
Pagi hari tiba di iringi teriakan ayam jantan yg bersahutan dari dalam hutan, Ramai juga suara burung dengan beraneka kicauan mengiringi perjalanan para Pengungsi yg sempat terhenti semalaman. Informasi dari Tejo, mereka akan sampai di Desa yg di tuju menjelang sore hari.
Sementara itu, Prajurit Kerajaan Api, Kerajaan Maha, Dan Pasukan Pendekar yg sudah beristirahat satu malam dan sudah mengobati luka mereka, mulai bergerak menuju Istana Kerajaan Angin. Rencananya Alsap dan Pasukan akan membantai seluruh Pasukan Kerajaan Angin yg tersisa dan menduduki Tahta Kerajaan Angin.
Setengah hari sudah mereka berjalan, Gerbang Kota Raja Kerajaan sudah tampak di depan mata mereka. Namun tak terlihat seorang pun penjaga di gerbang tersebut, Hanya terlihat pintu gerbang tinggi yg sekaligus menjadi benteng tertutup rapat. Pasukan Kerajaan Api memasuki Kota Raja dengan cara mendobrak pintu gerbang yg terkunci namun tanpa penjaga sama sekali.
Tanpa kesulitan yg berarti, mereka berhasil memasuki Kota Raja Kerajaan Angin. Namun yg terlihat hanya sebuah kota kosong tanpa penduduk satu orang pun, Pasukan Kerajaan Api langsung bergerak menuju Istana Kerajaan Angin, Hal serupa juga mereka temukan di Istana tersebut. Tak ada seorangpun penjaga, hanya menyisakan ruangan kosong tak berpenghuni.
Alsap memerintahkan Prajurit untuk menggeledah seluruh ruangan di Istana tersebut, Serentak semua Prajurit berpencar ke seluruh ruangan. Satu persatu Prajurit yg pergi menggeledah ruangan kembali dan melapor kepada Alsap, Seluruh Prajurit yg kembali melaporkan hal yg sama yg itu tidak ada barang atau benda berharga yg mereka temukan.
__ADS_1
Emosi Alsap sudah mulai memuncak, Pasalnya Penyerangan kali ini tidak mendapatkan Harta Rampasan sedikit pun. Bahkan Singgasana Raja pun tidak mereka temukan. Salah seorang Prajurit datang menghadap Alsap, "Lapor senopati.. Saya melihat Gerbang sebelah Timur tidak terkunci, Terdapat juga jejak tapak kereta kuda yg melintasi gerbang tersebut. Kemungkinan mereka semua sudah pergi ke arah Timur..". Tutur Prajurit tersebut melaporkan apa yg dia temukan. "Mari kita lihat". Ucap Alsap kepada Prajurit tersebut.
Alsap, Pijar dan Bewok di ikuti beberapa Prajurit segera menuju gerbang Timur, Setelah memperhatikan jejak yg ada, mereka sepakat bahwa Raja Indwi dan seluruh pengikutnya sudah pergi ke arah timur. Alsap langsung memerintahkan kepada Pijar dan Bewok untuk mengejar Raja Indwi dan Pengikutnya Berdasarkan jejak yg ada. Tak lama berselang Pijar dan Bewok bereta Pasukan Kerajaan Maha dan Pasukan Pendekar berangkat mengejar Raja Indwi dan Pengikutnya.
Alsap dan Pasukan yg tinggal di Kerajaan Angin mulai mempersiapkan Istana Kerajaan Yg akan di rubah menjadi salah satu Kerajaan Api.
Sementara itu di sebuah kaki bukit yg jauh dari Bukit angin, Tepatnya di desa Rambang di kaki Bukit Air. Empu Gading sedang duduk di pendopo sambil menikmati secangkir teh di temani singkong rebus. "Kemana perginya si Jaya?... Sudah sepuluh hari dia tidak kembali, Dengan kemampuan dia saat ini memang aku tak perlu risau, Dia pasti bisa menjaga diri. Namun karena sudah biasa bersama, Aku jadi merasa kesepian kalau tidak ada dia". Empu Gading berbicara sendiri, Jika di perhatikan memang cukup memperihatinkan, Seorang pria tua tinggal seorang diri di gubuk di pinggiran desa terpencil yg berbatasan dengan hutan.
