Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
TANDING ELEMEN


__ADS_3

Barda dan Jaya masih berdiri berhadapan di atas arena, Jarak keduanya terpaut sekita sepuluh meter. Barda mengeluarkan Elemen tanah di kedua tangannya dan bersiap menyerang, Jaya mengeluarkan Elemen Air di kedua tangannya, Dalam satu gerakan Jaya merubah Elemen Air di tangannya menjadi dua buah Tameng di kedua tangannya. Aksi Jaya itu banyak menuai komentar dari Pendekar yg menyaksikan Pertarungan itu, "Bagai mana mungkin Elemen Air dapat bertahan dari serangan Elemen Tanah" Komentar salah satu Pendekar, "Menjadikan Elemen Air sebagai Tameng untuk menghadapi Elemen Tanah adalah suatu hal bodoh dan tidak masuk akal" Ucap Pendekar lainnya.


Sejurus kemudian, "Lihat Serangan" Ucap Barda memulai serangan yg kali ini sangat yakin akan menang beradu Elemen dengan Jaya. Barda berkelebat sambil menyerang Jaya dengan Bola Tanah dari kedua tangannya, Jaya menyambut serangan tersebut dengan menangkis menggunakan Tameng yg dia buat dari Elemen air, "Plung..." terdengar suara seperti batu yg di lemparkan ke dalam kolam saat Bola Tanah yg di lepaskan Barda mengena Tameng Jaya. Sontak semua mata yg melihat terheran melihat kejadian itu, Biasanya jika dua Elemen berbeda beradu akan menimbulkan ledakan. Namun tidak dengan Tameng yg di ciptakan oleh Jaya, Tameng tersebut seakan menelan Bola Tanah yg di lesatkan oleh Barda.


"Tehnik apa yg kau ajarkan pada Jaya?" Tanya Guru Andla kepada Empu Gading melalui telepati. "Aku tidak pernah mengajarkan Tehnik seperti itu Kang, Mungkin itu adalah Tehnik yg dia kembangkan sendiri atau yg dia dapatkan dari Kitab Kuno yg ada di Kotak Warisan Guru". Jawab Empu Gading juga melalui telepati. "Apa Jaya orang yg berhasil membuka Kotak Warisan itu? Tanya Guru Andla kembali. "Benar Kang, Aku juga penasaran bagai mana hasil dari Tehnik ini" Ucap Empu Gading yg semakin serius melihat Pertarungan kedua Generasi Penerus Perguruan Mereka.


Barda semakin penasaran dengan Tameng yg di ciptakan Jaya, Dia bergerak menyerang Jaya dari segala sisi, Bahkan Bola Tanah yg di lesatkannya semakin besar. Jaya menggunakan Jurus Kijang Kelana untuk mengimbangi gerakan Barda. Semakin banyak Barda mengeluarkan Bola Tanah, Energinya pun semakin terkuras. Hingga Jaya merasakan serangan Barda sudah mulai melemah dan sedikit di paksakan, Jaya bergerak menggiring Barda ke tepi arena tepat di hadapan Guru Andla.


Dengan satu gerakan, Jaya mengarahkan Tameng di tangan kirinya ke arah Barda. Tanpa di sangka, seluruh Bola Tanah yg tadi menghilang saat terkena Tameng, Keluar sekaligus dan mengarah ke Barda. Sontak Barda kewalahan menghadapi serangan ratusan Bola tanah miliknya sendiri yg menyerang balik ke arahnya. Dengan sisa tenaga yg ada Barda berusaha bertahan dengan serangan tersebut, Belum lagi Barda sempat mengambil napas, Jaya sudah kembali mengarahkan Tameng yg ada di tangan kanannya ke arah Barda. Kembali ratusan Bola Tanah melesat ke arah Barda, Karena sudah kehabisan tenaga barda hanya bisa pasrah menerima serangan Bola Tanah yg dia ciptakan sendiri menyerangnya.


Akibat serangan itu, Barda terpental tak berdaya dari atas arena dan mendarat telentang tepat di hadapan Guru Andla. Aksi Jaya yg di luar dugaan menuai tepuk tangan riuh dari Pendekar yg menyaksikan, hanya beberapa yg tidak bertepuk tangan. Terutama Empu Gading dan Guru Andla. Jaya segera berkelebat mendekati Barda yg terbaring, Dengan cekatan Jaya menotok beberapa titik di tubuh Barda. Kemudian Jaya memberikan sebuah pil kepada Barda, lalu mengalirkan tenaga dalam kepada Barda dengan menyentuh bagian punggung Barda. Tanpa di sangka, Ningsih datang membawakan air minum untuk Barda agar lebih mudah menelan pil yg di berikan Jaya.

