Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
RITUAL PENYEMBUH


__ADS_3

Gayatri sudah bisa menerima Dewi Sri sebagai kekasih pertama Jaya, di satu sisi ada rasa kagum di hati Gayatri kepada Dewi Sri yg sedikit pun tidak marah kepadanya karena menjadi kekasih Jaya, Malah Dewi Sri bersikap baik kepadanya. "Bisa panggilkan Paman Gatra kemari Paman" Ucap Dewi Sri kepada Langir. "Baik Dewi." Ucap Langir kemudian segera pergi menjemput Raja Peramal.


Dewi Sri dan Gayatri berjalan memasuki kamar Jaya, Semua mata memandang kagum kepada kedua gadis cantik itu. Bisa di blang saat ini Gayatri adalah gadis tercantik di Perguruan Bertuah, bahkan di Kerajaan Tanah. Di tambah kedatangan Dewi Sri sebagai kekasih Jaya yg berparas lebih cantik dari Gayatri. "Sungguh beruntung nasib si Jaya, Menjadi murid tunggal seorang pendekar pilih tanding yg ahli membuat senjata, Mendapatkan berbagai warisan Pusaka, Di tambah memiliki dua Kekasih yg sangat cantik namun bisa akur. Aku jadi iri kepadanya.. Kapan ya aku bisa bernasib seperti dia?" ucap salah satu murid yg sedang berjaga. "kau mau bernasib seperti Jaya?... Mimpi..". Ucap temannya yg lain dan di sambut dengan gelak tawa semua murid yg ada di situ.


Di dalam kamar, Gayatri dan Anggraini berdiri di samping ranjang sambil menatap Jaya yg terbaring tak sadarkan diri. Tak lama berselang Langir datang bersama Raja Peramal, Tampak di belakang mereka Empu Gading, Sekar Mayang, Ningsih, Barda dan Guru Andla turut memasuki ruangan kamar. "Salam Paman... Bibi " Ucap Anggraini menyambut kedatangan para guru dengan sopan. "Inikah Anggraini yg selalu di ceritakan Jaya padaku? Ternyata cantik sekali". Ucap Empu Gading kepada Anggraini. Namun ketika dia melihat Gayatri ada di ruangan itu, Dia pun bingung apa yg mau dia perbuat dan dia katakan.


"Paman Langir... Boleh aku pinjam Mustika Raja Ular milikmu?" Ucap Anggraini kepada Langir sekalian mencairkan suasana akibat perkataan Empu Gading. "Ini Dewi.." Ucap Langir menyerahkan Mustika Raja Ular kepada Dewi Sri. Anggraini meletakkan Mustika tersebut di kedua telapak tangannya yg di satukan, Kemudian matanya terpejam dan mulutnya tampak seperti membaca mantra. Setelah selesai membaca mantra, Dengan menggunakan telapak tangan kanannya Dewi Sri menempelkan Mustika tersebut di dahinya. Seketika keluar cahaya putih beberapa detik lalu menghilang. Kini tampak Mustika Raja Ular tersebut sudah terpasang di dahi Dewi Sri.

__ADS_1


"Paman Gatra... Boleh aku minta racunmu yg paling kuat?" Ucapnya kepada Raja Peramal. "Ini Bisa Raja Cobra Dewi". Ucap Raja Peramal sambil memberikan sebuah botol kecil yg berisi Bisa Ular. Dewi Sri mencelupkan Jari telunjuknya ke dalam botol yg berisi bisa ular tersebut, Setelah itu di menempelkan jari yg sudah terkena racun tersebut ke lidahnya, Bahkan dia juga ngemut jari tersebut. Setelah memastikan bahwa racun tersebut tidak berpengaruh kepadanya, Dia duduk di tepi ranjang dekat dengan kepala Jaya.


"Tolong ambilkan cawan penampung Paman". Ucap Dewi Sri kepada Langir. Langir pun segera bergegas mengambilkan benda yg di maksud Dewi Sri dan menyerahkannya. Dewi Sri memegang kedua pipi Jaya dengan kedua telapak tangannya, Kemudian dia merapalkan mantar sambil menahan nafas. Setelah itu Dewi Sri menyatukan mulutnya dengan mulut Jaya, Sekilas di pandang mereka seperti sedang berciuman, Namun tak berselang lama tampak jejak hitam di seluruh urat dan pembuluh darah tubuh Jaya berjalan ke arah mulut.


Dewi Sri melepaskan mulutnya dari mulut Jaya, Kemudian dia memuntahkan cairan hitam yg sangat bau busuk ke dalam cawan yg dia minta ke pada Langir tadi. Aroma bau busuk langsung menyebar ke seluruh ruangan, Bahkan Ningsih dan Gayatri sampai muntah mencium bau busuk tersebut. Dewi Sri kembali mengulangi hal tersebut, Ternyata cara itu adalah untuk menghisap racun yg bersarang di tubuh Jaya. Berulang kali Dewi Sri melakukan hal tersebut, Tanpa terasa bulir keringat sudah membasahi dahi dan seluruh tubuhnya.


