Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
RACUN GAGAK HITAM 2


__ADS_3

Jaya terbaring di atas tempat tidur, tampak ratusan jarum emas menancap di sekujur tubuhnya. Di ruangan yg sama tampak Raja Peramal mengeluarkan sebuah tungku kecil yg terbuat dari bahan khusus, tungku tersebut biasa di sebut Tungku Aklimis yg berfungsi untuk membuat sebuah pil atau obat. Dia menggeluarkan batu permata merah sebagai bahan bakar tungku.


Satu persatu Raja Peramal memasukkan bahan bahan sesuai urutan untuk membuat ubat penawar racun untuk Jaya. Setelah selesai Raja Peramal menyuapkan ke mulut Jaya yg masih belum sadarkan diri, dia juga menyalurkan tenaga dalam kepada Jaya agar obat yg di berikan dapat bekerja dengan cepat. Setelah selesai menyuapi obat ke pada Jaya, Raja Peramal keluar dari kamar, dia mendapati orang-orang sudah berkumpul di depan kamar tempat Jaya di rawat.


"Bagai mana keadaannya Gatra?" Tanya Empu Gading kepada Raja Peramal dengan menyebut nama aslinya. "Aku sudah memberi obat penawar kepadanya Kakang, dan sudah menghentikan Jalan racunnya. Namun aku masih membutuhkan banyak bahan ramuan untuk membuat obat untuk Jaya". Tutur Raja Peramal kepada Empu Gading. "Dimana kita bisa mendapatkan bahan-bahan itu?" Guru Andla menimpali pertanyaan Empu Gading. "Sebenarnya semua bahan-bahan yg di butuhkan ada di rumah dan kebunku, Namun jarak dari sini ke Lembah Sumbing bisa memakan waktu tiga hari sekali perjalanan, Berarti butuh satu pekan untuk kembali ke sini. Dengan waktu itu aku tidak yakin Jaya bisa tertolong, Jika ada kendaraan yg cepat, Aku Juga belum berani meninggalkan Jaya sendiri dengan kondisinya saat ini". Raja Peramal menjelaskan kebingungan yg ada di pikirannya.

__ADS_1


"Aku yg akan mengambil bahan obat itu Kakang". Ucap Langir kepada Raja Peramal. "Aku pastikan sebelum matahari terbit semua bahan obat sudah sampai di sini walau nyawaku taruhannya". Ucap Langir dengan penuh tekat. "Bagai mana caramu membawanya?" Tanya Guru Andla yg belum tahu kemampuan Langir. "Aku hanya butuh menyerap beberapa ingatan Kakang Gatra agar tau bahan apa yg di perlukan dan di mana posisi dia menyimpan di dalam rumahnya, Hal itu juga tidak akan berpengaruh kepada Kakang Gatra. Selebihnya biar menjadi urusanku, Aku pastikan semua bahan sampai di sini dalam keadaan baik". Langir menuturkan apa yg dia perlukan untuk mengambil bahan obat di rumah Raja Peramal. "Baiklah... Kau boleh menyerap ingatanku". Kata Raja Peramal.


Langir menempelkan telapak tangannya ke dahi Raja Peramal, Seketika keluar cahaya putih untuk beberapa saat lalu menghilang. Setelah Langir mencerna semua ingatan yg dia serap dari Raja Peramal, dia pun pamit untuk berangkat. Walau hari sudah menjelang sore namun tidak menyurutkan langkah Langir untuk tetap berangkat. "Mohon jaga Pemuda itu Kang. Dia sangat berharga bagiku, Seandainya Dewa Kematian datang bilang saja aku yg akan menggantikan Pemuda itu". Pesan Langir kepada Raja Peramal dengan mata berkaca karena air mata yg hampir tak terbendung.


Langir berdiri di tengah halaman Perguruan Bertuah seorang diri, Dia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, Matanya terpejam dan mulutnya komat kamit seperti sedang membaca mantra. Tak lama berselang angin berhembus dari langit ke arah tubuh Langir dan seakan membalut tubuh Langir, Semakin lama pusaran angin tersebut semakin besar dan pekat hingga tubuh Langir tidak lagi terlihat. Semua orang yg melihat merasa takjub dengan adanya sebuah pusaran angin yg sangat besar setinggi bubungan atap perguruan namun tidak menimbulkan kerusakan sedikit pun. Tak lama berselang pusaran angin tersebut menghilang, Berganti dengan seekor Burung Elang Putih yg sangat besar, bahkan tinggi Burung Elang tersebut sama dengan tinggi bubungan atap Perguruan.

