
Tidak banyak yang Laju ingat begitu dia memasuki pintu yang bepusar itu. Dia seperti tenggelam, kehabisa napas, sesak, tubuhnya remuk, terpecah belah, tergusur ombak yang kasat mata, tertiup angin, ditarik oleh lubang hitam.
Kecuali, ada satu hal yang benar-benar dia benci.
Perutnya masih mual.
Tapi, sebelum dia bisa mengurusi masalahnya itu, ada fakta menarik yang harus ia hadapi di depan matanya.
Entahlah apakah ini sebuah kebetulan, atau memang sudah diatur sedemikian rupa. Begitu Laju bisa merasakan tubuhnya lagi yang dilanjut dengan tangannya, kepalanya, juga kakinya sebagai keutuhan fisik manusia yang lengkap, begitu tubuh Laju seperti kaget terjatuh melewati satu anak tangga, begitu pengelihatannya sudah dikembalikan oleh kegelapan, yang bisa Laju lihat di sekelilingnya adalah sebuah kamar mandi umum.
Dengan bilik yang sedikit kotor, pintu yang hanya hadir separuh, wastafel dan pengering tangan yang berisik, dan lantai yang diisi oleh ubin biru yang mendecit.
Bukankah harusnya Laju berada pada alat teleportasi lain sebagai pintu destinasi? Kenapa dia berakhir di kamar mandi? Dia sedang sadar, kan? Tubuhnya masih utuh, kan?
Ah sudahlah! Laju tidak perlu memikirkan itu. Tidak bisa memikirkan itu.
Ada kebutuhan perutnya yang harus diselesaikannya terlebih dahulu.
“Urgbb…,” Laju mulai merasakan mual yang lebih parah dari sebelumnya.
Dia langsung pergi menuju salah satu bilik toilet untuk mengeluarkan segala isi yang berada di perutnya, untuk mengeluarkan rasa mualnya.
“Hoeeek,” tapi yang keluar tidak lain hanya perasaannya saja, juga sedikit cairan yang sengaja Laju ludahkan.
Baiklah, satu masalah sudah terselesaikan.
Sekarang, saatnya memastikan dimana gerangan ia berada?
Laju ingat betul bahwa satu detik sebelumnya dia masihlah berada di antara Radit, Adrian, dan kumpulan monster berjas di ruangan bawah tanah yang pengap. Meskipun prosesi penarikan dirinya ke dalam lubang hitam seperti terjadi berjam-jam, tapi tetap saja itu hanya terjadi dalam satu kedipan mata.
Adrian menepati janjinya bahwa ini semua aman.
“Tapi apakah mereka mengirimku ke tempat yang benar?”
Laju yang siap untuk menemui jawaban tersebut mulai keluar dari bilik toilet, pergi ke wastafel untuk membasuh tangannya sekaligus mengusap mukanya. Menyegarkan kembali fisik dan raganya, bersiap untuk pergi keluar dari kamar mandi umum ini.
“Tunggu! Bagaimana jika memang benar aku sudah berada di dunia manusia, tapi aku terlempar ke luar negeri? Atau setidaknya ke luar kota?” Laju yang memegang gagang pintu perlahan mulai mempertanyakan dirinya lagi.
Keringat dingin mulai mengalir pelan dari ubun-ubunnya, juga tangannya yang semakin gemetaran. “Haaaah!” Laju mengehembuskan napas panjang.
Laju akhirnya memilih untuk berharap. Dia buka pintu kamar mandi umum tersebut dan berusaha mengidentifikasi, melihat siapa gerangan penduduk dan masyarakat yang hadir di dunia ini, di kota ini?
Ngeeek!
Engsel pintu berbunyi sedikit keras.
Dan ternyata, siapa yang sedang bergerombol berjalan berlalu lalang di depan pandangan Laju tidak lain merupakan manusia itu sendiri. Bukan makhluk dengan warna-warna aneh, dengan organ tambahan yang tidak masuk akal, ditanami mesin bionik di sana-sini, ataupun yang memiliki postur tubuh abnormal.
Yang Laju lihat tidak lain hanyalah manusia yang sangat normal, dengan kulit coklatnya, rambut hitamnya, dengan semua kemiripannya dengan Laju.
“Aku, pulang…? Aku sudah pulang!?” Tanya Laju pada dirinya sendiri, merasa belum bisa mempercayai apa yang sedang ia lihat di depan matanya.
“Hei, permisi. Kamu menghalangi pintu?”
