
Keesokan harinya Pandu, Bagas dan Paman Balram pergi ke dalam hutan untuk melakukan perburuan sekaligus melatih Pandu dan Bagas tentang cara bertahan hidup di alam liar.
Saat ini mereka tengah berburu seekor rusa tanduk pedang yang tengah memakan buah yang berjatuhan dari pohonnya.
Paman Balram duduk di atas pohon sembari melihat bagaimana Pandu dan Bagas dapat memburu rusa tanduk pedang tersebut.
Pandu dan Bagas saat ini tengah bersembunyi di balik semak semak dan bersiap menyerang rusa tanduk pedang tersebut.
"Pan nanti kamu tembak(memanah) kaki rusa itu biar aku yang nyerang dari atas oke"
"Heh kenapa harus aku yang menembak aku kan juga mau menyerang rusa itu dari jarak dekat"
"Udah kamu ngalah dulu kek nanti kalau ada mangsa lagi kamu yang menyerangnya gimana"
"Hemp oke lah aku ngalah"
Setelah menyepakati bahwa Bagas lah yang akan menyerang rusa tanduk pedang dari jarak dekat dan Pandu sebagai pemanah.
"Kau siap" tanya Bagas yang langsung di jawab dengan anggukkan kepala.
Kemudian Bagas menghitung 1sampai 3 dan Pandu langsung melesat kan anak panahnya ke arah kaki belakang rusa tanduk pedang tersebut.
Khiky!!
Rusa tersebut langsung merintih kesakitan kemudian Bagas yang sudah bersiap menyerang langsung melompat keluar dari semak semak dan langsung mengayunkan pedang nya ke arah rusa tersebut.
Trang!!
Namun sayang serangan yang dilancarkan oleh Bagas berhasil ditahan oleh tanduk rusa tersebut dengan mudah.
Melihat serangan pedang nya tertangkis Bagas segera melompat kebelakang menghindari serangan dari rusa tanduk pedang yang akan menyeruduk nya.
Karena kakinya terluka akibat serang panah yang di lancarkan oleh Pandu tadi yang membuat pergerakannya melambat.
Rusa tersebut langsung mengayunkan tanduknya yang langsung memunculkan serangan bilah angin yang langsung mengarah ke Bagas. Bagas dengan sigap melompat kesamping.
Ketika rusa tanduk pedang tengah berfokus menyerang Bagas, Pandu yang masih bersembunyi langsung menembakan anak panah nya tepat kearah mata rusa tersebut yang mana panah tersebut langsung menembus kedua rongga mata yamg membuat rusa tanduk pedang mati seketika.
"Haha rasakan itu" ucap Pandu yang berhasil mengalahkan rusa tersebut.
"Hey Pan apa yang kamu lakukan kenapa kamu malah membunuh rusa nya kan itu jatahku" Bagas langsung mengomeli Pandu karena buruannya direbut oleh Pandu.
"Ye aku kan tadi nyelametin kamu bukannya bilang terimakasih tapi malah ngomel"
"Huh iya iya terimakasih, tapikan mau bagaimanapun itu tadi mangsaku kenapa kamu yang membunuhnya"
"Karena kamu lambat"
"APA ngajak gelud ya ha"
"Apa emang aku takut ayo gelud"
Mereka berdua pun berkelahi hingga
BANG!! BANG!!
Hingga kepala mereka dipukul oleh paman Balram hingga kepala mereka menyentuh tanah hingga retak.
"Kalian ini bukannya fokus berburu malah berantem" ucapnya.
"Ma maafkan kami" ucap Pandu dan Bagas menundukkan kepala dengan benjolan besar memohon maaf.
Setelah itu mereka langsung mengikat rusa tersebut dan menggantungnya secara terbalik dengan posisi kepala di bawah. Mereka melakukan itu berfungsi untuk mengurangi darah yang terdapat di tubuh rusa tersebut supaya daging rusa tidak mudah membusuk sekaligus mengurangi aroma amis dari daging rusa tersebut. Dan mereka juga tampak memberikan sedikit ramuan yang mana ramuan tersebut dioleskan si kulit rusa tersebut agar rusa tersebut tidak dimakan oleh binatang buas/monster yang ada di hutan ketika mereka mulai berburu kembali.
