Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
MENJALANKAN TUGAS


__ADS_3

Mentari pagi bersinar cerah yg menandakan di mulainya hari yg baru, burung-burung berkicau merdu memberi semangat kepada setiap orang yg akan menjalankan tugasnya masing-masing. Sepertinya hari ini alam di sekitar Perguruan Bertuah juga ikut bersemangat untuk menemani semua orang yg akan menjalankan tugasnya masing-masing sesuai hasil musyawarah kemarin.


Di dalam kamarnya, Jaya yg di bantu Gayatri mempersiapkan perbekalan selama perjalanan telah siap untuk menjalankan tugasnya berkeliling daerah Bukit Barisan. "Gayatri.. Jangan lupa sampaikan pesan ku kepada paman Ragil, sepulang dari Bukit Logam aku akan menikahi mu". Ucap Jaya mengingatkan pesannya kepada Gayatri. "Baik Kakang.. Berhati-hati lah di jalan, aku akan menunggumu sambil melatih jurus Putri Kayangan pemberian Anggraini". Jawab Gayatri sambil memeluk Jaya dengan erat, gadis itu seperti tidak rela berpisah dengan Pemuda yg telah bertahta di hatinya. Namun ada kepentingan orang banyak yg arus di laksanakan, dan gadis itu harus berjiwa besar mengesampingkan urusan pribadinya untuk sementara waktu.


Semua Pendekar muda yg mendapat tugas sudah berkumpul di halaman latihan Perguruan Bertuah, mereka berbaris rapi sesuai kelompok kerja masing-masing. Pendekar muda yg tinggal untuk mengikuti pelatihan Telik sandi juga turut berkumpul di halaman latihan, tampak juga para Guru, tetua dan Pendekar senior berkumpul di halaman latihan tersebut. Rencananya mereka akan melepas kepergian Pendekar muda yg akan menjalankan tugas secara serentak.


Raja Ater beserta pengawalnya di tambah tiga ratus orang Pendekar Muda di bawah Pimpinan Dian pergi ke Kerajaan Air. Barda dan seratus orang Pendekar muda di tambah Gayatri dan tiga puluh orang Pendekar Wanita pergi ke Dataran Tanir yg berada di antara Kerajaan Air dan Kerajaan Tanah, saat ini dataran tersebut masih berbentuk hutan perawan. Rencananya di daerah tersebut para Pendekar muda itu akan membuat suatu perkampungan yg baru untuk para pengungsi.


Barda dan rombongan juga membawa perbekalan dan peralatan serta tenda untuk tempat tinggal mereka sementara menunggu hutan yg mereka garap selesai dan bisa di dirikan rumah. Sebanyak lima kereta barang untuk mengangkut perbekalan mereka di kerahkan, sengaja para Pendekar muda itu berjalan kaki agar bisa lebih memperhatikan suasana dan kondisi alam selama perjalanan.

__ADS_1


Jaya yg pergi bersama Langir mengambil inisiatif mengendarai kuda, mengingat jarak tempuh yg akan mereka lalui bila berjalan kaki. Sebenarnya bisa saja Langir merubah wujudnya menjadi Elang untuk menjadi tunggangan Jaya, namun cara itu di anggap kurang efektif karena mereka akan berkunjung dari desa ke desa.


Ada rasa haru di hati para guru melihat kepergian para muridnya, orang yg selama bertahun mereka sayangi seperti anak sendiri sekarang harus pergi meninggalkan mereka. Namun mereka sadar hal itu akan jauh lebih bermanfaat untuk hari depan Sang Murid dari pada terus berada di perguruan tanpa bisa mengamalkan ilmu yg telah mereka berikan.


Jaya dan langir memacu kudanya melintasi jalan menuju Bukit Logam, mereka berjalan dengan kecepatan sedang. Tidak adanya yg harus di kejar dan untuk menghemat tenaga kuda agar bisa bertahan lebih lama di perjalanan. Sesekali mereka tampak berbincang ringan sambil tetap menunggang kuda, di perkirakan menjelang sore mereka akan tiba di desa terdekat. "Di depan sana sepetinya ada aliran sungai, Bagai mana kalau kita istirahat sejenak paman? Sambil memberi minum kuda, aku ingin mencari hewan buruan. Perutku sudah terasa lapar karena tadi pagi tidak sempat sarapan". Ujar Jaya kepada langir. "Baik tuan muda" jawab Langir patuh.


