
Pip.
Terdengar nada dering dari sebuah telepon.
“Terdapat kericuhan lagi di sektor timur Blok M oleh beberapa manusia. Kepada polisi yang sedang berada di sekitar kawasan harap membantu untuk mengamankan kericuhan, ganti!”
“Kericuhan di beberapa titik Blok G juga membutuhkan bantuan! Kita sudah kekurangan personil, ganti!”
Di dalam sebuah mobil yang terbang melayang pergi ke suatu tempat di selatan, terdengar suara yang terdengar panik dan gelisah dari dalam radio yang sedang berusaha berkomunikasi satu sama lain.
Tidak hanya suara-suara di radio, tiga orang di dalam mobil ini pun tidak kalah gelisahnya mengurusi banyak hal menggunakan laptop dengan banyak kabel yang terhubung satu sama lain.
“Parker, apakah keputusanmu sudah bulat?” Tanya suara yang teredam seperti sedang berbicara di dalam air.
“Tidak bisakkah kita biarkan saja urusan ini pada polisi? Terlalu banyak tanggung jawab yang kau pegang, Parker! Bagaimana kalau kau malah gagal lagi sampai tidak ada satu pun yang selamat?” Tanya suara wanita di sebelahnya.
Parker, seorang pria besar yang bertanduk bertaring ini sedang membaca banyak laporan di dalam laptopnya. Membiarkan mobil berkendara sendiri, sesuai tujuan yang sudah ditentukan.
Meskipun diajak bicara oleh kedua temannya dari jok belakang, nampaknya Parker tidak berniat untuk menjawabnya dalam waktu dekat.
Dia masih diam seribu kata, berusaha fokus memilah-milah ratusan data.
Sementara Audy, Laju, dan Delphia pergi ke Gloria mengurusi kemampuan yang tersembunyi yang dibantu oleh Nek Vignette. Parker, Aaron, dan Iris sibuk mengurusi banyak pertemuan dengan banyak petinggi, dengan banyak perwakilan ras, perwakilan manusia, bahkan hingga bertemu berdiskusi dengan kelompok Venom Snake demi menjaga kedamaian di Kannaris.
Tapi apakah dengan pertemuan-pertemuan saja sebuah kedamaian dapat tercapai?
Setidaknya Parker percaya hal itu.
Dimana peperangan bisa dimenangkannya, tanpa perlu terjadinya pertempuran.
Tapi, faktanya telah terjadi perkelahian di seluruh penjuru Kannaris
Ketika Parker sibuk pergi kesana kemari dengan mobilnya, banyak anggota dan kelompok yang berontak merusak kota.
Meskipun ada kesatuan polisi di sana sini yang sudah berusaha untuk mengondisikan serangan dari para kelompok manusia. Semakin hari, serangan semakin brutal saja.
Melihat ini, Parker berusaha untuk berbincang lagi dengan perwakilan manusia untuk mendapatkan solusi tengah yang dapat disetujui oleh kedua belah pihak. Manusia yang menjajah, kepada monster tak bersalah dan warga sipil.
Ada banyak dokumen-dokumen yang merepotkan karena sistem birokrasi. Jika ingin berbicara dengan petinggi, tentu harus mengusulkan janji dari bawahannya yang jumlahnya ratusan dari berbagai tingkat.
Urusan dokumen memang sangat merepotkan.
Meski Aaron dan Iris yang bertanya tidak dihiraukan oleh Parker, pada akhirnya mereka akan tetap melakukan semua yang Parker perintah.
Tapi, ternyata Parker bukannya tidak menghiraukan semua hal.
“Muncul lagi perkelahian antara manusia dan ras lain di Blok F! Ta-tapi, ini sepertinya berbeda dengan yang lain. Apakah sudah muncul bos-bosnya? Meminta bantuan kepada pusat, ganti!”
“Perkelahian di Blok F meliputi seorang pria dwarf, gadis kucing, dan seorang manusia? Perkelahian antar manusia!?”
Mendengar laporan terbaru dari radio, Parker terperanjat langsung pindah kursi untuk membanting setir mobilnya, bertujuan untuk langsung pergi ke tempat kejadian seperti yang dijelaskan dalam laporan.