"Yos setelah kita mengoleskan ramuan pengusir binatang buas sekarang kita akan melanjutkan berburu lagi, dan Pandu yang akan menyerang dari jarak dekat dan kamu Bagas sebagai penembak, MENGERTI"
"Siap mengerti"
Akhirnya mereka pun berdua berdamai dan mulai melanjutkan perburuan mereka, namun perburuan kali ini Pandu dan Bagas tidak berkerja sama melainkan mereka berlomba lomba siapa yang paling banyak mendapatkan buruan.
"Hah entah sampai kapan mereka akan seperti ini" gumam paman Balram melihat kelakuan anaknya dan keponakannya yang tengah bertarung menentukan jumlah buruan yang mereka dapat.
*****
# Desa Phoenix
Sementara itu di rumah Tuan Guru dimana terdapat seorang pria paruhbaya dengan rambut dan janggut panjang berwarna putih yang menunjukan bahwa ia sudah tua tengah bermeditasi hingga tiba tiba sebuah tempurung kura kura yang di pajang di dinding terjatuh dan pecah yang membuat ia membuka matanya.
__ADS_1
"Perasaan apa ini, apakah akan terjadi pertanda buruk dengan desa ini" ucapnya melihat pecahan tempurung kura kura tersebut yang berupa susunan ramalan penyu langit yang mana pecahan tempurung kura kura tersebut memberikan pertanda buruk yang akan terjadi di desa tersebut
"Oh Master tampaknya orang orang dari Sekte Jurang Kegelapan telah menemukan keberadaan desa ini dan Permata Phoenix yang engkau tinggalkan" ucapnya menghadap kearah sebuah patung kecil berbentuk seorang pria yang merupakan Master dari tuan guru yang sudah pergi meninggalkan dunia tengah menuju dunia peri.
"Aku Seen Danru bersumpah atas nama Masterku dan darah ku aku akan melindungi desa ini meskipun nyawaku menjadi bayarannya" Tuan guru langsung bersumpah di hadapan patung Master nya dengan cara menggores tangannya dengan pisau dan meneteskan darahnya di atas patung tersebut.
Di waktu yang sama sekelompok orang berjubah hitam menuruni bukit dan ada yang menunggangi monster berbentuk harimau Panther, Kelabang, Kalajengking, dan moster kelelawar mandet. Mereka berjumlah puluhan namun aura yang di keluarkan dari tubuh mereka sangatlah kuat terutama pemimpin mereka yang duduk di atas kursi yang berada di punggung kalajengking miliknya.
"Tetua semua persiapan sudah siap"
"Bagus. Tak perlu menunggu lama perintahkan semua orang untuk menghancurkan desa kecil itu dan dapatkan apa yang kita cari" perintah tetua pemimpin pasukan tersebut untuk menyerang desa Phoenix.
"Baik laksanakan"
*****
#PANDU POV
Saat ini Pandu, Bagas & paman Balram tengah bersantai di tepi sungai untuk beristirahat sambil membakar ikan yang mereka tangkap.
Mereka juga sesekali bercanda sembari menunggu ikan bakarnya matang.
"Pan ayo kita tanding siapa yang paling lama bertahan nafas dia yang menang dan yang menang jatah ikan bakarnya dapat 2 gimana" ucap Bagas memberikan tantangan terhadap Pandu.
"Oke siapa takut, demi makan akan kulakukan -eh salah. Demi menang akan kulakukan" Pandu menerima tantangan dari Bagas.
Kemudian mereka berdua melepaskan baju mereka sebelum menyeburkan diri mereka kedalam sungai.
BYUSR!!
"1...2...3..." Dalam hitungan 3 mereka langsung menyelam sembari menahan nafas lama.
Sementara itu Balram yang melihat kelakuan mereka berdua hanya geleng geleng kepala.
"Hais mereka berdua ini di otaknya hanya tanding dan menang saja" gerutu nya sembari membalik ikan supaya tidak hangus.
Sedangkan Pandu dan Bagas yang saat ini tengah bertanding menahan nafas di dalam air tidak menyadari bahwa bahaya tengah mengancam mereka, dari hulu sungai tersebut terlihat bayangan besar yang berenang dengan cepat mengikuti arus sungai tengah mendekati Pandu dan Bagas.
Di sisi lain Pandu yang saat ini tengah menahan nafasnya di dalam air merasakan sesuatu kehadiran yang mengancam nyawanya dari arah balik aliran sungai.
"Fuah hah hah... gawat aku harus segera nai-" ketika Pandu ingin naik ke darat tiba tiba ada tangan yang menarik celananya.
