
Pagi itu hari begitu cerah, Masih seperti biasa burung burung berkicau dengan merdu mengiring para penduduk mengawali aktifitasnya.
Jaya yg duduk bersama Empu Gading di pendopo gubuk mereka sambil menikmati sarapan pagi, Walau Gurunya sudah menyatakan dia telah lulus dalan menuntut Ilmu Silat dan Kanuragan namun dia masih enggan untuk pergi berkelana seperti yg lakukan kebanyakan murid setelah di nyatakan lulus.
"Jaya... Sebenarnya apa isi Kitab yg terdapat di kotak yg kau buka tempo hari?" tanya Empu Gading kepada Muridnya. " Kitab itu mengajarkan penggabungan dua elemen atau lebih dalam satu gerakan atau serangan, Dan kemana saja elemen di gunakan. Kemudian tentang Keris Tumbal Geni yg memiliki Energi Api yg sangat Panas dan Pedang Biru yg memiliki Energi Air dan Angin dan dapat mengeluarkan Hawa yg sangat dingin jika si Pengguna dapat menyatukan Kedua Elemen itu hingga menjadi Es. Dan masih banyak lagi Kek yg belum bisa aku Fahami". Jawab Jaya kepada Gurunya.
"Oia ...Kek.. Apa Kakek pernah melihat atau merasakan suatu Energi yg sangat besar dari Air Terjun di sungai ? " tanya Jaya. "Enggak.. Kenapa rupanya?" jawab Empu Gading kembali.
" Aku pernah merasakan suatu Energi yg besar dari balik Air Terjun tersebut Kek, Dan aku ingin menyerapnya". Ungkap Jaya kepada Gurunya. "Jika Kau yakin lakukan lah". Ucap Empu Gading pada Muridnya.
__ADS_1
"Satu lagi Kek.. Selama ini aku merasakan ada Orka yg berbeda di pusat Energiku Kek, Dan setelah mempelajari Kitab kuno perbedaan itu semakin terasa, Apa Kakek pernah mengalaminya?". Tanya Jaya kembali kepada Gurunya. " Tidak pernah... Namun jika itu terjadi padamu Kakek akan coba membantumu. Sekarang coba kau konsentrasi dengan seluruh Energi Orka yg ada di Pusat Energimu, kemudian pisahkan sesuai jenisnya". Empu Gading menjelaskan untuk membantu Muridnya.
Jaya duduk dengan posisi bersila dengan punggung tegak, Matanya tertutup dan nafasnya sangat teratur, dia Fokus merasakan Energi Orka yg berbeda di Pusat Energinya sambil mendengarkan arahan dari Empu Gading. " Sekarang coba letakkan tanganmu di atas lutut dan keluarkan Orka berbeda itu di tangan yg berbeda sekaligus". Perintah Empu Gading untuk memastikan Elemen yg keluar.
Tak lama berselang keluar Bola Air di tangan kiri dan Bola Angin di tangan kanan. Empu Gading tersenyum melihat hal tersebut, namun karena mata Jaya lagi tertutup, Jaya tidak melihat senyuman di wajah Gurunya. Kemudian Empu Gading mengambil Bola Air di tangan kiri Jaya. "Jika masih ada keluarkan lagi di tangan kiri". Perintah Empu Gading yg penasaran menggali potensi Muridnya.
Tak lama berselang keluar Bola Cahaya di tangan kiri Jaya, Senyuman di wajah Empu gading pun semakin lebar. " Ada lagi?" tanya Empu Gading kembali. Jaya masih merasakan dan mencari jenis Orka yg berbeda, setelah beberapa saat Jaya menggelengkan kepalanya. "Selesaikan lah". Ucap empu Gading kepada Jaya. Setelahnya Empu Gading kembali memasang wajah datar, seolah olah tidak ada yg istimewa dari apa yg di lakukan Jaya.
