
Matahari sudah naik lebih dari sepenggala, Suasana alam yg masih asri di sekitar Perguruan Bertuah yg banyak di tumbuhi pepohonan besar membuat teriknya matahari tidak terlalu terasa menyengat. Ratusan Pendekar Muda dari berbagai perguruan telah berkumpul di halaman sesuai perintah dari guru mereka masing-masing. Dengan rapi para Pendekar Muda itu berbaris sesuai Perguruan masing-masing. Gayatri dan Ningsih di bantu beberapa murid wanita dari perguruan lain dengan cekatan mencatat semua peserta yg berkumpul. Tercatat lebih dari lima ratus orang Pendekar Muda yg mendaftarkan dirinya mengikuti pergerakan tersebut.
Sambil menunggu proses pendataan selesai, Jaya memanggil beberapa perwakilan dari tiap-tiap perguruan untuk memasuki ruangan aula yg di khususkan untuk para murid. Di dalam ruangan aula sudah tersedia sebuah meja panjang dengan kursi yg tersusun mengelilingi meja tersebut. Jaya duduk di salah satu satu kursi yg ada, tampak juga di ruangan tersebut Dian dan Barda sebagai perwakilan dari masing-masing perguruan.
Jaya membuka pertemuan dengan mengutarakan hal-hal apa saja yg akan menjadi agenda kerja mereka ke depan, Dia juga meminta usulan dan pendapat dari perwakilan yg hadir di ruangan tersebut. Tampak saat ini para perwakilan dari masing-masing perguruan tidak lagi canggung dan sungkan dalam mengutarakan pendapat dan usulan mereka. Tidak seperti di Aula tadi pagi, hal tersebut mungkin dikarenakan rasa segan terhadap para guru yg hadir di aula tadi pagi. Tak lama berselang Gayatri dan beberapa murid wanita masuk memberikan hasil laporan pendataan mereka.
Dari hasil Musyawarah pertama yg di lakukan para Pendekar Muda tersebut lahir beberapa keputusan. Dian di tugaskan untuk memimpin tiga ratus orang yg di jadikan Pasukan Gerilya untuk membantu mengamankan lahan masyarakat yg ada di Kerajaan Air sampai masa Panen Raya berakhir. Barda di tugaskan memimpin sisa Pendekar Muda yg ada untuk membangun satu perkampungan baru, Perkampungan tersebut terletak di kaki bukit Tanah, yg nantinya akan di isi oleh warga yg mengungsi dari berbagai daerah, terutama dari wilayah Kerjaan Air. Rencananya setelah masa Panen Raya berakhir seluruh warga Kerajaan Air akan di Ungsikan untuk mengantisipasi keadaan buruk jika sewaktu-waktu Kerajaan Api datang menyerang.
Jaya juga meminta bantuan dari Senopati Arif, Raja Ater dan Guru Andla untuk melatih seratus orang anggota pilihan agar di bekali pengetahuan Telik sandi yg mumpuni. Karena keberadaan telik sandi akan sangat di butuhkan di kemudian hari. Jaya sendiri ke bagian tugas berkeliling untuk merekrut anggota baru dari desa-desa sekitar, sementara Gayatri pendekar wanita yg bertugas menyiapkan makanan untuk mereka yg bekerja merambah hutan untuk membangun perkampungan baru. Ningsih yg memiliki keterampilan menenun sewaktu di Istana Kerajaan Maha melatih para gadis remaja dan ibu-ibu untuk bertenun. Kain hasil tenunan mereka nantinya ada yg untuk di pakai sendiri dan ada juga yg untuk di jual sebagai sumber penghasilan.
__ADS_1
Setelah Musyawarah dan pembagian tugas selesai, mereka membubarkan diri dari ruangan tersebut. Semuanya kembali ke tempat masing-masing untuk mempersiapkan segala sesuatu, Rencananya semua kegiatan dan tugas yg telah di bagi akan mulai di laksanakan esok pagi. Semua Pendekar Muda yg mendapat tugas pergi menemui guru mereka masing-masing, rata-rata diantara mereka meminta restu dan wejangan terkait tugas yg akan mereka jalankan. Tak terkecuali Jaya yg pergi menemui Empu Gading.
Jaya berjalan ke arah belakang Perguruan Bertuah menuju rumah Raja Peramal, Sesampai di halaman depan rumah Jaya mendapati Gurunya bersama Guru Sekar Mayang dan Raja Peramal sedang duduk di pendopo. tampak juga Gayatri, Ningsih dan Anggraini yg sedang sibuk membantu Langir memanggang empat ekor ayam hutan hasil buruan Langir.
Jaya menghampiri Empu Gading yg duduk di pendopo. "Besok aku akan berangkat Guru" Ucap Jaya setelah duduk di tepi lantai pendopo. "Kemana dan bersama siapa kau akan pergi?" Tanya Empu Gading kembali. "Bersama Paman Langir, Rencananya kami akan pergi ke desa-desa untuk mengajak para pemuda untuk bergabung dalam gerakan ini, Juga untuk para warga yg merasa tertindas di desa mereka, kami akan menyarankan mengungsi ke perkampungan yg akan kami buat. Nantinya pemuda yg baru bergabung akan mendapat pelatihan bela diri dan ilmu kanuragan di Perguruan ini, Guru". Jaya menuturkan tujuan kepergiannya.
