Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
REUNI PENDEKAR


__ADS_3

Berita tentang runtuhnya kepemimpinan Raja Indwi sebagai Raja di Kerajaan Angin sudah menyebar dengan cepat, Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa sebuah berita berjalan lebih cepat dari laju seekor kuda pacu. Berita itu juga telah sampai di Kerajaan Air dan Kerajaan Tanah.


Secara kebetulan, Raja Andla yg memimpin Kerajaan Tanah sekaligus Pendiri dan Guru besar Perguruan Bertuah berulangtahun yg ke seratus. Dia bermaksud merayakan ulangtahunnya yg ke seratus di Perguruan Bertuah sebagai Pendekar, Bukan sebagai Seorang Raja. Karena itu dia mengutus beberapa Muridnya untuk menyampaikan undangan kepada seluruh Pendekar Aliran Putih yg dia kenal dan di ketahui keberadaannya.


Raja Ater sebagai Pemimpin Kerajaan Air yg sudah mendengar berita tentang runtuhnya kerajaan Angin juga mendapatkan undangan dari raja Andla. Di ruangan Aula Kerajaan, Raja Ater memanggil Senopati Arif dan beberapa Petinggi Kerajaan untuk bermusyawarah. Dia menyadari di antara Kerajaan yg ada di kawasan Bukit Barisan ini, Kekuatan Pasukan Tempur Kerajaan Air lah yg paling lemah.


"Bagai mana Pendapat kalian tentang situasi saat ini?" Pertanyaan Raja Ater kepada para Petinggi Kerajaan memulai Musyawarah setelah semuanya berkumpul. Sejenak semua petinggi diam, mereka tampak berpikir sebelum mengutarakan pendapat. "Senopati Arif... Bagai mana pendapatmu?". Tanya Raja Ater kembali. "Ampun Paduka... Ini situasi yg sangat sulit, Kita sama - sama tahu kekuatan Kerajaan Angin berada di atas kita, Namun Kerajaan itu dapat di kalahkan tanpa Raja Kerajaan Api turun tangan. Saya juga telah menyebar seratus orang Telik Sandi terbaik kita, Namun tak seorang pun mendapatkan informasi keberadaan Raja Indwi saat ini". Senopati Arif menuturkan pengamatannya, Sebagai Pimpinan Pasukan Tempur dia memiliki kemampuan lebih untuk membaca situasi yg mengancam Kerajaan dan Rakyatnya.


"Saat ini bukan tidak mungkin sewaktu - waktu Pasukan Kerajaan Api juga akan menyerang kita. Jika itu terjadi dengan kekuatan kita saat ini, Saya tidak yakin kita dapat berbuat banyak melawan mereka. Karena itu saya mengusulkan kita bergabung dengan Kerajaan Tanah, Dengan begitu kekuatan kita akan bertambah tanpa harus merendahkan diri kepada orang lain. Kita semua tahu bahwa Kerajaan Tanah memiliki Kekuatan kedua terbesar di Bukit Barisan ini setelah Kerajaan Maha. Akhir pekan ini Raja Andla akan mengadakan Perayaan Ulangtahunnya yg ke seratus, Dan kita juga mendapatkan Undangan untuk acara tersebut. Momen ini bisa kita manfaatkan untuk membicarakan penggabungan kekuatan kedua Kerajaan". Senopati Arif menuturkan pendapatnya.

__ADS_1


"Apa ada pendapat yg lain?" Tanya Raja Ater kembali mempersilahkan yg lain berpendapat. "Ampun Paduka.. Jika Pasukan Tempur kita di gabung dengan Pasukan Kerajaan Tanah, Bagai mana dengan Para Warga? Apakah harus pindah ke Bukit Tanah? Jika harus pindah, Bagai mana dengan lahan pertanian yg sebentar lagi memasuki masa Panen Raya ?" Perdana Mentri Bakti menanyakan hal yg dia rasa penting. Wajar saja, Karena dalam satu Kerajaan bukan hanya Pasukan Tempur yg penting, Kesejahteraan warga juga sangat penting.


"Baik... Besok aku dan Senopati Arif akan pergi ke Bukit Tanah untuk menghadiri Perayaan Ulangtahun Raja Andla dan membicarakan Penggabungan Pasukan, Masalah warga dan Pertanian kia bahas setelah pulang dari sana, Aku juga akan meminta pendapat mereka tentang rakyat dan lahan pertanian yg akan panen. Sementara aku pergi, Perdana Mentri mengambil alih pemerintahan jika di perlukan pengambilan keputusan. Segera kirim kabar jika ada yg mendesak". Raja Ater menggambil keputusan musyawarah.


