Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
RAJA COBRA


__ADS_3

Hari sudah senja dan akan berganti malam, Suasana sekeliling masih dapat terlihat berkat sisa pancaran sinar matahari walau sudah tak nampak wujudnya. "Kieek... Kieekkk... Kieekk.." Langir mendarat di lembah Sumbing tepat di halaman rumah Raja Peramal. Langir segera merubah wujudnya menjadi manusia seperti biasa, segera dia masuk kedalam rumah Raja Peramal untuk mengambil obat yg di pesan Raja Peramal kepadanya.


"Ternyata banyak juga bahan yg akan di bawa, belum lagi tumbuhan yg harus di cabut dari kebun." Guman Langir sambil menggaruk kepalanya yg tak gatal. Langir keluar rumah namun belum mengambil satupun bahan obat, Langir mengeluarkan Batu Giok berwarna hijau berbentuk telur dari dalam bajunya. Sambil memegang Telur Giok Langir melompat ke udara, Dia melihat hamparan kebun herbal yg cukup luas di sekeliling rumah Raja Peramal, Sambil melayang di udara Langir memegang Telur Giok dengan kedua tangannya sambil membaca mantra. Setelah selesai membaca mantra, Perlahan Langir menjauhkan tangannya dari Telur Giok tersebut, Tampak Telur Giok mengambang dan mengeluarkan sinar kehijauan yg menyebar ke seluruh areal Kebun Herbal milik Raja Peramal. Semakin lama cahaya hijau tersebut semakin pekat hingga menghalangi pandangan mata, Tak lama berselang cahaya hijau tersebut menghilang di barengi Telur Giok yg berpindah ke tangan Langir.


Kini tampak lahan kosong yg membentang seluas kebun dan rumah Raja Peramal, lahan yg tadinya tempat berdirinya Rumah Raja Peramal dan Kebun Herbal kini sudah berubah menjadi Lahan kosong. Langir melihat Telur Giok yg ada di tangannya, Terlihat Jelas rumah dan kebun herbal milik Raja Peramal kini sudah ada di dalam Telur Giok tersebut. Langir kembali memasukkan Telur Giok Tersebut ke dalam bajunya, Kemudian di mengubah wujudnya menjadi Elang Raksasa dan bersiap untuk pulang.


Langir yg berwujud Elang Raksasa melompat ke udara lalu mengepakkan sayapnya untuk terbang ke arah pulang. "Kieek... Kieekkk... Kieekk..." Suara Elang tersebut terdengar sangat melengking di telinga, Walau hari sudah gelap namun tidak menghentikan laju terbang Langir yg sangat cepat. Dengan kemampuannya Langir bisa terbang di malam hari tanpa kendala, Dia tetap terbang dalam kecepatan tinggi namun sesekali memperhatikan keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Saat di tengah perjalanan tanpa sengaja Langir melihat sebuah benda putih besar dan sangat panjang sedang merayap di atas tanah. Sontak Langir meredam suaranya dan bermanuver tanpa mengepakkan sayap, Langir berputar di udara untuk memastikan apa yg dilihatnya di bawah. "Ternyata Raja Ular Cobra Putih". Gumannya dalam hati.


Langir berpikir keras tindakan apa yg harus di ambil, Jika dia berhasil mengalahkan Raja Cobra Putih akan banyak manfaat yg bisa di dapat. Namun jika mengingat kekuatan dan kesaktian Raja Cobra Putih Langir yakin tak yakin bisa mengalahkannya. "Ahh... Tak ada salahnya mencoba, Paling kalau tidak sanggup aku bisa menggunakan Jurus Langkah Kilat yg di ajarkan Tuan untuk melarikan diri". Ucapnya dalam hati membulatkan tekat untuk menyerang Raja Cobra Putih. Kemudian Langir mencari posisi yg tepat untuk mendarat di hadapan Raja Cobra.


Langir menemukan lapangan rumput yg sedikit luas di depan jalur jalan Raja Cobra, Dia berniat mencegat Raja Cobra di lapangan tersebut karena sangat cocok untuk dijadikan arena pertarungan baik wujud manusia maupun binatang. Langir mendarat tepat di hadapan Raja Cobra, Jarak keduanya terpaut sekitar dua puluh meter.


