Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
TAMU TAK DI UNDANG


__ADS_3

Acara Tanding Saudara telah usai, Semua tamu undangan menikmati hidangan yg telah di sediakan sambil bercengkrama satu sama lain. Karena acara ini ajang kumpul para Pendekar, maka pembahasannya pun tak jauh dari seputar Jurus, Tehnik dan Ajian. Hidangan sengaja di gelar seperti Prasmanan agar para tamu dapat menikmati hidangan sambil bertegur sapa dengan yg lain.


Jaya mendekati Panggangan yg ada di dekat meja hidangan. Dia memotong daging Kambing guling yg sangat menggugah selera, Tampak seluruh Pendekar menaruh hormat kepadanya semenjak di Nobatkan menjadi Pendekar Muda terbaik Generasi saat ini. Jaya mengambil tiga piring daging kambing guling, Kemudian dia berjalan mendekati Empu Gading dan Langir, Jaya memberi mereka masing - masing satu piring daging yg dia bawa. "Dari mana kau mempelajari Tehnik Perisai Air tadi Jaya?" tanya Guru Andla yg penasaran dengan Tehnik yg di gunakan Jaya. "Dari Guruku Wak" Jawab Jaya singkat. Guru Andla menoleh ke arah Empu Gading, sorot matanya seperti mencari kejujuran dari adik seperguruannya itu. Pasalnya apa yg di katakan Jaya bertolak belakang dengan yg di katakan Empu Gading saat di tanya Guru Andla melalui telepati.


Mendapati ada sikap canggung antara Uwak dan Gurunya, Jaya Buka suara. "Guru pernah mengajarkan Tehnik Pemadatan dan Penggemburan Elemen padaku, Tapi Guru tidak memberi tahu kegunaan Penggemburan Elemen padaku. Akhirnya aku pelajari dan aku kembangkan sendiri dengan caraku, dan hasilnya seperti yg Uwak lihat". Jaya menuturkan Tehnik yg dia kembangkan sendiri berdasarkan rasa penasaran dari apa yg di ajarkan Gurunya. Guru Andla hanya bisa menggeleng dan tersenyum mendengar penuturan dari Jaya, "Memang buah tak jauh jatuh dari pohonnya". Ucap Guru Andla sambil menepuk pundak Empu Gading.


Tak lama berselang, Sekar Mayang, Gayatri dan Ningsih mendatangi mereka. "Kakang Jaya... Bagai mana cara menciptakan Elemen Es seperti tadi?" tanya Gayatri yg sudah merasakan terkurung di dalam Es buatan Jaya. "Dinda harus memiliki dua Elemen, Yaitu Elemen Air dan Angin serta menguasai Tehnik penggabungan Elemen".Tutur Jaya kepada Gayatri yg sudah merubah panggilannya menjadi Dinda (Panggilan sayang pada masa itu). "Ternyata sulit sekali" Jawab Gayatri dengan wajah lesu. "Sebenarnya tidak sulit, Karena Tehnik Penggabungan adalah kembangan dari Tehnik Pemadatan dan Penggemburan yg di ajarkan Guru kita, Pastinya Bibi Guru telah mengajarkan Tehnik itu padamu bukan". Ucap Jaya kembali menjelaskan. Sementara itu Guru Andla, Empu Gading dan Sekar Mayang Hanya menyimak perkembangan dari Murid mereka.

__ADS_1


"Terus.. Bagai mana cara menciptakan Es?" Tanya Gayatri yg mulai memahami Penjelasan Jaya. "Ada dua cara, Jika ingin menciptakan Es yg besar di mulai dengan Elemen Air, setelah terbentuk baru di berikan Elemen Angin lalu segera di gabungkan. Jika menciptakan benda Es yg kecil di mulai dengan Elemen Angin dan di ikuti dengan tehnik yang sama seperti Tehnik yg pertama, Namun jika Dinda sudah menguasai Tehnik Penggabungan secara sempurna, Bisa langsung mengeluarkan Dua Elemen sekaligus dan sudah di Gabungkan". Jaya menjelaskan kepada Gayatri pelajaran yg belum pernah di ajarkan Gurunya, Bahkan mungkin Ketiga Guru mereka tidak mengetahui Tehnik ini. "Bisakah Kakang mencontohkan benda kecil dari Es?" Tanya Gayatri kepada Jaya dengan penasaran. Jaya mengeluarkan Bola Air dan Bola Angin di masing - masing tangannya, kemudian Jaya menggabungkan keduanya dengan menyatukan kedua telapak tangannya. Jaya menggerakkan kedua telapak tangannya yg menyatu beberapa kali, Setelah itu Jaya membuka kedua telapak tangannya dan memberikan sekuntum bunga mawar yg terbuat dari Es kepada Gayatri.


