
Setelah Jaya dan Langir pergi meninggalkan Medan Pertempuran, Dinding Es buatan Jaya mencair menjadi air dan mengalir layaknya seperti air pada umunya.
Seluruh Pasukan Kerajaan Api, Maha dan Pendekar kebingungan, Kemana perginya Pasukan yg tadi mereka kepung dan nyaris habis mereka bantai. "Sial... Kemana perginya mereka semua? Ini semua adalah ulah anak sialan itu, Suatu saat aku akan buat perhitungan pada anak sialan itu". Rutuk Alsap melihat musuh yg hampir berhasil mereka bantai lepas begitu saja.
Sementara itu di Istana Kerajaan Angin, Semua mata terkejut melihat Sang Raja kembali dengan di papah salah seorang Prajurit, Tampak luka di sekujur tubuh Raja dan Prajurit yg memapahnya. Begitu juga dengan Pasukan yg tadinya pergi berjumlah lima ribu orang, Yg kembali hanya lebih kurang lima ratus orang, Dan tak seorangpun Prajurit yg tak memiliki luka di tubuhnya. Semua orang yg melihat hal itu merasa sedih dan segera memberi bantuan kepada pasukan yg memasuki gerbang Kerajaan.
Sampai di pintu Istana tampak seorang Gadis berpenampilan layaknya seorang Putri berlari menyambut kepulangan Sang Raja, Gadis tersebut adalah Lastri putri semata wayang Raja Indwi. Lastri langsung memeluk Sang Ayah dan menangis tersedu melihat kondisi ayahnya, "Putri.. Mari kita bawa masuk Paduka ke dalam, Agar tabib bisa mengobati luka Paduka". Ucap Tejo kepada Lastri. Lastri menganggukkan kepala lalu ikut memapah dari sebelah kiri, Saat ini Raja Indwi di papah Tejo di sebelah kanan dan Lastri di sebelah kiri.
__ADS_1
Saat berjalan memapah Raja Indwi masuk kedalam, Tanpa sengaja lengan kiri Tejo yg berada di punggung Raja Indwi menyentuh kulit lengan Lastri bagian atas. Seketika darah Tejo berdesir, Ada suatu perasaan aneh yg dia rasakan, Tapi dia tidak tahu dan belum pernah dia rasakan. Tejo coba mengendalikan diri dengan keadaan tersebut, Lastri sempat melirik ke arah Tejo, Namun dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Raja Indwi di baringkan di atas dipan di ruangan depan, Para Tabib segera memberikan pertolongan kepada Raja dan Tejo, Lastri berdiri di samping dipan sambil membelai rambut ayahnya yg sudah mulai memutih. Begitu juga dengan Prajurit yg berkumpul di halaman Istana, Para warga membantu merawat luka - luka mereka dengan panduan dari tabib yg bertugas.
Setelah mendapatkan perawatan dari Tabib, Raja Indwi duduk di pinggir dipan, sejenak dia memandang Tejo yg duduk di lantai sambil mendapatkan perawatan dari Tabib. "Lastri... Dia adalah Tejo, Salah satu Orang yg sangat berjasa dalam pertempuran dan menyelamatkan Ayah". Ucap Raja Indwi memperkenalkan Tejo kepada putri semata wayangnya. "Terima kasih kakang" Ucap Lastri sambil tersenyum kepada Tejo. "Tak perlu sungkan Tuan Putri, Itu sudah kewajiban hamba sebagai Prajurit" Ucap Tejo dengan sikap merendahnya.
