
“APAKAH ITU SAJA KEMAMPUANMU!?” Teriak Parker yang mengejek sang monster jamur raksasa. “AYO KITA LANJUTKAN INI!”
Meskipun pada akhirnya mereka harus tetap tertimbun separuh oleh sisa bebatuan yang berjatuhan, mereka masih bisa selamat atas kerja keras Parker yang hampir pingsan kehabisan tenaga.
Atau tidak?
Parker tidak ada niatan untuk pingsan sama sekali.
Tapi, bahkan yang lain pun paham bahwa kesadaran Parker sudah berada di ujung tanduk.
Dan dengan begitu, Iris sang gagak setia pun langsung ambil alih.
“Terima kasih, Parker! Kita akan mengurusi bagian ini!”
Audy dan Aaron mengangguk. Begitu juga dengan Laju dan Delphia.
Mereka tersenyum kepada Parker yang penuh dengan lebam, memar, dan pendarahan di sekujur tubuhnya, yang berusaha untuk tetap sadar dalam duduknya.
Empat jam setelahnya, pertarungan masih terjadi meskipun secara bergiliran.
Tentu saja tidak akan ada yang kuat untuk terus bergerak berkelahi melancarkan sihir dan kekuatan mereka selama itu. Audy dan Laju akan bergantian dengan Aaron dan Iris untuk terus mengalihkan perhatian dari sang monster.
Sebenarnya, mereka bisa saja kabur dan bersembunyi, berdiskusi tentang apa yang harus mereka lakukan. Tapi, monster tersebut selalu bisa mencari dan menemukan mereka sekalipun di titik buta pengelihatannya. Maka dari itu, akan ada regu yang bertugas untuk mengalihkan perhatian, bukan lagi dengan tujuan untuk melawannya.
Sehingga, yang perlu mereka lakukan adalah bergerak kesana kemari, lompat menghindari serangan, meminimalisir penggunaan tenaga dan energi karena hanya bertujuan untuk mencuri-curi waktu.
Beruntung, mereka memiliki Delphia.
Meskipun harus dibayar dengan banyak luka dan patah tulang, mereka masih memiliki harapan untuk menang dan keluar dari tempat ini.
Setelah sebelumnya semangat Parker kembali membara untuk terus melawan sang monster, pada akhirnya mereka tidak mendapatkan hasil yang jelas. Maka dari itu, Laju mengusulkan pendekatan yang berebeda.
Strategi yang mereka gunakan ini lebih berfokus pada perlindungan Delphia untuk memfokuskan kekuatannya untuk melihat kemungkinan yang mereka miliki untuk menang, dan apa pendekatan yang harus mereka lakukan.
Masalah yang paling krusial sejak awal adalah ruangan tertutup yang tidak memiliki jalan keluar, selain yang berada di belakang monster jamur tersebut.
Maka dari itu, mereka tidak bisa mundur untuk berpikir dengan tenang, selain harus selalu bergerak berusaha menghindar menyelamatkan nyawa mereka.
Apalagi pada jam-jam pertama ketika Delphia masih belum menemukan jawaban, keadaan semakin buruk bagi mereka. Audy dan Laju terus-terusan terbanting terlempar membentur banyak pilar, dinding ruangan, atau bebatuan yang jatuh dari langit-langit ruangan.
Belum lagi Parker yang tenaganya benar-benar harus terkuras habis masih berusaha memberikan perlindungan terbaiknya bagi seluruh regu.
“Baiklah Iris, Aaron, sekarang bagian kalian!” Seru Parker setelah membawa Audy kembali yang mengerang kesakitan.
Karena Parker yang sudah kelelahan, pelindung yang bisa dia berikan semakin tipis. Maka dari itu, Audy dan Laju merasakan rasa sakit yang lebih parah dari sebelumnya ketika dilempar dibanting oleh tentakel-tentakel tersebut.
“Apakah Delphia sudah mendapatkannya?”
“…” Delphia hanya bisa menggeleng.
“Haaah-hhh.”
“Tenang saja. Sebelumnya, dia berhasil untuk melihat masa depan dengan benar, kan? Mungkin waktu yang dibutuhkannya kali ini lebih lama karena kemungkinan kita untuk menang sangat sedikit?”
“…”
Percakapan dihentikan.
Semuanya menghembuskan napas panjang. Selain karena harapan dan masa depan yang tidak bisa dipastikan, mereka juga mengeluhkan rasa sakit yang tidak bisa disembuhkan dengan mudah, selain harus menahannya.
