
Pagi itu Gayatri pergi ke sungai yg terletak dekat pemukiman bersama Ningsih, Di sungai tersebut terdapat tempat mandi laki-laki dan perempuan yg terpisah. Karena selain Tempat belajar Ilmu Bela Diri, Perguruan Bertuah juga memiliki areal pemukiman yg di tempati murid-murid yg sudah berkeluarga yg tak ingin mengembara. Banyak juga di antara mereka yg berkeluarga sesama murid perguruan. Sebagai sumber pemasukan Guru Andla memberikan mereka pekerjaan, Ada yg menjadi Petani, Pedagang dan Prajurit Kerajaan sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka masing-masing. Seiring berjalannya waktu kumpulan murid yg berkeluarga itu membentuk sebuah perkampungan di samping lahan Perguruan.
"Gayatri... Selamat ya kamu mendapatkan calon suami yg Tampan, Gagah dan Sakti". Ucap salah seorang wanita di sungai tersebut sambil mencuci pakaian. Jika di perhatikan wanita tersebut memiliki usia sedikit lebih muda dari Guru mereka. "Terima kasih bi". Ucap Gayatri dengan senyum ramah kepada wanita itu. "Tapi hati-hat loh.." Ucap wanita itu kembali. "Maksud bibi?" Tanya Gayatri kembali. "Pria tampan dan gagah seperti Jaya pasti banyak wanita di luar sana yg juga ingin menjadi kekasihnya, Sama seperti kisah cinta gurumu dulu waktu masa muda". Wanita itu menjelaskan maksudnya memperingati Gayatri.
"Iya bik... Aku juga masih bimbang, Apa aku bisa sekuat guru mempertahankan cintanya. O iya.. Nama bibi siapa?" Jawab Gayatri dengan wajah lesu dan bertanya nama wanita yg menyapa mereka. "Nama Bibi Iyem, bibi adalah generasi setelah gurumu. Dulu waktu gurumu seusia mu saat ini bibi masih mulai beranjak gadis, Jadi sedikit banyaknya bibi juga tau kisah cinta gurumu dengan guru Jaya." Iyem menjelaskan kepada Gayatri.
__ADS_1
Obrolan mereka masih terus berlanjut sambil menjalankan aktifitas masing-masing. Iyem masih sibuk mencuci, sementara Gayatri dan Ningsih mandi di aliran sungai yg sangat jernih. "Apa dulu Guru Gading juga Tampan seperti Kakang Jaya bik ?" Tanya Ningsih yg merasa penasaran. "Kalau di bandingkan masih lebih tampan Jaya, Kalau menurut Bibi ya.. Tapi itu pun sudah banyak membuat wanita tergila-gila kepadanya, Bukan hanya pendekar wanita dari Golongan Putih dan Netral saja, Bahkan pendekar wanita dari Golongan hitam juga banyak yg jatuh cinta kepada Kakang Gading. Belum lagi wanita dari kaum bangsawan, Seperti putri Petinggi kerajaan atau yg lainnya. Tak jarang mbak Mayang bertarung dengan pendengar wanita yg beranggapan jika bisa mengalahkannya maka akan mendapatkan Kakang Gading". Tutur Iyem mengenang kisah percintaan Empu Gading dengan Sekar Mayang. "Berarti kuat sekali cinta mereka ya bik, Bahkan bisa bertahan sampai saat ini". Ucap Ningsih yg mengagumi kisah cinta gurunya. "Begitulah..". Jawab Iyem singkat.
Setelah selesai mandi dan mencuci baju mereka yg kotor, Gayatri dan Ningsih pamit undur diri. Mereka pergi menjumpai gurunya yg berada di rumah Raja Peramal, Sesampai di rumah kayu tersebut mereka mendapati Empu Gading dan Sekar Mayang sedang sarapan di ruang tamu. Tampak Empu Gading sedang menyuapkan sesuatu ke mulut kekasihnya itu, Sekar Mayang pun menyambut suapan tersebut dengan gaya manjanya.
"Idih guru... Buat iri aja.." Ucap Ningsih yg melihat kemesraan Guru mereka. "kalian sudah kembali? Mari sini kita sarapan". Ucap Guru Mayang melihat kehadiran ke dua muridnya. Gayatri dan Ningsih berjalan ke meja tempat guru mereka sarapan, kemudian duduk di kursi yg ada. "Bagai mana keadaan Jaya?" Tanya Guru Mayang ke pada Gayatri. "Masih belum siuman guru, Tadi uwak Gatra sudah menggantikan aku menjaganya dan memberi obat". Ucap Gayatri menjawab pertanyaan dari gurunya. "Ayo kalian makan lah dulu" ucap Empu Gading kepada kedua gadis di hadapannya. mereka pun sarapan bersama pagi itu.
