Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
REUNI PENDEKAR 2


__ADS_3

Kieek... Kieekk... Kieekk... Suara Langir terbang memecah kesunyian udara sepanjang perjalanan. Karena melintasi udara jarak perjalanan mereka terasa sangat dekat. Tidak sampai setengah hari mereka sudah sampai di kawasan Bukit Tanah, mereka mendarat di tempat yg sunyi tak jauh dari areal Perguruan Bertuah. Setelah mendarat mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sampai ke Perguruan Bertuah.


"Apa Kakek tau tempat makan yg enak di sini? Aku kepingin makan di warung Kek, bertahun - tahun aku hanya makan masakanku sendiri". Ucap Jaya ke pada Gurunya. Empu Gading pun memaklumi hal itu, apa lagi saat ini Jaya membawa bekal uang yg cukup. "Ada.. Nanti kita singgah ke sana, Kebetulan tempatnya ngak jauh dari Perguruan Bertuah yg akan kita datangi". Tutur Empu Gading mengabulkan permohonan Muridnya. "Asik.." Ucap Jaya kegirangan


Sampai di tempat yg di maksud, Mereka bertiga masuk ke dalam warung makan dan menempati salah satu meja kosong di dekat dinding. Warung tersebut tampak Ramai oleh pengunjung yg pada umumnya dari kalangan Pendekar Aliran Putih yg mendapat undangan dari Raja Andla. Seorang Pria paruh baya menghampiri meja yg di tempati Jaya, "Mau pesan apa Den? " tanya pelayan warung sopan kepada Jaya. "Bawakan kami hidangan terbaik di sini Paman". Ucap Jaya kepada pelayan warung tersebut dengan sopan pula. "Baik.. Tunggu sebentar ya den.. Saya akan bawakan beserta minumannya". Ucap pelayan tersebut kemudian berlalu pergi untuk mempersiapkan hidangan yg di pesan Jaya.


Sambil menunggu pesanan, Jaya mengamati sekeliling sambil sambil menguping pembicaraan pelanggan lain yg berada di warung tersebut. Hingga suatu ketika pandangannya beradu dengan seorang gadis yg juga sedang memandangnya, Cukup lama Jaya dan gadis itu saling beradu pandang, Jaya baru tersadar ketika pelayan datang membawakan hidangan pesanan mereka.

__ADS_1


Sepanjang makan Jaya terus saja memperhatikan gadis tersebut yg duduk berjarak dua meja dari meja yg di tempati Jaya. Begitu juga dengan Gadis yg di pandangi Jaya, dia juga terus mencuri - curi pandang ke arah Jaya, tak jarang pandangan mereka saling beradu lalu menunduk kembali. Gadis tersebut juga duduk bertiga di satu meja, Tampak seorang Wanita tua dan dua orang gadis di meja tersebut, Jika di lihat mereka adalah Guru dan dua muridnya.


Selesai menikmati semua hidangan yg di sajikan, Jaya memanggil pelayan warung yg melayani mereka tadi. "Berapa semua paman?" tanya Jaya kepada Pelayan warung tersebut. "Semua tiga keping Perak den". Ucap pelayan tersebut. Kemudian Jaya memasukkan tangan kanannya ke dalam baju lalu memberikan lima keping Perak ke pada pelayan tersebut, "Lebihnya buat Paman, Terimakasih atas pelayanannya". Mendapat uang lebih dari Jaya, pelayan tersebut tersenyum cerah "Terimakasih den..". Ucap pelayan tersebut.


Setelah itu Jaya dan rombongan meninggalkan warung tersebut dengan Empu Gading memimpin jalan. Sewaktu keluar dari warung, Jaya sengaja berjalan memutar mendekati meja tempat duduk gadis yg beradu pandang dengannya tadi. Jaya sengaja lewat tepat di hadapan sang Gadis, Saat gadis tersebut menoleh ke arahnya, Jaya langsung memberikan senyuman terbaiknya sambil tetap berjalan. Gadis itu reflek membalas senyuman Jaya sambil sambil mengikuti langkah Jaya meninggalkan warung, Tanpa dia sadari bibirnya telah berucap "Tampannya.." walau pelan, Namun terdengar sangat jelas di telinga Guru dan Saudari seperguruannya. Mendengar hal itu, mereka hanya melirik dan mengikuti arah pandangan gadis tersebut.


