
Setelah tidur yang pulas, nikmat, dan juga nyaman – jika dibandingkan dengan semua kegilaan yang Laju alami dua minggu terakhir di dalam hutan. Laju akhirnya bisa puas merasakan sesi istirahat yang menyegarkan.
Malam pun lewat begitu saja, langsung disambut lagi oleh matahari yang sudah menyongsong membuka hari baru.
Setelah membereskan tempat tidurnya, makan pagi, dan menyelesaikan urusan-urusan lainnya. Laju berjalan keluar kembali ke ruangan utama di ujung lorong lain untuk menemui Parker dan yang lainnya.
Kuurrrrr.
Dan suara yang menyambutnya tidak lain adalah dengkuran di atas sofa yang terdengar sangat menyenangkan. Itu Audy, yang sedang memanjakan dirinya baik dengan berjemur dibawah sinar matahari yang datang dari jendela, juga oleh elusan Delphia. Sambil menonton televisi dengan program acara yang terus diganti oleh Delphia, mereka menikmati pagi dengan santai.
“Kemana Parker?” Laju memecah keheningan.
Tapi, tidak ada balasan baik Audy maupun Delphia. Mereka masih sibuk dengan urusan mereka, untuk berjemur dan mereleksasikan diri di pagi hari yang tenang ini. Karena tidak ada lagi orang yang bisa diajak berbicara, Laju pun berencana untuk mendekati keduanya penasaran apa yang sedang mereka kerjakan.
Ternyata, Audy tidak hanya tidur mendengkur saja. Dia sedang tidur secara terlentang dengan posisi yang canggung, dengan perut terbuka yang sedang dielus-elus oleh Delphia. Meskipun gadis itu sedang fokus menonton berita, tapi tangannya tetap bisa memberikan ketengangan untuk Audy.
“Ng!?” Delphia kaget.
Sejak kapan Laju sudah berada di belakang mereka?
Audy yang juga kaget karena elusannya berhenti pun terperanjat. Ada apa gerangan yang membuat ketengangan pagi harinya hancur begitu saja?
“Oh, bocah. Sudah bangun rupanya?” Audy bertanya sambil merentangkan tubuhnya.
“Kemana yang lain?” Laju kembali bertanya.
Audy hanya meregangkan tangan dan kakinya. Baru setelahnya, dia memberikan jawaban berupa gestur untuk melihat televisi, yang ternyata sedang menampilkan berita terkini tentang kerusuhan dan kericuhan yang terjadi di kota.
“Parker dan yang lainnya sedang mengurusi orang-orang itu.”
“Manusia? Bukankah sudah aku kalahkan mereka kemarin?”
“Tidak ada hubungannya. Cepat atau lambat pemberontakan tetap akan terjadi. Tugasmu kemarin hanya mengalahkan satu dari sekian banyak pertahanan mereka saja,” Jawab Audy sembari berdiri tegak. “Lupakan saja. Kalian sudah siap? Ayo pergi ke dokter yang Parker katakan kemarin,” ajak Audy sembari membereskan barangnya.
“Oh iya. Memangnya untuk apa kita pergi ke dokter, sih? Luka-luka Delphia sudah mulai kering, kan?” Laju penasaran.
__ADS_1
Tanpa mematikan televisi, mereka pun turun dengan gesit ke lantai bawah, berbicara dengan petugas yang berjaga di meja resepsionis, dan pergi keluar menjauhi kerumunan yang sedang ricuh.
“Sederhananya, kalian akan melaksanakan pemeriksaan untuk mengecek tubuh, organ, dan juga kemampuan kalian,” Audy menjelaskan sambil menyebrang jalan. “Tugas kalian kemarin yang selesai dengan waktu dua minggu saja merupakan sebuah tes yang diberikan Parker. Kalau kamu memang hanya bocah manusia saja, murni manusia, meskipun kalian bisa berhasil, harusnya memakan waktu berbulan-bulan.”
Sambil berjalan di jalan kota, melewati banyak masyarakat berlalu-lalang, Audy tetap menjelaskan tanpa terlihat akan mengurangi kecepatannya.
“HIDUP YANG MERANA INI BUKANLAH TAKDIR!! MELAINKAN HASIL CAMPUR TANGAN DARI PARA PENGUASA, KHUSUSNYA MONSTER-MONSTER YANG SESUKA HATI ITU!!!”
Meskipun mereka telah menjauhi kerumunan di satu titik dekat kantor Parker, suara-suara perjuangan dan demonstrasi tetap masih bisa terdengar di titik lokasi yang lain.
Laju dan Delphia yang penasaran dengan teriakan massa tersebut mengalihkan perhatiannya dan membuat pergerakan mereka melambat. Audy yang menyadari keduanya berhenti dan tidak lagi mengikutinya, memutuskan untuk menjemput mereka yang sepertinya tertarik dengan topik yang dibawakan oleh demonstran tersebut.
