Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
SUBSIDI


__ADS_3

Di tepian sungai yg memiliki air yg sangat jernih, bahkan sangking jernihnya air sungai tersebut bebatuan di dasar sungai bisa terlihat. Tampak Langir sedang asik membalik-balikkan kancil yg terpanggang di atas bara api, ketika kembali dari mencari buah-buahan langir mendapati kancil yg tadi mereka kuliti masih terpanggang di atas api, namun dia tidak melihat Jaya berada di tempat itu. Karena tidak ada firasat buruk yg menghinggapinya, Langir memutuskan untuk menunggu sambil menyiapkan panggangan agar lebih matang.


Tak lama berselang Langir mendengar derap langkah menuju ke arahnya, sejenak dia menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat Jaya berjalan bersisian dengan seorang wanita muda dan seorang pria paruh baya di belakangnya. "Kenalkan..ini temanku Langir, paman ini ayu dan dia kumbang", ucap Jaya memperkenalkan ketiga orang itu. Mereka pun saling berkenalan satu sama lain. "Apa sudah matang paman?" tanya Jaya kembali kepada Langir. "Dari warna dan aromanya kurasa sudah Tuan" ucap Langir kepada Jaya.


Sesaat berikutnya mereka duduk berjejer di dekat panggangan, jika di urut dari kiri ke kanan Ayu, Jaya, Langir dan Kumbang. Wanita muda itu sengaja memilih posisi duduk jauh dari Kumbang, masih ada sedikit rasa ngeri dan trauma di hatinya kepada Kumbang si manusia harimau itu. Jaya memotong sebelah kaki belakang kancil panggang itu, kemudian memberikannya kepada Ayu setelah melapisnya dengan daun jati yg di bawa Langir, kemudian mengambil sebagian daging untuk dirinya. "Kalian bisa ambil sendiri bukan" ucap Jaya sambil menyerahkan sebuah belati kepada langir.


Langir memotong sebelah kaki belakang yg tersisa kemudian memberikannya kepada Kumbang. Saat bertatapan mata, Langir seperti merasakan aura yg sangat dia kenal, tanpa sadar mulutnya pun berucap "Mengapa aku seperti merasakan aura yg sangat ku kenal dari dirimu?" Dahi kumbang mengerut mendengar ucapan Langir, seingat dia mereka tidak pernah mengenal sebelumnya.

__ADS_1


Sambil makan mereka berbincang ringan sampai makanan yg di tangan mereka habis, "Paman.. Tolong bungkuskan daging yg masih tersisa, aku akan membawanya dan mengantar Ayu sampai ke rumah untuk memastikan keselamatannya. Untuk Kumbang tolong berikan kado dari tamu tak di undang waktu pesta ulang tahun kemarin, antar juga dia pulang dan pastikan seluruh keluarganya mendapat bagian yg cukup. Setelah itu jumpai aku di desa terdekat dari sini". Tutur Jaya memberi perintah kepada Langir. "Baik tuan muda" Jawab langir yg mengerti maksud perkataan Jaya.


Setelah itu Jaya berjalan mengantar Ayu pulang sambil meninting Kancil panggang yg tinggal setengah dan buah-buahan yg di kumpulkan Langir. Berdasarkan pengakuan Ayu, sebenarnya desa tempat tinggal mereka baru saja melewati masa panen satu purnama lalu, namun sepekan lalu desa mereka di datangi gerombolan rampok, dengan sadin para rampok itu menjarah semua harta benda yg ada, para rampok juga tak segan melukai bahkan membunuh siapa saja yg berusaha melawan. Karena kehabisan bahan makanan Ayu nekat berburu ke hutan mencari bahan makana untuk dia dan adik-adiknya.


Setelah Jaya dan Ayu pergi, Langir mengeluarkan sebuah guci dari balik bajunya. Setelah langir membuka penutup guci tersebut, seketika bau amis darah segar menyeruak keluar hingga Kumbang tak kuasa menahan air liurnya yg menetes keluar. Langir seperti mengambil sesuatu dari dalam guci tersebut sambil berucap "Kau mau makan di sini atau di sarangmu bersama keluargamu?" tanya langir yg sudah bisa merasakan kalau Kumbang manusia harimau. "Apa yg akan kau berikan?" tanya Kumbang kepada Langir. Sambil menggelengkan kepala Langir kembali berkata " Ternyata rasa lapar bisa mengurangi ketajaman penciumanmu" Langir seperti memegang sebuah cahaya kecil dari dalam guci, setelah di letakkan di tanah, cahaya itu membesar dan berubah menjadi sesosok mayat. Anehnya mayat yg di simpan di dalam guci tersebut tidak berubah bentuk dan baunya, sama seperti sewaktu di masukkan beberapa minggu yg lalu. Mayat tersebut di kumpulkan Langir atas dasar perintah Jaya sewaktu penyerangan dari Aliran hitam di hari ulang tahun Guru Andla.


