
Jaya berdiri tegak di samping mayat Gagak Rimang yg tertelungkup dengan kepala terpenggal. Tak lama berselang tubuh Jaya di selimuti cahaya putih beberapa saat lalu menghilang, Kini tampak Langir sudah berdiri di samping Jaya. Dengan mengibaskan tangannya pelan Jaya menghilangkan Penjara Panah yg mengurung seratus prajurit yg tersisa, Prajurit yg terkurung tidak ada yg berani bergerak, mereka tahu jika Jaya ingin membunuh mereka maka itu bukan hal sulit.
"Kalian boleh pilih, Hidup menuruti Perintahku atau Mati menentang ku" Ucap Jaya kepada seratus Prajurit yg tersisa. "Ampuni nyawa kami Pendekar". Ucap salah satu Prajurit yg ternyata seorang ketua regu sambil berlutut, serentak seluruh Prajurit yg tersisa ikut berlutut di hadapan Jaya. "Aku akan mengampuni kalian dengan satu syarat". Ucap Jaya kepada Prajurit yg berlutut di hadapannya. "Katakan Syaratnya Pendekar, Kami akan melaksanakannya dengan patuh". Ucap ketua Regu tersebut merasa nyawanya bisa selamat.
"Kalian yg tersisa bagi menjadi empat kelompok, Masing-masing kelompok pergi ke Kerajaan Api, Maha, Angin, Dan Kerajaan Air. Sebarkan apa yg kalian lihat dan kalian alami kepada orang-orang yg ada di sana, Pastikan berita ini sampai ke telinga Raja, Kalian Paham?". Jaya menuturkan apa yg harus di lakukan oleh Prajurit yg tersisa. "Kami Paham Pendekar" Ucap Ketua Regu tersebut . "Namaku Jaya, Dan ini.. Di dalam kantong itu masing-masing ada seratus keping emas, Bagilah dengan adil dan pergunakan untuk biaya perjalanan menyebarkan berita yg ku tugaskan". Ucap Jaya memberi tahu namanya dan empat kantong uang emas. "Ini terlalu banyak Tuan Muda". Ucap Ketua Regu dengan sopan dan mengganti Panggilannya kepada Jaya.
"Ambil saja.. Kalau ada lebihnya anggap saja imbalan dari ku untuk tugas kalian, Setelah kalian menyelesaikan Tugas dariku kalian boleh kemana saja yg klian mau, Atau kalian boleh kembali ke sini untuk mengabdi di sini. Kalian harus ingat dan camkan baik-baik, Aku sangat membenci Penghianat. Jika aku mendapati dari kalian berkhianat, Aku akan membuat kalian hidup sangat tersiksa, Bahkan Kalian lebih memilih mati dari pada Hidup. Jika kalian sudah paham, Kalian boleh pergi". Ucap Jaya mengakhiri Perintah tugas yg dia berikan kepada Prajurit yg tersisa.
__ADS_1
Prajurit yg berjumlah seratus tersebut segera undur diri untuk melaksanakan tugas yg di berikan Jaya. Setelah semua Prajurit pergi, Jaya mendekati Langir. "Apa paman punya cara untuk menyimpan semua mayat yg ada di sini tanpa menimbulkan bau?" Tanya Jaya kepada Langir. "Itu bukan hal sulit Tuan, Bahkan aku bisa menyimpannya dalam waktu yg sangat lama tanpa merubah bentuk dan baunya. Tapi mengapa harus di simpan tuan?" Ucap Langir dan bertanya kembali kepada Jaya. "Aku memiliki Firasat kita bisa menggunakannya di kemudian hari". Jawab Jaya mengatakan Firasatnya.
Langir mengeluarkan sebuah Guci kecil terbuat dari Giok dari dalam bajunya, Bahkan besar Guci tersebut tak sampai sebesar telapak tangan, Langir membuka tutup Guci tersebut lalu melemparkannya ke udara. Seketika Guci tersebut membesar dan mengambang di udara dengan posisi terbalik, tampak cahaya hijau keluar dari mulut guci tersebut dan menghisap semua mayat yg ada tanpa sisa. Setelah semua mayat terhisap, Guci tersebut kembali ke tangan Langir, setelah menutup Guci tersebut langir menyimpan kembali ke dalam bajunya.