Sesampai di tepi sungai Langir tidak menambatkan kuda mereka di pohon, tapi membiarkan kuda-kuda tersebut bebas mencari rumput dan meminum air di sungai. Jaya melompat dengan ringan ke atas dahan pohon, Dari dalam bajunya di mengeluarkan sebuah busur dan sekantong panah. Baju dalam berwarna sama dengan kulit yg di dapat dari peti pemberian gurunya terbukti sangat membantunya. Selain bisa menjadi perisai dari serangan lawan, Baju tersebut juga dapat menyimpan berbagai barang bahkan yg besar sekalipun tanpa menambah bobot dari baju tersebut. Di tambah lagi saat ini Jaya memakai baju dari kulit Raja Cobra yg telah di modifikasi oleh langir, bisa di pastikan saat ini jangankan senjata biasa, bahkan senjata pusaka saja hanya beberapa yg bisa menggores luka di tubuh Jaya.


Jaya melompat turun dan segera menuju buruannya tersebut. Jaya mengangkat tubuh kancil yg sudah tak bernyawa itu lalu berjalan ke arah Langir, dengan cepat Langir dan Jaya menguliti kancil tersebut, setelah itu Langir mengumpulkan kayu dan ranting kering untuk membuat perapian. Sesaat kemudian kancil tersebut sudah berguling-guling di atas api yg di buat Langir, Jaya dengan telaten membalik-balik tubuh kancil tersebut sambil melumuri dengan rempah yg dia bawa dalam tas perbekalan yg di persiapkan Gayatri.

__ADS_1


Saat Jaya sedang memanggang kancil, Langir pergi mencari buah-buahan di sekitar hutan yg mereka singgahi tersebut. Selain untuk di makan, buah-buahan tersebut juga bermanfaat untuk bekal mereka di perjalanan. Sedang asik memanggang Jaya seperti mendengar derap langkah kaki berlari, dengan menggunakan Aji Tatar Netra Jaya menajamkan pendengarannya. Sepintas seperti derap langkah tiga orang yg sedang berlari, Jaya meneliti lebih jelas namun yg dia rasakan seperti seseorang yg sedang di kejar hewan buas.


Jaya melompat ke atas dahan pohon yg tinggi untuk melihat sosok yg sedang berlari tersebut. terang saja, Jaya melihat seorang wanita tengah berlari sekuat mungkin karena di kejar seekor harimau yg sangat besar. Jaya membaca arah lari dari wanita tersebut, lalu turun dari atas pohon. Tepat ketika harimau tersebut melompat untuk menerkam wanita calon mangsanya, Jaya melemparkan tombak ke arah harimau tersebut. "Swuuss.. Cruk." tombak yg di lemparkan Jaya menancap di batang pohon yg cukup besar dan menyandung lompatan harimau yg hendak menerkam mangsa tepat di lehernya.


Harimau tersebut terjungkal ke tanah dan berguling, untuk beberapa saat harimau tersebut terdiam. Setelahnya harimau tersebut bangkit dan tampak menggelengkan kepalanya beberapa kali. Jaya mendekati wanita tersebut yg masih terkejut dengan kejadian yg hampir merenggut nyawanya. "Trima kasih kisanak". Ucapnya kepada Jaya. Jaya hanya menjawab dengan anggukan karena masih memperhatikan harimau di depannya yg sudah bangkit.


Jaya memasang sikap waspada setelah melihat harimau di depannya sudah bersiap untuk menyerang. Namun seketika keluar cahaya kuning dari tubuh harimau tersebut dan semakin membesar, setelah cahaya tersebut menghilang tampak seorang pria paruh baya di posisi harimau tersebut dengan kuda-kuda yg sama. "Siapa kau yg berani mencampuri urusanku?" tanya pria tersebut dengan nada tinggi kepada Jaya. "Aku hanya kasihan dengan wanita ini, jika sekedar buruan untuk makan aku bisa memberikannya untukmu". Ucap Jaya menjawab pertanyaan pria paruh baya itu dengan tenang.


"Apa kau juga bisa memberi untuk keluarga ku yg ku tinggal di sarang?" tanya pria itu kembali. Sejenak Jaya berfikir sambil memegang dagunya, "Begini saja.. Kita makan dulu sambil menunggu temanku datang, jika kau bersedia melepaskan wanita ini, aku berjanji akan memberikan apa yg kau butuhkan, bagai mana?" tanya Jaya memberikan pilihan dengan jalan damai. bukannya Jaya takut menghadapi manusia harimau tersebut, tapi sebisa mungkin saat ini dia menghindari pertempuran dengan siapa pun. Karena tujuannya adalah mengumpulkan kekuatan sebanyak mungkin untuk perang besar melawan Aliran hitam.

__ADS_1


"Baiklah.. Aku setuju. Tapi bila kau ingkar dengan janjimu maka tubuhmu yg akan menjadi gantinya" Ucap Pria manusia harimau itu kepada Jaya. "Baiklah... Mari ikut aku." ucap Jaya seraya berjalan ke tempat dia memanggang kancil tadi. Sambil berjalan mereka berkenalan dan Jaya baru mengetahui jika wanita itu bernama Ayu dan manusia harimau bernama Kumbang.


__ADS_2