentu saja tidak ada yang tahu.
“Punya teman yang saling mendukung sebanyak itu pasti seru, ya.”
“Iya! Hidupnya seperti tidak ada beban. Bisa bebas, senang, dan
bahagia.”
“Dengar-dengar katanya dia memang anak berprestasi dan kaya, loh!”
“Wah, iya!? Gila! Dia sudah seperti punya segalanya, ya?”
“Iya, ya!”
“…”
“Ingin ya hidup seperti Laju.”
***
Malam hari, Laju sedang berjalan santai pulang ke rumahnya.
Sebenarnya dia selalu pulang pergi menaiki mobil dengan supir, tapi kali
ini dia memilih untuk menolak jemputan. Dia ingin menikmati malam dengan tenang
katanya. Lagipula, ini sudah di kawasan kompleknya yang sudah dilengkapi oleh
kamera pengawas, kan? Meskipun ada yang terjadi kepadanya, akan ada bala
bantuan yang datang dengan sigap untuk membantunya.
Di bawah sinar bulan, dia berjalan sendirian.
Meskipun bercanda ria dengan teman sangat memuaskan hasrat dan perasaan.
Tapi Laju tetap butuh kenikmatan dalam kesendiriannya.
Lagipula, sebenarnya repot juga harus memuaskan banyak orang.
Di depannya, terdapat taman bermain yang kosong melompong. Mungkin
tempat ini cocok untuknya. Dia duduk di ayunan yang kosong, lalu diayunkannya
pelan-pelan.
Laju mengadah ke langit, terlihat banyak bintang-bintang bersinar di kegelapan
malam yang mengelilingi bulan dengan ramai. Itu sangat indah. Pemandangan ini
memang sangat menyejukkan. Sangat indah, menawan, dan menenangkan.
Pemandangan ini, sama seperti sesuatu yang sedang mendekati Laju. Sama
indahnya, sama menawannya, namun bukan bintang maupun bulan. Sinar yang seperti
ini, Laju mengigatnya dari percakapan tidak masuk akal yang dibahas oleh
anak-anak di gedung olahraga, tentang video konspirasi.
INI MATA BERLIAN!
Seseorang di depannya, yang lebih pendek darinya, sedang mendekatinya,
dengan mata berliannya yang sangat memesona
Pantas saja orang-orang harus berhati-hati jika bertemu dengan mata ini.
Keindahannya yang memukau membuat manusia biasa membatu begitu saja. Tapi Laju
berbeda. Dia harus bergerak, dia harus kabur!
Tapi tetap saja tidak kuasa. Ketika dia berusaha untuk berdiri dan berlari,
kakinya malah terlipat, terjatuh, bersamaan dengan seluruh tubuhnya.
Seseorang tersebut, ternyata perempuan? Rambutnya berwarana putih
seperti sutra yang sangat indah, sangat halus, sangat menawan. Jangan lupakan
juga ikat kepala pita putih di atasnya yang menambah paras sang perempuan, membuatnya
cantik maksimal.
Tangan perempuan tersebut menyentuh bahu Laju. Dingin! Laju hanya bisa diam
dan gemetar. Selanjutnya, perempuan tersebut memegang tangan Laju. Sangat
kecil, sangat lembut, dengan dingin yang lebih menusuk. Tapi Laju malah ambruk.
Satu hal yang dia ingat setelahnya, hanya hitam dan kehampaan, seakan semuanya
berakhir begitu saja.
“Apakah aku mati? Tidak mungkin! Hanya…, hanya pingsan, kan!? Iya,
kan!?”
Diantara dingin yang dia rasakan dari sentuhan perempuan itu. Dia juga
merasakan kehangatan yang bahkan membuatnya tersenyum. Tapi Laju sendiri tidak
paham perasaan apa ini. Dia sudah melupakannya, bersama mimpi buruk dan masa
__ADS_1
lalunya.