__ADS_1


Setelah mendapat pertolongan dari Jaya, Kondisi Barda mulai membaik. Barda tersenyum bahagia mendapat perhatian dari saudara seperguruannya. Kekuatan, Kecerdasan dan Rasa Persaudaraan yg di tunjukkan Generasi Muda Perguruan ini layak di acungi jempol oleh semua yg hadir di acara itu. Jaya kembali mendapat tantangan bertarung, Kali ini dari Gayatri yg sudah berdiri di tengah arena.


"Kakang Jaya, Kau adalah Pendekar Pria Terbaik di sini, Dan aku juga di Nobatkan sebagai Pendekar Wanita Terbaik. Karena itu aku menantang mu bertarung di arena ini". Ucap Gayatri memberi tantangan kepada Jaya. "Aku takut kau terluka Dinda, Jika harus bertarung denganku". Ucap Jaya memberi alasan menolak tantangan dari Gayatri. "Jika kau takut, maka menyerah lah". Ucap Gayatri yg tak memberi kesempatan menolak kepada Jaya. "Aku tak ingin melukai wanita, tapi aku juga tak ingin membuat Guruku malu karena memiliki Murid yg menolak sebuah tantangan bertarung". Ucap Jaya mengulur waktu agar dapat berpikir bagai mana cara melawan Gayatri tanpa melukainya, Karena ada rasa tertarik di hatinya kepada Gayatri sejak pertama melihat di warung makan tadi. "Kalau begitu, Bertarung lah". Desak Gayatri. "Baik lah... Aku menerima tantanganmu". Ucap Jaya yg masih bingung apa yg harus dilakukan.


Tepuk tangan dan sorak riuh Para Pendekar kembali pecah, semua sangat bersemangat menyaksikan pertarungan dua Pendekar Terbaik beda gender yg segera akan di mulai. Dalam satu tarikan nafas, Jaya melompat lalu bersalto kedepan beberapa kali dan mendarat di arena dengan sempurna. Jarak keduanya terpaut sekitar tiga meter, Dengan Jaya berada di posisi lebih ke tepi.


Gayatri segera mengambil ancang - ancang dan memasang kuda - kuda, Namun tidak dengan Jaya yg hanya berdiri dengan sikap biasa saja, dia hanya tersenyum melihat tingkah Gayatri. "Lihat serangan" Ucap Gayatri yg mulai melancarkan serangan dengan jurus pembuka, Jaya menangkis dan menghindar dari serangan pembuka yg di lancarkan Gayatri. Jaya menggunakan Jurus Kijang Kelana untuk menghadapi serangan Gayatri tanpa berniat kembali menyerang.


Sejenak Gayatri terdiam mendengar perkataan Jaya, Pipinya memerah mendengar Jaya menggodanya. Penonton bergemuruh riuh mendengar Jaya yg menggoda Gayatri sambil bertarung. "Apa Kakang juga mengajarkan jurus menggoda wanita kepadanya?" Tanya mayang kepada Empu Gading yg ada di sampingnya. Empu Gading menoleh ke arah Mayang "Sejak kapan aku punya jurus menggoda wanita?" tanya Empu Gading kepada Sekar Mayang dengan nada yg kurang mesra.


"Kita lihat sampai kapan Jurus Kijang Kelana mu bisa bertahan" Ucap Gayatri sambil kembali menyerang Jaya. Pertarungan kembali berjalan setelah terhenti beberapa saat karena Gayatri terkena Jurus Penggoda dari Jaya. Pertarungan berjalan semakin seru dan sengit, Kali ini Jurus Kijang Kelana milik Jaya sedikit aneh. Tubuh Jaya terlihat sangat lentur, Tak jarang untuk menghindari serangan dari Gayatri tubuh Jaya semakin menempel ke tubuh Gayatri. Berulang kali Jaya membuat gerakan aneh yg membuat Gayatri terjatuh, Telentang dan tersungkur. Namun sebelum itu terjadi Jaya sudah menangkap tubuh Gayatri, alhasil Gayatri seperti di permainkan oleh Jaya.

__ADS_1


"Jurus apa yg kau pergunakan itu? Aku tidak pernah mengenal jurus itu dari Guru". Ucap Gayatri mulai emosi karena merasa di permainkan dengan Jurus aneh dari Jaya. "Ini Jurus Kijang Mabuk, Paman Dewa Penyair yg mengajarkannya padaku". Pengakuan Jaya. Sontak semua mata melihat ke arah Dewa Penyair, Terutama mereka yg saudara seperguruan, Apalagi Empu Gading dan Sekar mayang, mata mereka bulat membesar melotot kepada adik bungsu mereka yg memang terkenal Jahil. Dewa Penyair hanya bisa menggeleng dan melambaikan tangannya di pinggang menjawab tatapan dari abang dan kakak seperguruannya.


