Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
ARENA MAUT 2


__ADS_3

Jaya mengeluarkan Bola Cahaya yg sudah di gabung dengan Elemen Angin di tangan kanannya, "Aku akan menunjukkan bagaimana cara murid disini bertarung dengan musuh" Ucap Jaya kepada keempat murid Gagak Rimang. Setelah itu Jaya melemparkan Bola Cahaya ke udara lalu berkelebat menyerang keempat murid Gagak Rimang yg fokus ke Bola Cahaya yg mengambang di udara.


Jaya berada di tengah keempat lawannya dan langsung menyerang lawannya yg sedang lengah karena menanti apa yg terjadi dari Bola cahaya tersebut, "Tab.. Buk.. Buk.. Buk.. Buk.." keempat murid Gagak rimang baru tersadar setelah mendapat tendangan di wajah mereka masing-masing. "Bedebah.. Serangan curang" Ucap Gandi yg menyeka darah yg keluar dari sudut bibirnya. "Apa kalian tidak curang dengan membuat serangan pengalihan tadi?" Ucap Jaya tak mau kalah. "Ku bunuh kau" Ucap Ari seraya menyerang Jaya. Kemudian di ikuti ketiga saudara seperguruannya.


Pertarungan empat lawan satu pun terjadi, Jaya yg sudah menggunakan Aji Tatar Netra langsung memadukan dengan Jurus Kijang Kelana untuk mengantisipasi serangan lawan, dia Juga menggabungkan dengan Jurus Delapan Penjuru Angin untuk menyerang keempat lawannya. Saling jual beli serangan pun terjadi, Tidak bisa di pungkiri serangan gabungan dari keempat Murid Gagak Rimang memang cukup dahyat, Bahkan para Pendekar yg menyaksikan merasa ngeri melihat pertarungan tersebut, Tapi di sisi lain mereka juga terhibur dengan adanya tontonan gratis. Berkat gabungan dua Jurus dan Satu Ajian yg di gunakan Jaya, pertarungan bisa berjalan dengan berimbang.

__ADS_1


Tanpa di sadari keempat murid Gagak Rimang, sebuah lingkaran Air berdiameter tujuh meter telah mengurung pertarungan tersebut. Secara perlahan Bola Cahaya ciptaan Jaya yg mengambang di udara menyerap Energi Matahari dan menyalurkannya ke lingkaran Air yg berada di tanah. Para Pendekar muda tersebut masih terus bertarung dengan menggunakan jurus-jurus andalan mereka masing masing, Namun ada yg aneh di rasakan keempat Murid Gagak Rimang, mereka merasakan udara semakin panas, keringat mereka mengucur deras, Dan stamina mereka sangat cepat terkuras. Hingga Jaya melompat ke udara sambil melancarkan tendangan ke dada Ari yg mengena dengan telak, Jaya juga menjadikan dada Ari sebagai pijakan untuk mendorong tubuhnya ke arah Doni yg posisinya bersebrangan sambil melancarkan tinju ke rahang Doni dengan telak. Jurus yg sama juga berhasil d terapkan kepada Eko dan Gandi, Keempat Murid Gagak Rimang terpental ke empat arah berbeda dan baru berhenti ketika menabrak Dinding Energi yg tercipta dari Bola Cahaya yg mengambang di atas mereka.


Ari mencoba menembus Dinding energi tersebut, karena merasa sangat kepanasan, namun usahanya gagal, Bahkan iya terpental kembali ke dalam. Jika di lihat dari luar, Kelima Pendekar muda tersebut seperti berada di dalam ruangan transparan berbentuk Kerucut dengan Bola Cahaya yg Mengambang di atas sebagai pusatnya. Orang yg di luar dapat melihat dan mendengar kejadian di dalam tapi tidak dapat memasukinya, dan mereka tidak merasakan panas seperti di dalam ruangan. "Bagai mana..? Ini adalah Arena Maut yg ku ciptakan, Hanya jika kalian mati baru bisa keluar dari arena ini, atau jika kalian bisa membunuhku". Ucap Jaya kepada semua lawannya.