__ADS_1


Setelah Langir pergi dengan wujud Elang Raksasa banyak orang yg bertanya-tanya tentang jati diri Langir yg sebenarnya dan apa hubungannya dengan Jaya. "Gading... Siapa sebenarnya Langir? Dan apa hubungannya dengan Jaya?" Tanya Guru Andla kepada Empu Gading dan di anggukan kepala oleh Raja Peramal. "Apa Kalian masih ingat dengan Empat Mahluk Penjaga Mata angin yg di ceritakan guru?" Empu Gading bertanya kepada dua saudara seperguruannya. "Langir adalah Penjaga Mata Angin Selatan, Dia dulu di kurung di dalam Penjara Es oleh Raja Kayangan, Tanpa sengaja Jaya menemukan keberadaannya Penjara Es tersebut di balik air terjun dekat gubuk ku, Jaya berhasil menyerap semua Energi Penjara Es yg menyebabkan Penjara tersebut hancur dan Langir terbebas. Semenjak saat itu Langir mengabdikan dirinya kepada Jaya". Empu Gading menjelaskan pertemuan dan hubungan Langir dengan Jaya.


"Pantas anak itu menjadi sangat kuat". Ucap kedua saudara seperguruan Empu Gading serentak. "Masih banyak lagi kekuatan lain di dalam tubuh anak itu yg tidak kalian ketahui, Sebenarnya aku tidak yakin Racun Gagak itu bisa membunuh Jaya dengan mudah". Ucap Empu Gading kembali. Dari arah belakang tampak Sekar Mayang, Gayatri, Dan Ningsih berjalan mendekat di temani Barda sebagai pemandu jalan. Sesampai di depan Kamar Jaya, Gayatri langsung mendekati Raja Peramal. "Bagai mana keadaan kakang Jaya wak? Apa boleh aku menemuinya?" Tanya Gayatri kepada Raja Peramal. "Uwak sudah menghentikan jalan racunnya agar tidak menyebar ke seluruh tubuh dan sudah memberinya obat, Masuklah jika kau ingin melihatnya tanpa pakaian". Jawab Raja Peramal dengan nada jahil menggoda Gayatri. "Iiihh.. Uwak.." Jawab Gayatri dengan manjanya.


Raja Peramal kembali masuk ke dalam kamar untuk memeriksa kondisi Jaya. Setelah memastikan racun di tubuh Jaya sudah dapat di kendalikan, Raja Peramal mencabut semua jarum yg menancap di tubuh Jaya, Kemudian dia menyeka tubuh Jaya dengan air hangat lalu memakaikan pakaian yg baru. Raja Peramal kembali memasak ramuan di Tungku Aklimis, Dia memasukkan satu persatu bahan sesuai urutan dan memasaknya hingga menimbulkan aroma yg khas.

__ADS_1


Sementara di halaman tepat di depan kamar Jaya di rawat, Orang-orang masih ramai berkumpul menantikan kesembuhan Murid terbaik itu. Tak lama berselang tampak Raja Peramal keluar dari pintu kamar tempat Jaya di rawat. "Gayatri.. Sini". Panggil Raja Peramal kepada murid pertama Perguruan Bidadari itu. Gayatri pun segera datang menghampiri uwak gurunya tersebut, "Ada apa wak?" Tanya Gayatri kepada Raja Peramal. "Mari masuk kedalam" ucap Raja Peramal seraya berjalan ke dalam kamar di ikuti Gayatri dari dalam. Setelah itu Raja Peramal menyerahkan semangkuk sup obat kepada Gayatri, "Suapkan sup ini untuk kekasihmu itu, Tak perlu buru-buru, Sedikit-sedikit saja usahakan tidak tumpah". Ucap Raja Peramal kepada Gayatri yg tertunduk malu dengan wajah merah merona. "Uwak mau istirahat dulu di luar, Cepat kabari uwak jika ada hal aneh yg terjadi". Ucap Raja Peramal kembali. "Baik wak". Ucap Gayatri yg sudah duduk di tepi ranjang bersiap untuk menyuapi Jaya. Setelah itu Raja Peramal keluar kamar meninggalkan Gayatri seorang diri di kamar yg sedang menyuapi Jaya.


__ADS_2