Tapi Laju tidak bisa berlama-lama menangis bahagia dan terharu ria mendapati fakta bahwa dia sudah kembali ke kampung halamannya. Baru saja dia berencana untuk mulai beradaptasi lagi kepada lingkungan lamanya, sudah lebih dahulu ada seorang pria yang mengusirnya.
Maklum saja, Laju sedang berdiri menghalangi jalan.
Tunggu.
Ada suatu hal yang Laju perhatikan tentang percakapan barusan.
“Aku bisa memahaminya?”
Sebelum meyakinkan diri sendirinya lebih lanjut, Laju beranjak dari pintu kamar mandi umum untuk pergi berkeliling menuju apapun yang berada di lingkungannya.
Ternyata, Laju sedang berada di dalam sebuah gedung. Permasalahan gedung apa yang sedang ia masuki Laju pun belum bisa memastikannya sampai dia melihat banyak plang-plang yang menunjukkan arah dan tujuan menggunakan dua sampai tiga bahasa. Tapi, meskipun terdapat plang-plang dan beberapa toko, dia masih belum yakin sampai dia pergi masuk lebih dalam.
Setelah 15 menit dia berkeliling sambil tertawa kecil cengegesan yang menyebabkan orang yang dilewatinya merasa tidak nyaman, pada akhirnya Laju bisa mulai menyimpulkan dimana dia berhasil terteleportasi.
Gedung ini merupakan sebuah stasiun kereta, di kota tempat tinggalnya, di negara yang menggunakan bahasa ibunya, benar-benar di kampung halamannya.
__ADS_1
“Oh, terima kasih Adrian dan Radit!!!”
Selagi takjub melihat sekelilingnya dengan udik seperti baru pertama kali datang ke stasiun, Laju menghirup udara untuk menyegarkan dirinya – yang sebenarnya tidak ada perbedaanya. Tapi, dengan kekuatan sugestinya, Laju merasa bisa merasakan aroma-aroma kampung halaman yang awalnya tidak pernah dipedulikannya.
Satu masalah akhirnya terselesaikan.
Dia berhasil kembali, bisa terteleportasi dengan aman, kembali ke kota dan tujuan yang tepat, dan menemukan manusia tanpa satupun monster yang berkeliaran. Meskipun begitu, Laju menyadari satu permasalahan lain.
“Lalu, bagaimana aku bisa pulang? Pulang ke rumah?”
Seketika, dia mematung merenung dan memilih untuk mencari kursi kosong yang dapat membantunya untuk berpikir dengan tenang.
Sekarang, Laju kebingungan apa yang harus ia lakukan untuk membuat dirinya bisa pulang dengan aman dan nyaman. Dia benar-benar kembali dengan tangan kosong, hanya membawa dirinya saja untuk melakukan teleportasi. Kenapa dia tidak bisa berpikir lebih baik? Apakah karena tekanan yang diberikan oleh Adrian dan Radit?
Tapi tidak ada gunanya menyalahkan orang lain.
Mungkin, ini hanya salah satu kekeliruan dalam otaknya dalam menerka sesuatu.
“Harusnya aku tadi minta uang dulu pada Adrian,” sesal Laju.
Dia benar-benar lupa bahwa kehidupan tidak serta merta tentang siapa yang jahat dan patut untuk dilawan dan siapa yang baik yang harus dibela. Hidup adalah tentang interaksi sosial yang tidak bisa dinilai begitu mudah apakah dia baik atau buruk. Masalahnya, tidak semua orang siap untuk berinteraksi sosial, jika tidak menemukan suatu manfaat baginya.
Salah satu benda yang dapat menjadi mediasi antara dua pihak untuk berinteraksi adalah uang, yang disepakati bisa memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Dan sekarang, Laju benar-benar tidak memegang satu receh uang pun di dalam kantungnya – yang bisa digunakannya untuk melakukan interaksi sosial dengan meminta bantuan untuk membawanya pulang.
“Tunggu, bagaimana dengan uang yang Parker berikan?” Laju berusaha untuk merogoh sakunya celananya, juga bajunya, atau apapun yang memiliki kantung.
Tidak. Ada dua hal yang membantah solusi ini untuk bisa dipakai. Pertama adalah karena mata uang yang berbeda, dan yang paling penting adalah bahwa memang pada dasarnya Laju meninggalkan semua kartu digital di kantor Parker, karena merasa tidak akan berurusan lagi dengannya.
Bisakah dia meminta saja pada satpam atau yang segala macam untuk membantunya? Membantu dan mengantar bocah yang tidak bisa pulang dari stasiun?
