
"Eh kalian, ngapain kalian disini" tanya Serlina.
"Gak ada apa apa cuman sekarang sudah waktunya Pandu masuk arena" ucap Alvin.
"Tapi Pandu masih tidur" ucap Serlina.
"Ah bakal lama nunggu dia bangun, mending kita bawa aja nih anak" usul Bouli.
"Ya gua setuju, soalnya kalau dia udah tidur udah kaya beruang hibernasi lama" saat Rehan.
Alhasil Pandu pun diangkat oleh Bouli, Rehan dan Alvin menuju arena.
"Zzz..."
"Eh apa ini..." Serlina menemukan sebuah brosur diskonan dari saku Pandu yang terjatuh.
...
Sementara itu di arena tampak sang wasit terus menerus mengecek jam tangan nya untuk melihat batas waktu eliminasi peserta.
"Sudah 10 menit peserta Pandu belum muncul juga maka ia akan dinyatakan tereliminasi..." ucap wasit.
"Tunggu"
Kemudian Bouli, Rehan, Alvin datang menuju ke arena dengan membawa Pandu yang masih tertidur pulas.
"Wah ternyata peserta terakhir kita tengah tertidur pantas lama" ucap wasit.
"Pak langsung mulai saja" ujar Alvin setelah mereka melempar Pandu keatas arena.
"Tapi dia masih tidur"
"Udah pak jangan dipikir langsung mulai saja nanti juga bangun ni anak" ujar Rehan.
"Oh oke.... Baiklah pertandingan babak kedua akan kita mulai sekarang" wasit pun mau tak mau langsung memulai pertandingan tersebut.
Wendi yang melihat Pandu masih tertidur membuatnya kesal seolah olah ia tengah dipermainkan oleh murid akademi lion king.
"Baj*ngan berani kalian menyuruh tukang tidur ini menjadi lawanku, akan aku singkirkan dia secepatnya" Wendi langsung mengeluarkan pedang miliknya dan ia langsung berlari menyerang Pandu.
"Rasakan ini" mengarahkan serangannya ke tubuh Pandu.
"Zzz..."
Namun disaat ujung pedangnya akan mengenai tubuh Pandu sebuah api menyambarnya hingga membuat ia mundur karena serangan dadakan tersebut.
"Aghk... apa apaan itu tadi" ucapnya keheranan dengan asal api tadi.
Kemudian Pandu mulai sadar dari tidurnya.
"Hoam mm... ada apa sih ribut ribut disini, eh kok banyak orang ah.. apa aku sudah di surga ya" ucap Pandu yang masih agak linglung.
"Surga mata mu, kau sekarang sedang di arena bego" ujar teman teman Pandu.
"Oh seperti itu"
"Kakak semangat" ucap seorang gadis kecil yang tak lain adalah Lily dari bangku penonton ditemani para penjaga kepercayaan orang tua.
__ADS_1
"Lily! ya kakak pasti menang" Pandu langsung bersemangat karena dukungan adik manis kesayangannya.
Kemudian Pandu bangkit.
"Baiklah, pertandingan baru saja dimulai... Terima ini" ucap Pandu, ia langsung mengeluarkan pedang api dan langsung menghunuskan ke arah Wendi.
Wendi yang melihat serangan pedang api itu langsung menebas dengan teknik pedangnya.
"Hmp kufikir kau itu hebat tapi ternyata lemah" ucap Wendi yang langsung balik menyerang Pandu secara bertubi tubi.
TRANG!!
TRING!!
"Gerakan berpedang mu sangat bagus tapi kau masih kurang pengalaman dalam bertarung kau masih banyak meninggalkan celah" ucap Pandu, kemudian ia langsung menendang kaki kiri Wendi yang membuat keseimbangannya goyah dan pandu langsung menendang nya kebelakang.
"Akh... sial kau bermain curang" ucap Wendi.
"Ck ck ck.. dalam pertarungan ada dua hal yang harus kau ketahui yaitu kekuatan atau kepintaran untuk menang. Jika kau tidak dapat mengambil kesempatan dalam celah sekecil apa pun dari lawanmu maka kau akan kalah"
"Oh benarkah kalau begitu akan aku keluarkan karu As-ku dan ku yakin kau tak akan mampu" ucap Wendi penuh percaya diri.
"Oh benarkah, ap-" ucap Pandu terhenti ketika ada sesuatu jatuh menempel di wajahnya.
"Haha itu kartu As-ku, aku tau kau takut dengan tikus makanya aku sudah menyiapkan tikus khusus untukmu" ucap Wendi senang.
Tapi hal itu tidak berlaku untuk Rehan, Yuha dan teman teman yang mengenal Pandu termasuk Rika yang tahu kalau jika Pandu bertemu dengan tikus dia pasti akan kehilangan kendali dan mengamuk.
"Gah apa yang dia lakukan, semua cepat rapal sihir petahanan"
Tampak semua siswa dari akademi Lion King tengah panik hingga memasang sihir pertahanan. Bahkan Rika dari akademi Skybird meminta teman temannya dan wasit untuk mengaktifkan sihir pertahanan. Hal itu juga dilakukan oleh akademi lain meski mereka tidak tau apa yang akan terjadi.
...
Kembali ke Arena
Setelah Wendi melempar tikus kearah Pandu dapat dilihat dari mata Pandu yang kini mulai berubah menjadi mata merah tajam.
