
Jaya dan Langir masih duduk di atas batu yg berada di atas tebing, mereka melihat Prajurit Kerajaan Api lari kocar kacir ke arah lembah, di belakang tampak Pasukan Kerajaan Angin yg di pimpin Tejo dan Raja Indwi mengejar mereka seperti Macan mengejar mangsa. Prajurit Kerajaan Angin dengan bringas membantai setiap prajurit Kerajaan Api yg terjangkau oleh senjata mereka. Pasukan Kerajaan Angin baru berhenti mengejar ketika mereka mendapati Pasukan yg tadinya lari pontang panting kini telah berdiri tegak menghadang mereka.
"Mau lari kemana lagi kau Alsap?" tanya Tejo seraya memberhentikan laju kudanya. "Aku bukan mau lari... Aku hanya ingin menunjukkan kuburan untuk kalian semua". Ucap Alsap dengan nada sombongnya. "Pasukan.." Ucap Alsap kembali. Seketika dari balik pepohonan keluar ribuan pasukan berseragam Kerajaan Api dan Berseragam serba hitam yg langsung mengepung Pasukan Kerajaan Angin dari arah depan dan samping kiri.
Melihat keadaan tidak menguntungkan, Raja Indwi memerintahkan pasukannya mundur. Pasalnya musuh sudah mengepung dari arah depan dan samping kiri, sementara di samping kanan mereka ada tebing yg cukup tinggi, jika tetap di posisi ini Pasukan Kerajaan Angin akan sangat mudah terkepung, dan kondisi itu sangat merugikan mereka.
"Mau mundur ke mana kau Indwi?" Tanya suara dari belakang. Sontak Raja Indwi terperanjat dan menoleh ke arah sumber suara. Raja Indwi terperanjat melihat Pasukan Kerajaan Maha Api yg berjumlah sekitar dua ribu orang sudah mengepung mereka dari arah belakang.
"Ternyata Senopati Kerajaan Api tak lebih dari seorang anak kecil, Yang lari mencari perlindungan ketika dirinya kalah. Apa kau tadi mengadu pada mereka dengan menangis dan merengek seperti anak kecil?" Tejo mencoba memprovokasi dengan mencibir Alsap. "Persetan dengan omonganmu. Pasukan... Bantai mereka semua..". Perintah Alsap kepada pasukan yg telah mengepung Pasukan Kerajaan Angin. Pasukan yg ada langsung menyerang pasukan Kerajaan Angin yg sudah terkepung menggunakan Formasi Serigala Berburu .
__ADS_1
"Pasukan... Bentuk Formasi Bulan Separuh... Lindungi Raja.." Perintah Tejo yg baru di angkat Raja Indwi memimpin Pasukan Kerajaan Angin. Seketika Prajurit kerajaan Angin membentuk setengah lingkaran dan memposisikan Raja Indwi tepat di tengah bagian belakang, Sementara Tejo sudah turun dari kudanya berdiri di barisan paling depan. Tejo langsung mencabut pedang dari warang di punggungnya, Dia langsung menggunakan Pedang Kembar di kedua tangannya.
Saat ini Pasukan Kerajaan Angin sudah merubah posisi, Saat ini mereka membentuk Formasi setengah lingkaran membelakangi tebing dengan Raja Indwi di posisi paling tengah di bagian belakang, Sementara itu Tejo berada di tengah bagian depan, Dengan posisi saat ini Tejo harus menghadapi Pasukan Pendekar yg berada di tengah.
Dengan gesit Tejo mengeluarkan jurus jurus andalannya, memainkan kedua Pedang Kembar pemberian Raja Damar. Tak bisa di pungkiri, Gerakan Tejo dalam memainkan Pedang Kembarnya sangat gesit dan indah, Tak sedikit Pasukan Pendekar harus meregang nyawa oleh Tejo bahkan ada yg belum sempat melakukan perlawanan.
Melihat keadaan itu Bewok mengambil inisiatif untuk bertarung melawan Tejo, Hal itu bertujuan mengurangi korban dari pasukan Pendekar, Dan sisa Pasukan dapat membantu membantai Prajurit Kerajaan Angin yg semakin terdesak. " Lihat Serangan..." Ucap Bewok sambil berkelebat menyerang Tejo dengan Goloknya yg besar.
