Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
PINDAH TEMPAT


__ADS_3

Pertarungan masih terus berlangsung dengan sengit, saling mengeluarkan jurus-jurus andalan masing-masing. Walau tidak dapat menggores luka pada tubuh Raja Cobra, Namun serangan-serangan Langir yg mengena telak cukup menimbulkan rasa sakit pada tubuh Raja Cobra. Dengan menggunakan tongkat Raja Cobra melancarkan serangan tusukan ke dada Langir, Bagian tongkat yg berbentuk kepala ular di arahkan ke dada Langir namun masih bisa di tepis oleh Langir dengan menggerakkan pedangnya ke arah atas, Pada saat bersamaan dari tongkat yg berbentuk kepala ular tersebut menyemburkan cairan bening. Langir langsung melengkungkan tubuhnya kebelakang untuk menghindari semburan racun dari Raja Cobra. Tak ingin membuang kesempatan Raja Cobra langsung melancarkan tendangan telak ke perut Langir yg terbuka.


"Uhuk... Uwweekk..." Langir terpental dan terseret akibat tendangan telak di perutnya, Langir memuntahkan makanan yg ada di dalam perutnya, Perutnya terasa keram akibat tendangan telak tersebut. "Hampir saja aku terkena racun cacing sialan itu, Awas saja, Akan ku balas kau". Ucap langir dalam hati. Kemudian Langir berdiri kembali dan mengeluarkan Elemen Air di tangan kirinya, Dalam satu gerakan Langir merubah Elemen Air menjadi sebuah Tameng seperti yg di lakukan Jaya sewaktu menghadapi Barda pada Tarung Saudara. Kini tampak Langir berdiri dengan memegang Pedang Lentur di tangan kanan dan sebuah Tameng di tangan kiri.


Langir kembali menyerang Raja Cobra namun kali ini dengan sebuah rencana tersembunyi di dalam pikirannya. Raja Cobra yg mengetahui lawannya tidak memiliki racun merasa di atas angin, Pasalnya senjata yg di gunakan lawan juga tidak mampu menggores sisiknya yg keras dan tebal. Walau lawan saat ini menggunakan Tameng, Secara Teori Perang pertahanan paling kuat adalah menyerang.


Berdasarkan ingatan dari Raja Peramal yg termasuk guru dari Jaya, Langir menggunakan Jurus Langkah Kilat yg di padu dengan keahliannya dalam bermanuver di udara. Langir juga menggunakan jurus Pedang Bayangan untuk mengecoh pandangan lawan dan membesarkan Tameng yg dia gunakan agar tubuhnya semakin terlindungi. Raja Cobra kewalahan dengan Jurus gabungan yg di terapkan Langir, Dia tidak bisa menentukan dengan jelas di mana posisi lawannya. Karena Langir selalu berpindah tempat setelah melakukan serangan untuk melakukan serangan susulan. Berulang kali Raja Cobra menyemburkan racunnya ke arah langir, Namun hanya mengena Tameng yg di gunakan langir.

__ADS_1


Raja Cobra sudah tampak kelelahan bertarung dengan Langir, Banyaknya racun yg dia keluarkan sangat menguras tenaganya, Apa lagi tak sekalipun serangan racunnya mengenai sasaran, hal itu menimbulkan rasa putus asa di pikirannya. Sementara Langir masih tampak bugar menjalani pertarungan, Dia sengaja hanya menggunakan Jurus-jurus pisik dan tidak menggunakan kekuatan Elemen untuk menghemat tenaga. Secara tidak langsung dia banyak belajar dari Jaya yg selalu menguras tenaga lawan di awal pertarungan, Saat lawan kehabisan tenaga baru di serang dengan kekuatan penuh. Walau harus beradu serangan, Namun kemenangan besar kemungkinan akan di dapat karena menang tenaga.


Melihat lawan yg sudah kelelahan, Langir semakin gencar melancarkan serangan. Hingga Langir melihat posisi dada Raja Cobra yg terbuka, "Tendangan Tanpa Bayangan" Langir menerjang dada Raja Cobra dengan tendangan beruntun yg membuat tubuh Raja Cobra terdorong tak berdaya menerima seratus tendangan di dadanya. Sambil melancarkan Tendangan Tanpa Bayangan Langir melakukan sebuah gerakan dengan tangan kanan yg membuat pedangnya seketika menjadi sangat tegang. Tanpa di sadari Raja Cobra, Langir menusuk lalu mencongkel permata yg ada di kening Raja Cobra dengan pedangnya. Langir melakukan sebuah gerakan pada tangan kiri yg merubah Tamengnya menjadi bilah pedang yg sangat runcing dan tajam melewati panjang tangannya. Setelah melancarkan tendangan terakhir dari Jurus Tendangan Tanpa Bayangan, Langir segera menusukkan bilah pedang di tangan kiri ke kening Raja Cobra tepat di bekas Permata yg sudah di congkel dan mengalirkan seluruh racun yg di serap oleh tameng selama pertarungan.