Keesokan harinya, Raja Ater dan Senopati Arif di temani seratus Prajurit pilihan berangkat menuju Bukit Tanah, Mereka berpenampilan seperti warga biasa, Yang membedakan hanya mereka membawa senjata.


Belum menyantap sarapan, Langir sudah mendarat di halaman gubuk dengan wujud Elang. Setelah merubah wujud menjadi manusia Langir berjalan ke pendopo. "Dari mana saja kau pagi - pagi sudah keluyuran?" Tanya Jaya kepada Langir yg baru tiba. "Dari Medan perang Kemarin Tuan". Ucap Langir. Serentak Jaya dan Empu Gading mengerutkan dahi mereka memandang Langir.


"Tadi malam entah kenapa perutku sangat lapar, Bahkan aku sudah menghabiskan semua hewan buruan Tuan kemarin, Namun Rasa lapar ku belum juga hilang. Akhirnya aku teringat dengan Pasukan Pendekar Aliran Hitam sewaktu bertempur kemarin, Aku memutuskan untuk kembali kesana, berharap jika memakan daging mereka rasa lapar ku bisa hilang. Namun sesampai di sana aku melihat puluhan kereta kuda dan petugas khusus memungut semua mayat - mayat lalu di masukkan ke dalam kereta untuk di bawa ke suatu tempat. Karena penasaran aku mengendap - endap naik ke atas tebing tempat kita mengawasi pertempuran kemarin. Aku dapat mencium bau siluman yg sangat pekat dari petugas yg mengumpulkan mayat tersebut, Aku curiga mereka membawa mayat - mayat tersebut untuk makanan para siluman yg di pelihara seseorang dalam jumlah banyak. Aku ingin mengikuti ke mana mereka pergi, Namun aku takut kesiangan sampai di sini. Yang aku lihat kereta yg membawa mayat itu pergi ke arah Barat arah Bukit Api". Langir menuturkan apa yg dia saksikan secara gamblang kepada Jaya dan Empu Gading.

__ADS_1


"Kalian tadi mengatakan Medan Perang, Siapa dengan siapa yg bertempur?" Tanya Empu Gading kepada Jaya dan Langir. "Kerajaan Angin dengan Kerajaan Api Kek, Tapi Kerajaan Angin di keroyok tiga oleh Pasukan Kerajaan Api, Kerajaan Maha Api, Dan Pasukan dari Pendekar Golongan Hitam". Kemudian Jaya menjelaskan detail kejadian sampai mereka berhasil menolong Raja Indwi terbebas dari kepungan.


Setelah selesai sarapan dan menjelaskan detail kejadian pertempuran kepada Empu Gading, Jaya mengemasi peralatan makan yg di pakai untuk sarapan. Kemudian mereka berkemas untuk melakukan perjalanan. Sejenak tampak Jaya terdiam, seperti memikirkan sesuatu. "Apa yg Tuan pikirkan? Mengapa Tuan melamun?" Tanya Langir kepada Jaya.


"Firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu di sana". Ucap Jaya kepada Langir. "Maksudmu?" Tanya Empu Gading mengenai Firasat Jaya. "Entah lah Kek, Tapi aku merasakan akan terjadi suatu pertarungan hidup mati di sana". Jawab Jaya yg memang di akui Gurunya memiliki Insting yg sangat tajam. "Kalau begitu persiapkan la segala sesuatu yg menurutmu penting dan akan kau butuhkan nanti". Perintah Empu Gading kepada Jaya.


"Langir... Mulai sekarang jangan memanggilku dengan sebutan Tuan, cukup panggil namaku saja. Aku akan memanggilmu dengan sebutan Paman, dan panggil Guru dengan sebutan Kakang". Perintah Jaya kepada Langir. Kemudian Jaya membuka bajunya di depan lemari pribadinya, Jaya mengambil satu persatu koleksi senjatanya yg dia buat dan kumpulkan selama ini dari dalam lemari, Setiap mengambil satu benda Jaya kemudian menempelkan ke badannya, Seketika benda yg di tempelkan itu pun menghilang. Langir dn Empu Gading terkesima melihat kemampuan Baju Kulit yg di dapat Jaya dari Kotak peninggalan Guru Empu Gading.


Empu Gading sendiri baru dua kali melihat kemampuan Baju Kulit tersebut, Namun yg pertama benda yg di masukkan Tidak sebanyak saat ini, Hanya Keris Tumbal Geni dan Kotak Wasiat saja. Setelah memasukkan semua senjata Jaya juga memasukkan beberapa Kantong kepingan Uang emas dan Perak, namun wana kantong uang tersebut berbeda beda. Setelah semua selesai mereka pun berangkat dengan Langir sebagai tunggangan dalam wujud Burung Elang Putih, Jaya dan Empu Gading naik di punggung Burung tersebut.

__ADS_1


__ADS_2