
Mentari bersinar cerah di pagi hari yg memberikan semangat baru bagi seluruh mahluk di muka bumi untuk memulai kembali aktifitasnya, Burung-burung terbang kesana kemari sambil berkicau seolah menyanyikan lagu pembakar semangat untuk memulai hari. Cerahnya mentari pagi senada dengan raut wajah tiga orang muda-mudi yg berada di salah satu ruangan kamar tamu di Perguruan Bertuah yg terletak di Bukit Tanah. Tiga muda-mudi tersebut tak lain adalah Jaya, Gayatri dan Anggraini yg sedang duduk bersama di sebuah meja sambil menikmati sarapan pagi bersama.
Pagi itu setelah Gayatri membuka pintu, Salah seorang murid perguruan datang mengabarkan bahwa setelah sarapan mereka di suruh Guru Andla berkumpul di Aula Utama perguruan. Namun murid tersebut tidak mengatakan hal apa yg menyebabkan mereka di suruh berkumpul di aula. Setelah selesai sarapan pagi bersama, Jaya dan kedua kekasihnya pergi menuju Aula Utama Perguruan Bertuah.
Sesampai di depan pintu ruangan Aula tampak sudah ramai di dalam Aula tersebut, tampak seluruh Guru dan Raja Ater sudah duduk di kursi masing-masing, Ada juga beberapa murid dan pendekar sebagai perwakilan perguruan di ruangan tersebut.
Ketika Jaya memasuki ruangan Aula tampak semua mata tertuju kepadanya yg masuk di dampingi oleh dua wanita muda yg sangat cantik. Saat ini Wajah Jaya tampak sangat segar dengan rambut sebahu yg masih basah, Dia mengenakan baju lengan pendek tanpa kancing dan celana panjang berwarna biru langit, Di padu dengan ikat pinggang berwarna putih dengan permata biru tua di tengah yg melingkar di tubuhnya menambah kesan gagah pada tubuh pemuda itu.
Gayatri dan Anggraini juga terlihat sangat cantik, dengan busana serba hijau dan beberapa perhiasan mewah yg di berikan Anggraini, Membuat penampilan kedua wanita tersebut terlihat sangat anggun dan kompak. Terlihat rasa iri di pandangan mata orang yg melihat dengan nasib yg di miliki Jaya, Pasalnya Pemuda yg berparas cukup tampan dan mendapat gelar Murid terbaik itu memiliki dua kekasih sekaligus yg sangat cantik dan terlihat kompak.
Jaya dan kedua kekasihnya duduk di kursi yg telah di sediakan untuk mereka, Tampak Jaya duduk di tengah dengan Anggraini di sisi kanan dan Gayatri di sisi kiri.
__ADS_1
"Salam Hormat untuk semuanya" Ucap Raja Peramal membuka pembicaraan. kemudian dia melanjutkan kembali "Menurut informasi dari beberapa telik sandi, Dan di tambah dengan penglihatan ramalanku. Saat ini Ki Rangkuti sedang menjalankan rencana besarnya untuk menguasai seluruh daerah di Kawasan Bukit Barisan ini, Terbukti dengan runtuhnya Kerajaan Angin baru-baru ini yg di serang oleh Pasukan dari Kerajaan Api yg di bantu oleh Pasukan Kerajaan Maha, Di mana Pemimpin dari kedua Pasukan tersebut adalah Murid dari Ki Rangkuti. Di perkirakan target mereka berikutnya adalah Kerajaan Air, Setelah itu baru Kerajaan Tanah. Jika itu di biarkan maka kekuatan Aliran Hitam akan semakin meraja lela, Dan tidak akan ada lagi tempat damai di Kawasan Bukit Barisan ini.
Ada isu yg beredar, Dan itu juga ku buktikan dengan pengetahuan ramalanku. Saat ini Ki Rangkuti sedang berusaha membangkitkan Nyi Lampir yg menjadi Pengikut Paling setia Raja Iblis, Jika Nyi Lampir berhasil di bangkitkan dan Ki Rangkuti menikahinya, Maka Ki Rangkuti akan mendapatkan kekuatan dari Raja Iblis dan memiliki Elemen Kegelapan yg sangat mematikan.
Saat ini kita berkumpul untuk membahas bagai mana cara menghentikan Kekuatan Aliran Hitam yg di dukung oleh tiga kerajaan, Yaitu kerajaan Api, Kerajaan Maha dan Kerajaan Angin. Jika ada yg memiliki informasi lain atau usulan di persilahkan". Raja Peramal menjelaskan mengapa semua orang di kumpulkan di Aula.
Setelah Raja Peramal menuturkan masalah yg terjadi, Raja Ater mengangkat tangan kanannya. "Sebagian dari informasi yg di sampaikan Raja Peramal sudah kami ketahui, Dan maksud kedatangan kami kemari juga selain memenuhi undangan ulang tahun Guru Andla, Juga untuk meminta pendapat terkait penanggulangan hal ini. Jujur dengan kekuatan Kerajaan Air saat ini akan hanya membuang nyawa prajurit jika kami memaksakan untuk melawan mereka.
Namun untuk mengungsi, saat ini kebun dan sawah warga hanya tinggal menunggu Panen Raya, dan itu adalah harta yg cukup berharga bagi rakyat terutama para petani. Jika tetap di paksakan, Kemungkinan rakyat akan menentang kebijakan mengungsi walau pun sebenarnya untuk keamanan mereka juga. Untuk itu kami disini juga meminta pendapat dan usulan dari saudara sekalian". Raja Ater menuturkan masalah yg sedang di hadapi mereka saat ini.
