
Akhir mereka pun menjadi tenang kembali. Xier Ming mendekati Feng Yun.
"Ibu tidak tahu kau mempunyai kekuatan yang sangat besar seperti ini, maafkan ibu yang sudah ragu pada mu, ayolah ikut dengan Ibu untuk beristirahat," ajak Xier Ming.
"Baik Ibu," angguk Feng Yun.
Xier Ming berjalan terlebih dahulu, dan belakang orang berbisik-bisik.
"Mulai saja dia datang, kerajaan Ratu rasanya tidak baik-baik saja, ada saja masalah yang ia buat sehingga bisa mengundang Heng Jin datang, jangan-jangan dia adalah anak sial yang mendatangkan bencana," ucap pelayan itu berbicara dekat dengan menutup mulutnya agar tidak terdengar Feng Yun.
Feng Yun berhenti sejenak dan mendengar percakapan mereka, tapi yang ia lihat setangkai teratai hitam mekar di danau tidak jauh dari tempat ia berdiri.
"Selama ini kerajaan Ratu baik-baik saja, hari ini dia di sini langsung datang bencana, sekali pun ibunya seorang ratu, jika anaknya pembawa sial tetaplah pembawa sial," bisik yang lain.
__ADS_1
"Aku harap Ratu tidak memeliharanya, sebisa mungkin kita harus mengusirnya dari kerajaan ini, agar Ratu dan kerajaan baik-baik saja dan kita bisa hidup tenang," celetuk yang lain.
Feng Yun balik badan dan melihat ke arah mereka, hatinya sangat terenyuh. Ini bukan salahnya, memang Heng Jin yang datang untuk menyerang bertepatan saat ia datang. Bukannya mereka berterima kasih padanya karena sudah membantu mengusir pasukan Heng Jin, tapi perlakuan seperti ini yang ia dapatkan.
"Tidak perlu kalian mengusir ku, aku akan pergi akan pergi sendiri," jawab Feng Yun.
Mereka langsung lari ketakutan. Ingin rasanya Feng Yun menghabisi mereka karena berkata buruk, tapi mereka adalah orang-orang yang sudah menemani ibunya selama ini, orang-orang kepercayaan ibunya, bagaimana mungkin ia bisa menghabisi mereka.
"Feng Yun mendekatlah," ucap Xier Ming. Di samping kiri dan kanan ada para penasehat Ratu. Feng Yun pun datang mendekat.
"Seperti yang sudah kalian ketahui, ini adalah anakku Feng Yun. Maka dari itu, ia akan menetap di istanaku dan akan angkat ia menjadi …"
"Tidak Ibu, aku harus pergi." Feng Yun memotong pembicaraan ibunya.
__ADS_1
"Kenapa kau ingin pergi?" tanya Xier Ming mengerutkan alisnya.
Feng Yun berlutut di hadapan sang Ibu. "Aku tidak bisa berada di sini terlalu lama Ibu, biarkan aku menjadi pengembara saja. Aku sangat senang bisa bertemu dengan Ibu yang sekian tahun aku rindukan, tapi mungkin takdir kita untuk berpisah kembali. Tapi Ibu, aku pasti akan ke sini untuk menemui Ibu, aku tidak ingin bernaug di kerajaan ibu dan bersembunyi di sini, aku ingin menjadi kuat agar bisa melindungi orang-orang yang aku sayangi. Maka dari itu, biarkan aku berkelana Ibu," pinta Feng Yun.
Mendengar ucapan Feng Yun, Xier Ming merasa sedih, tapi bagaimana pun itu adalah permintaanya, ia sebagai ibu harusnya merestui keinginan sang putra untuk mencari jati dirinya.
"Tidakkah kau ingin berlama di sini anakku?" tanya Xier Ming dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sangat ingin, tapi ada sesuatu hal yang tidak bisa membuat ku tinggal, aku harap Ibu mengerti keinginan ku ini, terima kasih Ibu karena sudah menyediakan ruangan untukku tinggal. Aku pergi sekarang Ibu," ucap Feng Yun berpamitan.
Xier Ming mengengam erat tangan Feng Yun lalu meletakkan selembar kartu hitam di tangan Feng Yun.
"Feng Yun anakku, kartu ini akan bermanfaat untuk mu jika kau dalam bahaya, bawalah benda ini kemana pun kau berada," ucap Xier Ming mengengam tangan Feng Yun sebelum ia benar-benar pergi.
__ADS_1