
Setelah mengikuti tes kelas beta dan lulus Pandu dan lainnya memutuskan untuk merayakan pesta kenaikan ke kelas beta sebagai murid tetap di sebuah restoran bintang 4 dengan menggunakan vocer makan gratis yang ia dapatkan dari salah satu pembunuh bayaran waktu itu.
"Wahaha aku tak menyangka bahwa kita akan lulus ujian beta semudah ini dan kita di anggap sebagai seorang jenius haha senang sekali rasanya" ucap Rehan yang gembira.
"Eleh makin sombong nih anak tapi, Pandu kenapa cuma mereka yang kau ajarkan teknik spesial aku kan juga pengen" ucap Alfin.
"Iya Pandu kamu kan baik ganteng kasih kami teknik spesial juga dong"goda Luna.
Mereka memohon kepada Pandu agar di berikan sebuah teknik Spesial dengan wajah memelas penuh kesedihan yang ingin di perhatikan.
Pandu yang melihat tatapan mereka tak dapat menolak permintaan mereka.
"Ugh.. huh yaudah aku kasih deh, tapi inget jangan kasih tau ke orang lain oke"
"Siap Ndan"
Pandu menggelengkan kepala, kemudia ia mengarahkan jari telunjuknya ke dahi mereka untuk mentransfer teknik spesial sesuai bakat mereka.
Ketika jari Pandu menyentuh dahi Alfin, Luna dan Anisa tiba tiba mereka langsung merasakan sebuah rasa sakit bersamaan dengan teknik spesial untuk meningkatkan jumlah kapasitas mana dan jurus serangan.
"Arrgk..." teriak mereka kesakitan sembari memegang kepala yang sakit serasa tertusuk jarum jarum tajam.
Karena tidak ingin terjadi kegaduhan di dalam restoran pandu terpaksa membuat barrier Kubus darah miliknya.
Beberapa menit kemudian
Setelah proses transfer teknik spesial Alfin, Luna, Anisa merasa bahagia.
"Wow aku belum pernah melihat teknik sehebat ini sebelumnya"
"Em ini sangat mengagumkan, tapi dari mana kamu memiliki semua teknik spesial ini Pandu?" tanya Anisa.
"Aku belajar orojidat dari pengalaman ku di masa lalu"
"Oh seperti itu, ya walupun aku blm terlalu yakin sih apa yang kamu maksud"
"Sudah sudah mari kita lanjutkan makan keburu di habiskan Rehan sama Yuha tuh" melirik Yuha dan Rehan yang tengah lahap memakan semua hidangan di meja.
...........
Setelah puas mengadakan pesta mereka semua segera kembali pulang, untuk Alfin, Anisa dan Luna mereka kembali ke asrama sekolah.
Sesampainya di gang rumah Pandu Yuha dan Rehan berpisah dengan Pandu.
"Hati hati ya kalian berdua"
"Oke Pan"
"Ingat ya besok pagi kamu kami jemput"
"Iya iya"
Kemudian ia memasuki gang halaman rumahnya. Di sepanjang gang tampak berderet tanaman hias serta sayur dan pohon jeruk menghiasi gang tersebut yang semula adalah gang pembuangan sampah.
"Em kok aku kepengen makan kari ya, yos menu makan malam kali ini adalah kari" ucapnya penuh semangat
Kemudian Pandu membuka gate dunggeon pribadinya dan langsung memasukinya dalam seketika Pandu sudah berada di sebuah tanah lapang berumput hijau, udara segar tercium angin sepoi sepoi menerpanya serta ada hutan lebat serta gunung besar di tengah tengah tempat tersebut.
Di samping kirinya dapat dilihat terdapat sebuah bangunan rumah bergaya adat kuno Indonesia yaitu rumah Joglo.
Kenapa dia memilih membangun rumah joglo?
Itu karena menurutnya rumah Joglo sendiri berasal dari kata Tajug Loro (Juglo) yang artinya dua gunung. Dalam filosofi Jawa, gunung adalah tempat yang tinggi dan sakral.
