
Siang itu Matahari masih sangat bersahabat, Cahayanya cerah namun tidak terik di kulit, Posisinya pun sudah mulai condong ke barat. Setelah pertemuannya dengan Dewangin, Jaya kembali melanjutkan latihan di atas batu di tengah sungai tempat dia biasa berlatih meningkatkan Energi Air miliknya.
Jaya duduk bersila di atas batu seperti biasa, Namun hari ini perasaannya lebih tenang dan dia juga merasa sangat bahagia bisa menolong sesama yg membutuhkan. Karena rasa tenang dan bahagia yg sedang Jaya rasakan, Energi Air yg diserap pun bisa lebih banyak bahkan berkali kali lipat, Saat ini setelah Jaya mengaktifkan Tehnik Pernafasan Alam dia merasakan Energi di sekitarnya bukan lagi dia sedot, Melainkan energi itu sendiri yg seakan akan berlomba masuk ke dalam tubuhnya. Hal itu menjadikan energi yg terkumpul pada tubuh Jaya meningkat sangat pesat.
Menjelang sore Jaya menyudahi latihannya, Dia berniat pulang lebih awal untuk memeriksa dan memperbaiki busur yg baru di berikan Dewangin, Namun sebelum beranjak dari batu tempat dia latihan yg berada di tengah sungai, Dia mencoba Jurus Langkah Kilat dengan berjalan di atas air, Tetapi cara tersebut hampir saja membuatnya tercebur ke dalam sungai, Dengan sigap Jaya merubah gerakannya menjadi berlari agar tidak tercebur.
" Ternyata Jurus Langkah Kilat hanya efektif pada gerakan yg cepat" Guman Jaya dalam mengamati sisi lemah dari jurus miliknya. Jaya mengantungkan kantong panah pemberian Dewangin di punggungnya dan membawa busur di tangan kiri hendak beranjak pulang. Di tengah jalan Jaya melihat tiga ekor ayam hutan berjalan memasuki rimbunan semak. Berniat mencoba panah yg baru, Jaya mengarahkan panah pada busurnya ke rimbunan semak yg bergerak, Bahkan dia tidak membidik dengan serius.
"Shwuuss... Keeok...keook...keook.." Seekor Ayam Hutan melompat keluar dari rimbunan semak dalam keadaan tertembus panah, Ayam tersebut hanya mampu melompat sebanyak dua kali setelahnya tergeletak tak berdaya. " Aneh... Panah ini begitu akurat dan sangat mudah di pergunakan, Bahkan aku tidak membidik sama sekali." Ucap Jaya memperhatikan busur di tangan kirinya sambil berjalan mengambil ayam hasil buruannya, Tanpa pikir panjang Jaya pun kembali berjalan ke arah pulang.
Jaya berjalan pulang dengan meninting seekor Ayam Hutan yg sudah tak bernyawa, Tak lupa dia mencabut batang ubi yg dia perkirakan sudah memiliki umbi yg cukup besar. Setela mengambil Umbinya, Jaya mematahkan batang ubi tersebut menjadi beberapa potongan kecil sepanjang dua jengkal, kemudian dia menancapkan potongan potongan batang ubi tersebut ke tanah agar bisa tumbuh kembali.
__ADS_1
Sesampai di gubuk Jaya mengupas dan membersihkan umbi yg dia bawa, Kemudian membersihkan ayam, Tak lupa dia melumuri ayam tersebut dengan bumbu dan rempah agar terasa nikmat saat di makan. Selesai membersihkan umbi dan ayam, Jaya hendak merebus ubi terlebih dahulu, Namun sebelum itu dia mendengar derap langkah kuda yg membawa kereta ke arah gubuknya. " Kakek pulang." Ucapnya dengan gembira.
Jaya mengurungkan niatnya merebus ubi, Dia berjalan keluar gubuk untuk menyambut Gurunya pulang. Begitu kereta kuda itu berhenti di depan halaman gubuk mereka, Jaya langsung menghampiri Empu Gading yg turun dari kereta kuda " Kakek " Ucapnya bernada rindu seraya mengulurkan tangan untuk menyalami Gurunya, Tak lupa dia menundukkan kepada dan mencium punggung tangan Gurunya sebagai rasa hormat kepada orang tua.
Setelah menyalami Gurunya, Jaya dengan cekatan menurunkan dan membawa semua barang barang yg di bawa Gurunya dari Kadipaten menggunakan kereta kuda ke dalam gubuk. Empu Gading mengeluarkan tiga keping Uang Logam Emas dan memberikan kepada Sang Kusir. " Ini terlalu banyak Empu, Biasanya hanya satu Keping Emas " ucap sang kusir menerima pemberian dari Empu Gading.
" Ambil saja... Lebihnya bisa kamu tabung atau membeli beberapa barang agar anak dan istrimu senang." Ucap Empu Gading kepada sang kusir. " Baik Empu.. Trima kasih banyak." Jawab Sang Kusir merasa gembira. Setelah Jaya selesai menurunkan semua barang dari dalam kereta, Kusir tersebut pun berlalu pergi.
