
Pagi hari yg cerah di daerah perbukitan, tampak Sang Mentari bersinar dengan kehangatannya menyinari setiap mahluk di jagat raya, Sang Bayu berhembus dengan lembut menggerakkan dedaunan, rerumputan dan pepohonan. Burung burung berkicau , terbang ke sani ke mari seolah sedang bermain sambil bersenandung ria. Para warga juga telah bangun dari tidur lelapnya dan siap menjalankan aktifitas sehari hari.
Begitu juga dengan seorang kakek tua yg tinggal di sebuah bukit bernama Bukit Air, tepatnya di Desa Rambang yg terletak di kaki Bukit Air. Kakek tua tersebut adalah Empu Gading, seorang Pandai Besi sekaligus Guru dari seorang pemuda bernama Jaya.
Bangun dari tidurnya Empu Gading tidak menemukan Jaya di dalam gubuk sederhananya, Ia sudah mencari di setiap sudut ruangan namun tak jua menemukan muridnya tersebut. Empu Gading lantas berjalan keluar dari gubuknya ke arah pendopo tempat dia berbincang bersama Jaya tadi malam, karena sebelum dia beranjak tidur tadi malam, Dia masih sempat memperhatikan muridnya itu sedang berlatih di pendopo tersebut.
Sampai di pendopo, Empu Gading seperti terkejut, Pasalnya dia mendapati muridnya tersebut tertidur dalam posisi duduk bersila di atas pendopo. Sejenak Empu Gading tersenyum sambil menggelengkan kepala, Dia maklum dengan kondisi yg di alami muridnya, Hal tersebut bisa terjadi karena Jaya kelelahan saat berlatih semalaman.
" Anak ini sangat cerdas dan gigih berlatih, Bahkan pencapaiannya saat ini sangat jauh di banding pencapaian ku saat muda dulu. Walau pun dulu aku di sebut sebut sebagai murid tercerdas di perguruan tempatku menimba ilmu. Aku bersyukur karena muridku haya dia seorang, Jadi dia tidak bisa membandingkan dirinya dengan orang lain." Guman Empu Gading melihat perkembangan yg di capai oleh Jaya, Namun dia tidak mau mengatakan kepada Jaya karena takut pemuda itu menjadi besar kepala.
"Jaya...
Jaya...
Jaya..." Empu Gading membangunkan Jaya yg sedang tertidur dalam posisi duduk bersila.
" Ya kek.." Jaya tersentak dari tidurnya karena suara Empu Gading yg membangunkannya.
__ADS_1
" Maaf kek... Aku ketiduran" Ucap jaya yg baru saja terbangun dari tidurnya. Ada rasa bersalah di raut wajahnya karena mendapati dirinya bangun telat itu pun di bangunkan gurunya.
Empu Gading duduk di pendopo di depan Jaya yg masih mengusap usap wajahnya. "Bagai mana latihanmu?" Tanya Empu Gading kepada Jaya, Dia tidak mempersoalkan muridnya itu bangun kesiangan.
" Entah lah kek... Aku tidak tahu apakah latihanku tadi malam berhasil atau tidak." Jawab Jaya dengan lesu karena dia tidak yakin dengan hasil latihannya.
" Kakek lupa mengatakan, Bahwa Tehnik Pernafasan Alam yg di lakukan dengan konsentrasi tinggi akan membawa kita ke dalam meditasi." Ucap Empu Gading menambahi penjelasannya tadi malam.
" Meditasi... Apa itu kek?" Tanya Jaya kepada Empu Gading.
" Meditasi adalah keadaan di mana seseorang berada pada puncak konsentrasi tanpa melakukan suatu gerakan apapun, tidak makan, tidak minum dan tidak tidur. Jika salah satunya di langgar maka meditasinya di anggap gagal. Keadaan seperti itu biasa terjadi pada seseorang yg Bersemedi." Empu Gading menjelaskan lebih jauh.
" Semedi atau sebagian orang juga menyebutnya Tapa adalah suatu kegiatan atau ritual yg di lakukan seseorang dengan cara menyendiri atau mengasingkan diri di suatu tempat dengan tujuan tertentu." Jelas Empu Gading kembali. Jaya pun terlihat mengangguk memahami penjelasan dari gurunya.
