
Setelah menyelesaikan tugas membawa bahan obat-obatan dari Raja Peramal, Langir kembali ke kamar Jaya untuk melihat kondisi Tuan Mudanya itu. Perlahan Langir memasuki pintu kamar karena takut mengganggu Jaya yg sedang beristirahat, sesampai di dalam kamar, Langir mendapati Gayatri duduk di sebuah kursi di tepi ranjang. Tampak dia tertidur dengan kepala tertunduk berbantalkan lengan di tepi ranjang tepat di samping tangan Jaya. Mendapati hal itu, Langir hanya melihat dari kejauhan. Setelah itu Langir meninggalkan kamar dan pergi ke halaman bergabung bersama Barda dan teman-temannya.
"Mari duduk di sini Paman" Ucap Barda menyambut kedatangan Langir. Langir duduk di bangku kayu berdampingan dengan Barda dan saudara seperguruannya membentuk lingkaran mengelilingi api unggun. "Apa kalian ada yg memiliki makanan? Perut paman terasa sangat lapar karena belum makan dari siang tadi." Tanya langir kepada murid perguruan yg ada di dekatnya. "Sudah habis Paman, Kalau Paman mau aku bisa mengambilkannya ke dapur". Jawab salah seorang murid yg ada di samping Langir. "Tidak perlu, lebih baik kau cari kayu bakar yg banyak, Aku akan membuat daging bakar yg lezat untuk kita, Kalian pasti belum pernah memakan daging bakar yg akan paman buat". Ucap Langir seraya berjalan ke tengah halaman.
Langir mengeluarkan Telur Giok dari dalam bajunya, Dengan satu gerakan Langir mengeluarkan bangkai Raja Cobra yg sangat besar di tanah. Sontak semua murid terkejut melihat bangkai Ular Cobra yg sangat besar dan panjang. "Ada yg mau membantu mengulitinya?" Tanya Langir kepada Barda dan murid yg lain. "Apa dia sudah mati Paman? Dari mana Paman mendapatkannya?" Tanya Barda yg merasa ngeri melihat ukuran ular yg tidak wajar tersebut. "Ini bangkai Raja Cobra Putih, Paman menemukan dan berhasil membunuhnya saat pulang dari Lembah Sumbing tadi". Tutur Langir sambil mengeluarkan dua Belati milik Jaya yg masih dia simpan.
__ADS_1
Dengan santai Langir memotong kulit ular tersebut tepat di bawah lehernya, lalu membelah kulit bagian bawah sampai ke bagian ekor untuk memudahkan proses mengupas kulit ular tersebut. Karena semua kekuatan Raja Cobra sudah di cabut langir, saat ini kulit ular tersebut tak ubahnya seperti ular biasa. Melihat hal itu semua murid yg ada langsung bergotong royong membantu Langir memisahkan daging dari kulit binatang tersebut.
Tak butuh waktu lama, bangkai binatang itu pun sudah terpisah dari kulitnya dan terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Setelah mengambil beberapa potong untuk di masak, Langir memasukkan kembali daging dan kulit yg tersisa ke dalam Telur Giok untuk di simpan. Kini masing-masing dari mereka memegang dan memanggang daging yg di potong sesuai selera masing-masing. Mereka tampak bersenda gurau sambil membalik-balikkan daging yg mereka panggang agar tidak gosong.
Semakin lama harum aroma daging panggang semakin tercium, Di tambah hembusan angin larut malam membuat aroma daging panggang tersebut menyebar ke seluruh penjuru Perguruan, bahkan orang yg ada di halaman belakang, tepatnya di rumah Raja Peramal juga mencium Lezatnya aroma daging panggang tersebut. "Siapa yg larut malam begini memanggang daging, Aromanya sangat enak lagi, Perutku jadi terasa lapar di buatnya". Ucap Guru Andla yg mencium aroma daging panggang yg menggugah selera. "Iya Kang... Aku juga jadi lapar, bagai mana kalau kita cari siapa yg memanggang daging ini. Aku yakin ini perbuatan para murid yg berjaga di kamar Jaya, siapa tau masih ada daging yg tersisa untuk kita". Ucap Dewa Penyair kepada Guru Andla. "Baik lah.. Ayo kita cari". Jawab Guru Andla menyetujui usulan Dewa Peramal.