Jaya masih sibuk mengangkat barang barang dari halaman untuk di masukkan ke dalam gubuk dan di susun pada tempatnya agar mudah dicari saat di perlukan, Namun di sela kesibukannya itu Jaya masih sempat memanaskan air untuk membuat teh. Empu Gading yg masih merasa lelah karena baru menempuh perjalanan jauh hanya duduk di pendopo dan membiarkan Jaya mengemasi barang barang seorang diri.
Selesai mengemasi semua barang bawaan Empu Gading, Jaya keluar dari gubuk membawa sepiring umbi rebus dan sebuah cangkir kosong. Kemudian mereka berdua duduk di pendopo sambil menikmati umbi rebus yg masih hangat dan wadang jahe.
__ADS_1
Senja berlalu berganti malam, Empu Gading masih setia di pendopo bersantai ria melepas penat setelah berhari hari menempuh perjalanan pulang pergi ke Kadipaten Bromo. Jaya mengumpulkan kayu kering untuk membuat perapian di dekat pendopo, setelah itu dia mengeluarkan Ayam Hutan yg sudah dia bersihkan dan di lumuri bumbu dan rempah tadi sore. Kemudian Jaya mulai memanggang ayam tersebut di atas api.
" Dari mana Ayam itu Jaya? Tanya Empu Gading.. " Aku memanahnya ketika pulang latihan dari sungai tadi Kek " Jawab Jaya sambil membolak balik Ayam tersebut agar tidak gosong. "Bagai mana latihanmu?" tanya Empu Gading kembali. "Begitulah Kek.. Hanya ada sedikit perkembangan." Jawab Jaya dengan wajah tertunduk lesu. Hingga ayam panggang masak tidak ada lagi pertanyaan dari Empu Gading, Dia bersiul melantunkan nada nada indah dan hanya dia seorang yg tau syairnya.
Setelah Ayam itu masak, Jaya meletakkan pada sebuah piring di hadapan Gurunya, Kemudian Jaya masuk kedalam gubuk dan kembali dengan membawa air minum di dalam kendi. Ketika jaya duduk di pendopo dia mendapati Gurunya sedang mengunyah dan memegang salah satu paha ayam tersebut, "Enak Kek ?" Tanya Jaya kepada Gurunya. " Biasa aja." Jawab Empu Gading singkat tanpa ekspresi. Namun ketika Jaya hendak mengambil daging ayam tersebut, Empu Gading sudah lebih dulu memegang paha ayam yg tersisa, Jaya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Kakeknya itu.
Sambil makan Jaya menceritakan kejadian saat dia bertemu Dewangin, Dia menceritakan secara detail dari awal, Semula Empu Gading tidak terlalu menanggapi cerita tersebut, Hingga Jaya mengatakan bahwa Dewangin mengenal Empu Gading semasa muda barulah raut wajahnya berubah serius. Jaya pun menunjukkan Cincin Giok yg di berikan Dewangin dan mengatakan pesan bahwa jika Gurunya akan mengingat Dewangin ketika melihat Cincin ini.
Empu Gading memegang Cincin Giok yg di tunjukkan Jaya dan memperhatikannya dengan seksama, Sesaat kemudian Empu Gading menggenggam cincin tersebut di tangan kanan, Kedua matanya tertutup dan mulutnya komat kamit seperti melafazkan sebuah Mantra. Tak lama Empu Gading membuka matanya " Ada lagi yg dia berikan padamu?" Tanya Empu Gading dengan serius kepada Jaya. " Ada kek.. Dia menukar busur dan panahku dengan miliknya." Ucap Jaya mejelaskan. " Coba ambil." Perintah Empu Gading singkat, Jaya pun masuk kedalam gubuk hendak mengambil busur dan panah yg di berikan Dewangin.
Ketika Jaya keluar dari gubuk dengan membawa busur dan panah, Empu Gading sudah duduk di tepi lantai pendopo. Melihat Jaya keluar dari gubuk membawa busur dan panah Gurunya pun berucap. "Coba kau pakai senjata itu". Jaya pun menggantungkan kantong panah itu di punggungnya dan memegang busur di tangan kiri tanpa bertanya. " Mendekat dan berlutut lah " Perintah Empu Gading kembali. Jaya pun mengikuti perintah Gurunya.
__ADS_1
Setelah Jaya berlutut di hadapan Gurunya dengan memegang busur dan menyandang kantong panah di punggungnya, Empu Gading meletakkan telapak tangan kanan di kepala Jaya tepat di atas ubun ubun nya, Dan Cincin Giok tersebut di letakkan diantara kepala dan telapak tangan Empu Gading. Jaya merasakan ada sesuatu energi yg masuk ke dalam tubuhnya, Energi itu berputar berjalan ke seluruh tubuh dan berhenti di Otak, Setelahnya energi itu meredup dan menghilang seperti tertanam di Otaknya.
"Besok pagi kau akan mengetahui apa dan siapa sebenarnya yg memberikan ini semua kepadamu" Ucap Empu Gading seraya melepaskan tangannya dari kepala Jaya.