
Pagi hari ini adalah puncak melelahkan bagi para Petinggi Kerajaan Maha, Para Prajurit dan hampir seluruh yg berhubungan dengan Kerajaan Maha Api. Pasalnya hari ini adalah hari Penobatan Sang Raja yang baru, Dan mereka yg bertindak sebagai Tuan Rumah. Setelah tiga tahun lebih mereka bekerja keras siang malam untuk membangun Istana baru dan segala pernak pernik serta perlengkapannya, Dan hari ini adalah hari di mana hasil kerja mereka selama tiga tahun tersebut di Resmikan dan akan di pandang oleh seluruh Raja dan Petinggi Kerajaan yg ada Di Daerah Bukit Barisan.
Indahnya suasana pagi dengan kicauan burung burung dan aroma berbagai bunga yg bermekaran tidak lagi mereka hiraukan, Semua sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk Perhelatan Akbar selama sepekan kedepan. Berbagai jenis hidangan makanan, minuman dan cemilan semua di persiapkan di bagian dapur.
Seluruh ruangan Istana telah di hias dengan Indah dan Megah, Terutama di Aula Utama tempat berlangsungnya Acara Penobatan.
Areal untuk para tamu undangan juga telah di persiapkan, areal tersebut di bagi menjadi beberapa bagian.
Areal pertama untuk tamu kehormatan, Yang akan di isi oleh para Raja, Pangeran, Dan Petinggi Kerajaan yg hadir mendampingi.
Areal kedua untuk Para Bangsawan. Areal ketiga untuk para Pendekar, Dan Areal Keempat untuk masyarakat yg hadir menyaksikan Penobatan.
Terdapat juga panggung untuk pentas seni dan panggung untuk Tanding Tarung Persahabatan di areal Pendekar. Seluruh Jalan jalan di Kota Raja telah di hias dengan indah, Dari mulai Gerbang Kota Raja sampai ke depan Istana. Rencananya setelah acara Penobatan Sang Raja Baru yaitu Raja Bara akan di arak keliling Kota Raja.
Satu persatu tamu undangan telah tiba di halaman Istana, Petugas penerima tamu pun sibuk menyambut dan mengarahkan tamu ke areal sesuai dengan undangan yg mereka bawa. Para tamu Kehormatan langsung di bawa ke Aula Utama untuk menyaksikan Prosesi Penobatan Sang Raja Baru dan Peresmian Istana.
__ADS_1
Tampak ruangan Aula Utama sudah mulai ramai dengan para undangan, Ketua Perguruan Besar juga di ikut sertakan masuk ke Ruangan Aula Utama. Namun yg terlihat hanya Ketua Perguruan dari Aliran Hitam yg hadir. Sementara Perguruan Aliran Putih seakan Enggan menghadiri acara tersebut, Hal itu di sebabkan karena Gaya Kepemimpinan Raja Bara yg banyak menyengsarakan rakyat.
Tampak Juga hadir Raja dari Kerajaan Api yaitu Raja Aran yg terlihat akrab dengan beberapa Ketua Perguruan. Hadir juga Raja Indwi dari Kerajaan Angin , Raja Andla dari Kerajaan Tanah dan Raja Ater dari Kerajaan Air. Namun ketiga Raja tersebut seperti enggan bercengkrama dengan tamu yg lain. Tampaknya kehadiran Mereka hanya sekedar Formalitas hubungan ke Kerajaan saja.
Tak lama berselang Ki Rangkuti memasuki Ruangan Aula Utama, Kehadirannya langsung di sambut hormat oleh Raja Aran dan seluruh Ketua Perguruan. Tidak seperti Raja Aran dan para Ketua Perguruan, ketiga Raja yg lain memilih bersikap cuek dengan kehadiran Ki Rangkuti, Terutama Raja Andla yg memang Musuh Bebuyutan secara Pribadi dan Antar Perguruan dengan Ki Rangkuti. Selain sebagai Raja, Raja Andla juga sebagai Ketua dari salah satu Perguruan Di Kerajaan Tanah. Dan Perseteruan mereka sudah di mulai sejak masa muda.
