Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
S T T B Syarat Tanda Tamat Berguru.


__ADS_3

Pagi hadir begitu cerah seolah menyambung malam yg terang dengan cahaya Bulan Purnama sepanjang malam. Jaya terbangun dari tidur dan mimpi Aneh tapi Indah yg dia alami semalaman. Dia masih bingung dengan yg dia alami tadi malam, Di bilang mimpi rasanya begitu nyata, Di bilang nyata dia bru saja bangun tidur.


Sudah menjadi kebiasaan Kaum Adam, ketika bangun tidur pasti ingin buang air kecil. Ketika hendak beranjak Jaya melihat di bagian celananya ada seperti cairan kental berwarna putih yg sudah mulai mengering. Sontak Jaya terkejut dan kebingungan menanggapi hal tersebut, Pasalnya hal itu baru pertama dia alami dalam hidupnya.


Jaya pun akhirnya beranjak ke ****** yg ada di belakang gubuk namun posisinya agak jauh dari gubuk. Setelah mencuci muka dan membersihkan diri serta mengganti pakaian yg terkena cairan dengan aroma yg aneh menurutnya. Jaya melakukan aktifitasnya seperti biasa, memasak sarapan dan membuat teh, kemudian di sajikan untuk di santap bersama Gurunya yg sudah menunggu di pendopo.


Karena masih bingung dan penasaran dengan apa yg terjadi pada dirinya semalam, Berbagai pertanyaan pun muncul di benaknya yg dia sendiri tidak tau jawabannya. Karena hal itu raut kebingungan dan gelisah pun terpancar di wajah Jaya saat sarapan pagi bersama Gurunya, Empu Gading pun menyadari perubahan sikap dan raut wajah pada Muridnya.


"Apa yg kau pikirkan Jaya?.. Kenapa wajahmu seperti orang kebingungan begitu?" Tanya Empu Gading kepada Jaya. " Anu .. Kek.." Jawab Jaya bingung. " Anu ... Apa?. .. Katakan saja, kenapa bingung." Ucap Empu Gading mendesak pengakuan Muridnya.


Sejenak Jaya menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya, Kemudian Jaya pun bercerita tentang mimpi aneh namun indah yg dia alami tadi malam secara detail kepada kepada Kakek sekaligus Gurunya. Jaya menceritakan secara terperinci dari awal tanpa ada yg terlewat dan di tutupi hingga dia bangun di pagi hari.


Empu Gading tersenyum mendengar penuturan dari Muridnya lalu dia mengusap kepala Jaya dan berkata " Ternyata sekarang cucuku sudah dewasa".


"Maksud Kakek?" tanya Jaya yg masih bingung. " Itu yg di namakan Mimpi Basah, Setiap Laki laki akan mengalami hal tersebut. Itu adalah tanda batas seorang pria menjadi dewasa". Empu Gading menjelaskan Kepada Jaya, Walau pun sedikit Tabu namun hal itu Lumrah dan pasti di alami Kaum Adam.

__ADS_1


"Setelah sarapan pergilah ke sungai, Mandilah dengan cara seperti ini... Seperti ini.." Empu Gading menjelaskan tata cara mandi khusus, Jaya pun menyimak dengan tekun, Dia tidak lagi bingung setelah mendengar penjelasan dari Gurunya. Setelah selesai sarapan dan mengemasi piring serta cangkir bekas sarapan Jaya pun pergi ke sungai hendak Mandi Khusus seperti yg di ajarkan Gurunya.


" Jaya... Setelah selesai mandi, Segeralah kembali. Ada sesuatu yg akan Kakek berikan". Perintah Empu Gading kepada Jaya. "Baik Kek". Jawab Jaya dan pergi ke sungai. Tak lama berselang Jaya sudah tak nampak dari pandangan Empu Gading .


"Guru... Kini adalah saat di mana apa yg engkau ramalkan tentangku dulu menjadi kenyataan". Empu Gading berbicara sendiri mengenang Sosok Gurunya yg pernah meramalkan nasibnya. Setelahnya Empu Gading masuk kedalam gubuk lalu ke kamar pribadinya, Dari dalam lemari dia mengeluarkan sebuah Kotak terbuat dari logam yg sangat keras dan sebuah benda terbungkus kain.