Tak ada pilihan bagi Murid Gagak Rimang, Terbunuh atau membunuh Jaya adalah hal yg bisa mengeluarkan mereka dari ruangan transparan itu. Sementara suhu di dalam ruangan semakin lama semakin panas yg membuat mereka semakin lemas karena dehidrasi. Keempat Murid Gagak Rimang kembali memasang kuda-kuda untuk menyerang, sejurus kemudian pertarungan kembali terjadi. Jaya tidak sedikitpun merasa panas, Selain karena Dia yg menciptakan ruangan tersebut, dia juga menguasai Elemen Air dan Angin yg bisa menepis panas matahari.

__ADS_1


Melihat hal tersebut, Emosi ketiga Murid Gagak Rimang yg tersisa mulai memuncak. Mereka mengeluarkan senjata masing-masing, Doni mengeluarkan Tombak Pendek dari dalam bajunya, Eko dan Gandi mencabut Pedang dari warang di punggung mereka. Jaya yg tak mau ketinggalan memasukkan tangan kanan ke dalam bajunya, Dia mengeluarkan Sepasang Belati sepanjang siku yg dia buat sendiri, Tampak Belati tersebut memiliki mata seperti mata panah yg memanjang dan ada lingkaran kecil pada ujung gagangnya. Sejurus kemudian pertarungan dengan senjata pun di mulai.


Pertarungan tiga lawan satu menggunakan senjata cukup merepotkan Jaya, Formasi Trisula yg di terapkan ketiga Murid Gagak Rimang terbilang sempurna. Eko dan Gandi yg menggunakan pedang menyerang dari sisi kiri dan kanan, Sedangkan Doni menyerang dari tengah dengan tombak pendeknya. Tak jarang ketiganya saling berganti posisi untuk mengurung dan menyudutkan Jaya namun tetap dalam Formasi yg membentuk segi tiga. Walau dapat mengimbangi, tapi terlihat jelas Jaya sering terdesak oleh serangan ketiga lawannya.


Doni menusukkan tombaknya ke arah perut Jaya tapi berhasil di tepis menggunakan belati di tangan kiri, kemudian Doni melancarkan serangan susulan yg lebih kuat dengan tebasan dari atas yg mengarah ke kepala Jaya "Tebasan Pembakar" Ucap Doni sambil mengayunkan tombaknya ke kepala Jaya. Menggunakan kedua belati Jaya menangkis serangan itu dengan memposisikan kedua belati menyilang di atas kepala, "Tring.." Tombak Doni beradu dengan kedua belai Jaya. Momen itu segera di manfaatkan Eko dan Gandi yg melihat daerah perut Jaya yg terbuka karena kedua tangannya di atas kepala menahan tombak Doni, Keduanya langsung menebaskan pedang mereka dari arah samping ke perut Jaya searah dengan serangan Doni, "Crash... Crash.. " Terdengar suara dua sayatan pedang yg membuat tubuh Jaya terpental hingga menabrak dinding Energi. "Kakang.." Gayatri berteriak dan ingin berlari mendekati Jaya, Namun segera di cegah Empu Gading.

__ADS_1


"Tenang saja.. Dia bukan Pendekar lemah. Dia tidak akan mati semudah itu". Ucap Empu Gading kepada Gayatri yg yakin dengan kemampuan muridnya. Jaya bangkit kembali, Tampak sobekan di kiri dan kanan pada baju di bagian perutnya, Namun tidak ada bekas darah pada sobekan tersebut. Hal itu di karenakan baju kulit yg di kenakan Jaya yg dia dapat dari Kotak Warisan. "Sial... Ternyata dia punya Ilmu Kebal". Ucap Eko yg merasa serangannya sia-sia. "Kita harus mencari titik kelemahannya, Jika tidak nyawa kita yg akan terancam". Ucap Gandi kepada dua saudaranya.


Sekar Mayang tersenyum lebar melihat kemampuan Jaya bertarung, "Kakang... Aku Merestui Jaya menjadi Menantu di Perguruan Bidadari" Ucapnya sambil melirik Gayatri yg tersenyum malu-malu dengan wajah memerah.


__ADS_2