__ADS_1
Langir mengeluarkan sebuah potongan daging yg berukuran besar, "Nah... Potong dan masak sendiri sesuai seleramu". Ucap Langir sambil memberikan belati kepada Dewa Penyair. "Yee.... Ku pikir uda tinggal makan". Ucapnya menerima pisau dari Langir. Tak lama dia memotong daging yg di berikan Langir sesuai ukuran yg dia inginkan untuk di panggang. "Potong juga untuk Kakang Andla". Ucap Langir yg mengingatkan Dewa Penyair. "Iya ..ya.. Cerewet..". Jawab Dewa Penyair sambil memonyogkan mulutnya. "Hahahahah....." Serentak semua murid tertawa melihat tingkah Guru ragil mereka. Setelah itu mereka semua menikmati sisa alam menjelang pagi dengan berbincang dan bersenda gurau, Tak terlihat kecanggungan antara Guru dan Murid di antara mereka saat bercanda dan bergurau. Pesta daging bakar kecil-kecilan itu berakhir menjelang pagi, Selain karena mengantuk, Giliran jaga juga akan di gantikan regu yg lain.
Pagi hari...
Gayatri terbangun karena merasakan ada yg membelai kepalanya, "Eh.. Uwak guru..." Ucap Gayatri yg mendapati Raja Peramal berdiri di samping sambil membelai kepalanya. "Pergilah istirahat, Uwak akan memeriksa dan menggantikan mu menjaga Jaya". Ucap Raja Peramal kepada Gayatri. "Tidak wak.. Aku akan tetap di sini menemani Kakang Jaya". Jawab Gayatri yg tak mau Jauh dari Jaya. "Setidaknya pergilah mandi agar badanmu terasa lebih segar, Apa kau mau Jaya terbangun dan melihat keadaanmu seperti ini?" Ucap Raja Peramal kembali membujuk Gayatri. "Baiklah wak". Jawab Gayatri kemudian pergi meninggalkan kamar Jaya.
__ADS_1
Setelah kepergian Gayatri, Raja Peramal memeriksa kondisi kesehatan Jaya. Setelah itu di menyuapkan ramuan obat ke mulut Jaya yg dia bawa dari rumahnya. Ramuan obat sengaja di buat berbentuk cair agar lebih mudah di cerna dan di serap oleh tubuh Jaya. Tak lama berselang Langir masuk dan menghampiri Raja Peramal, "Apa Kau membutuhkan ini Kakang". Ucap langir sambil menunjukkan Permata, Bisa dan Empedu Raja Cobra di dalam sebuah penyimpanan. Sejenak Raja Peramal memperhatikan barang yg di berikan Langir dengan seksama, "Dari mana kau mendapatkan semua ini?" Tanya Gatra kepada Langir. "Dari Lembah Sumbing, Saat pulang ke sini aku bertemu Raja Cobra Putih dan berhasil membunuhnya". Jawab Langir dengan mantap kepada Gatra.
"Raja Cobra...? Yang bener?" tanya Gatra kembali serasa tak percaya. Langir hanya mengangguk menjawab pertanyaan Gatra. "Bahkan kami tadi malam sudah memanggang dagingnya bersama murid yg berjaga". Ucap Langir untuk meyakinkan Gatra. "Berarti Permata ini adalah Mustika Raja Ular, Konon katanya orang yg mengenakan Mustika ini tidak akan terpengaruh oleh racun apapun yg menyerang dirinya. Tapi aku tidak tau cara menggunakannya". Ucap Gatra kepada Langir. "Aku akan menyimpan Bisa Ular ini untuk bahan campuran obat, Selebihnya kau simpan saja. Untuk empedu Ular itu kau makan saja karena Jaya tidak membutuhkannya". Tutur Gatra kepda Langir. Setelah itu Langir pun pergi meninggalkan Raja Peramal di kamar Jaya.