Tak lama berselang ayam hutan yg di panggang telah matang dengan sempurna. Ketiga gadis cantik tersebut menghidangkan di tengah pendopo beserta nasi dan lauk yang lain, semuanya duduk di lantai pendopo secara melingkar, entah sengaja atau tidak Jaya duduk di apit oleh Gayatri dan Anggraini. Dengan cekatan Anggraini mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Jaya, tak mau ketinggalan Gayatri juga mengambilkan air minum untuk Jaya. "Serasa sudah punya istri" ucap Jaya seraya tersenyum kepada kedua gadis di sampingnya. "Makanya tu... Cepat di jadikan istri" ucap Anggraini sambil mengerucutkan bibirnya ke arah Gayatri. "Loh.. Kok .. Aku.. Bukannya mbak yg pertama?" tanya Gayatri. "Nanti saja aku jelaskan.. Hitung-hitung biar adil, aku yg pertama jadi kekasih dan kau yg pertama jadi istri". Ucap Anggraini dengan senyum mengandung rahasia yg dia sembunyikan.
Acara makan siang pun berjalan dengan penuh canda tawa di antara mereka, seperti ingin mengabiskan waktu untuk bersama. Karena mereka tahu mulai besok semua orang akan mulai sibuk dengan tugasnya masing-masing. "Oh iya Kang.. Aku teringat dengan salah satu Prajurit Kerajaan Angin bernama Tejo yg kau ceritakan tadi di Aula, apakah dia memiliki sepasang pedang kembar yg bisa menyatu?" tanya Ningsih kepada Jaya. Sejenak Jaya berpikir menatap langit-langit pendopo, "Benar.. Aku pernah melihatnya menyatukan kedua pedangnya sewaktu memapah Raja Indwi" Langir menjawab sebelum Jaya selesai mengingat tentang Tejo.
__ADS_1
"Jika Paman dan Kakang Jaya bertemu dia, tolong tanyakan apakah dia masih mengenal dan mengingatku. Jika dia bertanya tentang diriku, katakan saja aku di sini masih menunggunya seperti dulu apapun keadaannya saat ini". Ningsih berpesan kepada Langir dan Jaya. Sepintas pesan Ningsih tersebut terasa aneh, namun itulah bukti kesetiaan seorang wanita yg mencintai dengan tulus.
Siang berganti malam, semua orang tampak memasuki kediamannya masing-masing. Begitu juga dengan Jaya yg kembali ke kamar di mana dia di rawat, di ikuti oleh Langir, Gayatri dan Angraini, Jaya memasuki ruangan terebut. Setelah sampai di dalam, langir menyerahkan sesuatu kepada Jaya. "Tuan Muda.. Besok kenakan lah pakaian ini, aku sengaja membuatnya dari kulit Raja Cobra yg ku temukan sewaktu mengambil obat dari rumah Raja Peramal". Ucap langir sambil menyerahkan tiga pasang baju yg terbuat dai kulit cobra putih. "Trima kasih paman" ucap Jaya menerima pemberian dari Langir, setelah itu Langir pamit undur diri meninggalkan kamar yg di tempati Jaya.
Kini di dalam kamar tersisa Jaya, Gayatri dan Anggraini. Mereka duduk bertiga di kursi yg mengelilingi meja, tampak Jaya duduk di antara kedua gadis cantik tersebut. Anggraini tampak mengeluarkan sebuah kotak yg sedari tadi dia pegang daan menyerahkannya kepada Gayatri. "Ini untuk mu" ucap Anggraini seraya menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang dengan aroma kayu cendana. "Apa ini mbak?" tanya Gayatri menerima kotak pemberian Anggraini. "Buka lah.. Kau akan tahu apa isinya". Ucap Anggraini.
Perlahan Gayatri membuka kotak tersebut, ketika penutup kotak terbuka tampak sebuah kipas, sebuah kitab dan berbagai perhiasan yg semuanya terbuat dari giok, bahan bilah kipas tersebut pun terbuat dari giok yg berwarna hijau. Gayatri menatap kagum dan serasa tak percaya dengan pemberian Anggraini kepadanya. "Pelajari lah kitab itu, aku memberikannya karena mengetahui gurumu adalah pendekar yg menggunakan senjata kipas. Itu semua bukan hanya sekedar perhiasan, jika kau sudah memahami kitab tersebut kau akan mampu menggunakannya sebagai senjata". Tutur Anggraini menjelaskan isi kotak pemberiannya.
Malam berlalu seperti biasa, tepat dua pertiga malam menjelang pagi Anggraini kembali pulang dengan mengendarai kereta kencananya. Hal itu di karenakan Anggraini hanya punya waktu tiga malam saat purnama untuk berjumpa dengan Jaya. Sebelum berangkat pulang Anggraini terlebih dahulu sudah memindahkan Mustika Raja Ular kepada Jaya, Mustika yg berwarna Putih seperti kristal yg tadinya berada di kening Anggraini kini sudah berpindah ke dahi Jaya. Tak lupa Anggraini juga mengajarkan mantra agar keberadaan Mustika tersebut tidak terlihat oleh mata biasa, Mustika tersebut hanya terlihat saat di pergunakan oleh Jaya. Anggraini juga memeri tahu cara menggunakan kekuatan Mustika tersebut kepada Jaya.
__ADS_1