Ki Rangkuti melihat dengan tatapan sinis kepada ketiga Raja tersebut, Terutama kepada Raja Andla saat berjalan menuju kursi Kehormatan yg memang di sediakan untuk dirinya. Tiga orang Resi sudah bersiap dengan segala pernak pernik Pemujaan untuk Penobatan. Tak lama berselang terdengar teriakan salah seorang Petugas Penjaga Pintu "Maha Raja Bara telah tiba... Hadirin di mohon berdiri...".
Seketika ruangan tersebut hening, Semua yg ada di ruangan berdiri di depan kursi mereka masing masing menantikan kehadiran Raja yg Akan di Nobatkan. Tak lama berselang Raja Bara memasuki ruangan dengan mengenakan pakaian yg sangat mewah namun belum mengenakan Mahkota. Raja Bara berjalan kearah Altar Penobatan yg sudah di sediakan, Setelah Raja Bara berhenti di depan Altar seluruh Hadirin kembali duduk di kursi masing masing.
Seorang Resi memercikkan air yg berada di dalam Cawan Emas dengan menggunakan beberapa helai daun yg di ikat menjadi satu ke arah kepala dan kedua pundak Raja Bara. Setelahnya Raja Bara berlutut dan tampak salah seorang Resi membawa Mahkota di atas Nampan Emas dari atas Altar, Seorang Resi Terakhir mengangkat Mahkota dari Nampan Emas, Setalah Melafazkan Mantra Resi tersebut mengenakan Mahkota yg dia pegang ke kepala Raja Bara.
" Hidup Raja Bara..."
"Hidup.."
__ADS_1
" Hidup Raja Bara..."
" Hidup..."
" Hidup Raja Bara..."
" Hidup..".
Setelah itu Raja Bara naik ke atas Altar, Dia mengambil Kendi yg berisi air berbagai sari bunga yg sudah tersedia lalu memecahkan kendi tersebut ke tiang di dekat Altar sebagai simbol Peresmian Istana Kerajaan Maha.
Setelah itu Raja Bara berjalan ke arah Ki Rangkuti, Dia Berlutut di hadapan Ki Rangkuti meminta Restu dari Sang Guru. Setelah selesai meminta Restu Raja Bara berjalan ke arah Singgasana dan duduk di atasnya. Setelah itu acara di isi oleh para Penari yg membawakan Tari Persembahan.
Setelah selesai seluruh Prosesi di Ruang Aula Utama, Raja Bara keluar dari ruangan tersebut menuju halaman Istana di ikuti seluruh Hadirin yg ada di ruangan tersebut. Rencananya Raja Bara akan berkeliling Kota Raja dengan Arak arakan dari halaman Istana. Setelah menaiki Kereta Kuda Khusus Kerajaan yg terbuka pada sisi atapnya, Rombongan itu pun berjalan pelan menyusuri jalanan Kota raja di ikuti Ki Rangkuti, Raja Aran, dan Ketua Perguruan yg hadir.
Setelah Rombongan Arak arakan tersebut meninggalkan halaman Istana, Raja Andla, Raja Indwi, dan Raja Ater pamit undur diri kepada Petinggi Kerajaan yg bertugas sebagai Penerima Tamu. Mereka seperti tidak tertarik mengikuti rombongan Arak arakan tersebut atau menikmati hidangan dan hiburan yg di sediakan.
__ADS_1
Beda halnya dengan Pendekar dari Aliran Netral dan para Bangsawan, mereka menikmati acara selayaknya Tamu Undangan. Tidak sedikit dari mereka betah berlama lama di acara itu sambil bercengkrama bersama kolega, Seperti memanfaatkan situasi tidak sedikit dari mereka berkenalan sesama Tamu Undangan untuk memperluas Relasi dan mempromosikan usaha mereka di sela sela pembicaraan sambil menikmati Jamuan. Mereka berharap Perhelatan Akbar tersebut dapat menunjang Usaha yg mereka jalankan.
Berbeda lagi dengan Para Pendekar dari Aliran Hitam. Di karenakan Raja Bara adalah murid dari orang nomor satu di Aliran Hitam, Mereka merasa bahwa pesta tersebut memang mereka. Semua Pendekar dari Golongan Hitam hadir dan tampak Antusias mengikuti acara tersebut, Mereka merasa ini adalah Puncak Kejayaan Aliran Hitam di sepanjang Masa.