Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
Buah Dari Sikap 2


__ADS_3

Pagi itu Sang Fajar telah bersinar tapi belum menunjukkan Wujudnya, Kicau burung burung belum ada yg terdengar, Hanya terlihat beberapa dari mereka beraktifitas di sekitar sangkar, Ada yg terbang sedikit jauh ke sangkar yg lain dan segera kembali, Seolah sebagian besar dari mereka masih tertidur dan yg lain sibuk bercengkrama dengan keluarga masing masing.


Begitu juga dengan Tumbuh tumbuhan, Belum bertiupnya Sang Bayu membuat mereka seperti enggan menggerakkan dahan dan ranting, Mereka seperti masih asik menikmati setiap tetes embun di dedaunan masing masing.


Di halaman gubuk Jaya yg di dampingi Gurunya sudah bersiap untuk melakukan sesuatu, Tampak Jaya sudah memasang kantong panah di punggungnya dan sebuah busur namun belum dia pegang, Melainkan di gantungkan di pundak kiri.


Empu Gading menyerahkan kembali Cincin Giok kepada Jaya, Cincin berbentuk sangat tipis hanya ada sedikit cembung di bagian badan cincin, Seolah jika di pakai tidak akan merasa memakai cincin. " Cincin ini bernama Mustika Wondo, hanya bisa di pakai oleh orang yg memiliki Ajian Sir Wondo. Setelah melafazkan mantra yg Ku ajarkan, Cincin ini akan menyatu dengan jarimu dan hanya bisa di lepas jika kau atau orang yg akan melepas cincin itu merapalkan mantra itu kembali, Atau memotong jarimu". Empu Gading menjelaskan tentang Cincin Giok yg sebenarnya.


Ternyata tadi malam saat Jaya berlutut di hadapan Gurunya, Empu Gading menurunkan Aji Sir Wondo kepada Jaya. Konon katanya orang yg memiliki Aji Sir Wondo dapat memanah tanpa meleset walau dari jarak yg jauh, Dan juga dapat mengendalikan panah yg di lepaskan oleh busurnya. Di kisahkan juga salah satu orang yg memiliki Aji Sir Wondo adalah Arjuna sang pemanah terbaik di masanya.

__ADS_1


Jaya pun melafazkan mantra dengan suara lirih, Kemudian memasukkan Cincin Mustika Wondo pada Jempol kanannya. Seketika keluar cahaya kehijauan dari cincin tersebut, Beberapa detik kemudian cahaya itu meredup lalu menghilang. Kini tidak tampak lagi cincin di jari Jaya, Hanya terlihat sebuah garis hijau yg melingkar di jari Jempol kanan seperti tanda lahir pada umumnya.


"Sekarang gunakanlah Aji Sir Wondo, Dan arahkan panahmu ke Langit Utara". Perintah Empu Gading kepada Jaya. Kemudian Jaya pun menghadap ke Utara, Dia memegang busur di tangan kiri, Kemudian mengambil sebatang panah dari kantong yg tergantung di punggungnya, Jaya meletakkan panah tersebut pada busur dan menarik sedikit, Setelahnya Jaya memposisikan busur dan panah tersebut di hadapannya dan hanya berjarak lima jari dari tubuhnya, Tangan kiri yg memegang busur di posisikan sejajar dengan dahi dan tangan kanan memegang ujung panah dan menarik senar di posisikan sejajar dada. Matanya terpejam dan mulutnya komat kamit seperti melafazkan sebuah mantra, Setelah selesai Jaya mengarahkan panahnya ke langit sebelah Utara, Jaya seperti membidik sesuatu di atas Langit, Dalam satu tarikan nafas Jaya melepaskan panah pada busurnya. "Shwuuusss..." Panah tersebut melesat lurus ke arah langit dengan sangat cepat.


Tak lama berselang muncul cahaya putih ke hijauan dari arah lesatan panah tersebut tepat mengarah ke tubuh Jaya. Saat ini tubuh Jaya di selimuti cahaya putih kehijauan, Cahaya tersebut semakin padat hingga tubuh Jaya tak terlihat karena padatnya cahaya yg menyelimutinya, Begitu juga dengan Jaya, Dia tidak dapat melihat sekeliling seakan akan saat ini tubuhnya berada di ruang dimensi yg terlihat hanya cahaya putih ke hijauan namun tidak menyilaukan mata.


