
Terik matahari menjulang semakin tinggi hingga ke kepala. Suara adzan Dzuhur bergema dimana-mana. Lia bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan ibadah sholat fardhu yang tidak pernah ia tinggalkan. Apalagi mengingat cerita Bu Sulastri tentang sholat merupakan tiangnya agama dan hal pertama yang akan dihisab dari hambanya adalah sholat Lima waktu. Untuk itulah dia tak berani untuk meninggalkan kewajibannya sebagai hamba yang taat kepada Allah SWT.
"Tok...Tok...Tok..." Suara pintu diketuk kembali.
"Bi...Bibi..." Panggil Eci putri ketiga dari Mamah Ade alias keponakan suaminya.
Lia yang baru selesai sholat dan masih mengenakan mukena buru-buru menyambangi asal suara tersebut.
"Eci, ada apa memanggil bibi?"tanya Lia.
"Si mamah lagi ngadain acara ngeliwet, Bibi sama Mang Agus disuruh ke rumah mamah. Kita makan sama-sama." Ucap Eci mengajak.
"Oh iya nanti Bibi sama Mang Agus kesana." Jawab Lia.
"Mang Agusnya kemana?" tanya Eci.
__ADS_1
"Ada di kamar sedang tidur siang." Jawab Lia kembali.
"Ya udah, Bi jangan lupa yah kesana ditunggu kedatangannya Oke." Ucap Eci sangat ramah dan berlalu pergi.
Sebelum membangunkan suaminya, Lia merapikan kembali mukenanya.
Sementara Lia dan Agus bersiap-siap. Suasana di rumah Mamah Ade begitu tampak ramai. Maklum saja Mamah Ade memiliki banyak anak. Diantara saudara-saudaranya hanya Mamah Ade yang memiliki jumlah anak paling banyak yakni 4 anak. Dua diantara sudah berkeluarga dan memiliki anak. Tak dipungkiri jika sedang berkumpul kediamannya dipenuhi dengan anak dan cucunya.
"Ramai sekali. Duh...Aku malu." ujar Lia kepada Agus yang mengintip dari pintu belakang rumah Agus. Lia dapat dengan mudah mengetahui itu karena rumah mamah Ade saling berdekatan dengan rumah Agus hanya perlu beberapa langkah saja mereka bisa segera sampai ke tujuan.
"Tidak apa-apa. Jangan merasa malu kan ada aku." ucap Agus menenangkannya.
Melihat sepasang pengantin baru itu melangkah menuju rumah mamah Ade, Eci bersorak dari kejauhan. "Cie..Cieee...Cieeee... pengantin baru cepat kesini." Teriak Eci sambil mengayunkan lengannya.
Sontak saja semuanya melihat kearah Lia dan Agus. "Duh...kenapa sih harus teriak pengantin baru segala. Aku kan jadi malu." ucap Lia menggerutu dan tersipu malu wajahnya pun memerah.
__ADS_1
Singkat cerita, Acara ngeliwet dengan keluarga Mamah Agus sudah usai dan berjalan dengan lancar. Dilanjut dengan minum-minuman segar beraneka rasa buah yang dibawa dari kantin sekolah oleh suami mamah Ade yakni Pa Muchtar. Profesi Pa Muchtar selain menjadi tukang ojeg, ia beserta istrinya mencari penghasilan dengan berjualan makan-makanan ringan di Kantin Sekolah Menengah Atas dimana Anak ketiganya juga bersekolah disana.
Menurut Mamah Ade, biarpun bapaknya bergelimang harta ia tidak mau hidup bergantung dengan orangtua. Sebab, yang diperoleh dari hasil keringat sendiri yang akan memberikan kepuasan. Berbeda jika kehidupan rumah tangga selalu disubsidi oleh orang tua pasti tidak akan memberikan kepuasan bagi diri sendiri. Pasti akan selalu muncul perasaan yang mengganjel dan kurang pas. Bagai bertani tanpa pupuk tidak akan tumbuh subur.
Deg...muncul rasa tak enak disaat Mamah Ade berkata demikian. Seperti sedang menyindir atau entah apalah yang pasti rasanya kurang nyaman. Aku mencoba berpikir positif dengan menghilangkan rasa suudzonku kepadanya.
Akhirnya acara selesai. Aku dan Agus pulang ke rumah. Dari sana aku bisa mengetahui karakter serta watak seluruh keluarga Mamah Ade. Untuk mengetahui rasa penasaran yang masih mengganjal sejak tadi akupun memberanikan untuk bertanya kepada Agus tentang pekerjaannya, dimanakah ia bekerja, berapa gajinya, dan kapan ia bekerja. Maklum saja jikalau aku sangat penasaran sebab, sejak keluarganya mengenalkan Agus kepadanya tidak ada seorangpun dari pihak keluarga yang menyinggung tentang pekerjaannya dan apa profesinya. Sementara yang Bapakku ketahui hidupku akan terjamin jikalau aku menjadi istrinya.
"Bolehkah aku bertanya, Jikalau engkau suamiku. Semestinya aku harus tahu kamu kerja dimana dan kapan kamu bekerja?." ujar Lia kepada Agus dengan bahasa isyarat dan sedikit bersuara.
Ketika Agus hendak menjawab pertanyaan tersebut. Pak Ridwan sudah ada dibelakangku. Sontak saja aku merasa terkejut bukan kepalang pasti ia juga mendengar apa yang sedang aku tanyakan kepada anaknya.
Benar saja ia mendengarkan pembicaraan kami. Pada akhirnya pertanyaan tersebut dijawab sendiri oleh Pak Ridwan.
"Agus memang tidak bekerja. Akan tetapi, kamu tidak perlu khawatir. Sebab, Bapak menjamin kehidupanmu tidak akan kesusahan. Rumah ini milik Agus, dan ada beberapa aset lainnya yang akan menjadi milik Agus seperti sawah, kebun, dan kolam ikan yang ada disana." Tunjuk Pak Ridwan ke arah Utara tempat dimana Agus pernah menceritakan ada kolam ikan milik bapaknya tersebut.
__ADS_1
"Baru-baru ini juga Agus mendapatkan hasil penjualan tanah sebesar 40 juta rupiah. Uangnya tidak dapat bapak berikan kepada kamu karena sudah bapak belikan kembali tanah di sebelah barat dekat warung pak Raden. Nantinya akan dibangun sebuah dua kamar dan dikontrakkan kepada orang yang membutuhkan sewaan rumah. Hasilnya itu untuk biaya nafkah Lia." terangnya panjang lebar.
Kini Lia tahu yang dimaksud dengan kata-kata Mamah Ade kepadanya. Ternyata benar ada makna tersembunyi dari perkataannya.