Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
Menikmati Hasil


__ADS_3

Siang itu matahari tampak sangat bersahabat, Cahayanya cerah namun tidak terik di kulit apalagi sampai ke ubun ubun. Di tepian sungai tampak seorang pemuda sedang asik menguliti seekor kancil hasil buruannya, Pemuda tersebut adalah Jaya yg sedang berbahagia karena mendapatkan seekor kancil dari hasil berburu menggunakan panah barunya.


Jaya yg pergi ke sungai dengan niat ingin berlatih untuk meningkatkan Energi Air miliknya, Harus menunda latihannya karena mendapatkan seekor hewan buruan. Setelah selesai menguliti dan membersihkan isi perut hewan tersebut, Jaya mengumpulkan kayu kering dari sekitar untuk membuat perapian.


Setelah melumuri daging Kancil dengan tumbuhan rempah yg terdapat di sekitar sungai, Jaya mulai memanggang Kancil tersebut di atas api yg dia buat. Daging Kancil tersebut tidak di potong potong, Melainkan langsung di panggang secara utuh, Tak berselang lama aroma Kancil Guling pun tercium dan menyebar membuat siapa saja yg mencium aroma tersebut menjadi lapar. Semakin lama aroma daging panggang yg di lumuri rempah rempah itu pun kian menyebar, Di bantu dengan hembusan angin semakin memperjauh jarak terbang aroma Kancil Guling tersebut.


Daging Kancil yg di panggang masih setengah matang, Samar samar Jaya mendengar derap langkah kaki dari arah hilir sungai, Jaya mempertajam pendengarannya dengan Aji Tatar Netra dan dia dapat merasakan derap langkah itu adalah derap langkah manusia yg berjalan ke arahnya. " Aneh... Sudah dua tahun aku di sini, Baru kali ini aku mendengar derap langkah orang di sekitar sini, Dan aku sangat yakin kalau itu bukan derap langkah Kakek Guru." Guman Jaya dalam hati.


Namun Jaya tidak ingin segera bertindak, Dia belum tau sosok yg berjalan menghampirinya berniat jahat atau tidak. Dia bersikap seolah olah dia tidak mengetahui keberadaan orang tersebut, Jaya tampak masih asik membolak balikkan daging panggang nya sambil tetap waspada jika sewaktu waktu sosok yg akan menghampiri itu berniat jahat.


"Anak muda... Boleh aku minta sedikit daging panggang mu itu?... Aku sudah tiga hari berada di hutan ini namun belum mendapatkan seekor pun hewan buruan." Ucap seorang pria paruh baya ketika sudah di hadapan Jaya.


Jaya berpura pura terkejut dengan kehadiran pria paruh baya tersebut, Jaya mengamati penampilan pria tersebut yg seperti pemburu, Di tangan kirinya memegang sebuah busur, kantong panah yg terikat di punggung, sebuah belati di pinggang kanan dan sebatang pedang lengkung di pinggang kiri. Ketika menatap wajah Pria paruh baya itu Jaya tidak menemukan gelagat mencurigakan namun sebaliknya Jaya merasa damai saat memandang wajah pria paruh baya tersebut.

__ADS_1


" Si.. Silahkan paman..." Jawab Jaya sedikit gugup karena terbawa saat menatap wajah Pria paruh baya itu. "Tunggulah sebentar lagi paman, Daging ini belum matang seluruhnya." Ucap Jaya kepada Pemburu itu.


" Siapa namamu anak muda?" Tanya Pemburu itu kepada Jaya,


" Namaku Jaya paman, Paman siapa?" Jawab Jaya sembari bertanya kembali.


" Aku Dewangin." Jawab Pemburu itu singkat.


"Tadi paman mengatakan sudah tiga hari paman di hutan ini, apa betul?" Tanya Jaya membuka pembicaraan agar tidak jenuh menunggu daging yg lagi di panggang. " Begitulah... Aku memang menemukan beberapa hewan, Namun saat aku memanahnya selalu saja meleset, Bahkan aku sudah membidiknya sangat tepat namun hewan tersebut tetap luput dari panahku." Dewangin coba menjelaskan apa yg terjadi padanya dengan wajah tertunduk lesu.


Dewangin menerima potongan daging tersebut sambil menatap haru kepada Jaya. "Trima kasih nak." Ucap Dewangin sedikit lirih dengan nada bergetar dan mata yg mulai berkaca. Jaya kembali memotong paha belakang kancil yg satunya lagi untuk dia makan, Namun baru saja dia menggigit daging tersebut dia melirik Dewangin yg masih menatapnya sambil memegang potongan daging yg baru dia berikan dan belum memakannya.


"Mengapa paman menatapku seperti itu?" Tanya Jaya yg membatalkan gigitannya." Baru kali ini aku menjumpai pemuda sepertimu nak, Kau yg memiliki daging buruan ini, Bahkan kau terlebih dahulu memberikannya padaku dari pada memakannya, Sungguh mulia budi pekertimu nak." Ucap Dewangin dengan perasaan campur aduk dan air mata haru yg mulai berlinang di sudut matanya.

__ADS_1


Jaya hanya tersenyum mendengar ucapan Dewangin, "Kakekku yg mengajari paman, Kata beliau memuliakan orang yg lebih tua adalah suatu kebajikan, Menolong orang yg membutuhkan adalah kebajikan, Dan kebajikan yg kita lakukan itu lah yg membuat hidup kita bahagia." Tutur Jaya mengenai didikan Empu Gading yg coba dia terapkan. "Makanlah dulu paman, Mungkin paman sudah sangat lapar karena sudah tiga hari tidak mendapatkan buruan." Ucap Jaya kembali seraya melanjutkan makannya yg tertunda, Dewangin pun ikut makan dengan lahapnya.