Bug!
Ketika mereka masih berpikir dan merenung, terdengar suara jatuh yang berasal dari samping mereka. Itu Delphia. Dia juga sama kelelahan.
“Apakah kamu baik-baik saja?” Dengan gesit Laju langsung mendekati dan menghampiri Delphia, membantunya untuk kembali berdiri tegak.
Sayangnya, Delphia tidaklah baik-baik saja.
Meskipun dia hanya bisa mengangguk dan memberikan senyum manis lainnya kepada Laju, yang terjadi pada tubuhnya tidaklah digambarkan dengan baik oleh ekspresinya. Dimulai dari kulitnya yang mulai pucat, mata berliannya yang memerah, rambutnya yang membiru, hingga darahnya yang dengan deras terus keluar dari hidungnya.
Laju tentu kaget dan kebingungan apa yang harus dia bantu kepada Delphia, selain membantunya berdiri.
Padahal, Delphia sudah bertransformasi menjadi putri esnya dengan banyak partikel kristal yang mengitari tubuhnya. Tapi, masa depan untuk mereka masih kabur, masih abu-abu, masih tidak jelas. Bahkan, Delphia yang harusnya bisa lebih mengoptimalkan kekuatannya setelah berubah masih terlihat kesulitan.
Bug!
Bahkan ketika Laju sudah berusaha untuk membantunya berjalan dan berdiri, Delphia tetaplah sangat lemas dan lemah sehingga harus jatuh lagi.
“Del…?” Seru laju dengan keringat dingin.
Dan jawaban Delphia masih sama. Dia masih tersenyum, masih berusaha untuk bangkit. “Hhhh,” meskipun napasnya tersenggal dan sesak, dia masih berusaha merangkul Laju untuk membantunya berdiri.
“AWAS!” teriak Parker.
BLARRR!!
Terdengar lagi suara benturan yang terdapat di samping mereka.
Itu Aaron.
Dia baru saja dilempar oleh tentakel dan membentur bebatuan dengan keras dan cepat. Pelindung Parker yang tidak begitu efektif lagi membuat beberapa tulangnya retak, terdapat pendarahan dari organ dalamnya, hingga hampir saja kesadarannya juga menghilang.
“Ugh,” erangan Audy. “Aku akan menggantikan Aaron. Tolong urus dia!” Serunya. Dan dengan gesit, Audy mulai mengasah lagi taring dan cakarnya, melompat dengan cepat, menyerang monster jamur yang tidak ada perubahan sejak awal mereka bertemu.
__ADS_1
Tidak ada luka, tidak ada memar, tidak ada apapun.
“Eh!?”
Laju yang sedang menggotong membantu Delphia untuk berdiri sedang kebingungan. Kenapa? Perasaan dingin yang Delphia keluarkan berangsur surut, begitu juga dengan partikel-partikel kristal esnya yang menghilang.
Ada apa? Apa yang terjadi? Apakah Delphia kehilangan seluruh tenaganya? Laju kebingungan. Delphia yang rentan harus segera dibantu. Tapi bagaimana dengan Aaron? Apakah dia masih tergeletak di antara reruntuhan? Apakah Parker bisa mengurusinya?
Delphia menoleh pada Laju.
Tersenyum lemas, menggerakkan kepalanya menunjukkan Aaron.
“Baiklah!” Seru Laju yang langsung paham untuk segera membantu Aaron. Dia lepaskan tangannya yang merangkul Delphia untuk pergi menuju tempat Aaron yang lunglai kehabisan tenaga.
Selanjutnya, mereka bertiga duduk dengan lemas di belakang Parker yang juga kelelahan mengurusi banyak pelindung yang harus diakomodasikannya, sekaligus menahan serangan dari tentakel.
“Nghh,” Delphia meminta Laju untuk membantunya.
Laju mengangguk. Dia kembali menawarkan tangannya untuk Delphia raih, untuk selanjutnya Laju genggam dengan erat, juga dengan rangkulannya.
Oh? Tidak?
Delphia tidak merasa perlu untuk dirangkul lagi. Dia menolak tawaran Laju, meskipun masih membutuhkannya untuk menemaninya. Kemudian, Delphia berangkat mengelilingi ruangan mencari benda yang penting dalam eksekusi keberhasilan mereka untuk keluar dari ruangan ini.