Pertemuan dengan petinggi memang penting, tapi perkelahian ini jauh lebih penting untuk Parker hadiri.
Beruntung, akibat serangan manusia ini jalanan menjadi sepi oleh kendaraan.
Parker pun mengganti kemudi agar dikendalikannya dengan manual. Dia injak gas dengan maksimal hingga melanggar aturan, demi sampai ke Blok F tepat waktu. Sebelum Aaron dan Iris yang penasaran ingin bertanya, mereka lebih dahulu menutup mulut karena rasa percayanya pada Parker.
Swing!
Satu lagi tikaman yang terpaksa digunakan untuk menyelesaikan musuh di depannya.
Delphia yang ketakutan hanya bisa berlindung bersama pria dwarf yang tidak menemukan waktu yang pas untuk bisa pulang.
__ADS_1
Di depannya, Audy berhasil mengalahkan satu manusia lagi yang datang kepadanya.
Berkat aksi Laju yang spektakuler mengalahkan satu kelompok manusia yang sudah diperkuat dengan serum. Sekarang, lebih banyak lagi bala bantuan yang ingin membalaskan kekalahan teman-teman mereka.
Sebenarnya, banyak dari bala bantuan bisa Laju urusi sendiri.
Tapi, ada beberapa yang memang luput dari jarak pandang Laju dan berhasil untuk menyelinap menyerang gadis-gadis di belakang, menyerangnya di lorong yang gelap, antara gedung yang tinggi, luput dari mata masyarakat.
Audy bukan tipe petarung yang biasa melakukan duel satu lawan satu. Dia adalah tipe petarung yang menyelinap dan mengalahkan musuh dalam satu serangan.
Meskipun begitu, Audy masih tetap bisa melakukan perlawanan, meski harus dibayar dengan tubuhnya yang babak belur, banyak memar lebam, juga luka di beberapa bagian.
Lagipula, ada alasan mengapa Audy harus melawan musuhnya secara duel. Ada orang yang harus dilindunginya, ada Delphia yang tidak berkutik, juga pria dwarf sang warga sipil yang tidak berdosa yang harus menjadi korban kericuhan manusia.
Meskipun begitu, awalnya Audy sedikit ragu untuk lanjut melindungi Delphia karena kuantitas para manusia yang semakin bertambah. “Ayolah! Bukankah pemerintah kalian justru menyembunyikan eksistensi kita? Kenapa kalian semakin bertambah, sih!?”
Tapi, ketika posisi siap kuda-kuda perlahan sudah dilakukan Audy, banyak manusia malah kocar-kacir berkat sebuah suara tembakan yang entah darimana asalnya.
Audy pun langsung mencari tahu apakah suara tersebut bala bantuan mereka, atau justru peringatan musuh yang mungkin akan lebih merepotkan ke depannya.
Ternyata, di depan mata Audy sudah banyak anggota polisi yang berlindung di pintu mobilnya yang menembakan pistol peringatan agar para manusia segera membubarkan diri. Tidak sampai disitu, para polisi pun memberikan gas air mata untuk membubarkan massa dengan paksa.
Beberapa ada yang ditangkap untuk diinterograsi, tapi tidak sedikit juga yang kabur dari tangkapan polisi untuk menyelamatkan diri.
“Hei, polisi sudah datang! Ayo keluar! Semuanya sudah kembali normal,” Ajak Audy pada Delphia dan pria dwarf yang mulai memisahkan diri karena akhirnya bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa pulang melindungi diri.
“Ng!” Delphia mengangguk menuruti ajakan Audy.
Dua gadis itu pun pergi keluar dari lorong gang yang tersembunyi, dan menuju jalan raya yang mulai dipenuhi orang-orang. Karena masih ada bekas gas air mata yang akan sangat menyakitkan, mereka berjalan perlahan, sedikit menjauh dari area tempat polisi pertama kali menembakkan gas tersebut.
“Audy! Delphia!? Ka-kalian baik-baik saja?” Tanya suara berat dari samping mereka, yang langsung disusul dengan tangannya yang memegang bahu. Itu Parker.
