Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
Pengamat


__ADS_3

Jaya duduk di atas punggung langir yg terbang di balik awan, Tanpa bersuara mereka mengamati Pasukan yg berjalan dari arah Kerajaan Maha.Pasukan tersebut berjumlah sekitar dua ribu orang dengan berseragam serba hitam, Jika di ikuti jalur yg mereka lalui akan bertemu di sebuah lembah antara Bukit Api dan Dataran Amapin dengan Pasukan dari Kerajaan Api.


Jaya dan Langir yg sudah berwujud manusia duduk di cabang sebuah pohon yg sangat besar, Dari atas pohon tersebut mereka memperhatikan Pasukan tersebut dengan seksama. "Siapa mereka Tuan?" Tanya Langir kepada Jaya. "Entah lah.. Aku tidak mengenal mereka, Tapi sepertinya mereka dari Golongan Pendekar Aliran Hitam". Ucap Jaya memprediksi dari penampilan Pasukan tersebut.


Sejenak Jaya memalingkan wajahnya ke arah kanan, matanya menyipit dengan tatapan yg tajam. "Langir... Coba kau lihat di arah sana, Aku merasakan seperti ada sekelompok orang yg juga berjalan". Jaya menunjuk kesatu arah yg barusan di pandang. Langir menggunakan penglihatannya yg tajam, "Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas Tuan, Mungkin karena sudah lama terkurung jadi penglihatan ku kuang terlatih". Ucap Langir dengan nada lesu karena merasakan penglihatannya yg jauh menurun. "Baik lah.. Mari kita lihat ke sana". Ucap Jaya seraya bangkit dari duduknya.


Langir kembali merubah wujudnya menjadi seekor Elang yg sedang bertengger di dahan pohon, Setelah Jaya naik ke punggungnya Langir pun terbang ke arah yg mereka lihat tadi. Langir terus terbang dengan kecepatan sedang ke arah Timur Laut dari posisi mereka terakhir. Di atas Punggung Langir, Jaya terus saja memperhatikan daerah sekitar sambil berfikir dan memprediksi apa yg akan terjadi.

__ADS_1


Tak lama berselang mereka kembali di kejutkan dengan iring iringan pasukan dari Kerajaan Maha Api yg menuju Bukit Logam, Pasukan yg berseragam Kerajaan Maha Api tersebut di prediksi berjumlah sekitar dua ribu orang. Langir dan Jaya kembali hinggap di sebatang pohon untuk mengamati pasukan tersebut. "Siapa lagi mereka Tuan?, Sepintas seragam mereka sama dengan Pasukan dari Kerajaan Api". Tanya Langir kepada Jaya. "Kalau melihat dari Panji yg mereka bawa itu dari Kerajaan Maha Api, Saat ini Kerajaan itu yg membawahi seluruh Kerajaan di Daerah ini. Dulu nama Kerajaan Maha, Sebelum Raja Bara dari Kerajaan Api menyerang dan membunuh Raja Damar yg memimpin saat itu". Jaya menjelaskan kepada Langir sambil mereka bersantai di atas pohon, karena keduanya memiliki ilmu peringan tubuh maka duduk bersantai di atas sebatang pohon bukanlah hal sulit bagi mereka.


"Apa sebenarnya yg akan mereka lakukan?... Mengapa mereka membawa pasukan segitu banyak ke Bukit Logam?.. Tidak mungkin Prajurit itu di jadikan pekerja tambang". Jaya berguman memikirkan apa yg akan terjadi dengan ke tiga pasukan yg dia lihat, Kalau dari segi karakter ketiga Pasukan tersebut adalah teman, lalu Pasukan mana yg akan mereka serang? Jaya terus berfikir tentang kemungkinan yg ada, Hingga hari sudah mulai senja mereka masih di atas pohon sambil mengamati pergerakan Pasukan Kerajaan Maha Api.


"Tuan... Bagai mana kalau kita kembali berkeliling, Siapa tahu kita mendapatkan petunjuk baru tentang hal ini". Usul Langir kepada Jaya." Aku setuju". Ucap Jaya spontan. Kemudian mereka pun kembali terbang menjelajahi daerah tersebut, "Langir.. Coba kita ke arah Utara, Di sana ada Kerajaan Angin, Aku curiga ketiga Pasukan itu akan berkomplot menyerang Kerajaan Angin". Perintah Jaya kepada Langir. "Baik Tuan". Ucap Langir seraya mengarahkan laju terbangnya ke arah Utara. Benar saja, belum sepeminuman teh mereka tebang dari kejauhan tampak ribuan tenta Prajurit di pinggiran Dataran Amapin, Bisa di pastikan dari Panji yg terpasang mereka adalah Pasukan dari Kerajaan Angin.


"Sebaiknya kita cari tempat untuk bermalam, aku penasaran dengan apa yg akan terjadi esok hari dan siapa sebenarnya yg bertempur". Ucap Jaya kepada Langir. "Bagai mana kalau kita bermalam di atas tebing sana Tuan? Kita bisa beristirahat sambil memantau situasi". Langir menawarkan tempat istirahat kepada Jaya. "Ide bagus". Jawab Jaya singkat. Kemudian keduanya kembali terbang ke atas tebing mencari tempat istirahat cocok untuk mereka.

__ADS_1


Di atas tebing yg tinggi dan terjal tersebut terdapat dataran yg tidak begitu luas, Di dataran tersebut Jaya mengumpulkan kayu kering untuk membuat perapian, Sedangkan Langir pergi mencari bahan makanan. Tak lama berselang Langir kembali dengan membawa dua ekor ayam yg sudah di bersihkan, mereka memanggang ayam tersebut sambil bercerita tentang pengalaman langir di masa lalu.


Setelah selesai makan mereka bersantai di bawah pohon, mereka mengumpulkan dedaunan kering untuk di jadikan alas tidur. Jaya duduk bersandar di batang pohon, pandangannya jauh menerawang seperti memikirkan sesuatu. Tak lama Jaya mengambil empat buah batu sebesar kepalan tangan dan meletakkannya di tanah. "Apa yg Tuan pikirkan?" Tanya Langir kepada Jaya.


Jaya mengambil sebatang ranting lalu menggaris tanah di antara batu yg dia letakkan. "Di sini posisi Pasukan Kerajaan Api, Dan ini Jalur untuk sampai ke Dataran Amapin sebagai batas Wilayah dan Medan perang bagi kedua Kerajaan". Jaya mulai menuturkan apa yg dia pikirkan, Langir pun menyimak dengan seksama. " Di sini posisi Pasukan Pendekar, Jika mereka akan bergabung dengan Pasukan Kerajaan Api, harusnya mereka menempuh jalur ini, Dan akan sampai di Dataran Amapin di waktu yg bersamaan. tapi mereka menempuh jalur lain yg mengarah ke lembah di sini. Jika memang mereka akan bergabung itu akan memperlambat pergerakan Pasukan, jika mereka akan menghadang maka mereka akan terlambat dan kalah jumlah". Jaya kembali menjelaskan sambil menunjuk garis yg di buat sebagai gambaran jalur ke Dataran Amapin.


"Dan Pasukan Kerajaan Maha Api, Apa yg akan mereka lakukan di Bukit Logam?" Jaya belum juga menemukan apa yg menjadi jawaban atas ke adaan ini, hingga menjelang tengah malam Jaya sudah tertidur dengan posisi duduk bersandar di batang pohon dan sebuah ranting masih di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2