Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
Rasa Malas Menyerang


__ADS_3

Pagi kembali datang seperti biasa, Dan semua masih seperti biasa, mentari, kicau burung, udara segar dan lain lain. Walau suasana terlihat indah dan damai namun jika sudah setiap hari kita jalani lambat laun juga akan terasa membosankan. Itu adalah sifat dasar manusia, Di beri damai oleh Yang Maha Esa jenuh, Di beri perang Mengeluh. Terkadang manusia yang tidak bisa bersyukur atas apa yang di terimanya.


Begitulah yg di rasakan oleh seorang pemuda yg hidup di sebuah desa bermana Desa Rambang yg terletak di tepian hutan. Hari ini adalah hari ke sepuluh Empu Gading pergi ke kadipaten Bromo, Setiap hari Jaya melaluinya dengan berlatih dan berlatih seorang diri namun hasil dari latihannya belum juga tampak. Hal itulah yg menyebabkan Jaya merasa jenuh dan bosan, Di tambah lagi Jaya hanya hidup sendiri di tempat ini, Karena gubuk tempat tinggal Empu Gading jauh dari pemukiman warga walau masih satu desa.


Hari ini... Setelah sarapan Jaya hanya baringan saya di pendopo, Dia merasa malas melakukan sesuatu apalagi yg namanya latihan. " Ahhhh.... Sekali kali istirahat sambil bermalas malasan ngak masalah kali ya..." Guman Jaya sambil mengulet ( seperti meluruskan anggota badan saat bangun tidur ) di lantai pendopo.


Mau tidur kembali hari masih pagi, Mau bekerja pesanan tidak ada dan bahan bahan pun sudah banyak yg habis, Busur sudah selesai dan panahnya pun sudah banyak namun senarnya belum ada. Mau latihan jenuh karena tidak ada perkembangan, Mau bercengkrama dengan warga tidak ada yg di kenal dan lagi jarak ke rumah warga cukup jauh.


Itulah keadaan yg di alami Jaya saat ini bosan, jenuh, bingung bin galau. Cukup lama Jaya berbaring di lantai pendopo tanpa berfikir atau berbuat sesuatu namun tidak tidur. Saat tenggorokannya terasa haus, Dia juga merasa malas beranjak bahkan sekedar mengambil air minum. Sejenak Jaya teringat dengan gurunya yg bisa mengeluarkan air dari ujung jarinya, Jaya pun mencoba mengeluarkan air dari tangannya, Seketika telapak tangan Jaya mengeluarkan air seperti embun yg menempel di dedaunan pada pagi hari. Melihat hal itu sontak Jaya bangkit dari posisi berbaringnya.

__ADS_1


Jaya menjilat telapak tangannya, Dia ingin merasakan air yg keluar dari tangannya. Dia ingin memastikan yg keluar dari telapak tangannya air murni atau keringat, Walau terlihat konyol tapi itulah yg di lakukan Jaya. Setelah merasakan air yg keluar dari tangannya jaya tersenyum sumringah, Pasalnya Jaya dapat merasakan air di telapak tangannya air murni bukan keringat.


Semangat Jaya kembali muncul, Jaya sedikit merentangkan tangan kanan dan memposisikan telapak tangannya di bagian atas. dia mencoba berkonsentrasi memikirkan sebuah bola dari air, sesaat kemudian muncul sebuah bola air sebesar bola kasti yg mengambang di telapak tangannya. Jaya tersenyum lebar melihat hal tersebut, kemudian dia melemparkan bola air tersebut ke tanah untuk mengetahui kekuatan bola air tersebut, Saat menyentuh tanah bola air itu pecah dan menciptakan cekungan pada tanah dengan radius sekitar satu jengkal dengan kedalaman satu jengkal pula.


"Ternyata sekarang aku sudah memiliki Zat air." Guman Jaya berbicara sendiri. Dengan semangat yg kembali membara Jaya ingin pergi ke sungai untuk meningkatkan Energi Air miliknya, Namun sebelum berangkat ke sungai Jaya memasuki gubuk hendak mengambil tombak dan belati, Siapa tau kembali menemukan hewan buruan pikirnya.