Delphia awalnya terkejut. Tapi, karena menyadari itu hanyalah Parker, dia memberikan senyum tipisnya. Tentu saja itu senyum palsu. Beberapa menit sebelumnya, mereka tidaklah baik-baik saja. Sampai saat ini pun, mereka belum siap untuk memproses semua yang terjadi ini dengan baik.
Tidak perlu diberitahu dua kali, Parker langsung menyerahkan Audy dan Delphia kepada Iris untuk selanjutnya diberikan kepada tim medis.
Tugasnya sekarang adalah mencari bocah arogan yang datang beberapa minggu lalu, yang entah mengapa terlibat dalam semua kekacauan ini.
Tapi, karena Parker datang ke tempat perkara dimana gas air mata masih menyebar dengan pekat, matanya sangatlah nyeri, pedih, juga sakit. Dia tidak bisa begitu melihat dengan jelas dimana gerangan bocah yang sedang dicarinya.
“Ju? Laju!? …Uhuk-uhuk! LAJU!!??”
Diantara gas air mata yang menyakitkan pandangan, apa yang bisa ditemui Parker di daerah ini hanyalah napasnya yang menjadi lebih sesak. Sebagai entitas yang memiliki durabilitas lebih baik dari manusia, Parker bisa berkeliling lebih lama di bawah gas yang menyesakkan ini beberapa menit setelahnya.
Tapi, tidak ada Laju yang bisa ditemukan, kecuali banyak korban-korban yang berjatuhan entahlah siapa pelakunya.
Karena tidak menemukan jalan keluar dalam waktu dekat, juga karena semakin sesak dan sakit setiap panca indranya, Parker memutuskan untuk pergi keluar dari area yang penuh gas air mata, berusaha kembali menemui Iris dan yang lainnya.
“Oh? Siapa ini yang datang? Apakah kau bodoh? Mendatangi area gas air mata dengan telanjang bulat seperti itu?” Seru suara bocah laki-laki yang dikenalinya masih memiliki lidah yang pedas.
“Parker? Apakah kamu baik-baik saja? Ini silahkan basuh dulu!” Seru seorang wanita tinggi di sampingnya sambil memberikan air mineral.
Setelahnya, Parker mulai membasuh diri dan menyegarkan dirinya.
Mengembalikan fungsi pengelihatannya, juga pernapasannya dengan singkat.
Dan apa yang ada di pikirannya, celotehan di depannya, bocah dengan lidah yang pedas ini memanglah Laju seorang. Kenapa dia ada disini? Bukankah Audy bilang bocah ini masih terjebak melawan puluhan manusia?
Lalu untuk apa dia menyiksa diri pergi ke dalam gas air mata itu?
Tapi, sebelum Parker memprotes banyak pada bocah ini, hal yang dilakukannya sekarang adalah tindakan yang serupa seperti kemarin, begitu dia melihat Laju dalam kondisi baik-baik saja, pada saat pulang dari tugas pertamanya di hutan belantara yang mistis itu.
“Apa ini?” Laju kerepotan.
__ADS_1
Parker hanya tersenyum dan mengelus kepala Laju perlahan.
“Saya bersyukur kamu baik-baik saja!” ucapnya dengan berat.
“Heh. Tentu saja! Kamu pikir siapa aku?” Jawab Laju dengan sombong.
Tapi, semuanya tahu bahwa Laju tidak sepenuh hati ingin menyombongkan dirinya. Buktinya, terlihat senyuman yang besar diberikannya.
Daripada sombong, lebih tepat jika ucapan tersebut merupakan ucapan syukurnya.
***
“Jadi, ada total delapan orang yang berhasil ditangkap, 28 korban yang ditemukan di tempat kejadian perkara, dengan perkiraan sekitar ratusan lain yang berhasil kabur.”
“Ratusan? Lalu kenapa perbandingannya sedikit sekali dengan yang berhasil ditangkap?”
“Mereka bukan manusia normal. Jika perkiraan Parker benar, mereka merupakan manusia yang disuntikkan serum entahlah apa yang membuatnya bisa menyaingi para beastmen, seperti Parker ini. Jadi, ketika ditembakkan gas air mata sekalipun, banyak dari mereka tidak begitu kesulitan untuk kabur. Lagipula, penangkapan baru dilakukan setelah gas ditembakkan, bukan ketika gas ditembakkan.” Lapor seorang polisi lainnya.
