
# Pagi Hari
Saat ini suasana di pagi hari sudah mulai ramai, banyak orang orang yang melakukan aktifitas seperti olah raga, berlari mengejar bis, dan para pedagang yang berjualan.
Saat ini Yuha dan Rehan tengah berjalan menuju rumah Pandu.
Sesampainya di sana mereka langsung di perlihatkan dengan banyaknya tanaman bunga yang berjejer rapi di setiap sudut gang dan tampak di salah satu sudut dinding tergambar sebuah lukisan Pandu, Yuha dan Rehan yang tengah memegang alat musik.
"Waah... Apa apaan dengan tempat ini, sebelumnya kan banyak sampah kok sekarang jadi mirip taman gini?" ucap Yuha terkejut.
"Ya padahal waktu itu masih banyak sampah tapi sekarang sudah tampak indah, lihat bahkan dia juga bisa melukis wajah kita di dinding... cantik banget"
"Ya kau benar, kalau begitu kita temui Pandu dulu"
Kemudian mereka berjalan menuju rumah Pandu, namun disaat mereka mendekat mereka mencium aroma gosong/kebakar.
"Huf huf .. Yuh lo nyium bau gisong gak sih" tanya Rehan.
"Iya gua juga nyium bau gosong gosong gitu, tapi apa ya" tanya nya, kemudian ia memandang ke arah atas rumah Pandu yang ternyata sumber aroma gosong tersebut berasal dari rumah pandu yang terbakar.
"Han lihat atap rumah Pandu kebakar" ucap Yuha menunjuk kearah atap rumah yang berlubang akibat terbakar.
"Weh, ayo kita selamatkan Pandu" Rehan langsung berusaha mendobrak pintu rumah pandu yang terbuat dari papan kayu tipis, namun aneh nya ia tidak dapat mendobrak pintu tersebut.
"Aduh... kok pintunya keras banget kaya pintu baja aja" ucapnya yang merasa kesakitan ketika mencoba mendobrak pintu rumah Pandu.
Ya wajar saja soalnya seluruh rumah pandu telah di lengkapi dengan sihir array perlindungan tingkat menengah.
Karena didobrak tidak membuahkan hasil, Yuha mencoba membuka pintu dengan cara biasa dan pintu tersebut pun terbuka.
"What kebuka, kalau gitu ngapain gua susah susah ngedobrak itu pintu sakit lagi" ucap Rehan yang menyesal.
"Hehe makanya cek dulu sebelum mendobraknya"
Kemudian mereka berdua masuk kedalam rumah Pandu dan mendapati rumahnya berantakan dan mereka juga melihat Pandu yang tidur dalam keadaan terbalik di atas kursi.
"Astaga ni anak kelakuannya udah kaya kucing garong aja bikin berantakan rumah aja"
"Woy Pan bangun udah siang nih" Rehan mencoba membangunkan Pandu yang tertidur lelap.
"Zzz... Emm hoam... ada apa sih pagi pagi gangguin tidur ku aja" ucap Pandu dalam keadaan berantakan setelah tidur.
"Ini udah hampir siang, elo emang gang ngamen"
"Oh iya udah siang ya hehe"
"Hehe jidat mu, lo lihat itu atap rumah mu bisa terbakar"
"Oh itu, itu karena kesambar petir semalam" jawab Pandu.
"Jangan ngaco deh, gua tau kalau semalem itu banyak gemuru petir tapi gak mungkin cuma rumah lo yang kesamber petir" maki Yuha.
"Dah lah Yuh mungkin saja itu bisa terjadi, tapi ngomong ngomong lo bikin rumah ini cuma pakai kardus sama panpan kayu kan! kok bisa kokoh saat gua dobrak" tanya Rehan yang penasaran akan ketangguhan rumah kardus pandu.
"Itu karena aku memasang Array pelindung"
"Array pelindung!!... Tunggu kamu sudah mengalami kebangkitan Player Pan, kok gak bilang bilang"
"Iya nih gua jadi iri tau"
"Heh kagak gua emang dari kecil udah diajarkan sihir di desa sebelumnya" ucap Pandu.
"Hah dari kecil, umur berapa?"
"Em sekitar 5 tahun udah bisa sihir aku"
"Wee 5 tahun"
"Yang bener aja masak-"
"Ssut dah gua males bahas kek gituan sekarang, lebih baik kita langsung ngamen"
Karena tidak ingin berlama lama dan menceritakan masa lalu nya pandu memutuskan untuk pergi mengamen.
# Taman Kota
__ADS_1
Saat ini seperti biasa di taman kota tampak ramai apalagi hari ini adalah hari libur semester-an kenaikan kelas, jadi komoditas yang berada di taman adalah para remaja yang tengah berkencan.
"Anjing emang kalau di hari libur gini bikin iri" Yuha.
"Ya, semua orang disini pada bawa pacar mereka cantik cantik lagi, bikin kesel aja" Rehan.
Kedua orang tersebut merasa iri karena mereka disana selalu di suguhkan dengan pemandangan romantis dari para sejoli sejoli disana.
"Dasar Jomblo, iri bilang boss" ejek pandu.
