Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
Pernafasan Alam (2)


__ADS_3

Matahari sudah naik sepenggala, Di sebuah sungai dekat dengan air terjun yg di kelilingi hutan lebat tampak seorang pemuda sedang duduk di atas sebuah batu besar berbentuk pipih tepat di tengah aliran sungai. Pemuda tersebut adalah Jaya, Dia sedang fokus melatih Tehnik Pernafasan Alam yg di ajarkan oleh gurunya yaitu Empu Gading.


Jaya mulai bisa merasakan aliran energi di sekitar tubuhnya, Namun dia masih kesulitan untuk menyerap energi itu ke dalam tubuhnya sesuai tuntunan dari sang guru, Selain itu udara dingin di sekitar membuat perutnya mulai terasa keroncongan dan matanya mulai di serang kantuk.


Jaya masih terus bertahan melawan rasa lapar dan kantuk sembari berusaha menyerap energi yg dia rasakan mengelilingi tubuhnya, Nafasnya mulai tampak teratur dengan halus dan matanya terpejam, Ini menunjukkan bahwa Jaya sedang memasuki puncak meditasinya. Namun siapa yg menyangka sesaat berikutnya Jaya tertunduk dan tercebur ke sungai, Ternyata matanya terpejam bukan karena puncak meditasi melainkan karena ngantuk.


Sontak jaya tersadar lalu berenang ke tepian karena sempat terseret arus sungai, Dia berjalan di tepian sungai mengambil posisi yg tepat untuk berenang ke arah batu di tengah sungai tempat dia berlatih. Sampai di atas batu Jaya tidak langsung melatih Tehniknya, Sejenak dia berfikir kenapa dia sampai tertidur saat latihan dan mengapa gurunya sangat melarang keras dirinya tertidur saat latihan.


Cukup lama Jaya merenung dan berfikir apa penyebabnya dan bagai mana cara mengatasinya. Di dalam hati dia bertanya mengapa latihan kali ini sering membuatnya tertidur, Berbeda jauh saat dia berlatih jurus, Apa karena tubuhnya tidak bergerak sehingga menyebabkan kantuk? Berbagai macam pertanyaan di benaknya yg semuanya sulit dia temukan jawabannya.


Akhirnya Jaya kembali memulai latihannya namun kali ini dia tidak memejamkan matanya, Dia terus mengamati apa yg terjadi di sekelilingnya saat dia melakukan Tehnik Pernafasan Alam. Hal itu sukses membuat rasa kantuk tak berdaya menyerangnya, Dan perlahan rasa lapar di perutnya pun berangsur menghilang.

__ADS_1


Semakin lama dia semakin fokus melakukan Tehnik Pernafasan Alam dan tetap tidak memejamkan matanya, Di dalam pikirannya gurunya hanya memerintahkan agar dia tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur selama melatih Tehnik Pernafasan Alam. Namun tidak ada melarang untuk tetap memperhatikan keadaan sekeliling, hal itu dapat dia lakukan walau tanpa menggerakkan bagian tubuhnya.


Saat ini jaya duduk bersila dengan tegak menghadap ke air terjun, Pandangannya lurus ke depan. Karena posisi duduknya yg menghadap air terjun, seolah olah dia sedang mengamati setiap tetes air yg jatuh dari puncak bukit dan datang kepadanya melalui aliran sungai. Walau posisinya masih jauh dari air terjun namun Jaya dapat melihat dengan jelas keberadaan air terjun tersebut.


Sudah lewat setengah hari, Bahkan saat ini matahari sudah mulai condong ke barat, Namun Tehnik Pernafasan Alam yg di latih Jaya belum juga menampakkan hasil. Walau begitu Jaya tidak menyerah, Dia terus mencoba lagi dan lagi tanpa memperdulikan rasa haus, lapar dan kantuk yg menyerang terus menerus tanpa henti, Di dalam hatinya dia meyakini bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha.