" Setelah ini pergilah ke Air Terjun, Carilah tempat yg kau rasa nyaman. Jika kau yakin dengan adanya energi yg tersimpan di sana, maka serap lah energi itu sampai habis tanpa berhenti. Karena biasanya energi yg hanya di rasakan seseorang menyimpan sesuatu yg istimewa dan sudah berjodoh dengan orang tersebut". Empu Gading menjelaskan tentang perjodohan dengan Sebuah Energi.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan Jaya pergi ke sungai hendak mencari tempat yg nyaman untuk bersemedi, Setelah mengamati dengan seksama Jaya akhirnya memutuskan untuk melakukan Semedi di tempat yg agak tinggi dari aliran sungai. Berjarak lebih kurang lima meter dari permukaan air sungai terdapat sebuah dataran berukuran tiga meter persegi, Setelah menata tempat sekeliling Jaya mulai bersemedi, Tak lupa dia memasang Aji Tatar Netra untuk berjaga jaga jik ada yg mengganggu semedinya.
Jaya duduk bersila di atas tumpukan dedaunan kering yg dia susun, setelahnya dia mulai Semedi dengan menggunakan Tehnik Pernafasan Alam. Tak lama berselang Jaya dapat merasakan energi di sekitar, terutama energi air. Namun bukan itu yg dia cari, Jaya terus mencari sumber Energi yg dia cari, Energi yg berbeda namun tetap energi Air. Setelah merasakan Energi yg dia cari, Jaya memfokuskan Pernafasan Alam ke pada energi tersebut. Semakin fokus Jaya merasakan Energi tersebut semakin besar dan bersumber dari balik Air Terjun, Jaya merasakan Orka Air dan Angin di dalam Pusat Energinya bergejolak saat Energi yg baru dia serap masuk ke dalam tubuhnya.
Gejolak yg di rasakan Jaya bukan berlawanan, Melainkan membuat kedua elemen tersebut semakin kuat. Jaya semakin bersemangat menyerap energi yang dia temukan tersebut, dan sepertinya Jaya tidak akan berhenti sebelum seluruh Energi itu habis dia serap. Waktu terus berjalan, tak terasa sudah dua hari dua malam Jaya bersemedi menyerap Energi yg bersumber dari balik Air terjun, sepanjang itu pula jaya tidak bergerak dari tempatnya, Tidak makan, Tidak minum, dan tidak tidur.
Tepat di hari ke tiga, saat matahari telah naik sepenggala Jaya mendengar seperti suara kaca pecah dari balik Air terjun yg sangat kuat, setelah suara tersebut Jaya tidak merasakan lagi Energi yg di serap tersebut. Energi itu seakan habis bahkan menghilang, tak lama berselang terdengar suara gemuruh seakan ada sesuatu yg akan keluar dari Air Terjun. Jaya segera mengakhiri Meditasinya dan bersiap dengan apa yg akan keluar dari Air Terjun yg dia yakini adalah pemilik Energi yg dia serap.
"whuuusss..... Kiek....kieeekk...kiieeekkk...".. Terlihat seekor Elang yg sangat besar berwarna putih keluar dari Air Terjun, Elang tersebut terbang dan mengepakkan kedua sayapnya yg lebar dengan kuat. Seolah olah Elang tersebut sudah sangat lama tidak terbang, Elang putih tersebut berputar mengelilingi Air Terjun, Tatapan matanya yg tajam seperti mencari sesuatu di sekitar Air Terjun.
__ADS_1
Jaya terus menatap Elang tersebut dengan serius, tak ada rasa takut di hatinya walau Elang tersebut memiliki tubuh yg lebih besar dari dirinya. Seketika tatapan Jaya dan Elang tersebut beradu, Setelah Kedua tatapan tajam dari dua mahluk berbeda itu beradu, Elang tersebut terbang ke arah Jaya layaknya hendak menerkam mangsa dengan kuku yg besar dan tajam pada cakarnya. Jaya segera bersiap menyambut serangan yg datang dengan mengeluarkan Pedang Biru dari tubuhnya.
Bukannya menyerang, Elang tersebut mendarat tepat di hadapan Jaya seperti seekor Peliharaan. Setelah mendarat Elang tersebut menundukkan kepalanya seperti memberi Hormat kepada Jaya. Tak lama berselang tubuh Elang Putih tersebut di bercahaya dan berubah menjadi seorang Pria paruh baya memakai baju serba putih dalam posisi berlutut di hadapan Jaya. "Langir memberi Hormat kepada Tuan". Ucap Pria Paruh baya tersebut.