
"Hanya segini kemampuan kalian? Aku pikir hebat kali orang yg datang kesini untuk membunuhku". Ucap Jaya mencibir kemampuan ketiga Murid Gagak Rimang. "Bedebah... Sombong kali kau baru punya ilmu segitu". Ucap Doni untuk menghilangkan rasa gentar di hatinya. "Mari kita buktikan". Ucap Jaya sambil kembali melancarkan serangan kepada ketiga musuhnya.
Pertarungan sengit kembali terjadi, Kali ini ketiga Murid Gagak Rimang berusaha mencecar seluruh tubuh Jaya untuk menemukan titik kelemahan dari Ilmu kebal Jaya. Dengan tenang Jaya hanya bertahan dan menghindar dari serangan ketiga musuhnya yg semakin membabi-buta, Hal itu sengaja di lakukan Jaya untuk menguras stamina lawan yg sedang di balut emosi. Doni kembali menyerang Jaya dari arah depan dengan jurus yg sama, Namun kali ini Jaya tidak menangkis serangan Doni, Dia hanya menghindar dengan menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
Doni terus mengarahkan tusukan tombaknya ke arah dada Jaya kiri dan kanan, Karena Jaya terus menghindar membuat Doni yakin kalau titik lemah Ilmu Kebal Jaya berada di daerah dada. Tanpa di sadari Doni, hal itu sengaja di lakukan Jaya untuk memperpendek jarak antar mereka. Saat Doni menusuk ke arah dada kanan Jaya, Jaya memutar tubuhnya sedikit ke arah kanan lalu menahan tombak Doni dengan belati di tangan kanan, Saat tubuh Doni sudah berada di sisi kiri Jaya dengan jarak yg sangat dekat, Belati di tangan kiri segera di tusukkan Jaya ke perut Doni yg terbuka. "Cruk.." Mata belati berbentuk segi tiga dengan panjang sejengkal seperti mata panah masuk seluruhnya ke perut Doni, Sambil melakukan tebasan ke samping Jaya menarik Belatinya untuk menciptakan luka yg lebih fatal di perut Doni. Setelah itu Jaya memutar badannya seratus delapan puluh derajat sambil menusukkan belati di tangan kanan ke leher Doni dari arah samping. Leher Doni tembus akibat tikaman belati Jaya tersebut, Dengan Bengis Jaya menarik Belati yg menembus leher Doni kearah depan yg menyebabkan leher Doni putus setengah. Darah mengucur deras dari leher Doni, tubuhnya ambruk ke tanah dengan leher setengah terpenggal.
__ADS_1
Kematian Doni kembali mengurangi kekuatan Murid Gagak Rimang yg berada di dalam Arena Maut ciptaan Jaya, "Dia menggunakan Senjata yg lebih pendek dari kita, Kita harus tetap menjaga jarak agar senjatanya tidak dapat menjangkau kita". Bisik Eko kepada Gandi. Kemudian Eko dan Gandi mengalirkan Elemen Api ke pedang mereka, Pedang yg di pegang Eko dan Gandi mengeluarkan hawa panas dan warna kemerahan. Jaya yg menciptakan senjatanya dari bahan khusus tidak ambil peduli dengan senjata lawan yg di aliri Elemen, sejurus kemudian pertarungan kembali berlangsung.
Kali ini Jaya melawan dua orang yg sama-sama menggunakan pedang, Jaya di serang dari arah depan dan belakang. Serangan yg di lancarkan kepada Jaya selalu berubah posisi namun tetap bersebrangan. Dengan gesit Jaya mengimbangi gerakan dan serangan dari kedua lawannya, Namun karena Eko dan Gandi selalu menjaga jarak serang mereka mengakibatkan Jaya tidak dapat melancarkan serangan dengan efektif, akhirnya jaya hanya bisa lebih banyak bertahan sambil mencari cara untuk melancarkan serangan telak.
"Crash.." Pedang Eko menggores lengan atas Jaya, Namun kali ini ada darah yg mengalir dari luka goresan tersebut. Eko dan Gandi tersenyum melihat hal tersebut, "Ternyata senjata yg di aliri Elemen mampu melukai Jaya ". Kata batin mereka. Karena sudah menemukan cara melukai Jaya,Mereka kembali menyerang Jaya dengan lebih bersemangat. Mereka seperti menemukan titik terang dari pertarungan yg telah merenggut dua nyawa saudara seperguruan mereka. Karena terlalu semangat mereka melupakan jarak serang yg tadinya mereka jaga, "Crash.." Jaya berhasil membalas luka goresan dari Eko dengan membuat luka goresan di dada Eko.