Maka dari itu Pandu memilih membuat rumah tersebut.
__ADS_1
Dan di samping kanan rumah tampak terlihat terbentangnya lahan sayuran dan buah buahan yang tampak subur dan berbuah lebat.
Dan di samping kiri ada sebuah pagar panjang yang merupakan kandang tempat para sapi/lembu dikandang dan berkembang biak.
Kemudian Pandu masuk kedalam rumah untuk mengambil beberapa potong daging yang ia simpan di tempat khusus dengan suhu 12°C, yang mana ruangan tersebut terdapat ukiran sihir Es.
........
Setelah mengambil semua bahan yang di perlukan Pandu langsung keluar dari Dungeon nya tersebut.
Dan di saat ia memasuki rumah ada hal yang tak terduga muncul di rumahnya.
Ia melihat sesosok mahluk berwajah jelek, menggunakan kain berwarna putih seperti lontong berdiri di pojokan ruang tamu.
"Hoy siapa lo anjing, maling yak" tanya Pandu, namun makhluk tersebut hanya diam saja.
"Sialan ditanya malah diam aja... oy gua tanya elo siapa? Kok bisa masuk ke rumah ku padahal udah ku kasih kunci sihir loh"
"...." masih tetap diam.
"Huf huf huek bau apa ini huek, lo berak di celana ya bau banget kaya bangkai" Pandu menutup hidungnya karena bau busuk yang di keluarin makhluk pocong tersebut.
"Hadeh kok diam aja sih lo, sono ke kamar mandi bersihin badan lo, eh bentar mmm..." tengah mikir.
"...Mmm kalau di lihat lihat kok aku kayak tau bentukan mu ya, tapi apa?.. Ah aku tau kau pocong ya" ucap Pandu yang senang mengetahui siapa makhluk di depannya itu.
Si pocong yang semula diam saja tampak mulai menggerakkan mulutnya.
"Anjing, B**gs*t, Ta111, Lon*eee, B*jing*nnn... Huf huff" Si pocong langsung toxsik.
"Wow impresif gak nyangka kau yang tadi nya diam sekalinya ngomong langsung toxsik... ngajak gelud kau" Pandu yang sudah bersiap menghajar si pocong.
"Aduhuh, kuring ngan ukur olohok" ucap si pocong.
"???" pandu yang masih mikir apa yang di ucapkan sama si pocong.
"Iya, Saha anjeun?"
"Aku! Aku ini orang yang punya rumah lah dan seharusnya aku yang tanya siapa kamu"
"Abdi pocong"
"Auk lah dah sono lo pergi gangguin gua aja"
"Ogah, abdi maunya tinggal di dieu"
"Enak aja, terpaksa pakai ini" Pandu langsung mengeluarkan sebuah cawan perunggu dengan ukiran kuno.
Cawan tersebut merupakan salah satu alat spiritual yang dapat menangkap jiwa yang tersesat untuk di murnikan.
"Naon éta, naha kuring janten sieun" si pocong berusaha kabur namun saya ia terlambat karena Pandu telah membuka tutup cawan tersebut dan si pocong langsung terhisap kedalamnya.
POOF!!
"Fiuh satu masalah sudah selesai sekarang tinggal masalah makan malam"
Kemudia Pandu beranjak ke dapur untuk memasak.
"Yos pertama tama kita potong kecil kecil daging nya kemudian masukan kedalam wadah yang sudah di beri jus nanas dan parutan jahe untuk menghilangkan bau amis serta melembutkan daging dan diamkan beberapa saat..." ucap Pandu yang berlagak seperti seorang koki handal.
"... Setelah itu mari kita membuat bumbu karinya pertama siapkan lada, merica, cabe, sereh, kunyit dan beberapa bahan lainnya, kemudian ulek sampai halus" Pandu meng-ngulek semua bahan menggunakan cobek sekuat tenaga.
"Setelah semua bahan di haluskan, kita siapkan panci beri minyak secukupnya kemudian sangrai bumbu yang sudah di haluskan hingga harum... Kemudian tambahkan air secukupnya tambah garam, bumbu kari, gula dan santan"
"Bila sudah mendidih masukan daging dan sayuran yang sudah di potong potong kedalam panci"
.....
