
Tring.. Tring.. Tring.. Suara logam beradu terdengar memecah keheningan pagi menjelang siang di Dataran Amapin, suara pekikan kesakitan dan kematian seakan menjadi alunan melodi yg saling bersahutan di antara kerumunan Prajurit dari kedua Pasukan yg sedang bertempur. Tak ada kata kata lembut yg terdengar, Hanya teriakan Penyemangat dan Derita yg terdengar nyaring mengiringi sang Dewa Maut yg sedang sibuk menjalankan tugasnya.
Tak mau membuang waktu Alsap segera melompat dari punggung kudanya hendak menyerang Raja Indwi dengan sebuah pukulan tinju, namun masih setengah jalan Tejo sudah berkelebat ke arahnya yg juga menyerang dengan serangan tinju, terpaksa Alsap merubah arah serangannya untuk memapas serangan Tejo, akhirnya adu serangan tinju pun tak terelakan, Keduanya saling terdorong lima langkah kebelakang namun masih bisa berdiri dengan tegak.
"Ternyata Penghianat ini berada di sini... Baiklah.. Akan ku bunuh kau terlebih dahulu sebelum raja tak berguna itu". Alsap coba memprovokasi Tejo yg telah menggagalkan serangannya. "Kita lihat saja siapa yg akan mati di sini, Kau tak tahu Prajurit seperti apa yg sedang kau hadapi". Ucap Tejo seraya mengeluarkan pedang dari warang yg tergantung di punggungnya.
Raja Indwi hanya diam menyaksikan aksi Tejo yg akan bertarung dengan Alsap, Karena Pasukan Kerajaan Angin menang jumlah dan kwalitas Prajurit, Raja Indwi masih bisa santai di atas kuda dengan pengawalan Prajurit.
Alsap juga mengeluarkan pedang dari warang yg tergantung di pinggangnya, sejurus kemudian keduanya sudah saling serang dengan jurus jurus andalan masing masing. Tring.. Tring.. Tring... Kedua pedang yg di pegang dua Prajurit beda pangkat itu beradu satu sama lain, Tak jarang percikan api keluar dari beradunya dua pedang tersebut yg di padu dengan tenaga dalam.
"Pangkat yg disandang Tejo sangat tidak pantas dengan kemampuan yg dia milikinya, setelah perang ini selesai aku akan mengangkatnya menjadi Senopati". Guman Raja Indwi melihat kemampuan bela diri Tejo saat bertarung.
__ADS_1
Pertarungan Alsap dengan Tejo masih berlangsung dengan sengit dan berimbang, Sudah puluhan jurus mereka keluarkan namun belum ada tanda tanda siapa yg akan kalah. Hingga suatu ketika Alsap berhasil menggoreskan luka di bagian rusuk kanan Tejo, Namun langsung di balas dengan tendangan memutar oleh Tejo yg mengena telak di pipi Alsap, Akibatnya Alsap harus terguling di tanah, tampak darah mengalir dari bibirnya yg pecah akibat tendangan telak Tejo di wajahnya.
Alsap mencoba berdiri kembali dengan bertumpu pada pedangnya. "cih.." Alsap meludah membuang darah di mulutnya. Alsap kembali memasang kuda kuda untuk menyerang Tejo, Namun di terkejut ketika Tejo memegang pedangnya dengan kedua tangan lalu membuat satu gerakan, Seketika pedang lengkung yg di pegang Tejo menjadi dua.
"Kau akan merasakan kehebatan Pedang Kembar pemberian Raja Damar ini. Rasakan seranganku.." Ucap Tejo seraya berkelebat menyerang Alsap. Pertarungan kembali terjadi dan semakin sengit, Namun kali ini Alsap sudah tampak mulai kewalahan menghadapi jurus jurus yg di lancarkan Tejo. Sementara itu Raja Indwi semakin tersenyum melihat aksi Tejo yg membuat Alsap semakin kewalahan, di tambah lagi Tejo memiliki Pedang pemberian Raja Damar menandakan Tejo bukan Prajurit sembarangan.