Saat Jaya berada pada puncak konsentrasi, Dia melihat seberkas cahaya putih kekuningan terpancar dari air terjun mengarah kepadanya. Hatinya mengatakan bahwa bias cahaya yg saat ini dia lihat sama persis dengan yg dia lihat saat pertarungan Raja Damar melawan Raja Bara. Jaya terus menatap bias cahaya dari air terjun yg mengarah kepadanya tanpa berkedip.


Saat ini tubuh Jaya sedang di kelilingi kabut cahaya yg terhubung dengan air terjun di depannya, Bahkan jika ada yg melihat, seluruh tubuh Jaya seakan memancarkan cahaya. Perlahan jaya merasakan ada sesuatu masuk kedalam tubuhnya melalui pori pori kulit, Keadaan itu terasa terjadi di seluruh permukaan kulitnya. Sejenak Jaya teringat apa yg di ajarkan gurunya, Dengan tenang jaya mengendalikan sesuatu yg masuk ke dalam tubuhnya ke satu titik bertempat di sekitar pusarnya.


Perlahan sesuatu yg masuk kedalam tubuh dan di alirkan ke daerah pusar itu mengumpul menjadi satu, Jaya merasakan tubuhnya menjadi lebih segar dan bertenaga akibat sesuatu yg masuk kedalam tubuhnya dan di alirkan ke daerah pusar. Berdasarkan hal itu kini Jaya meyakini bahwa bias Cahaya yg dia lihat dan dia rasakan adalah Wujud dari Energi yg dia cari dengan Tehnik Pernafasan Alam.

__ADS_1


Karena sudah merasa yakin menemukan apa yg dia cari, Dan semakin di menyerap energi itu tubuhnya terasa semakin segar dan bertenaga, Bahkan saat ini dia tidak lagi merasakan haus, lapar dan kantuk seperti sebelumnya. Hal itu lah yg membuat Jaya merasa enggan untuk menghentikan latihannya. Namun karena hari sudah mulai gelap Jaya terpaksa menyudahi latihannya karena jika di teruskan hingga malam hari ia takut kembali tertidur, Dan dia belum mengetahui apa yg menjadi resiko jika sampai tertidur saat melakukan Pernafasan Alam.


Selesai melakukan latihan Jaya ingin beranjak pulang, Namun sebelum itu dia kembali penasaran dengan gurunya yg bisa berjalan di atas air layaknya berjalan di atas tanah. Jaya pun berniat kembali mencoba berjalan di atas air ke tepian sungai, Namun hasil yg di dapat masih sama. Jaya masih tercebur ke dalam air sewaktu berjalan di langkah pertama, Dengan kecewa dia harus kembali berenang ke tepi sungai, Dia sedikit berguman " Ternyata energi yg ku kumpulkan belum cukup untuk membuatku bisa berjalan di atas air, tak mengapa besok aku bisa mencobanya lagi".


Jaya melangkah pulang ke gubuk tempat tinggalnya bersama Empu Gading, Kali ini hatinya sedikit terhibur karena berhasil mengumpulkan energi walau pun masih sangat sedikit, Paling tidak latihannya hari ini sudah membuahkan hasil, masih ada hari esok untuk mengulang kembali latihannya.


Sesampai di gubuk Jaya memasak singkong mentah yg masih tersisa di dapur, Perutnya terasa sangat lapar setelah seharian berlatih di atas air sungai, Tak lupa dia juga membuat teh yg di campur dengan madu.


Saat malam hari, Sambil menunggu matanya mengantuk, Jaya duduk di pendopo seorang diri. Jaya mengambil beberapa bilah bambu, dengan tenang dia membelah, memotong dan meraut bambu tersebut dengan belati dan beberapa alat kerja yg biasa di pakainya.


Sesuai rencana Jaya ingin membuat sebuah busur untuk dirinya sendiri, dengan keahlian yg saat ini dia miliki Jaya berusaha membuat busur terbaik untuk dia pergunakan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2