Gayatri tersenyum sumringah mendapat bunga mawar Es dari Jaya, Namun ketika Gayatri hendak mengambilnya Jaya menarik kembali bunga mawar Es tersebut. Dengan lembut dan mesra seperti Gurunya Jaya menyelipkan bunga mawar Es di antar rambut dan telinga Gayatri sebelah kanan. Terdengar suara tepuk tangan dari Para Tamu Undangan yg hadir di acara itu, Ternyata setelah Pertarungan mereka di atas arena, Para pendekar semakin penasaran apa yg akan terjadi di antara mereka selanjutnya.


Di tengah suasana bahagia itu, tiba - tiba seorang Penjaga Gerbang berlari menghampiri Guru Andla. Sesampai di depan Guru Andla Penjaga tersebut segera berlutut, "Lapor Guru Besar, Di depan ada seorang bernama Gagak Rimang beserta empat orang Muridnya sedang mengamuk, Mereka memberi Tantangan Kepada Guru Besar dan Murid Terbaik Perguruan ini untuk Beradu Nyawa. Kami sudah coba menahannya, tapi kemampuan kami Jauh di bawah mereka Guru". Petugas itu melaporkan kepada Guru Andla.


"Siapa Kau? Dan ada perlu apa kau kemari? Aku tidak mengenalmu sebelumnya". Tanya Guru Andla dengan emosi ketika sudah berhadapan dengan Gagak Rimang. "Aku Gagak Rimang, Dan ini Keempat murid terbaikku, Aku kesini atas Perintah Ki Rangkuti untuk membunuhmu dan Murid Terbaik Perguruan ini tepat di Hari Ulang Tahunmu, Atau jika Perlu semua kalian yg ada di sini". Ucap Gagak Rimang dengan Angkuhnya.

__ADS_1


"Aku Pastikan kau dan muridmu pulang dalam keadaan tak bernyawa dari tempat ini. Jangan mimpi kau bisa membantai kami semua hanya dengan lima orang". Ucap Guru Andla menjawab Tantangan dari Gagak Rimang. "Bagai mana dengan ini?" Gagak Rimang mengeluarkan Bola Api di tangan kanannya, Kemudian melemparkannya keatas, seketika Bola api itu meledak di udara. Tak lama berselang keluar ribuan Pasukan dari balik pepohonan.


"SERANG.." Ucap salah seorang yg memimpin Pasukan yg berjumlah lebih kurang dua ribu orang tersebut. Seketika serangan datang ke arah Perguruan Bertuah seperti air bah yg mengalir. Jaya yg berada di tengah barisan segera mengeluarkan Busur Gandiwa dan Panah di punggungnya, Jaya memasang sebuah panah lalu membaca mantra, Setelah itu Jaya mengarahkan Panahnya ke udara mengarah ke Pasukan yg datang menyerang lalu melepaskannya.


"Swush.." Panah yg di lepaskan Jaya berubah di udara, Ukurannya Jadi lebih Panjang dan Besar serta menjadi sangat banyak. 'Cruk.." Ratusan panah dengan ukuran sangat besar menancap di tanah tepat di depan Pasukan yg datang menyerang, Panah yg menancap itu seakan menjadi dinding yg menghalangi pergerakan Pasukan yg berlari menyerang. Akibatnya Pasukan Yg menyerang menjadi saling Tindih dan saling injak antara teman sendiri.


Jaya kembali melepaskan panah ke udara, kali ini panah yg tadinya satu kini berubah menjadi sangat banyak namun ukurannya seperti biasa. Sontak Pasukan yg menyerang tanpa membawa tameng di dihujani panah dengan sangat mudah. Jaya terus melepaskan Panahnya di udara seperti tak pernah habis, Jaya baru berhenti ketika Pasukan yg menyerang tersisa sekitar seratus orang. Jaya Juga menciptakan Penjara dari panahnya yg mengurung Pasukan yg tersisa.

__ADS_1


__ADS_2