Kini sudah berhadapan dua binatang spiritual berukuran Raksasa, Raja Cobra Putih dengan badan sebesar batang pohon kelapa dan sangat panjang telah berada pada posisi siaga untuk menyerang mangsa, Tampak kepalanya mengembang yg menambah kesan seram pada binatang tersebut. Sementara di depannya terdapat seekor Elang putih setinggi bubungan rumah, Dengan melebarkan sedikit sayapnya dia bersiap menerkam mangsa dengan cakar dan parunya yg tajam.

__ADS_1


"Aku juga kesini karena perutku sedang lapar, Di dalam perutku juga sudah banyak ular sepertimu. Sekarang akan kita tentukan siap yg akan menjadi santapan malam". Ucap Langir yg juga merubah wujudnya menjadi manusia. Langir mengeluarkan Pedang Lentur sebagai senjatanya, Namun kali ini dia menggunakan hanya satu saja. Langir memperhatikan Raja Cobra dengan seksama dari ujung kepala sampai ujung kaki, Terdapat sebuah Permata berada di tengah dahinya. Langir menjadikan permata tersebut sebagai target, Karena Permata tersebut adalah sumber kekuatan dari Raja Cobra.


Tak lama berselang pertarungan pun terjadi di antara keduanya, Saling jual beli serangan dan jurus-jurus mematikan yg menjadi andalan masing-masing. Dataran rumput yg cukup luas membuat mereka leluasa mengeluarkan tehnik dan jurus yg mereka miliki untuk menyerang lawan. Berulang kali terdengar suara ledakan besar maupun kecil akibat beradunya tehnik dan jurus dari keduanya. Tak satupun penghuni hutan yg berani mendekati pertarungan tersebut, mereka takut terkena serangan nyasar dari pertarungan yg sangat mengerikan itu.


Tongkat Raja Cobra yg keras dan kuat berhadapan dengan Pedang Lentur yg dangat tajam, Berulang kali Langir berhasil menebas tubuh Raja Cobra dengan Pedangnya, Namun pedang Langir seolah tak mampu menggores sisik Raja Cobra yg sangat keras tersebut, Hingga Raja Cobra berhasil mendaratkan pukulan telapak di dada Langir dengan telak yg membuat tubuh langir terpental dan terseret di atas rumput.


"Kuat sekali Raja Cobra ini". Ucap Langir dalam hati sambil memegang dadanya dengan tangan kiri yg terasa sesak akibat pukulan telapak dari Raja Cobra. Sejenak Langir teringat dengan Jurus Kijang Kelana yg sering di gunakan Jaya untuk menguras tenaga musuh karena kelelahan menyerang. Walau tidak pernah mempelajari secara langsung, Secara garis besar Langir sudah memahami jurus tersebut karena sering melihat Jaya menggunakannya.

__ADS_1


Langir kembali berkelebat menyerang Raja Cobra, Kali ini dia mencoba menggunakan Jurus Kijang Kelana berdasarkan ingatan saat melihat Jaya menggunakannya. Semakin lama ingatannya semakin jelas karena dia memiliki ingatan Raja Peramal yg juga menguasai Jurus Kijang Kelana. Raja Cobra terus menyerang Langir dengan berbagai jurus, Namun serangannya selalu saja bisa di tepis oleh Langir atau menghantam ruang kosong. Hal itu menyebabkan emosi Raja Cobra memuncak, Alhasil serangannya menjadi tidak terkontrol. Hingga pada satu kesempatan Langir berhasil mendaratkan sebuah tendangan di dada Raja Cobra dengan telak, Walau tidak menggoreskan luka namun hal itu cukup membuat Raja Cobra terpental dan terseret di atas rumput.


"Liar sekali gerakan Elang itu, Aku seperti sedang menyerang seekor kijang yg sangat sulit di sergap". Ucap Raja Cobra dalam hati sambil memegang dadanya. Walau tidak menyebabkan luka dalam, Serangan telak Langir cukup terasa sakit di dada Raja Cobra. Sejurus kemudian Raja Cobra kembali menyerang Langir, Kali ini pertarungan semakin sengit. Raja Cobra yg sudah mulai mengetahui jurus yg digunakan Langir dan sering berburu Kijang untuk santapannya mengeluarkan jurus jurus menyergap yg membuat Langir sering terpojok. Namun Langir tidak kalah cerdik, Dengan kecepatannya bermanuver di udara, dia menggabungkan dengan Jurus Kijang kelana untuk bergerak di darat. Dengan begitu gerakan Langir di Udara dan di datar sama gesitnya.


__ADS_2