Raja Cobra tergeletak di atas rumput tak berdaya, Tubuhnya lemas seperti mengalami seratus gigitan sekaligus pada tubuhnya oleh Ular yg kekuatannya seimbang dengannya. Langir langsung mengambil Permata yg tampak sangat bersinar di malam hari di atas rumput, kemudian dia berjalan mendekati Raja Cobra yg sudah tak berdaya di sisa hidupnya. Dengan satu tarikan, Langir melepaskan Jubah Sisik yg dikenakan Raja Cobra. "Aaaaakkkhh....". Raja Cobra berteriak kesakitan karena Jubah yg menjadi pertahanan kekuatan terakhirnya di tarik paksa oleh Langir. Tak lama berselang Raja Cobra kembali ke wujud aslinya dan menghembuskan nafas terakhir.


Langir menyimpan semua barang yg dia dapat termasuk tubuh Ular Cobra yg sangat besar ke dalam sebuah Telur giok. Setelah itu Langir kembali melanjutkan perjalanan pulang. Walau seluruh tubuhnya terasa sangat lelah, namun setimpal dengan hasil yg dia dapat. Dalam hati Langir bersyukur menjadi pelayan Jaya, Jika saja pertarungan tadi murni mengandalkan kemampuannya, Bisa di pastikan dia yg menjadi santapan malam Sang Raja Cobra.

__ADS_1


"Kieekk... Kieekk... Kieekkk...." Terdengar suara Elang yg sangat melengking di telinga, Sontak semua orang memalingkan wajahnya ke arah sumber suara. Dari kejauhan tampak seekor Elang Putih yg sangat besar terbang ke arah mereka, "Itu Paman Langir sudah pulang, Cepat beri tahu Guru dan Yg lainnya". Ucap Barda sembari memerintahkan salah seorang saudara seperguruannya untuk memberi tahu Guru Andla dan yg lainnya.


Tak lama berselang Langir sudah mendarat di halaman depan kamar Jaya, Langir sudah merubah wujudnya menjadi manusia sewaktu di udara sebelum mendarat. "Apa kabar Paman?" Tanya Barda menyambut kedatangan Langir. "Paman baik... Bagai mana dengan Jaya?" Jawab Langir dan kembali bertanya kepada Barda. "Sudah ada perkembangan Paman". Jawab Barda. Dari arah aula tampak rombongan para guru dan tamu kehormatan berjalan mendekat ke arah kamar Jaya, Mereka sudah tidak sabar mengetahui hasil perjalanan Langir. Perjalanan yg seharusnya di tempuh dalam waktu seminggu, Bisa di selesaikan oleh Langir dalam waktu kurang dari semalam.


"Bagai mana Langir? Apa semua pesanan sudah kau bawa?" tanya Raja Peramal kepada Langir. "Ini Kakang Gatra.. Bahkan rumah dan seluruh kebunmu aku bawa semua". Ucap Langir sambil menyerahkan Telur Giok. Gatra menerima benda berbentuk dan seukuran telur itik berwarna hijau terbuat dari Giok. Semua orang memperhatikan Telur Giok dengan seksama dan penuh rasa takjub, Tampak di dalam telur terdapat sebuah rumah kayu sederhana dan kebun Herbal yg cukup luas. Raja Peramal sangat mengenali rumah dan kebun yg ada di dalam Telur Giok tersebut.


"Bagai mana cara mengeluarkannya?" tanya Raja Peramal kepada Langir. "Mari kita cari lahan yg sama luas dengan kebun yg Kakang miliki di Lembah Sumbing" Ucap Langir kepada Gatra. "Di belakang ada areal yg cukup luas, Mari kita lihat apakah cukup luas untuk kebunmu". Ucap Guru Andla kepada Gatra. Kemudian Langir dan rombongan para guru serta di temani beberapa murid pergi ke halaman belakang yg di maksud Guru Andla.

__ADS_1


Sesampai di halaman belakang, Langir yg sudah memegang kembali Telur Giok melompat ke udara. Tubuhnya mengambang di udara dengan kedua tangan memegang telur Giok, Tampak mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra. setelah itu perlahan kedua tangannya melepaskan Telur Giok, Kini tampak Telur Giok mengambang di udara dan mengeluarkan cahaya kehijauan ke sekeliling halaman yg luas, semakin lama cahaya hijau semakin terang dan pekat hingga menutupi pandangan. Selang beberapa saat cahaya tersebut menghilang di susul Telur Giok yg kembali ke tangan Langir.


Semua mata memandang takjub, halaman yg tadinya hanya di tumbuhi rumput liar kini terdapat sebuah rumah kayu sederhana dan kebun herbal yg cukup luas. Dengan penerangan obor Raja Peramal memasuki rumahnya lalu menghidupkan lampu yg ada di dalam rumah, Gatra mendapati keadaan rumahnya sama persis dengan sewaktu dia tinggalkan, bahkan tak satupun barang yg berpindah tempat. Gatra mempersilahkan semua orang untuk masuk ke dalam rumahnya, Sementara dia langsung meracik obat untuk Jaya di ruangan khusus di dalam rumahnya.


__ADS_2