Awalnya, Laju merasa ini adalah solusi yang tepat.
Tapi, pada akhirnya dia sedikit ragu juga bahwa itu akan terjadi. Terlebih, dia tidak terlalu ingin dinilai macam-macam sebagai anak nakal, yang mungkin akan berakibat buruk pada reputasinya di sekolah.
“Oh? Kenapa aku melupakan orang-orang di rumah?”
“Permisi, pak. Apakah saya boleh izin untuk meminjam teleponnya untuk menelpon orang tua saya? Saya kehilangan mereka, heheh!” Tanya Laju pada salah satu satpam yang bertugas di gerbang masuk.
“Oh? Silahkan, dik. Ke nomor mana? Apakah mau saya antarkan saja?”
“Ah, tidak perlu, pak. Mungkin saya hanya perlu menelpon sekitar satu menit saja.”
“Oh, baiklah kalau begitu. Silahkan pakai ini, dik!” Seru Satpam yang langsung memberikan telepon genggamnya pada Laju.
“Baik terima kasih, pak!”
Setelahnya, Laju pun menepati janjinya untuk menggunakan telepon sang satpam kurang lebih dari satu menit untuk menelpon rumahnya. Begitu dia selesai, dia kembalikan lagi telepon genggam sang satpam dan langsung berpamitan.
Laju yang sudah memberikan segala informasi dan konfirmasi bahwa dia adalah benar Laju Pratama kepada pelayan rumahnya, langsung pergi menuju tempat parkir stasiun, duduk di kursi yang disediakan, dan menunggu malaikat penyelamat datang.
30 menit berlalu, sebuah mobil yang sangat Laju kenali datang dengan pelan. Awalnya, Laju pandangi terlebih dahulu seluruh fisik mobil itu sebelum dia benar-benar membuka pintu. Entah mengapa, sekali lagi Laju merasakan emosinya sedang meluap-luap, seperti terharu dan ingin menangis melihat mobil di depannya.
“Ada apa, Tuan Laju?” tanya sang supir.
“Ah! Tidak. Tidak ada apa-apa,” seru Laju sambil mengusap air matanya dan mulai membuka pintu mobil dengan senyum lebar di mukanya. “Terima kasih, pak. Ayo pulang!”
***
Ada satu hal yang sang supir sadari dari percakapan yang ia lakukan bersama Laju sepanjang perjalanan. Dia menyadari bahwa dia merasa senang tentang liburan sekolah yang Laju dapatkan. Karena, hal itu benar-benar merubah tuan mudanya menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Sebenarnya, apa yang mereka bicarakan bahkan bukan tentang liburan sekolah itu sendiri, bukan juga tentang kehidupan Laju.
“Sepertinya kamu sedang bahagia ya, Tuan Laju?”
“Eh? Begitukah? Entahlah. Hahaha!”
“Terlihat sekali dari ekspresi dan senyum Tuan Laju yang tidak berhenti sejak kita pulang dari stasiun!”
“Oh ya? Hahaha!” Tawa Laju menanggapi. “Eh, mal ini sepertinya baru direnovasi, ya? Terakhir kali aku lihat sepertinya kondisinya tidak seperti ini!”
__ADS_1
“Iya. Kebetulan memang ada kebakaran kecil dari tokonya sehingga pihak pengelola memilih untuk merenovasi seluruh gedung sekaligus.”
“Wah? Kebakaran? Aku merasa tidak enak. Apakah ada korbannya?”
“Untungnya tidak ada. Semuanya aman. Bahkan kerugiannya pun tidak besar.”
“Syukurlah…. Lalu, apa yang baru di mal tersebut?”
“Setahuku, ada macam-macam–”
Dan seperti itulah, basa-basi yang sejenis itulah yang mereka isi sepanjang perjalanan. Tapi, meskipun hanya dari percakapan ringan yang tidak ada manfaatnya sama sekali – kecuali meningkatkan kualitas interaksi sosial saja. Sang upir menyadari banyak perubahan yang terjadi pada Laju baik dari sifat maupun cara bicaranya.
Dia sangat bersyukur dan menghela napas lega.
Meskipun sebenarnya sangat disayangkan bahwa ketika perjalanan diisi oleh percakapan yang menyenangkan, semuanya akan terasa sangat cepat. Baru saja tadi ia jemput Laju dari stasiun, satu kedipan mata berikutnya mereka sudah memasuki kawasan dan halaman rumah Laju yang super besar.
Sang supir merasa ingin bercakap ringan lagi dengan tuan mudanya.
