Pendekar Bukit Barisan

Pendekar Bukit Barisan
MENGUNGSI


__ADS_3

Petang datang bersama hembusan angin sepoi - sepoi, matahari masih menampakkan sinarnya walau tidak terik. Tampak iring - iringan kereta kuda dan warga berjalan berbaris meninggalkan Kota Raja dan Istana Kerajaan Angin. Tampak Tejo di barisan Paling depan memimpin perjalanan bersama seratus orang Prajurit berpakaian warga biasa. Seluruh Prajurit di susun pada posisi depan, tengah dan belakang untuk mengatasi hal - hal yg tidak di inginkan di tengah jalan.


Di suatu tempat, Tejo melihat tumpukan tanah gembur di pinggir jalan. Tejo memerintahkan beberapa orang untuk memasukkannya ke dalam goni dan membawanya pada kereta paling belakang. Walau tak tau apa tujuan membawa tanah tersebut, Namun Prajurit yg di perintah tetap menjalankan tugas dari Tejo. Mereka yakin Pemimpin mereka punya banyak cara untuk kebaikan bersama, Dan itu sudah mereka rasakan selama mengenal Tejo.


Sampai di persimpangan jalan, Yang mana satu jalur menuju Bukit Logam dan Bukit Maha namun harus melewati beberapa lembah, dan jalan itu jarang sekali di lewati warga, hanya segelintir orang yg mengetahui jalur tersebut. Satu jalur lagi menuju hutan yg sangat lebat, Kabar yg beredar hutan itu sangat angker.


Tejo berhenti sejenak di persimpangan, sejenak dia berfikir dan melihat sekeliling. Tejo memerintahkan beberapa orang untuk mengambil kayu, ranting dan akar pohon dari sekitar. Kemudian di bentuk menyerupai kereta dan di ikatkan pada salah satu kuda yg mereka bawa. Setelah rombongan berjalan di jalur menuju hutan, Tejo tetap berdiri di persimpangan bersama tiga ekor kuda yg salah satunya sudah di ikat dengan kayu yg menyerupai kereta. Prajurit paling belakang di suruh menaburkan tanah gembur yg mereka bawa tadi agar jejak mereka tidak terlihat. Setelah itu Tejo memecut ketiga kuda tersebut yg sudah di arahkan ke jalur lain. Dengan begitu jejak yg tertinggal adalah jejak kuda yg mengarah ke Bukit logam.

__ADS_1


Setelah selesai membuat pengalihan jejak, Tejo memasang kuda - kuda. Dalam satu tarikan nafas Tejo melompat lalu bersalto kedepan beberapa kali di udara lalu mendarat di sebuah ranting, dengan menjadikan ranting dan cabang pohon sebagai pijakan tejo mengulangi gerakan tersebut beberapa kali hingga dia mendarat di barisan rombongan.


Semua orang menatap kagum dengan apa yg di lakukan Tejo, karena hal itu sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka. Beberapa Prajurit senior termasuk Raja indwi sendiri bertanya - Tanya dalam hati, Apa sebenarnya Jabatan Tejo sewaktu mengabdi kepada Raja Damar? Kalau sekedar Prajurit, hal yg baru saja dia lakukan adalah kemampuan seorang Pimpinan Telik Sandi. Karena hanya bidang Telik Sandi yg melihat jejak begitu jeli. Bahkan Telik Sandi Kerajaan Angin tidak bisa menebak apa yg akan di lakukan Tejo.


Sewaktu hari mulai gelap, Rombongan telah sampai di pinggiran hutan. Tejo memutuskan untuk bermalam di situ, Para Pria mendirikan tenda untuk wanita dan anak - anak, sedangkan para wanita memasak untuk makan malam. Tejo membagi Pasukan menjadi tiga kelompok, dan tiap kelompok di beri tugas jaga secara bergantian.


Selesai membagi tugas kepada bawahannya, Tejo pergi menjauh untuk menyendiri, Tampak dia duduk di atas batang pohon tumbang, Di tangan kanannya terdapat sebatang ranting sepanjang lengan, Sejenak dia tampak berpikir, lalu menggaris tanah menggunakan ranting membentuk sebuah gambar, Hal itu dilakukan berulang - ulang sepertinya dia lagi memikirkan hal yg sangat penting.