Kumbang terperangah melihat sebuah mayat segar di hadapannya, air liurnya mengalir membayangkan santapan yg akan mengisi perutnya. "Tuan simpanlah dulu santapan ini, mulutku tak kuasa memakannya bila mengingat anak dan istriku yg lapar di rumah". Ucap kumbang lirih. "Baiklah.. Kita ke rumah mu sekarang, aku di perintahkan Tuan muda untuk memastikan semua keluargamu mendapat makan yg cukup" ucap Langir sembari memasukkan kembali mayat tersebut.

__ADS_1


Sampai di depan goa yg cukup besar, Kumbang dan Langir di sambut oleh beberapa harimau muda, tubuhnya sudah seperti manusia namun kepalanya masih berbentuk harimau. "Ini adalah anak-anakku Tuan" ucap Kumbang menunjuk ke empat harimau muda yg menyambut mereka. "Mari masuk tuan" Ucap Kumbang kembali. Kumbang dan Langir berjalan menyusuri goa di ikuti ke empat anaknya dari belakang.


Sampai di ujung goa mata langir terbelalak melihat seorang wanita yg sangat dia kenal terduduk lemas di sudut dinding. "Degita.." ucap Langir memanggil wanita tersebut. Mendengar namanya di sebut oleh suara yg sangat di kenal, wanita tersebut langsung menoleh ke sumber suara. "Kakang Langir.." Ucap wanita itu seraya berlari lalu berhambur ke dalam pelukan Langir. Kumbang dan anak-anaknya terperangah heran melihat istri dan ibu mereka memeluk seseorang yg baru mereka kenal.


Degita tersadar lalu melepaskan pelukannya, "Dimana Kakang bertemu suamiku?" tanya Degita kepada Langir. "Suami?" tanya langir sambil mengernyitkan dahinya."Kang mas dia adalah Kakang ku satu-satunya" Ucap Degita kepada suaminya yg masih bingung melihat kedekatannya dengan langir. Dengan canggung Kumbang menyalami dan mencium punggung tangan Langir sebagai bentuk hormat kepada yg lebih tua. Kemudian di ikuti ke sembilan anak mereka menyalami Langir satu persatu, untuk yg terakhir yg menjadi anak paling kecil Langir langsung menggendongnya setelah anak itu menyalami Langir.


"Apa kalian mau makanan yg lezat?" tanya Langir kepada anak-anak tersebut. "Mau wak... Perut kami sudah sangat lapar, sudah tiga hari ayah pergi dan selama itu pula kami tidak makan". Ucap anak ketiga yg memiliki belang putih kuning di tubuhnya. Karena Degita adalah seekor harimau putih. "Duduk lah berbaris, Uwak akan memberikan makanan untuk kalian. Tapi ingat jangan berebut, Uwak paling tidak suk melihatnya". Ucap langir sambil menurunkan anak yg di gendongnya.

__ADS_1


Anak-anak harimau tersebut duduk berbaris dengan rapi yg kini semuanya berwujud harimau seutuhnya. Langir mengeluarkan guci dari balik bajunya, kemudian mengambil sebuah cahaya kecil dari dalam guci tersebut lalu meletakkannya di hadapan anak paling kecil, seketika cahaya tersebut berubah menjadi sesosok mayat segar. Anak-anak harimau tersebut terperangah melihat hidangan yg tersaji, Langir kembali mengeluarkan dari dalam guci lalu menyusunnya sepanjang anak harimau tersebut berbaris. "Makanlah.. Jika masih kurang bilang saja, uwak masih punya banyak" ucap Langir mempersilahkan anak-anak harimau tersebut untuk mulai makan.


Dengan tenang dan semangat anak-anak harimau tersebut memakan mayat dari aliran hitam yg tersaji di depan mereka. Langir juga memberikan kepada Degita dan Kumbang satu mayat. Dengan mesra sepasang suami istri itu berbagi makan berdua tanpa harus dikerubungi anak-anak mereka seperti biasa. "Kakang tidak ikut makan?" tanya Degita dalam bahasa harimau karena wujudnya saat ini. Namun Degita mengetahui jika Saudaranya itu mengerti bahasanya. "Tidak.. Kalian saja.. Kakang tadi sudah makan bersama suamimu". Ucap Langir berkata jujur. Sejenak harimau putih itu melihat ke pada suaminya lalu kembali melanjutkan makan.


__ADS_2