" Sudah.. Sekarang kita sarapan dulu, Setelah itu kita pergi ke sungai untuk mencoba hasil latihanmu semalam, Tadi kakek sudah masak singkong rebus, Ambillah di dapur, Kita sarapan di sini saja." perintah Empu Gading, Jaya pun segera bangkit dari duduknya dan pergi ke dalam gubuk. Tak lama berselang Jaya kembali dengan membawa sepiring singkong rebus yg masih hangat dan dua cangkir teh yg di campur dengan madu, Kedua guru dan murid itu pun sarapan dengan lahap sambil berbincang ringan.
Setelah selesai sarapan Empu Gading dan Jaya pergi ke sungai tempat biasa mereka mengambil air, mandi dan mencuci. Sesampai di sungai mereka mandi untuk membersihkan badan agar lebih segar. Selesai mandi Empu Gading membawa Jaya ke suatu tempat masih di aliran sungai mendekati air terjun, Tampak sebuah batu besar berbentuk pipih di tengah sungai.
__ADS_1
Empu Gading berjalan di atas air ke arah batu tersebut, Anehnya ketika menjejakkan kakinya ke ari Empu Gading tidak tenggelam, Bahkan dengan santainya dia berjalan seperti berjalan di atas tanah. Sontak Jaya terperangah melihat kejadian tersebut. " Kemari lah " perintah Empu Gading yg sudah berdiri di atas batu besar di tengah sungai.
Jaya mencoba seperti apa yg di lakukan oleh gurunya, Namun baru langkah pertama dia sudah tercebur ke sungai. Empu Gading hanya tersenyum melihat hal itu. Jaya berenang ke tepi sungai, kembali dia mencoba hal tersebut namun kembali gagal, Berulang kali dia mencoba namun hasilnya tetap gagal. "Kamu bisa berenang kemari" Ucap Empu Gading kepada Jaya, Dengan rasa kecewa pada diri sendiri Jaya terpaksa berenang ke tengah sungai menuju batu tersebut.
"Duduklah di atas batu ini, Latih lah Tehnik Pernafasan Alam yg kakek ajarkan disini. Dan ingat selama kau melatih Tehnik Pernafasan Alam kamu tidak boleh makan, minum atau tertidur. Lebih baik kau menghentikan latihan dari pada tertidur karena memaksakan diri." Perintah Empu Gading dengan jelas dan tegas kepada Jaya.
Kemudian jaya duduk bersila di tengah batu besar tersebut untuk melatih Tehnik Pernafasan Alam yg sudah dia coba semalam.
" Kakek akan pergi ke Kadipaten Bromo di Bukit Tanah, Karena ada pesanan dari Adipati. Mungkin satu sampai dua pekan baru kembali. Kakek harap selama kakek pergi kau bisa menjaga dirimu sendiri." Empu Gading berpesan karena hendak pergi untuk beberapa waktu.
" Baik kek" jawab Jaya singkat.
" Kalau boleh tolong belikan aku senar kek, aku ingin membuat busur untuk ku sendiri." pinta Jaya kepada gurunya yg akan pergi ke kota Kadipaten.
" Baik lah.. Nanti kakek belikan yg bagus, kakek pergi dulu, Jaga dirimu baik baik." ucap Empu Gading seraya berjalan meninggalkan Jaya di tengah sungai seorang diri.
" Hati hati di jalan kek" Pesan jaya yg di jawab dengan anggukan dari Empu Gading tanpa menoleh.
__ADS_1
Setelah kepergian Empu Gading, Jaya kembali melatih Tehnik Pernafasan Alam di atas sebuah batu besar berbentuk pipih tepat di tengah sungai. Kali ini hawa dingin dari aliran sungai yg dekat dengan air terjun dan di kelilingi hutan lebat di tambah baju yg di kenakan Jaya basah kuyup sangat berpotensi menyebabkan kantuk pada dirinya, Dan itu bisa menjadi lawan yg tangguh untuk latihannya kali ini, Karena selama melatih Tehnik Pernafasan Alam Jaya tidak boleh tertidur.