
Tentang kejadian penyaderaan yang dibicarakan, ternyata sudah berkumpul banyak mobil polisi yang mengelilingi sebuah rumah, juga warga sipil penasaran yang diusir, tidak lupa wartawan yang memaksa mencari konten berita.
Tidak banyak interaksi yang terjadi antara para manusia dan polisi.
Meskipun berkali-kali pihak polisi menggunakan pengeras suara untuk berdiskusi, para manusia tidak mengusiknya. Permintaan mereka yang egois sudah tertulis pada papan yang disimpan di depan pagar, yang meminta perubahan peraturan pemerintahan untuk lebih berfokus pada kesejahteraan hidup manusia.
Para bocah yang mengikuti Parker hanya menunggu para orang dewasa berdiskusi dengan polisi sebelum lebih jauh bertindak.
Mereka hanya mengamati sekitar, melihat tempat yang masih kumuh dan kotor, yang tidak begitu menarik. Ada jarak antara bangunan rumah itu sendiri dan pagar yang dijadikan penghalang agar para polisi tidak masuk dengan sembrono
Jarak tersebut diisi oleh sebuah lahan yang seharusnya merupakan taman.
Tapi, tidak terlihat tumbuhan hijau seperti yang Laju lihat di dalam hutan.
Di lahan kosong tersebut, hanya ada pasir dan rumput kuning yang layu.
“Menyedihkan sekali,” ucapnya mengomentari.
“Tidak bisa. Beberapa personil meninggal di tempat jika memaksa masuk. Sepertinya, para manusia itu memasang jebakan di sekitar taman,” ucap seorang polisi di balik mobil.
Jadi itulah sebabnya bahkan rumput pun menguning dan layu.
Seorang makhluk hidup, yakni personil polisi yang memasuki pagar saja langsung meninggal mendadak dengan banyak gejala dan komplikasi. Entahlah terkena racun dari anak panah, keseimbangannya yang tiba-tiba menghilang dan terjatuh pada batu yang kuat, menjadi tiba-tiba gila, dan berbagai jebakan sihir lainnya.
Delphia bisa mengeluarkan es dari tangannya. Jadi, ini bukannya hal baru untuk warga Kannaris. Hanya saja, serangan sihir yang menyerang mental makhluk hidup sangat jarang ditemukan.
Darimana para manusia itu mendapatkan cara untuk melempar sihir yang menyerang mental dan psikis lawannya ini?
“Tidak masalah. Ada alasan mengapa aku menjadi salah satu pendekar beastmen 151 tahun lalu. Aku bisa menjaga diriku sendiri,” ucap Parker pada pihak kepolisian.
Dan dengan begitu, Parker mulai mengajak Iris dan yang lainnya – termasuk Laju dan Delphia, untuk mengikutinya menuju rumah tempat penyaderaan. Berusaha memulai diskusi dengan lebih dekat dan serius kepada para manusia.
“Apa kau gila? Kau membawa orang lain masuk bersamamu?” Teriak satu polisi.
Tapi, Parker tidak menghiraukan.
Setelah menyuruh yang lain untuk berdiri di belakangnya, Parker mulai menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mengerang mengumpulkan energi, dan melepasnya dengan rentangan tangan yang terbuka lebar.
Satu detik kemudian, pada tubuh besar Parker muncul lapisan kuning dari bawah kakinya hingga ujung rambutnya. Lapisan kuning transparan yang menyelimuti tubuh itu langsung dilanjut kepada Iris di belakangnya, juga Aaron, Audy, Delphia, dan terakhir Laju. Tidak cukup sampai disitu saja, lapisan tersebut membentuk bola yang meringkupi enam orang tersebut.
Laju tidak begitu mengerti apa yang baru saja Parker lakukan.
Apakah ini semacam pelindung? Tapi, dia tidak merasakan apapun.