Empu Gading terkesima saat melihat Burung Elang yg sangat besar itu mendarat tepat di hadapannya, Jarak antara Empu Gading dengan Burung Elang tersebut sekitar lima meter. Tak lama berselang seorang pemuda turun dari punggung Elang tersebut dan langsung memberi sembah hormat ke pada Empu Gading, Pemuda tersebut tak lain adalah Jaya.
__ADS_1
"Salam Kakek". Ucap Jaya sembari berlutut memberi hormat kepada orang yg sangat berjasa dalam hidupnya. "Emm.. Dari mana saja kau?" Tanya Empu gading sambil berjalan ke arah Jaya lalu memeluknya. Kali ini Empu Gading tidak bisa menutupi kerinduan dan kekhawatirannya kepada Jaya. "Berkeliling Kek". Jawab Jaya, "O iya ... Kenalkan Kek, Ini Langir. Langir ini adalah Kakek sekaligus Guruku, Orang - orang biasa menyebutnya Empu Gading". Ucap Jaya memperkenalkan keduanya.
Langir merubah wujudnya menjadi manusia, Dalam posisi berlutut dia berucap. "Salam Hormat untuk Pendekar Air Maut, Salah satu Pendekar Paling di Takuti Pendekar Aliran Hitam di masa mudanya". Ucapan Langir sontak membuat Empu Gading dan Jaya terkejut. Empu Gading terkejut karena sosok di hadapannya saat ini mengenali dirinya sewaktu seumur Jaya, Sedangkan Jaya terkejut karena Langir Jauh lebih mengenal Gurunya dari pada dirinya, Bahkan Langir mengetahui Julukan gurunya sewaktu muda.
"Berdirilah Langir" Ucap Empu Gading karena melihat penampilan langir yg lebih muda dari dirinya. Empu Gading menatap dengan seksama wajah langir, Dia mencoba mengingat orang - orang yg dia pernah kenal, Namun tak satu orang pun dalam ingatannya yg wajahnya mirip dengan Langir. Empu Gading kembali membuka memori di kepalanya berdasarkan nama, Lama dia mengingat nama - nama orang yg pernah dia kenal, Hingga Empu Gading tersenyum lebar lalu menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, "Salam Hormat untuk Penjaga Mata Angin Selatan". Ucap Empu Gading ke pada langir.
"Tidak Empu.. Saat ini aku bukan lagi Penjaga Mata Angin Selatan, Saat ini aku adalah Pengikut dari Muridmu". Ucap Langir menjelaskan kepada Empu Gading. "Pengikut... Apa maksudnya ini?" Tanya Empu Gading tak mengerti. "Aku dulu di penjarakan di dalam penjara Es oleh Raja Kayangan, dan di campakkan ke sini. Aku terjebak di balik air terjun bertahun - tahun lamanya, Hingga muridmu datang dan menyerap Energi Penjara Es sampai habis dan menyebabkan penjara tersebut hancur dan aku bisa terbebas dari penjara tersebut. Sebagai Balas Budi, Aku mengabdikan sisa hidupku menjadi pelayan setia kepadanya. Dulu aku pernah bersumpah kepada Dewata, Siapa pun yg membebaskan aku dari Penjara Es, Aku akan mengabdikan sisa hidupku menjadi pelayan setianya". Langir menuturkan kejadian yg menimpanya sampai pertemuan dirinya dengan Jaya.
"Jaya... Tiga hari yg lalu salah satu murid dari Perguruan Bertuah datang menyampaikan undangan pertemuan yg akan di adakan akhir pekan ini di Bukit Tanah, Kakek sempat khawatir karena kau belum juga kembali, karena perjalanan menuju ke sana memakan waktu tiga hari jika kita menunggang kuda". Ucap Empu Gading menyampaikan undangan dari salah satu Perguruan besar di Kerajaan Tanah. "Aku bisa membawa kalian dalam waktu setengah hari ke sana". Ucap Langir menawarkan diri.
__ADS_1
"Besok saja kita berangkat Kek, Setelah sarapan. Sekarang aku mau berburu dulu, Perutku sudah sangat lapar, Sudah sepuluh hari aku tidak makan daging lezat dari hutan ini". Ucap Jaya seraya berjalan ke arah sungai sambil membawa baju ganti, karena selama berkeliling bersama Langir dia tak ganti baju dan baju yg dikenakannya berlumuran darah akibat pertempuran kemarin.