“Silahkan, Tuan. Kita sudah sampai di rumah!” Seru sang supir yang membukakan pintu untuk Laju.
Serupa seperti sebelumnya, Laju keluar dari mobil dengan ekspresi girang dan senyum yang jarang sekali sang supir lihat. Dia seperti merasa sangat antusias terhadap pulangnya, seperti merasa bahagia bisa kembali ke rumahnya.
“Terima kasih, pak!” sebut Laju sambil menepuk pundak sang supir.
“…! Eh!?” Kaget sang supir yang masih kewalahan dengan banyaknya kejutan yang ia terima dari Laju Pratama hari ini. Tapi, demi menjunjung sikap profesionalitasnya, tentu saja dia tetap berusaha untuk tersenyum dan melayan tuannya dengan baik.
Prang!
Baru saja suasana yang sangat menyenangkan bisa diciptakan oleh Laju yang bisa memberikan begitu banyak energi positif di sekitarnya. Setelahnya, malah terdengar bunyi piring pecah dari dalam rumah dan teriakan di sana sini yang membuat Laju langsung menghentikkan langkahnya di teras, menunda pembukaan pintu untuk memasuki rumahnya, tempat tinggalnya.
Hal ini juga membuat Laju membelalakkan matanya begitu lebar, begitu besar, membuat dirinya kaget terperanjat. Seketika, dia merasakan bisikan yang dingin dari setan-setan di sekitarnya seperti sedang membisikannya sihir dan hasutan yang buruk padanya.
Dengan hatinya yang positif, Laju langsung berusaha mengusir bisikan tersebut, berusaha untuk tidak terpengaruh terhadap apapun, juga hasutan buruk itu.
Tapi, begitu Laju menggerakkan tangannya, langsung terdapat rasa dingin yang familiar seperti sedang menggenggamnya dari belakang.
Sontak, Laju langsung berbalik bersiaga terhadap kedatangan siapapun yang masih mengganggu hidupnya.
“Eh? Ada apa Tuan?” Tanya sang supir yang masih berdiri di sisi mobil.
“Tidak. Haha! Maaf,” seru Laju yang menyadari tidak ada lagi gadis berambut putih di belakangnya. “Sudahlah. Semuanya sudah menjadi masa lalu. Sekarang saatnya untuk melangkah dan menatap masa depan yang harus aku kerjakan dengan lebih baik lagi!” Lanjutnya kemudian sekaligus memantapkan hati dan niatnya.
Laju pun membuka pintu depan dan segera bersiap untuk segala apapun yang terjadi.
Dia masuki ruang tamu, tempat terakhir kali dia dengan ayahnya berbicara. Lalu dia melewati tangga berputar tempat dia bermimpi bahwa ayahnya sedang menyapanya dan mengelusnya. Sampai pada akhirnya dia sampai ke meja makan, tempat terakhir dia merasakan momen yang penting dalam hidupnya, tentang janji masa depan yang bisa merubah hidupnya kembali menjadi normal.
Awalnya, dia sedikit takut dengan apa yang sebenarnya terjadi dari suara teriakan, pertengkaran, dan suara piring pecah tersebut.
Harusnya, suara tersebut berada di daerah ini.
Apalagi karena ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Kedua ruangan ini adalah ruangan tempat dimana piring disimpan, kan?
Ternyata, segala kerisauan Laju hanyalah sia-sia belaka.
Karena, yang sedang membanting piring tidak lain adalah ibunya sendiri yang memang sedang mengamuk marah, namun bukan dengan ayahnya. Melainkan, dengan pelayan yang sedang membungkuk minta maaf.
Laju merasa tidak butuh penjelasan atas kejadian tersebut.
Selagi itu bukan pertengkaran kedua orang tuanya, semuanya menjadi tidak penting.
“Ah, Laju!! Kamu sudah pulang? Bagaimana liburan sekolahmu, sayang?” Seru ibunya yang langsung mengalihkan perhatiannya kepada Laju yang baru saja pulang. “Nnggghhhh! Sini nak! Peluk ibu!” serunya.
Tanpa ragu-ragu dan bimbang seperti sebelumnya, Laju langsung membalas pelukan ibunya dengan erat, dengan nikmat.
Mau bagaimanapun, wanita ini memang ibu kandungnya.
Laju bisa mendapatkan kehangatan sekaligus rasa afeksi yang berlimpah ruah.
“Aku pulang, bu!” Seru Laju.
“Aku pulang!” Lanjutnya pada diri sendiri. “Aku pulang!” Dan sekali lagi.
__ADS_1