Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
Rencana


__ADS_3

Waktu terus berputar tanpa henti, Hari hari berganti pekan, Pekan berganti bulan, Bulan berganti tahun.


Tak terasa tiga tahun sudah runtuhnya Kerajaan Maha yg di Pimpin oleh Raja Damar, Saat ini bangunan Istana baru sudah berdiri dengan megah, Berbagai ornamen Api mewarnai di setiap sudut Istana, Singgasana terbuat dari Emas dan berbagai Batu Mulia menghiasi di salah satu ruangan Istana mega itu. Seluruh petinggi Kerajaan dan pengikut setia Raja Bara sedang sibuk mempersiapkan acara Penobatan Sang Raja menjadi Raja Kerajaan Maha Api yang baru.


Perhelatan Akbar yg akan di gelar tiga purnama kedepan mengagendakan beberapa acara penting, Di antaranya; Penobatan Raja Bara sebagai Raja Kerajaan Maha Api, Peresmian Istana baru Kerajaan Maha Api, Penobatan Maha Patih Deru dan Senopati Pijar. Acara yg rencananya akan di gelar selama tujuh hari tujuh malam itu juga akan menampilkan beberapa pentas seni sebagai hiburan dan pesta rakyat.


Rencananya acara ini akan di hadiri tamu undangan dari seluruh Kerajaan yg ada di kawasan Bukit Barisan, Para tamu undangan yg akan hadir adalah Para Raja dan Pangeran beserta Para Petinggi Kerajaan dari seluruh Kerajaan si kawasan Bukit Barisan, Para Pimpinan Padepokan, Dan Kelompok Pendekar.


Hal senada juga di lakukan oleh para Petinggi Kerajaan Api, Dimana Raja Aran yg menggantikan Raja Bara akan di nobatkan satu purnama setelah Penobatan Raja Bara. Namun acara yg di adakan di Kerajaan Api tidak semeriah acara di Kerajaan Maha, Selain Kerajaan lebih kecil juga agar tidak memancing perhatian umum.


Karena sebenarnya Pusat Pemerintahan berada di Kerajaan Api, Tepatnya di salah satu Goa yg berada di Lembah Sunyi. Goa tersebut adalah tempat bersemayamnya Ki Rangkuti sebagai Guru dari Raja Bara dan Raja Aran, Dari tempat inilah seluruh siasat Politik yg di terapkan oleh kedua Raja tersebut di bawah kendali Sang Guru.

__ADS_1


Goa yg selama ini di kenal masyarakat sebagai kuburan massal dan pintu Gerbang Roh ternyata adalah Istana bagi Ki Rangkuti, Bagai mana tidak, Goa yg terlihat dari luar sangat menyeramkan dan gelap gulita ternyata setelah masuk ke dalam sangat berbeda. Setalah melewati lorong sebesar dua kali dua meter sejauh dua puluh satu meter terdapat ruangan yg sangat luas.


Di sekeliling ruangan luas tersebut terdapat Batu Kristal Merah yg terus memancarkan cahaya sebagai sumber penerangan. Ruangan yg luas tersebut masih terbagi menjadi beberapa ruangan. Ada ruang Aula, Tempat Ki Rangkuti melakukan pertemuan dengan kelima muridnya dan para Pendekar yg menjadi Petinggi Aliran Hitam. Di dalam Aula tersebut terdapat kursi yg tersusun berjejer dan saling berhadapan serta sebuah kursi besar berada di tengah dengan letak yg lebih tinggi dari yang lain seperti sebuah Singgasana. Semua properti di ruangan Aula tersebut terbuat dari Batu Mulia, Bahkan harga batu mulia tersebut ada yg lebih mahal dari Emas, Sepintas ruangan tersebut seperti Aula di Kerajaan namun lebih kecil.


Ada juga Ruang Pemujaan yg berisi Patung Nyi Lampir dan penuh dengan sesajen serta Sesosok mayat tepat di bawah patung tersebut. Anehnya mayat yg di letakkan sebagai persembahan akan menghilang tanpa jejak. Selain ruang pribadi Ki Rangkuti ada juga Ruang Ternak di bagian paling belakang, Ruangan tersebut dihuni oleh seratus ekor Siluman Macan Hitam, Para Siluman tersebut adalah peliharaan Ki Rangkuti yg di beri mayat sebagai makanannya. Ternyata untuk ini semua lah mayat mayat sisa pertempuran dan pertarungan yg di kumpulkan oleh Kelompok Tapal Jejak.