__ADS_1
Lagipula, jka sihir yang diserang oleh para manusia bukanlah sihir fisik yang menyerang tubuh, melainkan mental dan jiwa. Apakah pelindung ini bisa berfungsi?
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Semoga saja mereka masih bisa diajak berdiskusi,” seru Parker pada sang polisi. “Atau setidaknya kita bisa menyelamatkan para sandera dari ******* itu.”
Dan betul saja.
Serangan-serangan yang masih berupa serangan fisik seperti anak panah beracun, tembakan peluru entah dari mana, ular yang hendak mengigit, hingga petir kecil yang menyerang kelompok itu bisa ditangkis dengan mudah.
Rupanya, lapisan kuning mengkilat yang transparan ini memang sebuah pelindung.
Parker sebagai beastmen banteng yang memiliki tubuh super besar sangat cocok bagi pandangan dan impresi Laju jika menguasai kemampuan untuk melindungi ini.
Tapi, selagi mereka berjalan tanpa ada gangguan yang berarti sehingga bisa mencapai teras rumah, tidak banyak yang menyadari bahwa napas Parker mulai sesak. Disusul lapisan pelindung yang mulai retak, darah yang keluar dari hidungnya, dan keringat yang membasahi kepala Parker.
Bahkan, sebelum Iris sang gagak setianya bisa memperhatikan. Parker sudah mengusap semuanya dan menarik napas, berusaha tidak menghkawatirkan teman-temannya, bahkan hingga memperbaiki retak pada pelindungnya.
“Kalau begitu ayo masuk,” ajak Parker kemudian sembari mengetuk pintu depan.
Sebenarnya, percuma saja mengetuk.
Para manusia tidak akan merepotkan diri untuk mengurusinya. Tapi, Parker tetap menjaga sopan santun dan tatakrama untuk mengetuk pintu, memberi salam, dan memperkenalkan diri.
Tapi, sesuai yang diperkirakan oleh yang lainnya, tidak ada respon dari pihak manusia selain teriakan seorang gadis yang diperkirakan merupakan sandera yang ditahan entahlah dimana, di suatu tempat di dalam rumah ini.
Dengan satu dorongan kuat oleh bahu kirinya, para polisi yang berdiri di balik pagar terkejut bersyukur karena Parker dan timnya berhasil masuk ke rumah tersebut. Berharap saja, diskusi berjalan dengan lancar.
Begitu pintu terbuka, terlihat sebuah ruang tamu, sebuah lorong, dan pintu yang tertutup yang sangat kotor dan berdebu. Kecuali lantainya, yang terdapat banyak bekas jejak kaki. Berdasarkan ini, artinya para manusia itu tidak banyak berinteraksi dengan perabotan rumah. Bahkan, mungkin mereka hanya menemukan rumah ini sekilas dan langsung fokus kepada penyanderaan.
“Haloo!? Saya Parker perwakilan dari warga sipil kota Kannaris! Bisakah kita berdiskus dan berbicara?” Teriak Parker dengan harapan bisa mencapai telinga para manusia. Tapi, tetap saja tidak ada balasan kecuali teriakan kecil dan suara sang korban wanita.
“Apakah kita labrak saja semua ruangan untuk mencari mereka?”
“Bagaimana jika terdapat jebakan lain yang sudah disiapkan oleh mereka?”
“Ada pelindung Parker, kan?”
“Bukan. Bukan itu. Bagaimana itu jebakan yang langsung mengarah pada sandera?”
“… Lalu kita harus apa? Mereka sepertinya sama sekali tidak berencana untuk menjawab setiap ucapan baik Parker ataupun polisi diluar.”
“Tetap dalam kelompok. Jangan terpisah. Aku yang akan membuka perlahan-lahan setiap ruangannya. Kalian fokus untuk mendukung saja!” Seru Parker yang langsung menyudahi debat antara Laju dan Aaron.
Pintu pertama yang terdapat dalam ruang tamu pun mulai dibuka oleh Parker.
