
Guru Andla, Jaya dan Langir berjalan mendekati sepasang kekasih yg sedang melepas rindu tersebut, Begitu juga dengan dua gadis yg tadi bersama Mayang, Meraka berjalan mendekati Guru mereka yg sedang memeluk seorang pria tua yg tidak mereka kenal.
"Salam Mbakyu... Saya Langir, Adik angkat Kakang Gading". Ucap Langir menyapa dan memperkenalkan diri kepada Mayang. Empu Gading dan Mayang melepaskan pelukan mereka masing - masing dan mendapati kelima orang yg ada di sekitar telah mendekati mereka, Tampak senyum bahagia di raut wajah kedua pasangan itu. Mayang tersenyum dan mengangguk kepada langir, "Terima kasih Langir". Ucap Mayang menyikapi sambutan Langir kepadanya.
"Salam Hormatku Bibi Guru, Aku Jaya murid Empu Gading". Ucap Jaya memperkenalkan diri. "Trima Kasih nak, Semoga namamu termasyhur di hari depan. Ucap Mayang menjawab salam hormat dari Jaya. "Salam Kakang Andla, Dan Selamat Ulang Tahun". Ucap Mayang kepada Guru Andla yg terlihat bahagia melihat kebersamaannya dengan kekasih hatinya. "Terima Kasih Dinda Mayang.. Aku turut bahagia dengan kebersamaan Kalian" Ucap Guru Andla sambil mengelus rambut adik paling manjanya itu.
"Kemari lah.. Beri salam kepada Uwak Guru kalian". Ucap Mayang kepada kedua muridnya. "Ini adalah Guru Andla, Guru Besar sekaligus Pendiri Perguruan Bertuah ini. Kalian bisa memanggilnya Uwak Guru, Karena dia saudara tertua kami. Dan ini Guru Gading, Dia Juga Uwak Guru kalian. Tapi kalian bisa memanggilnya dengan sebutan Guru, Karena dia Kekasih ku". Mayang memperkenalkan kedua saudara seperguruannya kepada kedua Muridnya.
__ADS_1
"Salam Hormat Uwak Guru, Salam Guru, Aku Gayatri Murid pertama Perguruan Bidadari". Ucap Gayatri menyapa Guru Andla dan Empu Gading, Kemudiaan dia Juga menyapa Langir dan Jaya. "Salam Hormat Uwak Guru, Salam Hormat Guru, Aku Ningsih Murid Kedua Perguruan Bidadari, Salam Paman, Salam Kakang". Ucap Ningsih menyapa keempat pria yg ada di situ.
"hahahaha.... Sudah.. Sudah.. Ngak usah sok mesra begitu". Terdengar suara dari arah Pos Penjaga. Serentak semua mata memandang ke arah sumber suara, Tampak seorang Pria mengenakan pakaian serba coklat terbang ke arah mereka. "Salam Kakang, Salam Pasangan Tua" Ucap Pria itu ketika sampai di hadapan Guru Andla dan yg lain. "Raja Peramal... Dasar perusak suasana". Mayang menggerutu melihat kehadiran abang seperguruannya tiba. "Ngak usah senang dulu adik cantikku... pertemuan kalian di Restui Alam karena untuk suatu pekerjaan besar yg akan Kalian Lakukan". Ucap Raja Peramal kepada mayang, Walau terkesan cuek namun Pria yg bernama Asli Sata Krana itu sangat sayang kepada saudari seperguruannya itu.
"Sudah.. Sudah.. Mari kita masuk, yg lain sudah menunggu di dalam". Ucap Guru Andla kepada semua yg berkumpul di halaman itu. Kemudian semua berjalan mengikuti Guru Andla dari belakang, Saat berjalan Mayang tetap berada di sisi Empu Gading sambil merangkul lengan kiri Empu Gading. Ketiga murid yg berjalan di belakang hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah kedua Guru mereka yg seperti remaja lagi kasmaran.