Jari-jari tangan Jaya bergerak menandakan dirinya mulai tersadar dari pingsan, tak lama berselang perlahan Jaya membuka kedua matanya. "Anggraini..." Ucap Jaya setelah sadar dari pingsan dan mendapati wajah kekasihnya tepat di hadapannya. "Mengapa kau ada di sini?" Tanya Jaya kembali. "Apa aku tidak boleh menjenguk kekasihku yg sedang sakit?" Jawab Anggraini namun dengan pertanyaan. Setelah itu keduanya saling tersenyum.

__ADS_1


Anggraini kembali menempelkan mulutnya ke mulut Jaya, Dia ingin segera menyelesaikan proses mengeluarkan racun dari tubuh Jaya. Saat Anggraini sedang menghisap racun yg ada di tubuh Jaya, Tangan Jaya yg gratil menyentuh dan memegang salah satu area sensitif di dada Anggraini. Menyadari perbuatan kekasihnya terlindung oleh tubuhnya dan tak terlihat oleh orang lain yg ada di kamar tersebut, Anggraini membiarkan saja perbuatan Jaya yg jahil tersebut.


Proses mengeluarkan racun dari tubuh Jaya telah selesai, Kini seluruh racun yg tadinya di tubuh Jaya sudah berpindah ke dalam cawan penampung berbentuk cairan berwarna hitam dengan bau busuk yg sangat menyengat. "Gayatri.. Tolong ambilkan kendi berwarna biru di dalam keretaku". Ucap Anggraini meminta bantuan kepada Gayatri."Baik Yunda" Jawab Gayatri yg segera bergegas berjalan ke arah pintu kamar. Mendengar Nama Gayatri di sebut oleh Anggraini, Raut wajah Jaya Langsung berubah. Ada rasa bingung dan khawatir terpancar di raut wajahnya.


Tak lama berselang Gayatri datang dengan memegang Kendi berwarna biru yg terbuat dari bahan Guci, "Ini Yunda.. " Ucap Gayatri sambil menyerahkan kendi berwarna biru kepada Anggraini di hadapan Jaya. Sekilas Gayatri melirik ke arah Jaya yg masih terbaring dengan Gaya salah tingkahnya. "Berkumur lah dulu dengan air ini Kakang, Agar sisa racun yg ada benar-benar bersih. Setelah itu baru minum agar organ dalammu tidak terluka akibat dampak racun tadi." tutur Anggraini sambil memberikan kendi kepada Jaya dan membantunya bangkit.


Jaya melakukan seperti apa yg di perintahkan Anggraini, Setelah selesai dia memberikan kembali kepada Anggraini. Kemudian Jaya memegang kedua tangan Gayatri dengan kedua tangannya, "Gayatri... Trima kasih telah menjaga dan menemaniku selama aku terbaring di sini, Aku meminta Maaf karena tidak mengatakan tentang Anggraini kepadamu". Ucap Jaya dengan tulus sambil menatap mata Gayatri dengan pandangan sendu. Gayatri tak menjawab, Dia hanya tertunduk namun tidak berusaha melepaskan genggaman tangan Jaya dari tangannya.

__ADS_1


"Kalian bisa membicarakannya lagi nanti saat sedang berdua, Sekarang aku akan memandikan Kakang Jaya agar urat dan otot di tubuhnya kembali seperti semula". Ucap Anggraini memecah kecanggungan diantara Jaya dan Gayatri. Kemudian Anggraini mengeluarkan sebuah batu berwarna merah berbentuk lonjong dari dalam bajunya. Ketika Anggraini meletakkannya di lantai, Seketika batu tersebut membesar membentuk seperti sebuah ember yg sangat besar, Bahkan muat untuk empat orang berendam di dalamnya. Anggraini menuang air dari kendi ke dalam ember tersebut, Anehnya walau kendi tersebut kecil, Namun bisa mengisi ember tersebut sampai penuh, Bahkan masih tersisa, Seakan air di dalam kendi tidak pernah habis.


Kini tampak di tengah ruangan kamar tersebut sebuah ember besar dari batu merah berisi air berwarna biru, Bahkan lebih tepat ember tersebut di namakan bak mandi. Karena mengetahui Jaya telah pulih dan akan di mandikan oleh Anggraini, semua orang yg ada di ruangan tersebut beranjak pergi keluar kamar. "Apa Dinda tidak ingin membantuku memandikan Kakang Jaya?" Tanya Anggraini dengan senyum penuh arti sambil memegang tangan Gayatri yg akan beranjak pergi meninggalkan kamar. Gayatri tak menjawab namun dia menahan langkahnya untuk keluar kamar. Setelah semua orang keluar dari kamar, tampak Gayatri menutup pintu kamar tersebut. Kini tersisa di dalam kamar hanya Jaya, Gayatri dan anggraini. Hingga pagi menjelang tak seorangpun dari mereka bertiga yg keluar dari kamar tersebut.


__ADS_2