"Hehehe lihat aku yang menang bukan, sudah kubilang urusan menahan nafas di dalam air akulah jagonya" ucap Bagas yang merasa senang karena ia menang dari Pandu tanpa mengetahui bahwa ada bahaya yang tengah mengancam mereka.
"Gobl*k cepat lepasin tangan mu dan cepat naik" ucap Pandu dengan panik kemudian ia langsung naik ke darat tak lupa ia langsung menarik Bagas dari dalam air.
Dan disaat detik detik Bagas akan menginjakkan kakinya ke tanah seekor buaya dengan punggung duri berbatu melompat dari dalam air dalam keadaan mulut terbuka dan berniat menggigit kaki Bagas namun untungnya Pandu dengan sigap menarik Bagas supaya ia tidak tergigit oleh buaya tersebut.
Busrt!!
"Wa-waah.. Tadi itu menegangkan banget, terimakasih Pan kalau bukan kau huw kakiku sudah pasti telah dimakan buaya itu" Bagas mengucapkan terimakasih terhadap Pandu karena telah menyelamatkan nyawanya.
"Sudah jangan pikirkan itu ayo kita segera menjauh dari sungai dan menemui paman"
"Ya ayo kita laporkan tentang buaya bat- oh.." ucap Bagas terhenti ketika tiba tiba saja buaya batu melompat keluar dari dalam air tepat di hadapan mereka berdua, sementara mereka berdua dibuat terkejut sampai sampai mata mereka akan keluar.
"Wanjirt lari Bas..."
"Waa... aku belum ma-u mati..."
Pandu dan Bagas dengan cepat menghindar dan langsung berlari menuju ketempat paman Balram namun tiba tiba saja dari arah belakang ada serangan berupa sisik batu tajam yang melesat ke arah mereka yang di tembakan oleh buaya batu tersebut.
Dengan cepat Pandu langsung menggunakan sihir nya untuk menghalau serangan tersebut.
Boom!!
"Gas cepat pergi biar aku yang menahan buaya nya.." ucap Pandu yang sudah bersiap menyerang buaya tersebut.
"Tapi-.."
"Sudah cepat" bentak Pandu. Melihat temannya tersebut Bagas langsung bergegas menemui ayahnya dan membantu Pandu.
"Nah sekarang hanya ada kau dan aku jadi jangan lama lama ayo kita bertarung"
Pandu langsung berlari menuju buaya batu tersebut, namun dalam beberapa langkah ekor buaya batu langsung dikibaskan kearah Pandu. Melihat ekor tersebut yang dengan cepat mendekatinya Pandu hanya dapat menangkis serangan tersebut dengan tangannya.
Karena perbedaan kekuatan dan berat alhasil pandu terlempar ke samping hingga menabrak pohon. Dengan tubuh yang kecil itu Pandu tampak tidak mengalami luka sedikitpun di tubuhnya berkat latihan yang ia jalani selama ini.
__ADS_1
"Puih... Sialan aku terlalu lengah, kalau begitu sekarang giliran ku yang menyerang"
"Rasakan ini Tombak Cahaya..." kemudian Pandu menciptakan 3 tombak cahaya sekaligus dan langsung menembakkannya kearah buaya tersebut tepat di kepala, badan dan ekornya.
"Raaawr.." buaya tersebut langsung merintih kesakitan dan ia pun mati.
"Hah hah sial sihir cahaya tadi terlalu menguras energi ku" ucap Pandu dengan nada lemas.
Kemudian Balram dan Bagas pun muncul dan mereka langsung terkejut ketika melihat buaya batu tersebut telah mati dengan 3 lubang di kepala, punggung dan ekor.
"Ap-ppa apa an ini.."
*****
Beberapa saat setelah Pandu berhasil membunuh buaya batu tadi dan dia juga mendapatkan omelan dari Balram atas tindakannya yang berbahaya tersebut.
"... Ingat ini, mulai sekarang kamu tidak boleh menggunakan kekuatan tingkat tinggi yang dapat menguras energi di dalam tubuhmu. Dan satu lagi jangan pernah kamu menghadapi bahaya seperti tadi seorang diri, kamu itu masih kecil ya aku tau bahwa kamu itu anak yang berbakat di desa tapi tindakan yang kamu lakukan hari ini sangatlah sembrono..." Balram memberikan nasehat kepada Pandu untuk tidak lagi menghadapi bahaya seorang diri apalagi ia masih berusia 7 tahun.
