Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
Pengendali Zat


__ADS_3

Fajar mulai terbit dan menunjukkan Wujudnya sedikit demi sedikit, Burung burung sudah berkicau tanpa ragu bagai paduan suara yg bersahutan dengan nada berbeda, Sang Bayu berhembus membuat dedaunan pada ranting pohon menari dengan riang.


Jaya lagi sibuk di dapur dengan semangat memuncak karena baru saja mendapatkan Anugrah dari Dewa Angin yg tidak dia sangka sangka, Pagi ini Jaya memasak ubi yg di rebus dengan nira, Lalu di tumbuk dan di beri daging kelapa yg di parut. Serta seduhan Daun Kawa yg sedikit pahit di tambah Gula Batu. Jaya meletakkan Ubi rebus beserta pasukannya di sebuah piring, Dan seduhan Daun Kawa siap minum pada dua cangkir lalu menghidangkan kepada Gurunya yg lagi duduk di pendopo sambil menikmati suasana pagi.


Kedua Guru dan Murid itu pun sarapan bersama di pendopo sambil berbincang ringan, terlihat sesekali mereka tertawa karena aksi Sang Murid yg jahil dan sikap Sang Guru yg sok cuek. Terlihat jelas kehangatan hubungan kasih sayang di antara mereka sebagai Guru dan Murid bahkan lebih jauh dari itu seperti Kakek dengan Cucu Tunggalnya.


Setelah Ubi rebus habis, dan hanya meninggalkan minuman di cangkir yg di seruput pelan. Empu Gading menanyakan laporan latihan Jaya selama dia tinggal kan. Jaya menceritakan apa yg dia alami di sungai dan rutinitas barunya dengan Mentari pagi. Setelah itu dia merentangkan sedikit tangan kanannya dan memposisikan telapak di bagian atas, Tak lama berselang keluarlah sebuah Bola Air sebesar Bola Kasti yg mengambang di telapak tangan kanannya.

__ADS_1


Melihat hal tersebut Empu Gading menahan rasa terkejutnya dengan memasang wajah datar tanpa ekspresi, Pasalnya dia yg dulu di akui sebagai bakat tercerdas baru bisa melakukan hal yg sama setelah latihan selama setahun, Tapi ini dia baru meninggalkan Jaya sekitar sepuluh hari yg lalu, Pada saat itu Jaya masih buta dengan Elemen dan baru di ajarkan Tehnik Pernafasan Alam satu hari sebelum dia pergi. "Hem... Tidak buruk... " Komentar Empu Gading yg sebenarnya malu hati melihat kemampuan Muridnya.


"Sekarang Kakek akan mengajarkan Tehnik bertempur dengan Elemen Air, Mari ke tempat latihan." Ucap Empu Gading seraya bangkit dari duduknya dan berjalan ke tempat mereka biasa latihan. Jaya yg mendengar hal itu langsung kegirangan, Bisa di pastikan sebentar lagi dia akan mendapatkan Jurus atau Tehnik yg baru dari Gurunya.


Sampai di suatu tempat, Terdapat areal luas yg hanya di tumbuhi rerumputan. Tempat itulah yg sering di jadikan tempat latihan oleh Jaya dan Gurunya. "Sekarang coba kau perhatikan." Ucap Empu Gading seraya merentangkan kedua tangannya ke depan dan memposisikan telapak pada bagian atas, Tak lama berselang muncullah Bola Air sebesar Bola Kasti di masing masing tangan Empu Gading, Kemudian Bola Air di tangan kanan mengecil hingga hanya sebesar Kelereng, Jaya terkesima dan memperhatikan dengan serius apa yg di lakukan Gurunya.


Kemudian Empu Gading melemparkan dua Bola Air itu kearah batu besar yg terdapat di tempat itu, " Coba kau lihat.. Ini dengan pukulan tangan kiri, Dengan Bola Air Normal." Ucap Empu Gading menunjukkan batu yg terkena serangan Bola Air dengan tangan kirinya, Terdapat cekungan pada batu berdiameter dua jengkal dengan kedalaman satu jengkal. " Dan ini menggunakan tangan kanan dengan Bola Air yg di Padatkan." Ucap Empu Gading kembali menunjukkan batu yg terkena serangan tangan kanan dengan Bola Air yg di padatkan, Terdapat cekungan berdiameter sebesar bola kasti namun memiliki kedalaman yg sangat dalam, Bahkan batu yg tak mampu di peluk orang dewasa itu hampir tembus terkena serangan tersebut, Bisa di bayangkan seandainya serangan tersebut di arahkan ke tubuh manusia.

__ADS_1


Jaya bersiap dan memasang kuda kuda, Kemudian dia menciptakan sebuah Bola Air di tangannya, Jaya mencoba memadatkan Bola Air tersebut, namun yg terjadi Bola Air tersebut bukan memadat tetapi menghilang. Jaya mencoba mengulanginya lagi namun tetap gagal. " Lanjutkan latihanmu." Ucap Empu Gading seraya berjalan meninggalkan Jaya seorang diri.


Jaya kembali melanjutkan latihannya yaitu Tehnik Pemadatan zat, Berulang kali dia mencoba namun tetap gagal, Tapi Jaya bukan tipe orang yg gampang menyerah, Walau selalu gagal dia tetap gigih mengulangi Tehnik tersebut, Hingga menjelang sore dia merasakan lelah yg teramat sangat, Tubuhnya lemas seperti kehabisan Energi. Akhirnya Jaya memutuskan untuk menghentikan latihan dan mencoba kembali esok hari.


Dengan langkah gontai Jaya berjalan sendiri ke arah gubuk, Dia berjalan seperti seseorang yg pulang dari sebuah pertempuran dengan luka yg sangat parah. Melihat hal itu Empu gading langsung berkelebat ke arah Jaya, Tubuh tuanya harus memapah tubuh Muridnya yg lemas kehabisan Energi karena latihan seharian.


Empu Gading membawa tubuh Jaya ke pendopo dan membaringkannya, Tak lama berselang Jaya pun tertidur karena sudah terlalu lelah. Empu Gading terlihat sangat khawatir langsung memeriksa denyut nadi dan suhu tubuh Muridnya. "Syukurlah dia hanya kelelahan... Dasar Murid Sinting... Dia selalu saja memaksakan diri saat latihan." Rutuk Empu Gading yg tau karakter Muridnya yg tak akan berhenti berlatih sebelum menguasai suatu Jurus atau Tehnik yg di pelajari.

__ADS_1


Sudah sering terjadi jika Jaya berlatih Jurus atau Tehnik yg baru di berikan Empu Gading, Jaya hanya akan berhenti berlatih jika dia sudah menguasai Jurus atau Tehnik yg dia pelajari atau dia yg tumbang karena kelelahan seperti saat ini. Hal itu sering membuat Empu Gading merasa khawatir namun dia tidak pernah menunjukkan kekhawatirannya di depan Jaya. Begitu juga kalau melihat pencapaian yg di raih Jaya, Empu Gading tidak pernah menunjukkan kekagumannya, Sebaliknya dia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.


Semalaman Jaya tertidur karena lelah yg teramat sangat, Dia tidak makan malam atau membersihkan badan dari keringat yg membanjiri tubuhnya sepanjang hari, Empu Gading juga terpaksa membopong tubuh Jaya karena menjelang tengah malam dia belum juga terbangun dan sangat sulit di bangunkan. Bersyukur Jaya tidur sendiri karena di dalam gubuk ada dua kamar, Jika saja mereka tidur satu kamar bisa di pastikan Empu Gading tidak akan bisa tidur karena aroma badan Jaya yg semerbak.


__ADS_2