Kami juga menyaksikan pertempuran antara Kerajaan Angin melawan Kerajaan Api dan sekutunya. Saat itu Pasukan kerajaan Angin di Pimpin langsung oleh Raja Indwi, Karena tidak memiliki seorang Senopati. Beruntung ada seorang Prajurit tangguh mantan abdi Raja Damar yg bernama Tejo". Mendengar nama Tejo di sebut, Ningsih langsung menoleh ke arah Jaya dengan pandangan yg sulit di artikan. Namun Jaya tidak merespon pandangan Ningsih tersebut, Kemudian di melanjutkan laporannya.
__ADS_1
"Di awal pertempuran Kerajaan Angin sempat unggul, Namun itu hanya siasat dari Kerajaan Api untuk memancing lawan agar masuk perangkap mereka, Setelah menggiring Pasukan Kerajaan Angin ke Lembah, Pasukan Kerajaan Angin di sergap oleh tiga Pasukan dari sisi berbeda. Kami melihat Pasukan yg menyergap terdiri dari Pasukan Kerajaan Api, Kerajaan Maha dan satu Pasukan dari golongan Pendekar yg berseragam serba hitam. Kami sempat membantu Pasukan Kerajaan Angin untuk keluar dari kepungan dan menahan pasukan lawan agar Pasukan Kerajaan Angin sempat menyelamatkan diri. Setelah itu kami tidak tahu Raja Indwi pergi kemana membawa pasukan yg tersisa dan rakyatnya untuk mengungsi, Satu yg pasti, Raja Indwi selamat dari Pertempuran". Jaya menuturkan dengan jelas apa yg mereka saksikan dan alami sebelum pergi ke Perguruan Bertuah.
"Berarti saat ini Aliran hitam sudah berkomplot dengan kerajaan Api" Ucap Dewa Penyair memberi pendapat. "Itu wajar saja Ragil, Ki Rangkuti sebagai Pendekar terkuat Aliran hitam adalah Guru dari Raja Bara dan Raja Aran". Ucap Guru Andla menjelaskan dengan menyebut nama asli Dewa Penyair. " Jadi apa yg harus kita lakukan saat ini Kakang?" Tanya Raja Peramal kepada Guru Andla. Pertanyaan itu pun di ikuti dengan anggukan seluruh orang yg ada di ruangan Aula tersebut.
Mereka yakin buah pikiran dari Guru besar Perguruan Bertuah sekaligus Raja Kerajaan Tanah itu bisa mengatasi masalah yg ada. Sejenak Guru Andla tampak terdiam sambil mengelus-elus janggutnya yg mulai putih, Pandangannya jauh menerawang memikirkan apa yg harus di lakukan oleh dua kerajaan itu untuk mengatasi masalah.
Jaya mengangkat tangannya seraya berkata "Boleh aku memberi usulan wak?" tanya Jaya kepada Guru Andla. "Boleh.. Saat ini siapa saja yg merasa memiliki ide untuk menanggulangi masalah bersama silahkan mengutarakannya". Ucap Guru Andla kepada seluruh yg ada di dalam ruangan.
"Ritual Turun Gunung adalah sesuatu yg selalu di lakukan seorang pendekar muda yg telah di nyatakan lulus oleh guru atau padepokan tempat dia menimba ilmu. Saat ini kami yg telah di nyatakan lulus oleh guru kami jumlahnya cukup banyak. Sebagai Pendekar Muda, Bagai mana kalau Gerakan ini kami yg jalankan? Bukan bermaksud untuk mengesampingkan kemampuan para tetua dan senior, tapi agar ada yg bisa kami kisahkan untuk generasi kami berikutnya. Namun begitupun kami tetap meminta pandangan dan bantuan dari para tetua dan senior. Bagai mana menurut Uwak Guru?" Jaya mengajukan usulannya di pertemuan tersebut.
"Bagai mana? Apa ada usulan yg lain?" Ucap Guru Andla selaku Pemimpin pertemuan. "Kami setuju Kakang.. Kapan lagi para murid mengamalkan pengetahuan yg telah mereka pelajari. Pekerjaan ini memang tidak mudah, tapi itu bisa menjadi pengalaman yg sangat berharga bagi mereka". Tutur salah seorang ketua perguruan yg hadir di pertemuan tersebut.
__ADS_1
"Baik lah.. karena Jaya adalah Pendekar muda terbaik Aliran Putih Dekade ini, Aku menunjuknya sebagai Pemimpin Pergerakan ini. Dan pergerakan ini di sebut Gerakan Muda, Pergerakan ini bukan untuk Kerajaan Tanah atau Kerajaan Air, Tetapi lebih kepada membela rakyat yg tertindas dan menghancurkan Aliran Hitam yg selalu membuat rakyat sengsara. Jika di perlukan, Pasukan dari kedua Kerajaan akan siap membantu". Raja Andla yg sekaligus Guru Besar dari Perguruan Bertuah yg memimpin Jalannya pertemuan mengambil keputusan. "Setuju.." Jawab semua orang yg menghadiri pertemuan tersebut.
Jaya hanya bisa terdiam sambil menggaruk belakang kepalanya yg tidak gatal, Tampak senyum terukir di bibir Gayatri dan Anggraini mendengar keputusan pertemuan tersebut. "Baiklah.. Karena keputusan sudah di ambil dan semua setuju, Maka pertemuan kita akhiri sampai di sini, Selanjutnya kepada seluruh Pendekar Muda baik laki-laki maupun perempuan silahkan berkumpul di halaman latihan agar bisa di data dan untuk pembagian tugas". Guru Andla menutup pertemuan tersebut. Satu persatu peserta pertemuan keluar dari aula setelah Guru Andla meninggalkan ruangan tersebu.