Di kantor polisi, Parker dan beberapa kenalannya yang mengambil jabatan penting di kepolisian membawa serta semua manusia yang berhasil ditangkap untuk ditanyakan lebih lanjut mengenai motif dan tujuan kelompoknya. Tidak lupa, Laju, Iris, dan yang lainnya yang terlibat langsung dalam perseturuan ikut dibawa ke kantor polisi untuk membantu memberikan pernyataan.
Tentu, tidak hanya dari satu tempat di Blok F saja, tapi juga di beberapa tempat yang sudah mulai tenang dengan kondisi yang lebih stabil.
Meskipun jawaban dari para korban memiliki variasi yang berbeda-beda, setelah mendapatkan pernyataan dari pelaku, kesimpulan yang bisa didapat bahwa para manusia tidak pandang bulu dalam menyerang korbannya.
Sudah seperti penjajahan, para manusia itu hanya menyerang dengan bebas, dengan tujuan untuk menghancurkan kota.
“Tapi dengan kaburnya mereka, dengan serum yang mereka gunakan, serangan ini sudah dipastikan merupakan serangan terencana yang diatur dengan sangat baik.”
“Tidak hanya itu saja. Ada beberapa ras non-manusia yang turut serta dalam serangan. Jadi saya pikir ini bukan hanya serangan tanpa alasan saja.”
“Non-manusia?”
“Beberapa korban melihat ada warga beastmen yang sedang melakukan transaksi dengan manusia yang menggunakan kain hijau di tangannya.”
“Beastmen? Jenis apa?”
“Sayangnya korban tidak menjelaskan lebih lanjut. Tapi, dari penjelasannya, dengan perawakan yang besar, bisa jadi mereka jenis banteng, atau harimau, atau mungkin bisa jadi kuda. Ada banyak kemungkinan. Entahlah.”
“… Pantas saja serum mereka menyerupai perubahan seperti Parker. Tapi kalau begini, musuh kita tidak hanya manusia saja.”
“Harusnya beastmen tidak berkeliaran seenaknya di kota kumuh yang padat seperti Kannaris. Apalagi dengan jenis kelas berat sepertiku, akan sangat menyulitkan insting dan gaya hidup mereka,” Parker menambahkan. “Ada yang tidak beres.”
Selagi orang dewasa sedang sibuk dengan banyak urusannya, para bocah seperti Laju, Delphia dan yang lainnya hanya menunggu dengan bosan di ruang tunggu. Lagipula, apakah kehadiran mereka benar-benar dibutuhkan?
Tapi tidak ada yang berani memprotes.
Aaron sedikit lega. Dengan hadirnya Parker dalam diskusi, itu artinya tidak akan ada lagi pertemuan dengan para petinggi ras. Sudah waktunya mereka bertindak langsung ke lapangan.
Dan setelahnya, muncul keributan dari pintu depan.
“Para manusia sudah mulai bergerak dengan ekstrim! Mereka menyandera warga sipil di sektor selatan Blok T. Ancamannya juga tidak main-main. Mereka benar-benar ingin menjatuhkan pemerintahan kota! Mereka ingin pihak manusia bisa hadir di dalam pemerintahan!” Seru seorang polisi yang tergesa-gesa.
Parker dan para petinggi yang penasaran langsung keluar dari ruang rapatnya, pergi menemui polisi ini untuk mendapatkan informasi lebih rinci tentang penyanderaan.
Dan yang bisa Parker respon terhadapnya hanyalah pupilnya yang mengecil, mukanya yang merah, dan kepalanya yang berasap.
Dia marah besar.
Aaron yang bisa membaca kode yang diberikan Parker langsung menyetujuinya tanpa ada pikir panjang. “Kalau begitu saatnya kita beraksi!”
Iris dan Audy pun menyusul mengikuti Aaron dan Parker yang mulai keluar dari kantor polisi, untuk pergi ke Blok T tempat penyanderaan yang dibicarakan.
Begitu juga Delphia dan Laju, yang meregangkan tangannya, merentangkan otot yang sedikit kaku, untuk siap beraksi mengikuti Parker.
__ADS_1