__ADS_1
"Tada kari spesial buatan tangan sudah jadi, sekarang waktunya makan"
Kemudian Pandu langsung menikmati makan malamnya dan sesudah makan ia membereskan semua nya dan langsung beranjak ke pulau kapuk/kapas.
............
Keesokan Harinya
"Hoam ckck hauh... krek" meregangkan otot saat bangun pagi.
"Ah nyamannya tidur di rumah sendiri walau hanya beralaskan kasur tipis, ya itu lebih baik daripada tidak sama sekali"
"Ahh lebih baik sekarang aku mandi sebelum Yuha dan Rehan datang"
Kemudian Pandu beranjak dari tempat tidurnya dan berniat untuk mandi namun sebelum itu ia pergi ke dapur berniat untuk menghangatkan sup karinya semalam.
"Lah ya ampun ternyata aku lupa nutup pancinya, lah kok ada ekor cicak?" ucapnya terkejut ketika mendapati bahwa sup kari miliknya telah menjadi kolam renang cicak.
"Hah terpaksa deh harus di buang, ya lagipun nanti aku bisa makan di warteg bu Eni"
"... Aku buang nanti aja lah" Pandu meletakan panci tersebut dan langsung bergegas mandi.
Disaat yang sama Yuha dan Rehan datang ke rumah dan langsung nyelonong masuk kedalam.
"Pan dah bangun belum kau"
"Em tampaknya Pandu tengah mandi" ucap Rehan mendengar ciprat ciprut air dari kamar mandi.
"Ooh yaudah, ngomong ngomong Pandu masak apa hari ini aku lapar nih tadi cuma makan dikit gara gara lo datangnya kecepetan" ucap Yuha.
"Hehe ya maap"
Kemudian mereka berdua menjelajahi dapur.
"Wah lihat Han ada kari hem aromanya hmm... srup lezat, Han lo cobain deh enak loh"
"Masak sih, srup... em bener lezat"
Tanpa pikir panjang mereka berdua langsung mengambil piring dengan nasi putih anget + kari lezat di pagi hari, mereka makan dengan lahapnya tanpa tau apa yang ada di dalamnya.
Beberapa saat kemudian Pandu keluar dari kamar mandi. Dapat dilihat postur tubuhnya yang sangat ideal dengan kulit putih perut kotak" serta wajah yang tampan rupawan yang masih basah.
"Fufufu... eh kalian sudah datang dari tadi kah" tanya Pandu.
"Em iwya kitwa suwdah datang dariw tadwi" ucap Yuha den mulut penuh.
"Ngomong apaan sih gak jelas telen dulu kek makanannya... Eh bentar kalian makan apaan?"
"Gleg ah... nih kami makan kari buatan lo enak tauk" ucap Yuha mengacungkan jempol.
"Em ya masakanmu enak banget"
"Iya aku tau itu enak tapi masalahnya itu kari mau aku buang soalnya tadi ada cicak yang berendam di dalamnya, tapi tak apalah kalau kalian suka habiskan saja dari pada mubazir" ucap Pandu.
DEG!!
Ketika mendengar ucapan Pandu tentang cicak yang berendam di dalam sup kari wajah Yuha dan Rehan seketika berubah masam dengan ekspresi orang bodoh sambil melihat piring makan mereka.
Dalam pikiran mereka terngiai ngiai kata "Cicak berendam dalam kari"
"PUFFF.....HOEK... HOEK..." seketika mereka langsung memuntahkan semua makanan yang mereka makan.
"Woy jangan muntah disitu kampret"
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
[ Ini ngingetin athor dulu waktu ikut kumpul bareng reuni di salah satu rumah temen sampai malem dan ketiduran. Dan pas bangun ngeliat ada kopi yang masih sisa, athor langsung minum eh pas udah tinggal ampasnya ada ekor cicak di dalam nya.
__ADS_1
Hahaha sungguh pengalaman yang berbekas. ]