__ADS_1
“Haloo?” Seru Parker bersamaan dengan suara engsel yang usang.
Lagi-lagi tidak ada jawaban, kecuali ruang tidur yang kosong.
Mereka perlahan melihat sekeliling dari ruang tidur tersebut. Setelah tidak menemukan petunjuk yang berguna, baru kemudian mereka tutup lagi pintunya untuk beralih pada lorong di ruang tamu tadi untuk melanjutkan pencarian.
Melewati ruang tamu, mereka berjalan perlahan ke dalam lorong tersebut yang ternyata memiliki keganjilan yang begitu mencurigakan. Lorong ini padahal terhubung langsung dengan ruang tamu yang masih memiliki penerangan yang cukup yang dihasilkan dari jendela di depan. Lalu, kenapa lorong ini gelap total seperti tidak terhubung dengan ruang tamu di depannya yang jelas-jelas hanya terpisah satu langkah?
Selain itu, lorong ini pun memiliki aura dan sensasi yang membuat bulu kuduk semua orang hingga Parker pun berdiri. Terutama Delphia, yang ketakutan dan melindungi dirinya di balik Laju.
“Kenapa lorong ini membuatku tidak nyaman?”
“Apakah sudah tertanam sihir yang menyerang mental dan jiwa seperti yang dikatakan polisi di luar?”
“Bisa jadi. Tapi aku tidak begitu paham sihir semacam itu, pun cara kerjanya.”
“Apa yang kau rasakan, Parker? Apakah ini memang sihir, atau perasaanku saja?”
“Bisa jadi ada urusannya dengan sihir. Suasana lorong ini memang sangat berbeda.”
“Kira-kira apakah ada pemicunya?” Aaron melihat sekeliling.
Dan dari yang bisa Aaron lihat, di dalam lorong yang gelap ini terdapat sebuah patung kecil yang berada di altar dengan mata menyala berwarna ungu mengkilat.
Aaron sempat penasaran dengan kehadiran patung setinggi telapak tangan ini. Dia lihat dengan jeli, sampai hampir ditinggalkan oleh yang lain.
“Aaron? Apasih yang kamu lihat? Jangan selalu merepotkan orang lain, dong!” Protes Audy.
Dan sebelum Aaron ingin menyudahi rasa penasarannya, dia berencana untuk melihat lebih dalam, hingga hampir menyentuhnya dengan tidak sengaja.
Satu detik setelahnya, kejutan listrik merangsang pikiran dan ingatan Delphia. Dia lupa terhadap masa depan ini saking takutnya terhadap lorong gelap yang sedang dilaluinya.
Dari balik punggung Laju, dia melompat terjun berusaha untuk mencegah Aaron menyentuh patung tersebut. Namun, yang terjadi berikutnya malah berbalikan dari apa yang diniatkan Delphia. Lompatannya malah membuat Aaron kehilangan keseimbangan. Tidak hanya menyentuh, Aaron pun menjatuhkan patung tersebut.
“Apa sih? Kenapa kamu–”
Dan sebelum Aaron bisa menyelesaikan ucapannya, kegelapan di dalam lorong semakin menjadi-jadi, lebih gelap, lebih pekat, seperti baru saja memakan mereka. Kini, mereka benar-benar tidak bisa melihat apapun dengan jarak 50 senti dari depan mata mereka.
“APA YANG TER–”
Begitu juga Parker. Sebelum dia bisa mencari tahu apa yang terjadi pada lorong yang tiba-tiba dimakan oleh kegelapan ini, lantai lorong tiba-tiba menghilang, dan mereka terjatuh melayang.
Tidak hanya pengelihatan saja, kegelapan ini pun mencuri suara mereka.
__ADS_1
Sehingga, meskipun mereka baru saja terjatuh dari lorong rumah tersebut pada suatu tempat yang tidak diketahui, mereka tidak berteriak, seperti tidak merespon apa yang baru saja terjadi pada mereka.