Di sisi lain, Prajurit dari Kerajaan Api semakin terdesak oleh Prajurit Kerajaan Angin, Jumlah mereka menurun drastis akibat kalah Jumlah dan Pengalaman bertempur. Alsap yg menyadari hal itu semakin terpecah konsentrasinya menghadapi Tejo, Dia belum menemukan momen untuk menjalankan rencana melarikan diri.
Tring... Kedua pedang Tejo beradu dengan pedang Alsap di atas kepala Alsap, Alsap merasakan tangannya kebas seperti mati rasa akibat benturan pedang tersebut. Tejo yg melihat pertahanan tubuh Alsap yg terbuka akibat kedua tangannya memegang pedang segara melancarkan serangan tendangan ke arah dada Alsap. "Tendangan tanpa bayangan" Secara bergantian dan terus menerus kedua kaki Tejo menerjang dada Alsap yg dalam posisi terbuka, tubuh Alsap mundur setengah terseret, Masih berdiri namun sudah condong ke belakang, pijakan kakinya pun sudah tidak sempurna namun tendangan tejo belum juga berhenti, hingga tendangan ke seratus Tejo menutup serangan dengan Tendangan Balik yg mengena telak di rahang Alsap.
Alsap terpental dan berguling di tanah. "Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." Alsap memuntahkan seteguk darah dua kali, dadanya terasa remuk dan tulang rahangnya terasa bergeser akibat serangan tendangan Tejo. Alsap melihat kuda tak jauh darinya, dengan susah payah Alsap mencoba berdiri seperti akan kembali bertarung, Pedang di tangannya juga sudah terlepas. Dalam satu tarikan nafas Alsap melompat ke punggung kuda tersebut "Pasukan...Mundur..." Teriak Alsap seraya memacu kuda yg di tungganginya.
__ADS_1
"Jangan lari kau pengecut". Ucap Tejo dengan penuh emosi, Tejo melihat sebatang tombak di dekat kakinya, menggunakan kaki kanan Tejo mengungkit tombak tersebut hingga terlempar ke atas, Tejo menangkap tombak dengan tangan kanan kemudian memutarnya. Seketika tombak tersebut di balut cahaya putih yg melambangkan Elemen Angin, "Tombak Pemburu Angin". Ucap Tejo seraya melemparkan tombak tersebut ke arah Alsap yg sedang menunggang kuda untuk melarikan diri.
Seketika tombak tersebut melesat dengan sangat cepat, seolah angin yg berada di sekitar membantu tombak tersebut melesat. Alsap menyadari adanya tombak yg mengarah kepadanya dengan sangat cepat, namun untuk menghindar dia tidak punya kesempatan, Alsap menarik baju salah satu Prajuritnya dan melemparkannya ke arah belakang, Akibatnya tubuh Prajurit tersebut tertembus tombak yg di lemparkan Tejo.
"Tejo.. Pimpin pasukan.. Kita kejar mereka... Bantai semua pasukan itu tanpa sisa". Perintah Raja Indwi kepada Tejo dan seluruh pasukan. Tejo menaiki kuda memimpin Pasukan di samping Raja Indwi untuk mengejar Pasukan Kerajaan Api yg lari kocar kacir ke arah lembah.
Di atas tebing Jaya dan Lang lair duduk bersantai mengamati jalannya Pertempuran antara Pasukan Kerajaan Api melawan Pasukan Kerajaan Angin sambil menikmati secangkir teh dan beberapa cemilan. "Ha ha ha ha ha..." tiba tiba Langir tertawa terpingkal pingkal sambil memegangi perutnya, bahkan matanya sampai berair menahan tawanya.
"Mengapa kau tertawa segitunya langir?" tanya Jaya yg terkejut dengan tawa Langir yg tiba tiba. "Tuan... Lihat lah Senopati dari Kerajaan Api itu". Ucap Langir seraya menunjuk sesosok tubuh sedang menunggang kuda dengan luka dan darah di sekujur tubuhnya. Jaya pun mengalihkan pandangannya ke sosok tersebut yg tak lain adalah Alsap.
"Awalnya dia berencana berpura pura kalah, Tapi sekarang dia kalah beneran". Ucap Langir kembali menertawakan Alsap. "Itulah akibatnya jika terlalu meremehkan kekuatan lawan". Komentar Jaya melihat siasat Alsap yg belum sepenuhnya gagal.
__ADS_1