Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
Pernafasan Alam (3)


__ADS_3

Pagi kembali dengan cerah setelah semalaman di balut gelapnya malam, Sang Surya telah memancarkan sinarnya walau belum menunjukkan Wujudnya. Burung burung bernyanyi dengan riang, Bunga bunga bermekaran serta kumbang kumbang yg hilir mudik menambah indah dan damainya suasana di Daerah Bukit Barisan ini.


Di salah satu kaki bukit tepatnya di Desa Rambang tampak seorang Pemuda sedang melakukan gerakan gerakan ringan sebagai pemanasan otot otot tubuhnya yg kaku karena tidur semalaman, Sambil menunggu umbi yg dia rebus matang dia berolah raga ringan di sekitar perapian sambil menghirup udara segar pedesaan.


Terkadang sebagai pemuda yg sudah berumur tujuh belas tahun Jaya merasa kesepian tinggal seorang diri di desa ini, Kalau pun ada yg menemani dirinya paling seorang kakek tua yaitu Empu Ganding gurunya sekaligus satu satunya orang yg dia anggap keluarganya.


Karena sejak kecil Jaya tidak mengetahui siapa kedua orang tuanya, Jaya hidup, besar dan tinggal di sebuah tempat seperti Panti Asuhan yg di sediakan oleh Kerajaan Maha saat di pimpin Raja Damar, Semua kebutuhan dan biaya panti asuhan tersebut di tanggung oleh Kerajaan. Sudah sering Jaya menanyakan tentang orang tuanya kepada para pengasuh sewaktu di Panti Asuhan, Namun tak seorangpun yg mengetahuinya. Hanya ada seorang wanita tua yg bertindak sebagai Kepala Panti mengatakan bahwa sewaktu masih bayi ada seorang Prajurit Kerajaan yg membawanya ke Panti ini, Ketika Jaya berusaha mencari Prajurit tersebut dia mendapatkan bahwa Prajurit tersebut telah gugur di salah satu pertempuran.


Pagi ini Jaya sarapan Ubi jalar yg di rebus dengan nira, Di tambah dengan secangkir teh tawar. Sambil sarapan di pendopo dia mengingat kembali proses latihannya kemarin, Tanpa dia sadari Mentari sudah muncul tepat di hadapannya dengan sinar yg cukup menyilaukan mata. Sejenak Jaya teringat dengan cahaya yg memancar dari air terjun kemarin, Dalam benaknya berkata " Apa salahnya mencoba".


Jaya segera menyudahi sarapan paginya, Kemudian dia duduk bersila dengan tegak di lantai pendopo yg terbuat dari bambu. Dia memulai Tehnik Pernafasan Alam menghadap mentari pagi yg bersinar cerah itu, tatapan matanya lurus dan tajam menatap sang mentari yg bersinar. Tak berselang lama Jaya sudah berkonsentrasi penuh dengan Tehnik Pernafasan Alam, Seperti kemarin namun kali ini jauh lebih mudah karena yg ingin dia serap adalah energi matahari yg memang memancar.

__ADS_1


Saat ini tubuh Jaya sudah di balut kabut cahaya kuning cerah secerah cahaya mentari pagi, Jaya bisa merasakan energi masuk kedalam tubuhnya, Namun dia merasakan energi yg berbeda dengan energi yg dia serap kemarin saat berada di sungai. Jaya tidak peduli dengan energi yg berbeda tersebut, Dia hanya fokus mengalirkan energi yg masuk ke tubuhnya itu ke titik di sekitar pusar sesuai yg di ajarkan gurunya.


Cukup lama Jaya menyerap energi dari mentari pagi tersebut, Sampai dia merasakan matanya sudah tidak sanggup lagi menatap matahari yg semakin menyilaukan dan terik. Jaya pun akhirnya menyudahi latihan Tehnik Pernafasan Alam yg kali ini mentari pagi yg menjadi bahan latihannya. Setelah selesai Jaya merasakan tubuhnya sedikit hoyong, Pandangannya terasa sedikit gelap namun dia masih sanggup bertahan, Walau butuh waktu beberapa saat untuk menyesuaikan keadaan.


Setelah merasa kembali normal Jaya berniat pergi ke sungai untuk mandi dan melatih Tehnik Pernafasan Alam di sungai seperti kemarin, Namun hatinya berkata untuk membawa tombak dan belati. Entah untuk apa, Namun dia tidak mau menentang kata hatinya. Jaya pun pergi ke sungai dengan membawa dua buah tempayan, Sebatang tombak dan sebuah belati.