Jaya sudah pulang dari sungai dengan wajah yg sangat segar, Bahkan jejak tetesan air masih tampak di wajah dan membasahi rambutnya yg panjang sebahu. Setelah melakukan Ritual Mandi Khusus seperti yg di ajarkan Gurunya, Jaya dapat merasakan sesuatu yg berbeda dalam dirinya, namun dia tidak tau apa dan bagaimana mengatakannya. Setelah sampai di gubuk, Jaya di suruh Gurunya duduk di salah satu ruangan yg ada di dalam gubuk.


"Jaya... Dahulu Kakek Gurumu atau lebih tepatnya Guruku memiliki kemampuan meramal yg tinggi, Bahkan Beliau dapat meramal kejadian atau nasib seseorang jauh dari saat dia meramal". Tutur Empu Gading kepada Jaya tentang Gurunya, Jaya pun mendengarkan dengan seksama mencoba memahami alur yg di ceritakan oleh Gurunya.


Kemudian Empu Gading mengeluarkan sebuah benda yg di bungkus kain putih, Tampak kain pembungkus benda tersebut sudah lusuh karena sudah bertahun. Empu Gading membuka bungkusan kain tersebut dan tampaklah sebuah Keris dengan Gagang dan Warang yg sangat indah. "Apa kau mengenali Keris ini?" Tanya Empu Gading kepada Jaya seraya menunjukkan Keris tersebut. Sejenak Jaya ingin menggelengkan kepala dan berucap " Tidak", Namun saat melihat Gagang Keris tersebut kepala dan mulutnya serasa terkunci.


"Gagang keris itu seperti Keris yg di miliki Raja Damar, Dan aku pernah memegangnya sesaat sebelum aku terpental oleh Badai yg di hasilkan oleh pertempuran itu Kek. Tapi saat itu aku memegang Keris tersebut tidak ada Warang nya Kek". Tutur Jaya yg merasa mengenali Gagang keris yg di pegang Gurunya.


" Ini adalah Keris Tumbal Geni, Keris ini tidak akan tergeletak setelah keluar dari Warang kecuali masih di pegang seseorang". Ucap Empu Gading menjelaskan karakter Keris Tumbal Geni. Sejenak Jaya teringat saat keris tersebut terlepas dari tanga Raja Damar saat bertarung dengan Raja Bara, Keris tersebut langsung menancap pada batang pohon.

__ADS_1


"Guruku mengatakan hanya Orang tertentu yg bisa mencabut Keris ini dari Warang nya, Tetapi Beliau tidak menyebutkan kriteria Orang tersebut. Terbukti aku sendiri tidak bisa mencabut keris ini dari warang nya, Keris ini juga berada dalam pelukanmu saat ku temukan di pinggir sungai". Tutur Empu Gading kembali.


" Terima lah... Karena ini memang milikmu". Ucap Empu Gading menyerahkan Keris Tumbal Geni kepada Jaya. Jaya yg duduk bersila berhadapan dengan Gurunya menerima Keris tersebut dengan kedua tangan, Kemudian masih dengan kedua tangan Jaya menempelkan Keris tersebut di dahinya. Sejenak matanya terpejam dan seperti membaca mantra, Setelahnya Jaya meletakkan Keris tersebut di pangkuannya pada paha kiri.


" Ini adalah titipan dari Guruku, Sebelum Dia pergi Beliau berpesan kepadaku untuk menyerahkan kepada Muridku, Yaitu dirimu. Beliau juga mengatakan bahwa kotak ini hanya bisa di buka dengan Keris Tumbal Geni sebagai kuncinya, Trima lah". Ucap Empu Gading menyerahkan sebuah kotak yg berukuran sebesar kotak sepatu terbuat dari logam keras dan penuh dengan ukiran indah. Pada bagian atas terdapat ukiran dua ekor Naga berwarna Merah dan Biru yg saling berhadapan.