"Tikus... Tikus... Tikus..." Tubuh Pandu langsung diselimuti Api merah membara yang amat panas hingga membumbung tinggi kelangit.
"Tikus... Bunuh Tikus itu" Pandu sudah memasuki mode Berserker dimana ia akan terus mengamuk dan menyerang hingga target (tikus) itu mati.
Setelah tubuhnya tertutup dengan api, api tersebut langsung berubah menjadi arrmor api dan Pandu langsung mengeluarkan sebuah pedang besar dua ujung yang amat tajam.
Semua orang langsung dibuat terkejut dengan penampilan Pandu saat ini yang lebih mirip seperti sesosok kesatria pembunuh dari medan perang.
Para juri yang melihat kejadian tersebut langsung menarik wendi keluar arena dan langsung mengaktifkan Barrel.
Setelah itu Pandu langsung mengayunkan pedangnya kearah tikus tadi.
"Mati... Mati... Mati..." Pandu menyerang secara bertubi tubi namun anehnya tikus itu berhasil lolos dari serangan Pandu.
Melihat tikus tadi berhasil lolos dari serangannya Pandu langsung berlari mengejar dan terus menyerang tikus tersebut sekuat tenaga.
"Tikus jenis apa itu kenapa gerakannya sangat cepat" tanya Yuha.
"Bukannya itu 'TIKUS CEPAT' ya" jawab Ceriy.
__ADS_1
"Apa tikus cepat, pantas saja sangat gesit gerakannya. Tapi kalau seperti ini terus bisa gawat, kita harus menghentikan Pandu secepatnya"
"Tapi bagaimana caranya"
....
Pandu yang masih dalam mode berserker makin dibuat marah karena semua serangan yang ia lancarkan tak satupun mengenai tikus tersebut. Kemudian ia mengubah mode api miliknya menjadi mode air dan arrmor dan senjata yang ia gunakan kini adalah pedang kembar dengan corak biru yang khas.
"Mati kau tikus brengsek..." Pandu terus melancarkan serangan serangan mematikan kearah tikus tersebut tapi tetap saja dapat dihindari.
Apalagi tikus itu terkadang bersembunyi dibalik puing puing arena yang hancur.
Karena mau bagaimana pun selama tikus itu masih hidup Pandu tidak akan bisa tenang sebelum dia membunuh tikus tersebut atau ada sesuatu hal yang dapat mengalihkan/menarik perhatiannya dari membunuh tikus tersebut.
Karena Pandu sudah terlalu menggila alhasil para guru langsung turun tangan untuk menenangkan Pandu.
"Nak Pandu tenangkan dirimu" ucap Felix.
"Apa yang kau lakukan dia tengah dalam mode berserker tidak akan terpengaruh akan ucapanmu, mending langsung serang saja dia buat dia tak sadarkan diri" ucap dekan Johan.
"Memang betul tapi apa kau tidak merasa malu menyakiti seorang junior" ucap Tarom dekan akademi Angry Bull.
"Sudah sudah lebih baik kita langsung menangani anak itu sebelum makin gawat nantinya" ucap Dekan Hana.
Kemudian para guru itu mencoba mendekati Pandu namun tanpa peringatan Pandu langsung menyerang mereka.
"Gyaa..."
"Agkh... apa apaan kekuatan anak ini"
"Ini... serangan tadi sudah setara seperti hunter A-Rang"
"Ini semakin menarik, nak ayo lawan aku" ucap Johan yang langsung maju menyerang Pandu dengan pukulannya.
Namun serangan yang ia lancarkan berhasil di tahan Pandu dengan dinding air, kemudian Pandu memberikan hantaman keras ke arah perut dekan Johan hingga terpental menghancurkan barrel arena dan menabrak dinding koloseum hingga retak dan ia langsung tak sadarkan diri.
"Apa apaan ini... Johan yang dikenal sebagai pria terkuat kedua dari semua akademi dapat dikalahkan dalam satu serangan"
"Felix monster apa yang kau besarkan ini" ujar dekan Hana.
"Mana aku tau, dia masuk akademi karena rekomendasi kakak ku" ucap Felix yang makin dibuat panik dengan keadaan nya saat ini.
"Semua yang menghalangi jalanku harus mati..." ucap Pandu yang masih dalam mode berserker.
Kemudian disaat Pandu ingin menyerang para guru sebuah rantai pengikat yang hampir sama dengan rantai pengikat miliknya muncul menghentikan pergerakannya.
"Sudah cukup anak muda, kau sudah dibutakan akan kemarahanmu biar aku tenangkan dirimu.." ucap Si Master.
"Kau fikir dengan rantai mainan ini dapat menghalangiku" Pandu langsung menghancurkan rantai pengikat tersebut dengan sekali gerak.
"Apa bagaimana mungkin rantai pengikat ku dapat kau hancurkan"
"Kau hanya kultivator rana Master berani sombong dengan trik kecil seperti itu, rasakan ini. Mini Mountain of Destruction..."
Kemudian sebuah gunung berukuran sedang muncul dari langit dan perlahan turun.
"Gleg... Jenis teknik apa yang kau gunakan ini, apa kau berniat membunuh semua orang anak muda"
__ADS_1
"Berisik kau kakek tua..." ucapnya dengan tatapan kesal.
"Kakak hentikan..."