Sampai pada akhirnya mereka menemukan kristal ungu yang menjamur, Laju menghalau Delphia untuk menyentuhnya langsung. Ini berbeda dengan pohon listrik itu! Kamu tidak bisa menyentuhnya sembarangan! Atau itulah apa yang ingin Laju sampaikan.
Tapi Delphia hanya menjawabnya dengan senyuman lain.
“Nngghhh-hhk, kkkhhhh!!!” Delphia mengerang sembari perlahan mendekati dan menyentuh kristal ungu tersebut. Tentu saja dia merasakan rasa sakit yang tiada tara. Dia menderita, dia merana.
“Apa yang kamu lakukan!? Biar aku saja yang bawa kalau memang kristal itu penting!” Seru Laju dengan heran, dengan marah kepada Delphia.
Kali ini bukan senyum lagi yang Delphia berikan sebagai jawaban. Dengan telapak tangannya yang gemetaran dan terselimuti oleh rasa dingin dari kekuatan esnya, Delphia benar-benar melarang Laju untuk ikut campur.
Hal ini juga didukung oleh ekspresinya yang tidak lagi tersenyum kecil. Dia benar-benar serius dalam melarang Laju mendekatinya.
Dan setelahnya, Delpia lebih banyak mengambil kristal ungu yang menyetrum dan menyengat dirinya, sampai dia kembali pada pelindung Parker yang terlihat sudah terkelupas di sana sini.
“Parker!” Seru Laju.
“…!?”
“Delphia sepertinya sudah menemukan jalan keluarnya. Bisakah kau panggil yang lain? Sepertinya dia masih membutuhkan beberapa persiapan untuk melakukannya.”
“Baiklah!”
Setelah mendapatkan instruksi dari Laju, Parker pun langsung meneruskannya kepada Audy dan Iris yang masih berusaha untuk mengalihkan perhatian dari sang monster jamur raksasa. Tanpa basa-basi, mereka langsung merespon dengan senang terhadap jawaban Delphia.
Tapi, langsung kembali dan membiarkan monster ini tetap mengamuk bukanlah jawaban. Maka dari itu, Laju dan Aaron pun ikut andil berusaha untuk menyerang monster jamur raksasa, berusaha untuk menumbangkannya.
Sayangnya, berdasarkan kalkulasi, monster tersebut hanya tak sadarkan diri dalam 80 detik saja. Maka dari itu, Laju harus bisa menyampaikan maksud Delphia dengan waktu yang sangat sebentar itu.
Ketika pada akhirnya mereka berkumpul, mereka semua sama terkejutnya seperti Laju ketika melihat Delphia memegang kristal ungu dengan tangan kosong.
“Apakah dia baik-baik saja?”
“Tentu saja tidak. Lihat bekas mimisannya! Lihat arus listrik tersebut!”
“Sudahlah tidak perlu berdebat. Delphia akan menjelaskannya.”
“…Ng!” Delphia mengangguk.
Dan selanjutnya, dengan keterbatasannya untuk tidak bisa berbicara, Delphia berusaha untuk menjelaskannya dengan gerakan tangannya.
Secara sederhana, Delphia akan mengirimkan ledakan kepada jantung sang monster yang tertanam jauh di dalam tubuhnya. Kristal ungu ini adalah pemicu dan kekuatan esnya yang sejak tadi dikumpulkan merupakan bahan bakarnya.
Dan bagaimana dia akan meledakannya akan dijelaskan sebagai berikut;
Laju akan membukakan kesempatan sehingga membuat luka pada sang monster, khususnya di antara kedua matanya. Ketika luka tersebut cukup besar bagi Delphia untuk masuk kedalamnya, maka Delphia akan masuk membawa kristal ungu ini untuk meledakkan dirinya di samping jantung sang monster.
“Tunggu! Tidakkah ada banyak keanehan dalam rencana ini? Laju yang harus menyerangnya? Jangankan dia sendiri. Kita berempat menyerangnya pun tidak membuat luka parah bagi si monster!”
“Aku memang percaya pada Laju. Tapi, apakah itu memang bisa berhasil?”
“Dan yang paling krusial menurutku, apakah kamu berusaha untuk mengorbankan dirimu sendiri, Del? Apakah tidak salah? Kenapa tidak kita lempar saja kristal tersebut ke dalam monster itu?”
“…”
Delphia tidak menjawab, melainkan senyum lainnya.
Tidak ada yang berani merespon.
Mereka semua hanya menelan ludah dalam-dalam.