Sesampai di sungai Jaya langsung berendam, Entah kenapa hari ini Jaya merasakan air sungai lebih segar dari biasanya. Setelah puas berendam Jaya pergi ketempat dia berlatih kemarin, Hari ini Tehnik Pernafasan Alam sudah dapat dengan mudah dia lakukan. Seharian penuh Jaya menyerap energi dari air terjun, Semakin lama jaya semakin asik melakukan hal itu, Dan tanpa terasa hari sudah sore.


Jaya hendak beranjak pulang, Namun dia kembali teringat dengan Tehnik Berjalan Di Air. Dengan yakin Jaya mencoba berjalan di atas air, Namun hasilnya masih sama, Jaya masih tercebur ke sungai. Jaya kemudian berenang ke tepi sungai, Sampai di tepi sungai Jaya melihat tiga ekor ikan sebesar betis orang dewasa.


Jaya melangkah pulang setelah membersihkan ikan yg dia tombak tadi, Tak lupa dia juga mencabut pohon ubi kayu yg banyak terdapat di sekitar jalan menuju sungai karena memang di tanan oleh Empu Gading dan Jaya.

__ADS_1


Sesampai di gubuk jaya bergegas menganti pakaian yg basah di tubuhnya, Kemudian pakaian yg basah tadi di bilas lalu di jemur untuk di pakai esok hari. Jaya menyalakan api di dapur untuk merebus ubi yg dia bawa, Jaya mencampurkan air kelapa agar ubi lebih berasa gurih dan enak, Setelah ubi masak barulah dia memanggang ikan yg dia dapat di sungai dengan menggunakan sisa bara api sewaktu memasak ubi tadi.


Jaya membolak balik kan ikan yg dia panggang agar tidak gosong, Tak lupa dia membubuhi garam dan asam agar terasa lebih nikmat. Sewaktu memanggang ikan Jaya meletakkan ubi rebus yg masih di dalam priuk tanah di samping bara api, Agar sewaktu di makan masih terasa hangat.


Selesai memasak ubi dan ikan, Jaya membawa hidangan yg dia masak ke pendopo untuk dia makan sendiri. Selesai makan dan membereskan piring bekas makanya, Jaya kembali ke pendopo, Sambil duduk bersantai jaya melanjutkan membuat busur dan panahnya kemarin hingga matanya terasa mengantuk.


Begitulah keseharian jaya selama di tinggal Empu Gading, Karena tidak adanya pesanan untuk membuat senjata maka waktunya dia habiskan untuk melatih Tehnik Pernafasan Alam, sesekali dia mencoba mengeluarkan Zat yg telah dia kumpulkan, namun hasilnya masih sangat jauh dari apa yg dia harapkan, Namun begitu dia tidak menyerah, Jaya berharap sewaktu gurunya pulang dia dapat menanyakan tehnik atau jurus baru kepada gurunya agar dapat menggunakan energi yg dia kumpulkan selama gurunya pergi ke Kadipaten.


Malam hari Jaya tidur sendiri di kamarnya di dalam gubuk, Namun setelah lama berbaring matanya tak mau juga terpejam, Akhirnya dia memutuskan keluar dari gubuk.


Malam yg sepi dan sunyi, Sendiri di tepi hutan walau di desa namun jauh dari rumah penduduk, Akhirnya Jaya berjalan jalan di sekitar gubuk berharap matanya segera mengantuk. Tanpa sengaja Jaya memandang ke arah langit malam, Dia melihat bulan purnama yg tertutup awan tipis sehingga sinarnya terhalang. Tanpa sengaja Jaya berucap " Wahai awan... Menyingkir lah sejenak, agar aku dapat menikmati indahnya Sang Rembulan". Siapa yg menyangka awan tipis itu seolah mendengar apa yg di ucapkan oleh Jaya, dan sesaat kemudian Rembulan tampak bersinar dengan indahnya.

__ADS_1


Jaya tidak bisa memungkiri bahwa hatinya terpesona dengan keindahan sang Rembulan malam itu, Tanpa sadar Jaya melantunkan syair syair indah bak seorang Pujangga dari mulutnya, Syair yg di lantunkan Jaya seperti rayuan seorang pemuda yg sedang kasmaran kepada seorang gadis tercantik yg pernah dia lihat. Bahkan jika syair itu di dengar seorang cewek, Apa lagi di zaman modern ini di jamin pasti baper.


Wahai Rembulan yg indah, Benarkah di sana ada seorang Dewi rupawan yg bertahta? Benarkah cahaya yg ku lihat ini adalah pancaran kecantikannya? Jika memang ada, Pertemukan lah aku dengannya walau hanya sekali di dalam hidupku, Sungguh... Aku sangat terpesona olehnya.


__ADS_2