“Apakah kalian baru pertama kali melihat yang seperti ini?”
Laju dan Delphia yang sedang memerhatikan demonstran tersebut teralihkan perhatiannya oleh pertanyaan Audy dengan ekspresi herannya.
“Ayo cepat!” Audy memberikan gestur untuk kembali berjalan mengikutinya.
“Jadi, mereka tersebar di seluruh kota? Apakah tidak ada polisi yang bertugas untuk mengamankan mereka?”
“Tapi sebenarnya mereka salah apa? Kenapa aku sampai harus mengalahkan mereka? Itu seperti membungkam hak mereka untuk hidup dan berbicara.”
“Bukankah kamu merupakan korban di kecelakaan kereta kemarin? Ketika manusia dengan seenaknya bisa merubah tubuhnya dan segala macam?”
“Eh? Iya aku ada disana?”
“Coba saja bayangkan manusia-manusia yang seperti itu sekarang melakukan kerusuhan, menghancurkan gedung dan fasilitas, juga huru-hara di seluruh kota.”
“…” Laju dan Delphia hanya diam merespon pernyataan Audy.
Gadis kucing di depan menatap mereka sambil mengerutkan alisnya. Apakah dunia ini terlalu kejam untuk mereka? Tapi, Audy tetap tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu keresahan dua bocah ini. Mereka harus belajar menjadi dewasa.
Laju dan Delphia tidak bisa selamanya menutup mata untuk menghadapi permasalahan yang begitu nyata di hadapan mereka. Pilihan yang mereka bisa pilih hanya menghadapinya, atau lari dari masalah tersebut.
Tapi, lari tentu bukanlah sebuah solusi.
__ADS_1
Kalau kita selamanya melarikan diri tidak ingin ikut campur terhadap urusan dan masalah ini, kapan masalahnya akan selesai? Lagipula, meskipun kita lari, bukan berarti masalah bisa terselesaikan dengan sendirinya, kan?
“Tidak perlu kalian pikirkan terlalu berat. Serahkan saja urusannya pada Parker. Dia memiliki banyak koneksi, khususnya di kepolisian. Dia siap bertanggung jawab untuk apa yang kalian lakukan. Ikuti saja perintahnya. Karena, aku yakin bahwa keputusannya sudah menjadi yang terbaik.” Audy berusaha menghibur.
“Kita sudah sampai,” dan setelahnya Audy menghentikkan jalannya pada sebuah gedung yang tidak pernah dilihat dan dikunjungi oleh Laju maupun Delphia sebelumnya.
Loh? Ini terminal?
Tempat dimana banyak kendaraan berlalu lalang, diam menunggu penumpang, atau siap berjalan sesuai arah dan tujuan. Padahal, para polisi kemarin berkata tidak ada stasiun atau sistem jasa transportasi lainnya di kota ini.
“Apa ini?” Laju bertanya tanpa sadar.
“Kita akan menaiki mobil ini untuk pergi ke dokter yang disebutkan Parker tentu saja,” Audy menjawab sembari mengurusi urusan administrasi di sebuah bilik.
“Tapi bukannya–”
Sebelum Laju bisa bertanya mengenai banyak hal yang membingungkannya, sudah lebih dahulu hadir sebuah mobil sedan tanpa roda yang mendesing di depannya.
Dengan sebuah sentuhan yang Audy tekan pada pintu mobil, mobil pun terbuka secara otomatis menyambut mereka.
“Ayo masuk.”
Dengan terkesima, takjub, dan juga rasa kagetnya. Laju dan Delphia perlahan-lahan mendekati dan memasuki mobil sedan tersebut.
Sebenarnya, mobil seperti ini banyak ditemukan di tempat asalnya, di dunia manusia, maupun di jalanan kota yang berlalu lalang. Namun, melihatnya secara langsung memang memberikan kesan yang berbeda untuk kedua bocah ini.
Terutama, oleh desain mobil yang modern dengan bahan metal yang mengkilat, lampu neon di beberapa tempat, juga oleh bagian dalam mobil dimana terdapat kursi untuk empat penumpang yang saling berhadapan seperti yang ditemukan di bianglala, dengan sebuah bola melayang yang memisahkannya.
Setelah ketiganya masuk, ternyata bola melayang tersebut merupakan sebuah alat navigasi. Bola tersebut menunjukkan sebuah hologram yang menampilkan peta, disusul suara robot yang menyambut mereka.
“Selamat datang di pusat transportasi. Silahkan pilih lokasi tujuan Anda.”
Audy pun mengotak-atik dan membulak-balikkan hologram tersebut. Sampai pada akhirnya dia memberikan pin di suatu tempat yang tidak Laju kenali, yang harunsya menjadi lokasi tujuan mereka.
“Kita akan ke utara,” lanjut Audy pada bola yang kemudian menghilang.
__ADS_1