"Aku tak percaya itu Jurus Mabuk" Ucap Gayatri seraya kembali menyerang Jaya karena penasaran, Pertarungan semakin sengit dengan Gayatri mulai mengeluarkan jurus dengan tingkat yg lebih tinggi. Namun Jurus Kijang Mabuk Jaya terlihat sangat aneh dan konyol, hal itu membuat para Pendekar yg menonton tertawa terbahak - bahak melihat pertarungan itu. Mereka seperti melihat Drama Komedi di atas arena, bahkan Guru Andla dan Raja Peramal yg terkenal selalu serius tak mampu menahan tawa mereka.


"Bukankah Jurus Mabuk hanya bisa di gunakan orang yg sedang mabuk?" tanya Gayatri di sela sela pertarungan kepada Jaya sambil tetap menyerang. "Aku saat ini memang lagi mabuk dinda" Ucap Jaya sambil merayu Gayatri dengan panggilan Dinda. "Kapan Kau minum arak? Seingat ku di tempat ini tidak ada arak" Tanya Gayatri mencari kejujuran dari Jaya. "Aku bukan mabuk karena minum arak, Tapi aku mabuk karena melihat Kecantikanmu". Ucapan Jaya yg membuat wajah Gayatri merona merah, fokus bertarung Gayatri hilang seketika terkena rayuan maut dari Pemuda tampan di hadapannya.


Jaya memutar badannya dan memposisikan di sebelah kanan Gayatri, Jaya menyapu kaki kanan Gayatri dengan mulus. Karena Gayatri sedang gagal fokus, tubuhnya pun terlentang akibat serangan sapuan pada kaki kanannya. Jaya segera menangkap tubuh Gayatri menggunakan tangan kiri agar tidak telentang di lantai arena, Gerakan tersebut membuat Gayatri seperti lagi dipeluk oleh Jaya, dengan gemes Jaya mencubit dagu Gayatri yg berada di pelukannya. Gayatri merasa malu dan kesal di perlakukan Jaya seperti itu, Namun ada juga rasa senang dan rasa yg lain di hatinya kepada pemuda tampan di dekatnya.Tapi yg namanya wanita, Jinak - jinak Merpati itu sudah pasti.


Gayatri menginjak salah satu kaki Jaya lalu menyerang dengan pukulan telapak ke dada kanan Jaya. Sontak Jaya melepaskan pelukannya untuk menghindari pukulan telapak dari Gayatri dan menjauh. Gayatri jatuh dan berguling di lantai arena. Gayatri segera bangkit dan mengeluarkan Elemen tanah di kedua tangannya "Akan ku buat kau sadar dari mabuk mu". Ucap Gayatri seraya menyerang Jaya kembali dengan Bola Tanah. Jaya mengeluarkan Elemen Air di kedua tangannya, namun tidak membentuk tameng seperti saat menghadapi Barda, Hanya ada lingkaran Air berdiameter satu jengkal di kedua tangannya. Bola Tanah yg di lepaskan Gayatri juga menghilang saat bertemu dengan lingkaran air yg di buat Jaya. Tak mau kecolongan seperti Barda, Gayatri mengatur frekwensi serangannya.


Sambil melancarkan jurus jurus tangan kosong, Sesekali Gayatri menyerang menggunakan Elemen tanah. Jaya merasa Bola Tanah yg di kumpul sudah cukup, langsung menyerang Gayatri dengan Bola Tanah yg di kumpulkan dari serangan Gayatri. Kerena sudah mengatur kekuatan yg di lepaskan tadi, Gayatri tampak tidak kewalahan menghadapi serangan balik dari Jaya. Namun Gayatri tidak menyadari sewaktu dia menghadapi serangan Bola Tanah, sebuah lingkaran Air telah mengelilinginya. "Penjara Air " Ucap Jaya sambil menggerakkan kedua tangannya ke arah Gayatri, seketika keluar air dari lantai arena menjulang ke atas hingga mengurung Gayatri. Saat ini tubuh Gayatri tidak tampak lagi, Yg terlihat hanya Jaya dan Air berbentuk tabung yg besar. "Membeku.." Ucap Jaya sambil menggenggam jari di kedua tangannya, Seketika Air berbentuk Tabung yg mengurung Gayatri tadi Membeku menjadi Es. Tampak sosok Gayatri terkurung tak berdaya di dalam Tabung Es tersebut.

__ADS_1


Dengan tenang Jaya mengangkat sedikit tangannya lebih keatas, Tabung Es itu pun terangkat dari Lantai Arena. Perlahan Jaya menggerakkan Tabung Es yg mengambang di udara tersebut hingga ke tempat duduk Sekar Mayang lalu menurunkannya. "Bibi... Aku titip calon ibu dari anak ku padamu". Ucap Jaya dengan senyum kemenangan. Jaya mengibaskan tangan untuk menghilangkan Penjara Es yg mengurung Gayatri, Aksi itu mendapat sambutan tepuk tangan meriah dan sorakan riuh dari semua orang. Mereka seperti baru selesai menonton Pertunjukan Langsung.


__ADS_2