Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
TANDING SAUDARA


__ADS_3

Pertarungan antar Pendekar muda masih terus berlangsung, Tidak terkecuali Pendekar wanita, mereka juga ikut ambil bagian. Ningsih berhasil mengalahkan beberapa pendekar wanita dari perguruan lain, Namun dia juga dapat di kalahkan. Pertarungan antar pendekar wanita berakhir dengan Gayatri keluar sebagai Pendekar Wanita Terbaik.


Karena ajang ini sebagai Tarung Saudara, Para Pendekar muda seperti enggan melawan Pendekar Wanita. Akhirnya Gayatri di suruh beristirahat dan di akui sebagai Pendekar Wanita Terbaik. Pertandingan kembali di lanjutkan dengan pertarungan antar Pendekar pria, Hingga salah seorang Prajurit Muda Berbakat bernama Dian dari Kerajaan Air yg sulit di tandingi Pendekar lainnya.


Jaya naik ke atas arena, "Aku Jaya.. Murid satu - satunya Empu Gading mohon petunjuk". Ucap Jaya memperkenalkan diri. Setelah keduanya memasang kuda - kuda, "Lihat serangan". Ucap Dian yg berinisiatif menyerang duluan. Sejurus berikut kedua Pendekar muda itu terlibat pertarungan, Saling melancarkan serangan dan bertahan dengan jurus - jurus yg mereka miliki.


Pertarungan semakin seru dan sengit, sudah puluhan jurus yg di keluarkan masing - masing, namun belum ada tanda - tanda siapa yg akan kalah. Mereka masih terlihat berimbang, Aksi itu mendapat tepuk tangan dan sorakan riuh dari para Pendekar yg menonton pertarungan. Mereka sangat menikmati Pertarungan yg di lakukan dua Pendekar Muda Berbakat itu, Jurus - jurus yg mereka keluarkan seakan tarian indah yg memanjakan mata bagi pendekar yg menyaksikan baik muda maupun tua.

__ADS_1


Hingga Dian berhasil menyapu betis kanan Jaya yg menjadi tumpuan pijakan, serangan itu membuat Jaya terjatuh telentang di atas arena, Namun sebelum jatuh Jaya berhasil membalas serangan dengan menggunakan kaki kiri ke arah pinggang Dian. Melihat lawan telentang di arena, Dian langsung menerkam Jaya yg tak bisa menghindar. Jaya terkurung dalam posisi telentang dengan Dian duduk di atas perutnya sambil menyerang ke arah wajah.


Dian terus melancarkan serangan kepada Jaya yg berada di kurungannya, Namun tak satupun serangan Dian yg mengenai sasaran. Aksi itu mengundang riuh dari penonton, Mereka penasaran bagai mana cara Jaya keluar dari kurungan yg sangat sulit di lepaskan tersebut. Dian menyerang rahang Jaya dengan tangan kanan dan di tepis Jaya dengan tangan kiri, kemudian Dian Menyerang kembali dengan tangan kiri masih di sasaran yg sama juga di tepis Jaya dengan tangan kanan. Posisi itu membuat kedua tangan Dian berada di luar tangan Jaya, Mendapati hal tersebut, Jaya langsung memposisikan kedua tangannya di samping leher Dian. Jaya menarik tengkuk Dian dengan kedua tangannya seperti gerakan memeluk dan mengarahkan ke sis kiri kepalanya, dengan cepat Jaya menaikkan pundak kirinya berbarengan dengan kepala Dian yg melaju ke sisi kiri kepala Jaya, Gerakan tersebut menyebabkan bahu Jaya membentur telak dengan rahang Dian.


Dian terhuyung akibat serangan bahu Jaya yg mengena telak di rahangnya. Mendapati serangan bahunya berhasil, Jaya langsung melancarkan serangan susulan menggunakan kedua telapak tangan yg di arahkan ke dada Dian. "Bruk.." Dari jarak yg sangat dekat pukulan kedua tepak Jaya mengena telak di dada Dian. Akibatnya Dian terpental hingga keluar arena. Senopati Arif yg melihat hal tersebut langsung berkelebat menangkap tubuh Dian agar tidak terhempas ke tanah, Karena jika sampai terhempas ke tanah Dian akan mengalami luka dalam yg cukup lumayan.