Ada alasan mengapa Delphia menjadi pengorbanan yang akan meledakkan diri bersama kristal ungu tersebut. Pertama, kristal ungu ini bukanlah bom waktu. Sehingga, ketika pemicu diaktifkan, ledakan akan seketika itu pula terjadi.
Disitulah peran Iris untuk membantu. Delphia meminta kepadanya untuk mengumpulkan energi listrik yang cukup kuat yang bisa dia pegang.
Listrik Iris akan digunakan oleh Delphia sebagai pemicu tambahan yang akan membuat percikap api dengan menciptakan hubungan arus pendek. Dengan munculnya api di dalam reaksi ini, Delphia berharap ledakan yang ditimbulkan oleh kristal ini bisa lebih mematikan.
Tapi, tenang saja. Delphia tidak bertujuan mengakhiri hidupnya disini.
Masih ada Parker yang dimintainya melindungi agar dampak ledakan bisa diminimalisir, dan masih ada Aaron yang dimintainya untuk meliputi dirinya dengan lendir-lendir yang akan menyelimutinya.
__ADS_1
Lalu, bagaimana dia akan melemparkan dirinya kedalam luka yang sudah dibuat Laju, disitulah peran Audy dan mungkin sedikit bantuan Iris lagi juga untuk melemparnya.
Harusnya, ini bukan ledakan yang dahsyat dimana akan terjadi gempa dan ruangan akan runtuh seperti sebelumnya monster jamur raksasa tersebut melompat-lompat.
Ledakan ini hanya akan terjadi pada organ lokal monster saja.
Delphia sebenarnya tidak bisa menjelaskan sistem kerja yang terjadi pada setiap bahan yang digunakannya, terutama kristal ungu, dan organ dari monster jamur tersebut. Dia hanya mendapatkan visi ini dari pengelihatan masa depannya saja.
Juga untuk Laju, jangan coba untuk menikam monster secara lurus. Hal itu tidak akan berguna karena proses regenerasinya yang cepat, kulitnya yang tebal, juga tangan yang akan terkunci terjepit di antara kulitnya. Coba fokuskan pada serangan diagonal.
“Aku terpukau kamu bisa mengartikan semuanya dengan detail, Ju!”
“Aku juga sebenarnya mengerti apa yang tangan Delphia berusaha katakan. Tapi, tidak lebih baik dari penjelasanmu. Haha!”
“Aku harap ini berhasil!!!”
“Sudah-sudah! Kita tidak punya banyak waktu! Monster itu akan bangun lagi!” Teriak Iris membantah semua respon dan komentar teman-temannya pada Laju yang sedang menerjemahkan bahasa isyarat Delphia.
“Baiklah, ayo mulai!” ucap Parker.
Dan dengan begitu, Aaron dan Parker langsung berusaha untuk memberikan perlindungan terbaik mereka untuk Delphia. Iris pun berusaha memompa sekuat tenaga energi listrik yang tersisa untuk dijadikannya bola yang bisa dipegang tanpa luka oleh Delphia, sementara Laju berusaha sekuat tenaga untuk mencari celah dan melukai monster jamur raksasa tersebut.
“Jangan paksakan dirimu, tuan putri. Aku mengharapkan keselamatan untukmu!” ucap Parker sambil menepuk bahu Delphia.
“…Ngh!” seperti biasa Delphia memberikan senyum manisnya.
Permasalahannya, meskipun mereka paham atas tugasnya masing-masing, mempersiapkan kondisi yang dibutuhkan Delphia tetap membutuhkan satu jam lebih. Laju membutuhkan satu jam lebih untuk berhasil melukai sang monster jamur raksasa, meskipun dengan teknik yang Delphia anjurkan, meskipun dengan bantuan yang lainnya.
Sebenarnya, bukan berarti kekuatan lendir, pelindung, dan bola listriknya yang berkurang. Hanya saja, itu artinya satu jam lain untuk Delphia yang menderita tersengat kristal ungu yang terus dipegangnya, bersamaan dengan bola listrik dari Iris.
“Sekarang!” Teriak Laju yang sumringah akhirnya bisa melukai sang monster.
“Ughh-hhyaaaaa!!!!”
Bersamaan dengan lemparan dan teriakan Audy yang nyaring, Iris yang sedang menjadi gagak menggendong Delphia langsung terlempar dengan cepat.