"..Hah sudahlah mari kita pulang hari sudah mulai gelap" lanjutnya yang langsung mengajak mereka kembali ke desa karena hari sudah mulai gelap.
Setelah itu mereka kembali ke desa dengan membawa hasil buruan mereka yang jumlahnya sangat banyak.
Namun ketika mereka berada di beberapa ratus kilometer dari desa mereka melihat cahaya merah menyala dari arah desa dan sesekali mereka mendengar suara ledakan dari desa.
BOOM!!
BOOM!!
"Suara ledakan apa itu.. Kalian berdua tetap disini paman akan mengecek keadaan desa sebentar" ucap Balram yang dengan cepatnya ia berlari menuju desa.
Sementara Pandu dan Bagas langsung saling menatap dan menganggukkan kepala sebelum mereka berlari menyusul Balram dengan meninggalkan semua hasil buruan mereka.
Beberapa saat kemudia mereka sampai dan mendapati desa mereka telah hancur pora poranda dan semua warga juga ada yang mati dari yang tua hingga anak anak sekalipun. Kemudia mereka melihat sekumpulan orang berjubah hitam tengah menodongkan pedang nya kearah Tuan Guru yang telah terluka parah bahkan ia juga telah kehilangan kedua kaki nya dan satu tangan kiri.
"Hahaha lihat betapa lemahnya dirimu Mandra, setelah 70 tahun yang lalu kau menghilang dan menetap di desa kecil ini tak kusangka kultivasi mu tidak melonjak sedikitpun..."
"...Hah tak perlu lama lama cepat serahkan Permata Phoenix Api kepadaku sekarang"
"Hehehe jangan mimpi meskipun aku harus kehilangan nyawaku aku tetap tidak akan menyerahkan Permata Phoenix Api itu kepada mu cuih" ucap Tetua Guru yang mana ia langsung meludahi kaki pemimpin jubah hitam tersebut.
Melihat kaki nya di ludahi pemimpin jubah hitam tersebut marah dan langsung mengangkat pedang nya.
"Buajing-an berani beraninya mahkluk kotor seperti mu" pemimpin jubah hitam langung menusukan pedang-nya ke jantung Tuan Guru.
JlEP!!
"Ughk.. Guru maafkan aku" itu adalah kata kata terakhir nya sebelum tubuh tuan Guru mulai memancarkan cahaya merah terang dan meledak.
Di saat bersamaan pemimpin jubah hitam tersebut langsung berusaha kabur ketika melihat tubuh Tuan Guru memancarkan cahaya merah.
"Sialan..."
BOOM!!
Ledakan Qi api tercipta ketika tubuh Tuan Guru meledak dan langsung memusnahkan semua orang jubah hitam kecuali mayat warga desa tersebut semunya mati hangus terbakar oleh api tersebut.
Pandu Bagas dan Balram yang menyaksikan kejadian tersebut dari luar desa terkejut bukan main ketika melihat Tuan Guru meledakkan dirinya sendiri. Mereka sebenarnya berusaha untuk membantu namun terhalang oleh sebuah dinding tak kasatmata yang mengelilingi desa.
"KAKEK GURU..." teriak Pandu dengan kencang dari luar ketika melihat salah satu orang yang iya sayang meninggal.
Sementara itu setelah ledakan Qi api milik Tuan Guru tampaknya sang pemimpin jubah hitam tadi berhasil selamat namun ia harus merelakan tangan kanannya hilang akibat ledakan tadi dan wajahnya tampak buruk rupa akibat terbakar. Ia selamat berkat bantuan sebuah Artefak perlindungan yang melindungi dirinya dari ledakan tadi.
"Sialan ternyata dia lebih memilih meledakkan dirinya... Apa ini" pemimpin tersebut berjalan sempoyongan menuju tempat Tuan Guru meledakan dirinya dan ia mendapati sebuah permata indah dengan warna api merah menyala.
"Hahaha ternyata ini hari keberuntungan ku" pemimpin jubah hitam tersebut berusaha mengambil permata tersebut namun tiba tiba sebuah anak panah melesat tepat kearah telapak tangannya.
"Argk baj!ngan mana yang melakukannya" teriaknya.
Kemudian muncul seorang anak berusia 7 tahun yang tak lain adalah Pandu yang memanah pria tersebut.
"Tak akan aku biarkan kamu menyentuh permata kakek guru"
_______________________________________________
[Kisah Selanjutnya Bersambung di Episode yang akan datang]
TERIMAKASIH
__ADS_1