Jaya segera bangkit dari posisinya. Begitu melihat Dian dalam posisi aman, Jaya segera memberi salam hormat ala pendekar kepada Dian. Dian pun membalas dengan memberi salam hormat kepada Jaya, "Senang bisa bertanding dengan Pendekar hebat seperti mu Jaya". Ucap Dian yg mengakui keunggulan Jaya. "Terima kasih Dian, Aku Juga Bangga punya teman hebat sepertimu". Ucap Jaya memberi pujian kepada Dian. "Aku akan berlatih dengan giat, Kelak jika ada acara Tarung Saudara lagi, Aku berharap kita bisa bertanding kembali". Ucap Dian yg menikmati pertarungan dengan Jaya walau dia kalah. "Aku juga akan berlatih dengan giat, dan menantikan Tanding Saudara berikutnya". Ucap Jaya yg mengakui kehebatan Dian sewaktu bertarung tadi. Kemudian Dian di papah oleh Senopati Arif untuk duduk di kursinya.

__ADS_1


Setelah itu keduanya bersiap dan memasang kuda - kuda, "Lihat serangan". Ucap Barda memulai serangan. Pertarungan pun di mulai dengan jurus - jurus pembuka untuk mengukur kekuatan lawan masing - masing. Karena dasar kedua Pendekar dari perguruan yg sama, maka jurus - jurus yg mereka pergunakan pun tidak jauh berbeda. Apa yg di pelajari Barda dari Guru Andla juga di pelajari Jaya dari Empu Gading, Hanya pengembangan pada diri masing - masing murid yg menjadi pembeda kwalitas kedua Pendekar Muda tersebut.


Barda adalah Murid tercerdas di Perguruan Bertuah, Dan hal itu di akui oleh Guru Andla sebagai Guru Besar dan Pendiri Perguruan. Sedangkan Jaya adalah Murid satu - satunya Empu Gading, Dia tidak bisa bilang dia terbaik atau terburuk, Apa pun yg di capai Jaya itulah tolak ukur hasil didikan Empu Gading. Tepuk tangan dan riuh penonton semakin meriah, Mereka sangat menikmati pertarungan dua Pendekar Muda yg memiliki Kakek Guru yg sama.


Pertarungan semakin seru dan sengit, Masing - masing sudah mulai mengeluarkan jurus - jurus dengan tingkat yg lebih tinggi. Namun belum ada tanda - tanda pertarungan akan berakhir, Tak jarang terdengar ledakan - ledakan kecil maupun besar akibat beradunya pukulan tinju, telapak dan tendangan dari kedua Pendekar Muda tersebut. Hingga kedua telapak Pemuda tersebut saling beradu, "Duar.." terdengar suara ledakan dari beradunya kedua telapak Jaya dengan kedua telapak Barda. Masing - masing terdorong dalam posisi berdiri dengan kaki terseret, Barda terhenti berjarak setengah meter dari tepi arena, Namun sayang Jaya terhenti tepat di tepi arena. Hal itu membuat keseimbangannya goyang, Jaya segera melompat dan bersalto kedepan di udara beberapa kali agar berpijak di arena lebih ke tengah.


Melihat Jaya yg berdiri belum stabil, Barda langsung berkelebat menerjang Jaya, "Tendangan Tanpa Bayangan" Ucap Barda seraya melancarkan serangan yg di arahkan ke dada Jaya. Mendapati lawan menyerang dengan tendangan beruntun, Jaya menyongsong serangan tersebut tanpa rasa gentar, "Tinju Bayangan" Ucap Jaya menyambut serangan tersebut.

__ADS_1


Tak terelak kedua jurus pun beradu, setiap tendangan yg dilancarkan Barda beradu dengan tinju yg di lancarkan Jaya. Memahami daya dobrak tendangan lebih kuat dari tinju, Jaya bergerak ke samping lalu memutar tubuhnya. Hal itu di lakukan agar sewaktu tubuhnya terdorong oleh daya dobrak jurus yg beradu akan tetap di atas arena. Seratus Tendangan sudah beradu dengan seratus Tinju yg mengakhiri jurus bayangan dari kedua Pendekar, Jaya langsung mengarahkan Tendangan Balik untuk membalas serangan tendangan Barda. Dengan sigap Barda memposisikan lengannya di samping kepala untuk menangkis tendangan Jaya.


Rupanya itu hanya pengalihan yg di lakukan Jaya, "Tendangan Tanpa Bayangan" Jaya menyerang Barda dengan Jurus yg sama namun dari jarak yg sangat dekat, Sontak Barda kewalahan menghadapi serangan yg tidak dia sangka - sangka. Beberapa tendangan pertama berhasil mendarat di dada Barda, Namun dengan cekatan Barda bisa menangkis tendangan tersebut. Sambil menangkis tendangan Jaya, Barda mengeluarkan Elemen tanah dan mengadunya dengan tendangan Jaya untuk membalikkan keadaan. "Duar.." Terdengar ledakan akibat beradunya Tendangan Jaya dengan Tinju Barda yg di aliri Elemen Tanah, Keduanya terdorong ke belakang namun masih di atas arena.


__ADS_2