Bewok menebaskan goloknya dari arah atas yg di arahkan ke kepala Tejo, Dengan sigap Tejo menangkis serangan Bewok menggunakan pedang di tangan kiri dengan memposisikan di atas kepala, "Tring..." Golok Bewok beradu dengan pedang Tejo yg berada di tangan kiri, Tejo langsung memberi serangan balasan dengan menebaskan pedang di tangan kanan ke arah perut Bewok, Sontak Bewok melompat ke arah belakang untuk menghindari serangan tersebut, namun karena jarak mereka yg dekat akibat serangan pertama Bewok, Ujung pedang Tejo dapat menggores perut Bewok walau tidak dalam.
__ADS_1
"Lumayan juga kemampuan orang ini.. Pantas saja Alsap kewalahan menghadapinya". Bewok berguman dalam hati, Sejurus kemudian Tejo menyerang dengan mengayunkan pedang di tangan kiri yg di arahkan ke leher Bewok, Dengan sigap Bewok menangkis dengan goloknya yg besar, Namun baru saja pedang dan golok itu beradu Tejo sudah menyerang kembali dengan pedang di tangan kanan ke arah pinggang Bewok. Sontak Bewok harus memutar goloknya untuk menangkis serangan yg mengarah ke pinggangnya.
Bewok semakin kewalahan menghadapi Tejo dalam pertarungan satu lawan satu, Bewok di paksa hanya bisa bertahan dari gencarnya serangan yg di lancarkan Tejo, Bewok seakan menghadapi dua orang musuh sekaligus yg masing masing memiliki kemampuan setara dengannya. Sudah tak terhitung luka goresan di tubuh Bewok akibat terlambat menghindar dari serangan pedang Tejo, walau hanya goresan namun jika banyak akan sangat mempengaruhi stamina dan mental saat bertarung.
"Aaaaakkkk...." Tejo mendengar suara Raja Indwi kesakitan, Sontak Tejo memalingkan wajahnya ke arah sumber suara. Ternyata Raja Indwi sudah di keroyok oleh Alsap dan Pijar, Dan suara tadi akibat Alsap berhasil menusuk paha Raja Indwi dengan pedangnya hingga tembus. Bewok yg melihat lawannya lengah langsung menyerang dengan mengayunkan goloknya dari arah atas ke bawah, "Tebasan Pembakar" Teriak Bewok sambil menebaskan goloknya ke arah kepala Tejo. Menyadari adanya serangan berkekuatan besar ke arah kepalanya, Tejo langsung menyilangkan kedua pedangnya dan memposisikan di atas kepala untuk menahan serangan dari Bewok, Melihat kedua tangan Tejo terangkat untuk menahan serangannya, Bewok langsung melancarkan serangan susulan, "Telapak Api" Teriak Bewok seraya melancarkan serangan telapak menggunakan tangan kiri yg mengena tepat di dada Tejo yg terbuka.
Tejo terpental terseret dan baru berhenti tepat di depan Raja Indwi yg sedang mencabut pedang Alsap yg menembus pahanya. "Uhuk..uhuk...uhuk.." Tejo memuntahkan seteguk darah kental, Dadanya panas serasa terbakar, dan terdapat jejak telapak memerah seperti daging terbakar karena Tejo hanya memakai Zirah tipis layaknya Prajurit biasa. "Maafkan hamba paduka yg tak bisa melindungi paduka dengan baik". Ucap Tejo kepada Raja Indwi dengan rasa bersalah. "Ini bukan salahmu... Kau sudah melakukan yg terbaik, Kau juga Prajurit terbaik yg pernah ku miliki" Ucap Raja Indwi membantu Tejo berdiri setelah mencabut pedang yg tertancap di pahanya.
"Hahahaaha... Mengharukan sekali... Kami akan membunuh kalian bersama agar kalian bisa bernostalgia di alam baka". Ucap Alsap dengan sombongnya karena merasa kemenangan sudah di depan mata. "Bedebah..." Ucap Tejo bergetar dengan penuh amarah. Tejo merentangkan kedua tangannya ke atas, Tak lama berselang Pedang Kembar yg tadi terlepas saat Tejo terkena pukulan telapak oleh Bewok bergerak melayang ke tangan Tejo, Kedua Pedang Kembar tersebut seakan mengetahui di mana keberadaan tuannya.
__ADS_1