" Ambil saja lagi paman, Jika paman masih merasa lapar" Jaya menawarkan di sela sela mereka makan. " Siapa nama kakek mu nak? Siapa tau aku mengenalnya." Ucap Dewangin sambil mengunyah daging panggang di tangannya, Dia sudah tidak merasa canggung lagi kepada Jaya. " Gading.. Orang orang menyebutnya Empu Gading paman." Jawab Jaya menjelaskan nama Gurunya. " Bukankah dia masih Membujang sampai sekarang?" Tanya Dewangin dengan nada heran dan terkejut.


" Iya paman.. Dia adalah Guru sekaligus kakek angkat ku, Dia juga yg telah menyelamatkan aku sewaktu terapung di sungai ini, Apa paman mengenalnya?" Jaya menjelaskan hubungannya dengan Empu Gading. " Gurumu adalah salah satu Pendekar pilih tanding di masa mudanya, Sampai suatu ketika pertarungannya dengan Ki Rangkuti salah satu pendekar terkuat Aliran Hitam membuat dia raib dari dunia persilatan, Banyak yg mengatakan kalau dia tewas, Tapi banyak juga yg mengatakan dia hanya terluka parah, Namun tidak adanya kabar berita tentang keberadaanya dalam waktu yg lama hingga menepis pandangan orang tentang dia masih hidup. Namun jika di tanya pendapat pribadiku, Sampai sekarang aku masih yakin kalau dia masih hidup" Dewangin menjelaskan tentang sepak terjang Empu Gading semasa muda yg memang tidak di ketahui Jaya. Sejenak ada rasa bangga di hati Jaya karena menjadi murid salah satu mantan Pendekar pilih tanding.


" Busurmu bagus... Apa Gurumu yg membuatnya?" Tanya Dewangin yg melihat busur terletak di antar mereka duduk. " Tidak paman... Busur ini aku buat sendiri. Aku memang belajar Pandai Besi dari Kakek." Tutur Jaya menjelaskan. " boleh aku melihat panahmu?" Tanya Dewangin kembali. tanpa ragu Jaya mengeluarkan sebatang panah dari kantong panah di punggungnya dan menyerahkan kepada Dewangin.


Dengan teliti Dewangin melihat panah yg di berikan oleh Jaya, " Sungguh panah yg bagus dan akurat serta sangat mematikan bila mengenai sasaran." Komentar Dewangin melihat panah milik Jaya. " Ah... Biasa aja paman, Hanya buatan seorang murid yg masih butuh banyak belajar." Jawab Jaya merendah. "Jaya... Maukah kamu menukar busur dan panahmu dengan milikku? Ini adalah busur dan panah yg diwariskan turun temurun di keluarga ku, Namun aku kesulitan mengunakannya". Dewangin mencoba menawarkan barter panah dan busur kepada Jaya.


Sejenak Jaya berfikir dengan tawaran dari Dewangin, " Jika itu memang busur warisan turun temurun pasti busur itu memiliki keistimewaan dari busur biasa, Mungkin ada sesuatu yg salah sehingga sulit di pergunakan." Jaya berkata dalam benaknya. " Baiklah paman aku setuju, Mungkin busur dan panahku akan lebih bermanfaat untuk paman, Karena Kakek pernah berpesan sebaik baiknya seseorang adalah yg paling bermanfaat untuk kebaikan orang lain." Tutur Jaya menyetujui tawaran barter busur dan panah dari Dewangin. Kemudian mereka bertukar busur dan kantong panah.


" Jaya... Ingat lah nak... Jika kau ingin menyimpan dan meninggalkannya, Maka bungkus lah busur dan panah ini dengan kain putih sebanyak tujuh lapis, Itu adalah pesan dari leluhur yg mewariskan padaku." Ucap Dewangin berpesan. " Baik paman, Aku akan selalu mengingatnya" Ucap Jaya dengan patuh. "O.. Ia paman, Bawalah daging ini untuk istri dan anak paman, Aku takut mereka khawatir karena paman belum juga pulang." Ucap Jaya dengan tulus.

__ADS_1


"Baiklah... Kalau begitu terimalah ini." Ucap Dewangin seraya membuka cincin giok berwarna hijau dari jempol kanannya dan menyerahkan kepada Jaya. " Maaf paman, Aku tidak menjual daging ini apa lagi kebaikan yg kulakukan ke pada paman." Ucap Jaya yg merasa dapat imbalan dari kebaikan yg dia lakukan dengan niat yg tulus untuk membantu orang. " Aku juga tidak berniat membeli daging ini atau membayar kebaikan yg kamu lakukan padaku, Ini adalah kenang kenangan dariku untukmu. Tunjukan cincin itu kepada gurumu, Maka dia akan ingat dengan teman lamanya ini." Ucap Dewangin menjelaskan pemberiannya kepada Jaya.


" Tapi ingat lah nak... Cincin itu hanya boleh di pakai di Jempol kanan, Dan kau baru boleh memakainya setelah menunjukkannya pada Gurumu." Sambung Dewangin menjelaskan prihal cincin yg dia berikan. "Baik paman, aku akan mengingat semua pesanmu, semoga semua yg paman berikan dapat bermanfaat baik untukku dan kelak kita dapat berjumpa lagi." Ucap Jaya sambil menerima cincin giok yg di berikan Dewangin. " Semoga nak.. Trima kasih atas semuanya hari ini" Ucap Dewangin yg akan beranjak pergi. "Sama sama paman." Jawab Jaya. Setelahnya Dewangin berjalan pergi sambil membawa daging panggang yg masih tersisa, Jaya masih terus melihat punggung Dewangin sampai hilang di tengah rimbunnya hutan.


__ADS_2