Seperti biasa, refleks dari para tentakel yang memiliki kesadarannya masing-masing mulai mengganggu gerakan Iris yang super cepat tersebut. Beruntung, Aaron masih memiliki sisa kekuatan untuk menembakan proyektil yang menghalau tentakel-tentakel tersebut, seperti awal Iris menculik salah satu lizardmen.
Dan sebelum kulit monster jamur raksasa tersebut beregenerasi dengan super duper cepat, Delphia sudah lebih dahulu memasuki tubuh melewati luka yang dibuat oleh Laju dan praktis tertelan termakan monster jamur tersebut.
Iris dan Laju yang masih berada dalam radius serangan tentakel dan melihat kejadian tersebut langsung melompat keluar melindungi diri, sembari melihat keadaan sang monster jamur raksasa yang baru saja memakan Delphia.
Awalnya, tentakel tersebut masih merengek menyerang menggerakkannya kesana kemari. Menepuk-nepuk lantai ruangan dengan keras, memutar dirinya, seperti sedang merasa tidak nyaman.
“Awas!” Parker yang menyadari tentakel akan menyerang mereka langsung melindungi Aaron yang badannya tidak seimbang.
Sebenarnya, Parker menyelamatkannya dengan tepat waktu.
Tapi, hentakkan dari serangan tentakel tetap membuatnya terbanting terlempar membentur dinding dan reruntuhan ruangan. Dia hanya bersyukur berhasil meringkup memeluk Aaron dengan sekuat tenaga dan berhasil menyelamatkannya.
“Apa yang terjadi? Dia masih bergerak bebas!?” Audy panik.
“Tapi, harusnya strategi dan pelemparan Delphia ini berpengaruh terhadap sesuatu. Target serangan monster itu bukan kita lagi!”
“Kira-kira berapa lama sampai Delphia bisa menemukan jantungnya? Laju, apakah kamu melihatnya di balik luka itu?”
“Tidak. Luka yang aku berikan hanya memperlihatkan otot saja.”
“Ugh, Delpia akan bekerja sulit di dalam sana.”
Dan ternyata 30 menit berlalu begitu saja. Meskipun mereka tidak lagi diserang oleh sang monster, waktu yang digunakan untuk menunggu terasa seperti seabad lamanya. Mereka gelisah, bercucuran keringat, otot tegang, sama sekali tidak bisa menggunakannya untuk mengistirahatkan dan menyembuhkan tubuh.
“Apakah ini berhasil? Bagaiman Delphia didalam?”
“Jangan berpikir begitu dong! Kita harus mempercayakan ini padanya!”
“Tapi…”
Jawaban yang mereka butuhkan ternyata baru muncul setelahnya.
Monster jamur raksasa yang terus merengek memukul dirinya sendiri berusaha lepas dari rasa tidak nyaman yang berada di dalam dirinya, perlahan mulai berhenti dan bergetar seperti kejang-kejang.
Dan satu detik setelahnya, setiap bagian tubuh dari monster tersebut menggelembung membesar hingga puluhan jumlahnya, menutup mukanya, juga tentakelnya.
Pop!
Satu gelembung meletus melepaskan sebuah cairan yang terbang melintasi ruangan dan jatuh pada salah satu bebatuan yang runtuh.
Oh tidak! Ini masalah besar!
“SEMUANYA, BERLINDUNG!!!!” Teriak Parker.
Cairan yang keluar dari letusan jamur tersebut ternyata cairan asam yang bersifat korosi dan melelehkan. Entahlah apa saja yang dapat dilelehkannya. Tapi, melihat sebagian dari bebatuan itu hancur seketika tidak berbekas, pasti cairan tersebut akan berpengaruh juga terhadap manusia kan?
Hal ini juga didukung dari fakta bahwa lemparan cairan tersebut tidak hanya satu dua.
Dari setiap gelembung, ada setidaknya belasan lemparan cairan asam lain baik yang intensitasnya sedikit maupun yang besar yang terbang kesana kemari tanpa arah yang jelas.
Dengan kekuatan yang sangat terakhir, Parker berusaha menciptakan pelindung yang dapat melindungi mereka dari cairan asam tersebut.
Padahal, Parker sendiri tidak tahu apakah pelindung tersebut cukup kuat atau tidak.
“Aaaakhh!” Parker mengerang begitu kakinya yang tidak terlindungi terkena cipratan dari cairan asam tersebut.
__ADS_1
Tapi apalagi yang bisa mereka lakukan, khususnya Parker?
Mereka hanya bisa berharap dan berusaha percaya.