Raja Ater mendekati Guru Andla dan Jaya, "Mengapa kau begitu baik kepada Pasukan musuh yg kau lepaskan?" Tanya Raja Ater kepada Jaya. "Manusia akan selalu ingat kepada orang yg menguntungkan budi kepadanya, Apalagi hutang nyawa. Bahkan seekor anjing akan mengingat orang yg memberi dia makan". Jaya menjawab pertanyaan Raja Ater dengan pengetahuan yg di berikan Dewa Penyair kepadanya. "Tapi empat ratus keping emas bukankah jumlah yg sangat banyak untuk sebuah tugas seperti itu?" Guru Andla menimpali pertanyaan dari Raja Ater. "Itu adalah Uang keping emas yg aku buat sendiri Wak, Kwalitasnya jauh beda dengan Keping Emas yg asli. Satu keping emas asli di campur dengan besi dapat menghasilkan empat puluh keping emas seperti yg ku beri kepada mereka. Bahkan aku bisa membuat menjadi seratus keping dengan mencampurkan beberapa bahan lain dengan bentuk yg lebih indah". Jaya menuturkan tentang Uang Keping Emas buatannya.
"Dari mana kau belajar cara membuat Uang keping seperti ini?" Tanya Guru Andla kepada Jaya penasaran. "Guruku Adalah seorang Empu yg terkenal, Dia bisa mengolah semua jenis logam. Apa Uwak masih meragukan keahliannya?" Jaya bertanya balik kepada Uwak Gurunya. Serentak Raja Ater dan Guru Andla menoleh ke arah Empu Gading, Mendapat tatapan dari abang dan temannya, Empu Gading hanya menggelengkan kepala sebagai tanda tidak mengakui bahwa dia yg mengajarkan kepada Jaya.
__ADS_1
"Bisakah kau membuatkan yg seperti ini untuk kami?" Ucap Guru Andla kepada Jaya sambil menunjukkan Keping Emas yg di bagi seratus. "Kami akan menggunakannya untuk membayar Pajak Tahunan kepada Kerajaan Maha". Guru Andla menjelaskan penggunaan uang tersebut yg di sambut dengan anggukan kepala Raja Ater. "Wani Piiiro...?" Jawab Jaya yg mengundang tawa semua orang yg ada di situ.
"Uhuk... Uhuk.. Uhuk... Uwek..." Saat semua orang tertawa, Jaya terbatuk dan sambil membungkuk dia memuntahkan beberapa teguk darah berwarna kehitaman. Jaya berlutut di tanah dengan bertopang pada Pedang yg ada di tangannya, Tak lama setelah itu tubuhnya rubuh tergeletak di tanah. "Tuan... Jaya.. Kakang.." semua orang memanggil dengan sebutannya masing-masing dan segera mendekati Jaya yg terbaring di tanah. Raja Peramal yg menguasai Ilmu Pengobatan segera memeriksa Kondisi Jaya, Setelah itu dia menotok seluruh titik jalan darah yg ada di tubuh Jaya.
"Cepat bawa dia kedalam... Dia terkena racun yg sangat mematikan". Ucap Raja Peramal setelah selesai menotok jalan darah di tubuh Jaya. Langir segera membopong tubuh Jaya dan membawanya ke dalam, Tampak raut penyesalan di wajahnya karena tidak mampu melindungi Tuannya. "Tuan bertahanlah.. Aku akan mencarikan obat terbaik untukmu walau harus ke Nirwana sekalipun". Ucap langir yg membopong tubuh Jaya dengan air mata berlinang penuh penyesalan.
Langir meletakkan tubuh Jaya di atas ranjang di dalam kamar khusus untuk tamu yg ada di perguruan tersebut. Raja Peramal membuka seluruh Baju Jaya dan menyisakan hanya pakaian dalamnya saja. Dengan teliti dan tenang Raja Peramal menusuk saraf dan jalan darah di tubuh Jaya dengan menggunakan Jarum khusus yg terbuat dari emas murni. Raja Peramal mulai menusuk dari telapak kaki naik terus hingga ke paha, Kemudian dari ujung jari tangan terus hingga ke bahu, Kemudian di sekitar wajah. Sepertinya Raja Peramal berusaha mengunci jalannya racun agar tidak menyebar ke seluruh tubuh.
__ADS_1
"Bagai mana keadaannya ?" Tanya Empu Gading kepada Langir di depan kamar tempat Jaya di rawat. "Raja Peramal sedang berusaha Kakang". Jawab Langir singkat.