__ADS_1
Malam ini tepat malam hari ke lima belas dalam satu bulan, Di langit sangat cerah di penuhi bintang gemintang yg bertaburan, Tampak bulan bersinar sangat terang dengan bentuk bulat sempurna. Banyak orang-orang duduk bersantai di halaman rumahnya untuk menikmati sinar Rembulan yg begitu indah di pandang, Tidak terkecuali pasangan yg sudah lanjut usia di halaman sebuah rumah kayu milik Raja Peramal.
Namun hal berbeda dengan Gayatri yg masih setia menemani Jaya di dalam kamarnya. Di halaman kamar tampak Langir dan Barda serta sepuluh orang murid yg mendapat giliran jaga malam sedang duduk bersantai sambil menikmati indahnya cahaya Bulan Purnama. Dari kejauhan langir melihat sesuatu berjalan dari arah bulan, Langir yg memiliki penglihatan yg sangat tajam melihat suatu benda yg bersinar sangat indah bergerak dari arah bulan.
Semakin lama benda itu terlihat semakin besar dan mengarah ke tempat mereka. "Bersiap.. Ada sesuatu yg mengarah ke sini". Ucap Langir kepada Barda dan Murid yg berjaga. Sontak semua melihat ke arah yg di tunjuk Langir dan bersiap dengan apa yg akan datang. Semakin dekat Langir melihat sebuah Kereta kencana terbang dengan bentuk yg sangat indah mengarah ke tempat mereka, Langir seperti mengenali Kereta Kencana itu, Tapi dia lupa milik siapa dan dimana dia melihatnya. Namun tidak ada firasat buruk di hati Langir melihat Kereta Kencana tersebut.
__ADS_1
Kereta kencana tersebut mendarat dan berhenti tepat di hadapan langir, Setelah pintu terbuka tampak seorang wanita muda dengan paras yg sangat cantik berbusana mewah turun dari Kereta Kencana tersebut. "Dewi Sri.... Hormat pada Dewi Sri" Ucap langir yg langsung berlutut di hadapan wanita muda itu yg ternyata Dewi Sri Anggraini atau Dewi Bulan. "Bangunlah Paman". Ucap Dewi Sri kepada Langir. "Di mana kekasihku Paman? Apa dia belum sembuh?" Tanya Dewi Sri kepada Langir. "Kekasih... Siapa yg Dewi maksud kekasih Dewi?" Tanya Langir yg tidak mengetahui hubungan Dewi Sri dengan Tuannya. "Kakang Jaya.. Diman dia?" Ucap Dewi Sri menjelaskan.
Mendengar suara wanita mengaku kekasih Jaya, Gayatri langsung bangkit dan keluar dari kamar menemui wanita pemilik suara tersebut. Hatinya terbakar api cemburu, Jah di lubuk hatinya dia tak menginginkan seorangpun menjadi kekasih Jaya kecuali dirinya. "Siapa Kau yg mengaku kekasih Kakang Jaya?" Ucap Gayatri bernada tinggi dan penuh emosi saat berhadapan dengan Dewi Sri. "Gayatri.." Ucap Langir memperingati Gayatri dengan keras. "Biarkan Paman.. Aku tahu keadaan hatinya saat ini". Ucap Dewi Sri menenangkan Langir. "Dinda Gayatri... Kau bisa menanyakan langsung kepada Paman Gading tentang hubunganku dengan Kakang Jaya. Seharusnya akulah yg berhak marah kepadamu, Karena aku yg lebih dulu menjadi kekasih Kakang Jaya". Ucap Dewi Sri kepada Gayatri dengan nada yg sangat lembut. Mendengar penuturan dari Dewi Sri, Gayatri hanya bisa tertunduk malu. Dewi Sri berjalan mendekati Gayatri lalu merangkulnya, "Aku mengerti perasaanmu dinda, Karena kita mencintai pria yg sama". Ucapnya kepada Gayatri. "Terima kasih Dewi, maafkan aku yg sudah bersikap kasar, Aku terbakar cemburu saat mendengar ada wanita lain yg menjadi kekasih Kakang Jaya". Ucap Gayatri sambil memeluk Dewi Sri. "sudah lah.." Ucap Dewi Sri sambil mengusap-usap punggung Gayatri.