Kembali ke Desa Rambang di Bukit Air.


Malam itu Jaya sedang duduk sendiri di halaman, Dia duduk di tanah beralaskan tikar yg terbuat dari daun pandan yg di anyam, serta sebuah bantal yg di bentuk dari rerumputan dan dedaunan kering. Jaya mendongak ke langit seakan sedang menatap Rembulan yg bersinar sangat terang di malam itu, Terangnya pancaran Rembulan hingga menciptakan sebuah lingkaran di langit. Bintang bintang yg bertaburan seolah ikut memuja keindahan Sang Rembulan.


"Apa yg kau lakukan di sini?" tanya Empu Gading menyadarkan Jaya dari lamunannya. "Memandang Rembulan Kek." Jawab Jaya singkat karena baru tersadar dari lamunannya. "Memandang Rembulan.... Mengapa harus segitunya? Bukankah kau sudah sering melihat bulan?" tanya Empu Gading kembali yg merasa heran dengan kelakuan Muridnya. " Entah lah Kek.. Dari dulu aku sangat mengagumi Rembulan yg bersinar terang, Apalagi saat Purnama seperti ini." Ucap Jaya sambil kembali memalingkan wajahnya menatap Rembulan. " Terserah mu lah.. Jayaaa.. Jayaaaa.... " Ucap Empu Gading seraya meninggalkan Jaya sendiri di halaman dan kembali masuk ke gubuk.

__ADS_1


Malam semakin larut namun Jaya belum juga beranjak, Dia seperti semakin asik menikmati indahnya Rembulan malam, Tanpa sadar Jaya pun tertidur di halaman beralaskan tikar pandan dan bantal dari rerumputan..


Di sebuah taman tersusun bunga bunga indah berbagai bentuk dan jenis dengan aroma semerbak yg menenangkan. Di tengah taman tersebut terdapat sebuah jalan yg membentang seolah membagi taman tersebut menjadi dua. Tampak seorang gadis sedang duduk di sebuah bangku yg cukup untuk berdua di tepi jalan tersebut, gadis tersebut duduk melamun seperti sedang menunggu kehadiran seseorang.


Tak lama berselang tampak seorang pemuda tampan sedang berjalan menyusuri jalan tersebut ke arah gadis itu duduk. Pemuda itu tak lain adalah Jaya, Dia sangat terkejut melihat ada seorang gadis duduk sendiri di tepi jalan apa lagi di malam hari. "Siapa kamu? Dan sedang apa di sini malam begini?" tegur Jaya dengan nada sopan dan ramah kepada gadis itu. "Namaku Anggraini... Aku sedang menunggumu Kakang Jaya." ucap gadis itu menjawab pertanyaan Jaya. Jaya sangat terkejut mendengar jawaban dari Gadis itu.


Dengan perasaan bingung Jaya coba mengendalikan diri," Mengapa kamu menungguku? Apakah kita saling kenal? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Jaya memberondong Gadis itu dengan pertanyaan. Namun Anggraini hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Duduklah dulu Kakang.. Tak Baik berbicara sambil berdiri." Ucap Anggraini sambil mempersilahkan Jaya duduk disampingnya dengan isyarat bahasa tubuh. Jaya yg seperti terhipnotis memandang kecantikan Anggraini hanya bisa patuh dengan bahasa isyarat Gadis itu dan duduk di sebelahnya.


"Bukankah Kakang pernah berpesan pada Bulan kalau Kakang sangat mengagumi Seseorang di sana? Bukankah Kakang ingin bertemu dengannya walau hanya sekali? Akulah orang itu Kakang." Tutur Anggraini dengan lemah lembut kepada Jaya dan senyum kebahagiaan. "Dinda.. Betulkah kamu sosok yg selama ini ku kagumi dan ku rindukan?" Tanya Jaya yg sudah mengganti panggilannya kepada Anggraini dengan senyum bahagia. Anggraini tersenyum dan mengangguk menjawab senyuman Jaya "Aku Juga sangat mengagumi dan merindukanmu Kakang" Ucap Anggraini yg sudah mulai berani menyandarkan kepalanya di pundak Jaya.


Selanjutnya tak ada lagi kecanggungan diantara mereka, Anggraini juga memberi tahu kepada Jaya kapan dan bagaimana cara agar mereka bisa bertemu karena mereka hidup di Alam yg berbeda. Mereka berbincang dan senda gurau di taman layaknya sepasang kekasih, Bahkan lebih jauh seperti sepasang Pengantin Baru.

__ADS_1


__ADS_2