__ADS_1
Gandi yg sedang menyerang Jaya dari sisi kiri memberikan isyarat kedipan mata kepada Eko, Seketika Eko bergerak ke belakang Jaya lalu menebaskan pedangnya ke arah pinggang Jaya dari belakang, Gandi juga melakukan gerakan yg sama menebaskan pedangnya ke arah perut Jaya dari arah depan. Jika serangan ini berhasil, bisa di pastikan tubuh Jaya akan terbagi dua. Mendapati dua serangan pada titik yg sama, Jaya menjatuhkan badannya dengan posisi telentang untuk menghindari dua serangan sekaligus sambil menikam paha kedua musuhnya dengan belati, "Swus... Swus.. Cruk.. Cruk.." Tebasan Eko dan Gandi menghantam ruang kosong tepat di atas tubuh Jaya yg telentang di tanah, Namun Jaya berhasil menikam paha Eko dan Gandi sekaligus dengan kedua belatinya. Jaya segera mengeluarkan Pedang Biru untuk mengantisipasi serangan susulan dari lawannya.
"Tring... Tring.." Jaya menangkis tebasan dari Eko dan Gandi yg di arahkan ke perutnya, Jaya menyapu kaki Eko dan Gandi yg tidak tertusuk Belati dengan kedua kakinya sebagai serangan balasan. Akibatnya Eko dan Gandi telentang ke arah kanan dan kiri Jaya dengan posisi kaki yg bertemu. Jaya melakukan gerakan bergulung seperti salto kebelakang untuk menghindari serangan susulan dan mengambil jarak untuk menyerang. Melihat tidak ada serangan yg di lancarkan lawan, Jaya menebaskan pedangnya ke paha Gandi yg tidak tertancap belati. "Cras.. Aaaaa..." Paha kanan Gandi putus akibat tebasan pedang Jaya, Darah mengucur deras dari potongan kaki yg putus akibat tebasan tersebut.
Eko mencoba bangkit untuk melakukan perlawanan, Namun belum dia bangkit sepenuhnya, Jaya sudah menebaskan Pedang Biru ke arah leher Eko. Sontak Eko menangkis serangan Jaya dengan memposisikan pedangnya di depan tubuhnya untuk menahan pedang Jaya, Karena luka di paha yg tertembus belati, konsentrasi Eko terpecah yg mengakibatkan Elemen Api yg di alirkan ke pedangnya tidak maksimal. "Tring... Tak... Crash.." Pedang Eko yg di aliri Elemen Api lemah patah saat berbenturan dengan Pedang Biru yg memang Pedang Pusaka, Pedang Biru Jaya terus melaju hingga memenggal kepala Eko. Darah mengucur deras dari leher Eko di ikuti kepalanya yg menggelinding di tanah.
__ADS_1
Mendapati hal itu, Gandi semakin putus asa. Kini hanya tertinggal dirinya seorang, itu pun dengan kondisi kaki kanan yg putus dan kaki kiri tertembus belati. "Aku akan membawamu menghadap Dewa Kematian" Ucap Gandi di tengah keputusasaannya. Kemudian Gandi duduk di tanah dan menarik nafas dalam sambil membaca mantra, Melihat hal itu Jaya juga bersiap dengan semua kemungkinan yg ada. Setelah selesai membaca mantra, Gandi mengumpulkan seluruh kekuatan di kedua tangannya yg di rentangkan, Dalam satu tarikan nafas "Ledakan Api " Ucap Gandi sambil menepukkan kedua tangan dengan sekuat tenaganya.
Jaya yg sudah bersiap langsung lompat ke atas menuju Bola Cahaya yg mengambang di udara, "Membeku" Ucap Jaya yg membuat dinding Transparan menjadi dinding Es yg sangat Tebal. Jaya Keluar dari Puncak Kerucut Es tepat di posisi Bola Cahaya di ikuti semburan Api yg sangat dahsyat seperti letusan Gunung Merapi. "Memadat.... Hancurkan.." Ucap Jaya sambil mendarat di tanah.