Tanpa sengaja Jaya melihat seperti gulungan senar terselip di atas palang pintu, Dengan penasaran Jaya mengambil gulungan senar tersebut, Dan benar itu adalah gulungan senar sisa waktu membuat pesanan panah beberapa bulan yg lalu. Jaya membuka gulungan tersebut untuk mengukur dengan panjang busurnya, "Syukurlah cukup untuk busur baruku, Walau bukan senar kwalitas terbaik tetapi masih bisa di pergunakan menunggu kakek guru pulang".


Jaya berangkat ke sungai dengan wajah ceria, Kali ini dia tidak membawa tombak, Jaya membawa busur barunya di tangan kiri, Sekantong panah yg dia gantungkan di punggung menyilang dari kanan ke kiri, Dan sebuah belati dengan warang yg di ikat di pinggang kanan. Dalam hatinya dia berharap hari ini dia mendapatkan hewan buruan yg enak di makan.

__ADS_1


Sebelum sampai di sungai Jaya mencoba Ajian Tatar Netra, Konon katanya orang yg memiliki Aji Tatar Netra dapat mendengar dan merasakan jejak kaki bahkan detak Jantung dari yg dia tuju, Namun untuk jarak tergantung tingkat dan kekuatan tenaga dalam yg di miliki Si Pengguna. Berjarak beberapa tombak dari tepi sungai Jaya mendengar derap langkah kaki, Dia memperhitungkan bahwa itu adalah hewan kecil berkaki empat yg dapat berlari dengan cepat.


Jaya meningkatkan tenaga dalamnya agar dapat memastikan posisi hewan tersebut dengan mendengar detak jantungnya. Sesaat kemudian Jaya mengambil sebuah anah dari punggung dan memasang pada busur yg di pegang nya, Jaya mengarahkan panah pada busur yg sudah di tarik mengikuti pendengarannya. Dia semakin fokus dengan suara detak jantung yg dia dengar, Dalam satu tarikan nafas Jaya melepaskan senar pada busur di tangan kanannya "Swushh.... Crukk..." Panah tersebut menancap pada jantung hewan yg dia dengar.


Tak mau kehilangan hewan buruannya, Jaya melesat mengejar hewan buruan yg berada di seberang sungai menggunakan Langkah Kilat. Tanpa Jaya sadari dia sudah bisa berjalan di atas air tanpa tercebur, Bahkan saat ini ia sedang berlari di atas air sungai. Hal itu di sebabkan karena Jaya terfokus mengejar hewan buruan hingga tak menyadari dia sedang berlari di atas air.


Sesampai di seberang sungai Jaya mendapatkan hewan buruannya sudah tergeletak tak bernyawa. " Ternyata seekor Kancil, Sepertinya aku akan makan enak ni." Ucap Jaya yg berbicara sendiri. Setelah mencabut panah yg tertancap pada tubuh kancil tersebut, Jaya pun membawa kancil dengan cara meletakkan di pundaknya, Sesampai di tepi sungai baru Jaya tersadar kalau dia sudah berada di seberang dari arah gubuknya.


Sejenak Jaya berfikir dan bagai mana bisa dia menyeberangi sungai sedangkan pakaiannya tidak basah. Jaya mengingat kembali apa yg dia lakukan saat berburu tadi, " Apa mungkin karena aku menggunakan Jurus Langkah Kilat makanya aku tidar tercebur ke sungai?" Jaya bertanya sendiri dalam hati. "Dari pada penasaran mending aku coba saja".

__ADS_1


Jaya pun bersiap menggunakan Jurus Langkah Kilat, Sejurus kemudian dia sudah berhasil berjalan di atas air lebih tepatnya berlari. Karena sewaktu Jaya mencoba memperlambat langkahnya seakan tubuhnya terhisap oleh air. Jaya pun kembali menyebrangi sungai untuk mengambil kancil yg di tinggalnya saat mencoba menyebrangi sungai dengan jurus Langkah Kilat.


__ADS_2