Saat cahaya itu menghilang, Jaya merasakan ada sesuatu yg berbeda pada dirinya, Dia memperhatikan tubuhnya dengan seksama, Saat ini tubuhnya memakai baju ketat tanpa lengan dan celana berwarna putih dengan bahan yg sangat halus seperti Sutra, Terdapat Zirah berwarna Perak yg sangat keras namun sangat lentur di beberapa bagian persendian melapisi tubuhnya dari leher sampai di atas lutut. Pada bagian pinggang terdapat seperti Sabuk dengan Permata tepat di depan Pusar, Pada kedua Pergelangan terdapat juga Lempengan seperti Segitiga yg di bentuk menjadi Gelang ketat dengan bahan yg sama dengan Zirah, Diantara bahu dan siku terdapat sebuah Gelang selebar tiga jari dengan Permata yg indah di tengahnya, Terdapat juga sepatu yg menutupi hingga lutut dengan warna dan bahan yg sama.


Melihat busur dan panah yg dia pegang saat ini Jaya merasa malu pada diri sendiri, Pasalnya dia yg selama ini di katakan Gurunya pembuat busur dan panah terbaik, Bahkan lebih baik dari gurunya, Jika di bandingkan dengan si Pembuat busur dan panah yg saat ini dia pegang, Skill Jaya tidak ada Seujung kuku hitam si pembuat tersebut.

__ADS_1


Ketika Jaya tersadar setelah memperhatikan penampilan dan senjatanya, Jaya mendapati Gurunya sedang menyatukan kedua telapak tangan dan memposisikan di depan dahinya " Salam Hormat dan Sembah ke pada Dewa Angin Yg Agung." Ucap Empu Gading kepada sosok yg ada di depan mereka yg tak lain adalah Dewangin. Namun kali ini penampilannya seperti seorang Raja yg sangat berkuasa. " Paman..." Ucap Jaya yg terkejut.


Dewangin hanya mengangkat telapak tangan kanannya menyambut salam hormat dari Empu Gading. " Trima kasih Dewa telah merestui murid hamba." Ucap Empu Gading kepada Dewangin. "Tak perlu sungkan seperti itu Gading." ucap Dewangin, "Apa kau tak ingin memeluk sahabat lama mu ini? Apa kau tak rindu pada ku? Atau kau sudah melupakan aku Gading?" Ucap Dewangin memberondong Empu Gading dengan pertanyaan. Sontak Empu Gading melompat seraya memeluk Dewangin dengan kerinduan yg teramat sangat, Keduanya saling berpelukan laksana dua sahabat yg sudah sangat lama berpisah.


Jaya hanya bisa terperangah melihat kelakuan kedua orang tua di hadapannya, "Dia adalah Dewa Angin, Sang Penguasa Angin yg berhembus di dunia ini." Ucap Empu Gading memperkenalkan kepada muridnya. Jaya langsung berlutut dan menyatukan kedua telapak tangannya di depan kepala sebagai Sembah Hormat. Dewangin menepuk pundak Jaya dan membelai kepalanya dan berkata " berdirilah". "Kenapa paman kemarin menyamar menjadi seorang pemburu dan menderita?" Tanya Jaya kepada Dewangin. " Memang begitulah dia dari dulu." Jawab Empu Gading yg sudah mengenal Dewangin dari dia masih muda dulu. Jaya hanya mengangguk mendengar penjelasan gurunya.


" Jaya... Kau boleh tetap memanggilku Paman, Suatu saat nanti datanglah ke tempatku di Sorga Loka, Aku akan memberikan Mahkota kepada mu sesuai dengan pencapaianmu selama memakai Zirah ini." Ucap Dewangin kepada Jaya.


" Itu adalah Busur GANDIWA ... Busur terbaik dan belum ada yg bisa menandinginya sampai saat ini. Jika kau ingin menghilangkan Jirah ini kau cukup melafazkan mantra yg di ajarkan Gurumu, Begitu juga jika kau ingin menggunakannya. Jika kau membutuhkan sesuatu kirimkan pesan ke padaku dengan panahmu, Aku akan mengabulkan permohonanmu seperti seorang Paman yg memenuhi permintaan Keponakannya." Dewangin kembali menjelaskan kepada Jaya.

__ADS_1


Tak lama berselang Jaya sudah menghilangkan Zirah yg dia kenakan, penampilannya pun sudah kembali seperti semula, Busur dan panahnya juga ikut menghilang. " Aku akan menggunakan Zirah ini dengan sebaik mungkin." Ikrar Jaya kepada Dewangin dan Gurunya. Setelah memberikan pesan yg lain dan beberapa Wejangan kepada Jaya dan Empu Gading, Dewangin pergi dan hanya meninggalkan jejak cahaya menuju arah utara.


__ADS_2