Tanpa sepengetahuan Empu Gading, salah satu Petugas Penjaga Pintu pergi melapor kepada Raja Andla bahwa Empu Gading telah datang. Hal itu di lakukan berdasarkan perintah Raja Andla, Raja tersebut menandai beberapa nama kepada Petugas Penjaga Pintu. Setelah mengisi daftar hadir, Petugas menjelaskan kepada Tamu yg hadir bahwa di acara ini pangkat dan jabatan tidak di berlakukan. Apa pun status sosial seseorang di luar acara, baik itu Senopati, Mentri, bahkan Raja sekalipun. Acara ini adalah acara perkumpulan Pendekar, Setiap orang yg datang hanya di pandang dari sisi Pendekarnya saja. Tidak di perbolehkan memanggil seseorang dengan Jabatannya, Di sarankan memanggil seseorang dengan julukan Kependekarannya.

__ADS_1


Setelah mendengarkan penjelasan Petugas, Empu Gading beserta Jaya dan Langir pergi menuju Gedung Utama tempat berlangsungnya acara. Tampak Seorang berpenampilan Guru Besar keluar dari Gedung Utama untuk menyambut kedatangan Empu Gading. Setelah keduanya berdekatan, Empu Gading segera memberi hormat, "Selamat Ulang Tahun Kakang Andla". Ucap Empu Gading seraya merangkul saudara seperguruannya itu. "Terima Kasih Gading" Ucap Raja Andla sambil menyambut rangkulan saudara keduanya itu. "Siapa yg kau bawa ini Gading?" Tanya Guru Andla kepada Empu Gading melihat dua orang yg datang bersama adik seperguruannya itu.


"Ini Langir, dia adik angkat ku Kang". Ucap Empu Gading memperkenalkan Langir. "Salam Kenal Kakang Andla, Dan Selamat Ulang Tahun". Ucap Langir dengan sopan kepada Guru Andla. "Terima Kasih Langir". Ucap Guru Andla kepada Langir. "Yang ini Jaya, dia adalah Muridku Kang". Empu Gading memperkenalkan Jaya. "Salam hormat kepada Kakek, Dan Selamat Ulang Tahun". Ucap Jaya kepada Guru Andla. "Mengapa Kau memanggilku Kakek?" Tanya Guru Andla kepada Jaya. "Karena aku memanggil Guru dengan sebutan Kakek". Jawab Jaya jujur. "Ajaran dari Guru kami, Atau Kakek Gurumu. Murid adalah anak bagi Gurunya, Begitu juga dengan saudara seperguruan mu atau saudara seperguruan Gurumu. Terlepas kau memanggil Gurumu dengan sebutan apapun. Karena aku adalah abang seperguruan Gurumu, maka kau harus memanggilku dengan sebutan Uwak Guru. Begitu juga dengan adik seperguruan Gurumu, Kau harus memanggil Paman atau Bibi". Guru Andla menjelaskan kepada Jaya tentang aturan Pertuturan yg telah di buat oleh Guru mereka.


"Kakang Gading..." Terdengar suara wanita sangat melengking memanggil Empu Gading dari arah belakang, tepatnya dari arah Pos Penjaga. Sontak keempat pria yg sedang berkumpul itu menoleh ke arah suara. Tampak seorang wanita tua di dampingi dua orang gadis sedang berjalan ke arah mereka. "Mayang.." Ucap Empu Gading seakan tidak percaya dengan apa yg di lihatnya, Kemudian dia lari mendekati Wanita tua yg memanggilnya tersebut, Begitu Juga dengan Sang wanita juga berlari ke arah Empu Gading meninggalkan kedua Gadis yg ada di sampingnya, Sangking cepatnya kedua orang itu berlari, seakan tubuh mereka mengambang di udara.


Setelah bertemu kedua pasangan yg tak muda itu berpelukan dengan sangat erat, Seperti ada sebuah rindu yg sudah sangat lama terpendam. Melihat hal itu, Jaya, Langir dan kedua gadis itu hanya bisa melongo melihat sikap Guru mereka. Beda halnya dengan Guru Andla, Yg tersenyum Bahagia melihat hal tersebut, Bahkan air mata haru sempat mengalir di samping batang hidungnya. "Jaya.. Wanita itu adalah Sekar Mayang, Bibi Gurumu sekaligus kekasih Gurumu yg sudah sangat lama berpisah, Dialah yg bergelar Bidadari Kipas Perak ". Guru Andla menjelaskan ke pada Jaya.

__ADS_1


__ADS_2