
'Baiklah, untuk kali ini saja,' ucap Naga api.
Kedua naga itu pun mengaum dengan keras membuat orang-orang menutup telinga, jika tidak kuat mental mereka maka bisa pingsan.
Seluruh tempat itu menggema apa lagi jika sangat dekat dengan Feng Yun. Mereka semua menutup telinga dengan kuat dan menutup mata juga untuk menahan dengungan yang memekakkan itu.
Feng Yun menyelipkan satu keping perunggu di bawah mangkok bekas ia makan dan berlari ke arah pria yang hampir saja pingsan itu karena tidak kuat menahan suara Auman naga legendaris tersebut.
Feng Yun menarik tangan pria itu, meskipun dalam keadaan tak berdaya, ia berusaha lari mengikuti Feng Yun dan sampailah mereka di tempat yang cukup aman.
Feng Yun selain bisa menolong pria itu, ia juga bisa menghindar dari para pria yang ingin mengetes kekuatannya itu.
__ADS_1
Setelah menjauh, suara auman Naga itu pun berhenti.
Pria itu akhirnya sadar. "Eh, di mana aku?" tanya pria itu saat melihat sekelilingnya sudah berubah.
"Kamu cepatlah pergi dari sini dan jangan sampai mereka melihat mu lagi atau kau tidak akan bisa di selamatkan lagi," pesan Feng Yun.
"Iya, iya, aku aku pergi sekarang," ucap pria itu mengangguk gugup. Ia melihat ke kiri dan kanan dan ia pun berlari ke arah timur. Entah pergi ke mana. Yang pastinya ia melarikan diri dari Song Chu.
Feng Yun pun pergi dari tempat itu dan ia menuju tempat mencari pekerjaan.
Feng Yun menunggu antrian yang tidak begitu panjang, hanya saja antrian untuk pekerja kartu hijau yang berderet panjang, karena mereka yang punya kekuatan lumayan saja hanya bisa mencari aman agar mereka tidak terluka dan juga bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan mereka.
__ADS_1
Tapi di pekerjaan kartu merah sangat sepi, boleh di katakan hanya 2-3 orang saja yang mau mengambil misi pekerjaan berat tersebut, itu pun karena mendesak membutuhkan uang yang lebih karena sesuatu hal.
"Aku sangat penasaran apa misi dari pekerjaan kartu merah, seberapa berbahayanya pekerja itu sehingga tidak ada yang mengantri?" tanya Feng Yun melihat tempat pendaftaran misi kartu merah sedang kosong.
"Hm … itu Feng Yun," ucap salah satu pria yang melihat Feng Yun yang saat itu sedang melihat ke samping.
"Dia? Beneran mengambil tugas kartu kuning? Wah, apa dia pikir ia punya nyawa sembilan seperti nyawa kucing?" tanya mereka yang rasanya tidak ingin percaya saat melihat Feng Yun di antrian sebelah mereka.
"Hm … bagaimana jika kita tunggu saat dia pulang dari mengerjakan misi saja, saat itu ia pasti dalam keadaan lemah, saat itu kita bisa mengetes dia," saran temannya yang lain.
"Hm … aku tidak yakin bisa mengetes dia, karena belum tentu juga di selamat dari tugas kartu kuning," sahut pria itu.
__ADS_1
"Benar juga, jadi biarkan saja dia bersenang-senang karena ajalnya sudah dekat," jawab temannya.
'Cih, siapa juga yang ingin mati, jika aku hanya terus mencari aman, kapan akan berkembangnya,' batin Feng Yun melihat ke arah mereka manyun.