__ADS_1


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Lastri kembali. "Oh.. Silahkan" Jawab Tejo yg masih canggung berada di dekat Lastri, Kemudian Lastri duduk di sisi kiri Tejo. "Minumlah ini Kang, mungkin bisa mengurangi lelah mu" Ucap Lastri sambil memberikan secangkir minuman kepada Tejo. "Terima kasih... Siapa yg membuat?" Tanya Tejo menerima cangkir pemberian dari Lastri. "Aku yg membuatnya Kang" Jawab Lastri singkat. "Enak.. Seger... Manis seperti yg buat" Ucap Tejo mengomentari minuman yg di berikan Lastri sambil melirik ke arahnya. Lastri tidak menjawab, dia hanya tertunduk dengan pipi yg mulai memerah, seumur hidup baru kali ini ada pemuda yg berani menggodanya. Biasanya hanya Sang Ayah dan Emban Istana saja yg berani menggodanya.


Sejenak Lastri memperhatikan coretan di atas tanah yg di buat Tejo, "Apa yg Kakang pikirkan dengan menggambar di tanah seperti ini?" Tanya Lastri mengalihkan pembicaraan. Sejenak Tejo menarik nafas dalam lalu membuangnya pelan "Sebuah Kegagalan... Kegagalan yg sangat mahal... Kegagalan yg harus di bayar dengan ribuan nyawa saudaraku dan Kerajaan yg kucintai. Raja Damar pernah mengatakan, Pengalaman adalah Guru Terbaik, Dan Kegagalan adalah Pengalaman Paing Berharga bagi orang bijak. Tapi saat ini sudah terlalu mahal bagiku" Tutur Tejo dengan suara parau mata yg mulai berkaca.


"Apa Kakang pernah mengalami kegagalan sebelumnya?" Tanya Lastri kembali. "Ya... Bahkan lebih buruk dari saat ini". Ucap Tejo, Sejenak dia terdiam, Pandangannya jauh menerawang seperti mengingat sesuatu. "Dulu sewaktu Kerajaan Maha di serang Kerajaan Api, Bertepatan dengan rencana pernikahanku dengan keponakan Raja Damar bernama Ningsih satu purnama ke depan. Berdasarkan hal itu, Raja Damar tidak mengijinkan aku ikut berperang. Beliau menugaskan aku untuk mengawal warga mengungsi ke tempat yg aman agar tidak terkena dampak pertempuran. Aku tidak mampu menolak Titah Raja, Walau dengan berat hati, Aku tetap melaksanakan tugas yg di berikan. Setelah perang usai, aku kembali tapi tidak menemukan apa pun kecuali lahan gersang yg luas. Semua hancur rata dengan tanah, Rumah, harta benda, dan semua orang yg aku cintai lenyap seperti di telan bumi. Bertahun aku mencari informasi tentang keberadaan keluarga Kerajaan dan Ningsih, Namun tak seorangpun yg mengetahui keberadaan mereka". Tejo menuturkan kejadian yang dia alami beberapa tahun silam, Tanpa dia sadari linangan air sudah mengalir dari sudut matanya.


"Aku turut berduka dengan apa yg menimpa mu, terutama untuk Ningsih". Ucap Lastri sambil menatap wajah Tejo dan memegang tangan kiri Tejo dengan kedua tangannya. Tejo menatap wajah Lastri, Dia mendapatkan ungkapan tulus di mata gadis itu. "Lalu bagai mana dengan Kerajaan ini?" Tanya Lastri kembali, Namun dia belum melepaskan pegangan tangannya dari tangan Tejo. "Ini adalah Kerajaan tempat aku lahir, Di depan sana tepat di tengah hutan ini ada sebuah perkampungan kecil. Di desa itu lah aku dilahirkan, Dan kita akan menuju kesana". Ucap Tejo menjelaskan tujuan perjalanan.

__ADS_1


"Ehem... " terdengar deheman suara Raja Indwi dari arah belakang, Sontak Lastri melepaskan genggaman tangannya dari tangan Tejo. Begitu juga dengan Tejo yg langsung menghapus air mata yg mengalir di pipinya. Tak lama berselang Raja Indwi tiba dengan mengenakan tongkat dari kayu. Ternyata Raja Indwi sudah dari tadi berada di belakang mereka, Raja Indwi sengaja tidak langsung menghampiri untuk menguping pembicaraan dua insan muda tersebut.


"Tejo... Apa kau mengenal dua pendekar yg menolong kita saat berperang?" Tanya Raja Indwi kepada Tejo. "Ampun Paduka... Hamba tidak mengenal kedua pendekar tersebut, Hamba juga baru pertama kali ini bertemu mereka". Ucap Tejo sambil menjura hormat. "Aneh sekali... Mereka seperti Dewa Penolong yg di kirim oleh Yang Maha Kuasa untuk menolong kita". Ucap Raja Indwi mengingat pertolongan yg di berikan Jaya dan Langir kepada dirinya dan Pasukannya.


__ADS_2