Dengan kedua tangan Jaya menerima kotak tersebut dan melakukan hal yg sama saat menerima keris, Namun kotak tersebut tetap di pegang Jaya. "Sekarang kau boleh membuka kotak itu, Aku pun tak tau apa yg ada di dalamnya". Ucap Empu Gading.


Jaya meletakkan kotak tersebut dan mengambil keris yg ada di pangkuannya, setelah melafazkan sebuah mantra Jaya mencabut Keris tersebut dari Warang secara perlahan, Namun saat ini dia tidak merasakan lagi Panas seperti saat pertama memegang Keris tersebut. Jaya memasukkan Keris tersebut pada celah yg terdapat pada kotak yg mirip seperti celah pada warang keris.


Tak lama berselang ukiran Naga pada kotak seperti hidup, Kotak tersebut seperti terbelah tepat di tengah kedua ukiran Naga yg berhadapan, Kemudian kotak itu pun terbuka menjadikan dua ukiran Naga yg tadinya berhadapan kini berjauhan. Setelah kotak itu terbuka tampak lah sebuah kitab berada di dalamnya, Perlahan dengan kedua tangan Jaya mengambil Kitab tersebut lalu menempelkannya ke dahi dengan maksud menghormati kitab tersebut. Namun setelah menyentuh dahi Kitab tersebut berubah menjadi cahaya Putih, Biru dan Merah yg berputar di depan Dahi Jaya. Perlahan ketiga Cahaya tersebut masuk kedalam Dahi Jaya dan menghilang, Sewaktu merasakan Ketiga Cahaya itu masuk ke dahinya Jaya memejamkan mata merasakan sesuatu masuk ke dalam pikirannya. Sesuatu yg masuk tersebut berbentuk pengetahuan yg belum pernah di ajarkan Gurunya, Cukup lama mata Jaya terpejam meresapi setiap pengetahuan yg baru masuk ke dalam pikirannya, Setelah itu Jaya kembali membuka matanya.


Masih dalam duduk bersila dan berhadapan dengan Gurunya, Berdasarkan dari pengetahuan yg baru saja dia dapatkan. Jaya membuka baju yg ia kenakan, Dengan bertelanjang dada Jaya mengambil sepotong Kain dari dalam kotak tersebut yg terlipat sangat rapi, bahkan kain tersebut hanya terlihat sebagai alas dari kitab tadi. Setelah menyentuhkan ke dahi sebagai penghormatan, Jaya membuka lipatan kain tersebut yg ternyata sebuah Baju tanpa lengan dengan warna sama persis dengan warna kulit. Jaya memegang bagian bahu pada baju tersebut dan melekatkan pada tubuhnya seperti seseorang sedang mencoba baju baru, setelahnya baju tersebut mengeluarkan cahaya seperti warnanya beberapa detik lalu meredup kembali. Kini baju tersebut sudah terpasang di tubuh Jaya, Baju tersebut melekat mengikuti bentuk tubuh Jaya yg penuh dengan otot, bahkan tidak terlihat sama sekali.


Setelah itu Jaya mengambil sebuah belati dari dalam kotak, Belati Lengkung dengan warang yg sangat indah berukir Naga Biru. Jaya melekatkan Belati tersebut pada dahinya, setelah itu belati tersebut mengeluarkan Cahaya Biru beberapa detik lalu meredup kembali. Setelah cahaya itu meredup Belati tersebut berubah menjadi sebuah pedang. Jaya mencabut pedang tersebut dari warang secara perlahan, Kini tampaklah sebatang pedang lengkung dengan bilah berwarna biru yg bersinar. Jaya memasukkan kembali pedang tersebut ke dalam warang lalu menyentuhkan ke dahinya, pedang tersebut kembali bercahaya lalu berubah kembali menjadi Belati. Kemudian Jaya melekatkan Belati tersebut ke tubuhnya, Belati tersebut kembali bersinar beberapa saat lalu menghilang.

__ADS_1


Setelah selesai Jaya kembali mengenakan bajunya lalu memegang gagang keris Tumbal Geni, Seketika kotak tersebut tertutup kembali dan Jaya mencabut Keris tersebut lalu memasukkan ke dalam Warangnya.


__ADS_2