"DIAM lo KAMPRET..." bentak mereka berdua kesal.
Karena mereka berdua masih tampak kesal dengan situasi saat ini, Pandu lebih memilih untuk menjemput rejeki nya.
Jreng!! Treng!! Treng!!
"Dari satu harapan
Menjadi sejuta mimpi
Yang kuharapkan selama ini bersamamu
Jadilah yang terbaik
Jadilah yang terakhir
Untuk diriku dan untuk selamanya
Ku ingin hanya engkau
Dan hanyalah dirimu
'Tuk temani diriku untuk selamanya
Biarkanlah diriku berharap, hanya engkau
Yang terakhir untukku, untuk diriku
Janganlah engkau pernah pergi (dariku)
Dari hidupku ini
Tetaplah bersama diriku
Buat cerita tentang kita
Kuharap kau tetap disini
Penuhilah dengan ceritamu
Sampai lembaran terakhir kita
Janganlah engkau pernah pergi (dariku)
Dari hidupku ini
Tetaplah bersama diriku
Buat cerita tentang kita
Kuharap kau tetap disini
Penuhilah dengan ceritamu
Sampai lembaran terakhir kita
Kumohon pada dirimu
Jangan kau pergi tinggalkan semua
Harapan dan mimpiku
Yang ingin bersamamu
Untuk selamanya
__ADS_1
Biarkan disini kuberharap
Hanya engkaulah yang terakhir untukku
Dan hanyalah untukku
Kaulah segalanya
Dalam hidupku
Kuharap kau tetap disini
Penuhilah dengan ceritamu
Sampai lembaran terakhir kita"
[Nobitasan - Tetaplah Bersamaku]
Pandu mulai menyanyikan lagu dan orang orang yang berada di sekitar taman yang semula asik mengobrol mulai teralihkan dengan lantunan musik serta suara yang indah & merdu dari Pandu.
Dari seluruh penonton banyak yang terpesona terutama kaum hawa yang terpesona akan suara serta wajah Pandu yang tampan.
"Kyaaa abangnya tampan banget merdu lagi suaranya..."
"Abang aku mau jadi pacar mu..."
"Bang ayo selingkuh..."
"Hey kamu itu pacar ku sayang..."
Sementara banyak penonton yang menikmati alunan musik dari Pandu, Yuha dan Rehan sibuk meminta saweran dari para penonton.
Beberapa menit kemudian.
"Wah banyak juga pendapatan kita hari ini" ucap Yuha.
"Ya namanya juga hari libur, tempat kayak gini mah pasti rame" ucap Rehan.
"Yoi, dan disaat seperti ini orang orang kayak gua mulai lebih rajin mencari rezeki" ucap Pandu sambil menyetel gitarnya.
"Oh iya Han nih..." Pandu memberikan Rehan sebuah kartu ATM yang sebelumnya ia dapat dari Tiger.
"Kartu!! Dari mana lo dapet kek ginian Pan?" tanya Rehan.
"Tak mungkin kamu tak ingat kalau aku ini dapat sebuah jekcpoot besar dan itu sisanya buat lo bayar utang keluarga lo"
"Hiks Pan gua gak tau harus bilang apa hiks.. tapi terimakasih Pan Yuha hiks udah mau membantu keluarga ku"
"Udah jangan cengeng, yang penting utang keluarga kamu lunas dan kita tetap bisa kumpul bareng"
"Terimakasih saha- bukan, Terimakasih saudara ku.."
"Sama sama saudara ku..."
...........
# Kamar Serena
Saat ini di kamar Serena tampak si Serena tengah memilah milih gaun yang akan ia kenakan nanti sore.
"Yang ini kayaknya bagus, em tidak warnanya terlalu polos... ah kalau yang ini warnanya cantik tapi terlalu mencolok.." dapat dilihat saat ini seluruh kamarnya di penuhi dengan gaun gaun mewah yang berceceran di mana mana.
"Ah kenapa gak ada gaun yang cocok buat aku pakai nanti" Serena mulai kesal karena ia masih belum menemukan pakaian yang cocok buat nya.
Kemudian seorang wanita mengenakan pakaian mewah memasuki kamar Serena.
"Ya ampun Sayang kenapa kamar kamu jadi berantakan gini" ucap ibu Serena.
"Ah ibu, aku lagi pusing ni memilih baju yang mau aku pakai nanti semuanya gak ada yang cocok"
"Em gak cocok gimana, lihat gaun ini ini sangat bagus dan kamu nanti tampak seperti seorang putri kalau kamu memakainya" ucap Ibu Serena yang memperlihatkan sebuah gaun berwarna putih dengan hiasan pita besar dan bunga mawar dengan renda kupu kupu.
Serena yang mendengar ucapan ibunya langsung bangun dari tempat tidurnya.
"Benarkah itu ibu, kalau aku pakai ini aku bakalan cantik seperti seorang putri"
__ADS_1
"Tentu saja sayang, putri ibu yang cantik ini akan terlihat cantik seperti putri" ucap nya sambil menyentuh hidung Serena.
"Sesuai kata ibu aku mau pakai gaun ini nanti"