Memasuki ruangan acara utama, yaitu sebuah ruangan terbuka yg cukup luas. Ruang tersebut biasa di pakai untuk latihan bersama para murid perguruan, Tampak ratusan para tamu undangan yg telah hadir duduk di kursi yg tersusun rapi di sekeliling ruangan tersebut. Terdapat pula sebuah arena berbentuk persegi di tengah ruangan tersebut dan sebuah Gong besar di sampingnya. Guru Andla menempati kursi Khusus yg berada di tengah dengan posisi lebih tinggi sedikit, Rombongan yg mengikuti Guru Andla menempati kursi yg telah di sediakan.
__ADS_1
"Selamat datang para tamu undangan sekalian, Selamat Ulang Tahun kepada Kakang Andla yg keseratus. Perkenankan aku Dewa Penyair yg akan memandu jalannya acara Ulang Tahun ini." Ucapnya membuka Acara. "Baik kita masuki acara pertama yaitu Ucapan Selamat dari masing masing Ketua Perguruan dan Penyerahan Cendramata secara langsung kepada Kakanda Andla". Semua Ketua Perguruan yg hadir menyampaikan Ucapan Selamat secara langsung Kepada Guru Andla dan memberikan Cendramata secara bergantian dengan tertib. Setelahnya di lanjutkan dengan beberapa acara resmi lainnya, seperti kata sambutan dan lain sebagainya.
"Baik kita masuki acara selanjutnya, Ini adalah acara yg paling di nanti, Ini Juga merupakan Acara Tradisi sejak jaman dulu ketika para Pendekar dan Perguruan berkumpul di sebuah Acara Besar. Acara ini di namakan Tanding Saudara, Setiap Pendekar atau Perguruan boleh mengutus muridnya yg berusia dua puluh lima tahun ke bawah sebagai peserta. Peserta yg keluar arena akan di nyatakan kalah. Karena ini Tanding Saudara, Tidak di perkenankan membunuh lawan tanding atau menggunakan senjata yg beracun. Jangan pernah malu menyerah jika merasa lawan tanding memiliki kemampuan di atas kita, Jadikan itu sebagai pemacu latihan untuk meningkatkan kemampuan di hari depan. Kalian Paham?.." Dewa Penyair
Menuturkan aturan Tanding Saudara. Serentak semua yg merasa berusia dua puluh lima tahun kebawah menjawab dengan semangat. "Paham..". Ini adalah ajang dimana mereka bisa mengukur sejauh mana kemampuan mereka.
"Gong.." bunyi gong di pukul tanda acara Tanding Saudara di mulai, Satu persatu murid dari Pendekar maupun Perguruan naik ke atas arena untuk menguji kemampuan mereka. Ada yg terjatuh dari arena, Ada yg menyerah, Ada pula yg di nyatakan imbang. Sementara itu Jaya berjalan mendekati Dewa Penyair, "Salam Paman.. Aku Jaya, Murid dari Empu Gading". Ucap Jaya menyapa dan memperkenalkan diri kepada Dewa Penyair.
__ADS_1
Dewa Penyair menatap lekat Jaya dari Ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian dia mengelus dan merangkul Jaya seperti merangkul Keponakannya sendiri. "Aku tidak memiliki Murid, karena itu katakan sesuatu yg ingin kau dapatkan dari pamanmu ini nak". Ucap Dewa Penyair kepada Jaya. Kemudian Jaya membisikkan sesuatu kepada Dewa Penyair. "Hem... Baik, Berlututlah.." Ucap Dewa Penyair setelah mendengar bisikan Jaya, Kemudian Dewa Penyair menyentuh dahi Jaya dengan telapak tangan kanan. Seketika telapak tangan Dewa Penyair bercahaya lalu meredup kembali karena cahaya itu masuk kedalam dahi Jaya. "Pelajari itu dulu, Jika Kau sudah menguasainya nanti paman tambah lagi". Ucap Dewa Penyair yg telah menurunkan dasar Ilmu Syair kepada Jaya. "Terima Kasih Paman". Ucap Jaya kemudian kembali ke tempat duduknya semula.
Pertandingan terus berjalan, Semakin lama peserta yg di atas arena semakin kuat. Namun Jaya belum juga ambil bagian untuk naik ke atas arena.