Tak lama berselang, salah seorang Ketua Regu datang menghampiri Tejo. "Lapor Panglima.. Semua Prajurit telah mendapatkan perawatan dari para Tabib, Kami siap menerima Perintah selanjutnya". Ucap Ketua Regu tersebut yg berusia Paruh Baya. "Maaf Senior... Janganlah memanggil yg Muda ini dengan sebutan Panglima, Saya merasa tidak pantas menyandangnya" Tejo bertutur sopan kepada Prajurit yg lebih tua darinya. "Yang di katakan Parji itu benar Tejo". Ucap Raja Indwi menimpali. "Kau memiliki kemampuan yg mumpuni dalam bertarung dan Strategi, Walau masih muda, Namun kau memiliki pengalaman lebih dari yg lain karena pernah menjadi Abdi Raja Damar, kau juga memiliki Senjata Khusus pemberian Raja Damar yg tidak semua orang bisa mendapatkannya, Hal itu semua cukup menjadi alasan bagiku untuk mengangkat mu menjadi Senopati Kerajaan Angin ini." Raja Indwi menuturkan dan mengangkat Tejo menjadi Senopati. "Tapi Paduka..." Belum sempat Tejo melanjutkan ucapannya Raja Indwi sudah menggelengkan kepalanya "Itu Perintah." Ucapnya tegas.
"Senior Parji... Tolong kumpulkan semua Pasukan di halaman ini, Kita akan berbagi tugas." Perintah Tejo kepada Parji. "Perintah segera di laksanakan" Ucap Parji lalu beranjak pergi untuk mengumpulkan pasukan di tempat yg di perintahkan. Tak butuh waktu lama, seluruh Prajurit sudah berbaris di halaman tepat di depan ruangan Raja Indwi dan Tejo mendapatkan Perawatan.
__ADS_1
Setelah berbaris dengan rapi seluruh Prajurit Kerajaan Angin, Parji memberi Komando dengan Lantang. "Hormat kepada Senopati" serentak seluruh Pasukan memberi hormat Khas Prajurit kepada Tejo, Tejo membalas Hormat tersebut juga dengan Hormat Khas Prajurit. Raja Indwi dan seluruh orang bukan Prajurit yg melihat adegan itu tersenyum bahagia, Mereka seperti menemukan harapan baru setelah kekalahan perang.
"Saudara ku semua.." Ucap Tejo membuka Pembicaraan kepada Pasukan yg berbaris, Tejo tidak menggunakan kata "Prajurit ku" seperti kebanyakan Pemimpin Pasukan saat memberi perintah kepada bawahan, Hal itu membuat Prajurit merasa lebih di hargai oleh atasannya, Dan Pastinya akan berbuah Penghormatan dan Kepatuhan yg tulus dari seorang bawahan yg di hargai.
"Saat ini kita dalam ke adaan terancam oleh pihak Kerajaan Api dan Koalisinya, Dengan kekuatan kita saat ini aku tidak yakin kita bisa menghadapi mereka jika mereka datang menyerang kita kemari. Untuk itu, setelah ini segeralah pulang ke rumah kalian masing - masing, Persiapkan keluarga kalian dan semua warga untuk mengungsi, berpakaian lah seperti warga biasa, Bawalah bekal secukupnya, Kita akan pergi ke tempat terpencil dan membangun perkampungan baru di sana sambil menyusun kekuatan baru untuk merebut kembali Kerajaan ini. Untuk mereka yg tidak terluka kumpulkan semua benda berharga dan simpan di tempat rahasia, buat juga jalan rahasia ke luar dari tempat itu di luar Istana. Suatu saat kita akan membutuhkan harta itu untuk membeli perlengkapan perang. Rubah tampilan Kereta Raja seperti Kereta warga biasa, Tapi hanya luarnya saja. Persiapkan juga kereta barang untuk mengangkut barang - barang warga agar pergerakan kita bisa lebih cepat. Secepatnya kita akan meninggalkan Istana dan Kota Raja ini, Karena musuh bisa datang kapan saja. Kalian mengerti?" Tejo memaparkan rencana Pengungsian kepada seluruh Pasukan. "Mengerti.." Jawab semua Prajurit serentak. "Baik.. Kalian boleh bubar dan jalankan tugas masing masing". Ucap Tejo membubarkan barisan.
Melihat kepiawaian Tejo memimpin Pasukan, Raja Indwi merasa menemukan seseorang yg selama ini dia cari untuk memimpin Pasukan Kerajaannya. Walau terbilang terlambat, Mungkin itu lah yg sudah di takdirkan Yang Maha Kuasa untuk Kerajaannya. Lastri juga tersenyum cerah melihat gaya kepemimpinan Tejo, Ada rasa kagum di hatinya kepada sosok yg baru dia kenal hari ini.
__ADS_1